
"Kenapa kau marah, kalau kau tidak cemburu?" Chandra tersenyum dan memeluk Hajar dari belakang.
"Aku tidak cemburu?" cetus Hajar melepas tangan Chandra dari perutnya, dan memutar tubuhnya ke arah pria yang berstatus suaminya itu.
"Lantas?" Chandra memperhatikan wajah Hajar yang memerah.
"Aku sedang marah" Hajar semakin menatap tajam wajah Chandra.
"Marah karna cemburu" ujar Chandra tidak takut sama sekali melihat kemarahan di wajah Hajar.
"Pantas saja Om tak ingin aku mengandung anak Om. Ternyata Om akan memiliki anak dari wanita lain." Hajar tidak terima kenyataan itu, kalau wanita lain sudah mengandung benih suaminya.
"Tanpa mengandung anakku, kau sudah mendapatkan uang yang banyak. Bahkan lebih banyak dari pada yang di berikan Mama. Aku rasa kau tak perlu mengandung anakku?" Chandra menautkan alisnya. Kenapa Hajar begitu marah?, bukankah Hajar hanya menginginkan hartanya saja?. Dan Hajar sudah mendapatkannya.
Hajar terdiam
"Kita ke sini untuk bersenang senang. Ayolah, jangan terbawa perasaan seperti itu. Kita ini pasangan yang saling menguntungkan, bukan pasangan yang saling mencintai. Mari kita nikmati liburan kita. Tanpa membahas orang lain." Chandra langsung mengangkat tubuh Hajar membawanya masuk ke dalam resort.
"Aku gak mau melayani Om, aku lagi marah!" Hajar terus meronta ronta saat Chandra menindih tubuhnya di atas kasur.
"Aku tidak peduli kau marah atau tidak. Karna Ibuku sudah membayarmu mahal untuk melayaniku" balas Chandra tersenyum kemudian menenggelamkan wajahnya di dada Hajar.
Chandra tidak peduli dengan kemarahan istri kecilnya itu, yang terus berusaha ingin melepaskan diri. Karna dia juga sudah menghabiskan uang banyak untuk menyenangkan hati Hajar.
"Ah! Om!" Hajar mendesah, pertanda pertahanannya mulai runtuh karna perlakuan Chandra di tubuhnya. Chandra pun melepas kedua tangan Hajar yang di pegangnya dari tadi.
"Nikmatilah gadis manis, aku akan memuaskanmu." Chandra mencium kening Hajar sebelum melanjutkan tugasnya sebagai suami.
Setelah Kurang lebih satu jam berlalu. Akhirnya Chandra menjatuhkan tubuhnya di samping Hajar. Chandra memeluk tubuh lelah itu, dan memberikan kecupan di pipinya.
Hajar cemberut, karna masih marah dengan Chandra. Apakah Chandra hanya menganggapnya benda pemuas n*fsu saja?.
Tiba tiba dering telepon terdengar dari meja nakas. Chandra langsung meraihnya dan memberikannya kepada Hajar.
"Ibumu menelepon" ucap Chandra melihat nama yang tertera di layar ponsel.
Tanpa menjawab, Hajar langsung menerima handphonnya dari tangan Chandra.
"Halo Ma" sapa Hajar setelah mendial tombol hijau di layar ponselnya.
__ADS_1
"Hajar Ibumu menghilang" ucap Ibu Misra dari balik telepon.
"K..kok bisa Ma?" Hajar bertanya dengan suara lirih dan matanya berkaca kaca.
"Mama gak tau, barusan pihak rumah sakit mengabari Mama."
"Hajar akan pulang sekarang Ma. Hajar akan ikut mencari Ibu."
Hajar langsung mematikan teleponnya sepihak dan bergegas turun dari atas tempat tidur, berlari masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Hajar!" panggil Chandra bingung melihat Hajar menangis dan tergesa gesa.
Siapa Ibu yang di sebut Hajar?. Bukankah tadi yang meneleponnya Ibu Misra?. Dan siapa yang hilang?. Batin Chandra sempat mendengar sedikit suara Ibu mertuanya dari dalam telephon.
Chandra pun turun dari atas kasur, menyusul Hajar masuk ke kamar mandi.
"Hajar!" panggil Chandra lagi.
Namun Hajar tidak mendengarnya, karena terlalu sibuk membersihkan diri secara buru buru.
Melihat itu, Chandra memeluk tubuh Hajar dari belakang, berhasil menghentikan gerakan Hajar." Ada apa?."
Hajar tidak memjawab, ia pun memilih melepas pelukan Chandra dan segera membilas tubuhnya. Dia harus segera pulang untuk mencari Ibunya.
"Ada apa? Hm!"
Hajar menggelengkan kepalanya, tak ingin memberitahu Chandra rahasia yang di sembunyikannya selama ini.
"Percaya sama Om, Om akan membantumu. Kamu adalah istri Om, semua masalahmu adalah tanggung jawab Om. Katakan sama Om ada apa?."
Hajar masih menggelengkan kepalanya." Aku harus pulang sekarang" lirihnya berurai air mata.
"Tidak, kalau kamu tidak memberitahu Om, ada apa?. Apa yang terjadi" cegah Chandra.
"Aku mohon, biarkan aku pulang!" Hajar menatap Chandra mengiba. Dia harus pulang, tapi dia tidak bisa memberitahu alasannya.
"Kamu tidak bisa keluar dari pulau ini sekarang. Karna tidak ada kapal di dermaga."
"Aku mohon Om, Hajar harus pulang sekarang" mohon Hajar lagi tanpa ingin memberitahu alasannya ada apa dan kenapa..
__ADS_1
"Baiklah" pasrah Chandra tak tega melihat wajah Hajar yang mengiba.
Setelah selesai membersihkan diri, Chandra pun langsung keluar dari kamar mandi. Di dalam kamar, di lihatnya Hajar sudah rapi siap untuk pulang.
Chandra melangkahkan kakinya ke arah nakas, mengambil handphonnya untuk menghubungi asistennya. Menyuruhnya untuk mempersiapkan kapal untuk pulang.
"Satu jam lagi, kapal baru sampai" ujar Chandra setelah mematikan sambungan teleponnya.
Mereka harus mengakhiri bulan madu mereka, karna tidak akan mungkin Hajar bisa diajak bersenang senang dengan masalah yang menimpanya. Dan Chandra juga penasaran masalah apa sebenarnya yang di sembunyikan gadis kecilnya itu.
.
.
Di tempat lain, seorang wanita masuk ke dalam sebuah rumah sederhana, menemui sepasang suami istri yang sudah tak muda lagi.
"Paman kembalikan anakku" ucap wanita itu setelah melepas penutup kepalanya."Aku sudah menuruti keinginan kalian. Aku sudah membuat putri kalian menikah dengan keluarga Kurniawan" ucap wanita itu lagi, menatap tajam pasangan suami istri di depannya.
"Apa kau yakin, putri kami sudah mendapatkan harta yang banyak?" tanya wanita tua yang duduk di samping suaminya, lantas berdiri dari tempat duduknya.
"Mereka sudah membuat perusahaan kami bangkrut. Mereka harus mengembalikan apa yang sudah mereka ambil dari kami" ucap wanita berusia lanjut itu lagi.
"Tapi aku sudah membayarnya dengan masa depanku Tante. Membiarkan kesucianku di ambil oleh suami Tante yang brengs*k itu, demi untuk menyakiti hati anak dari saingan bisnis kalian. Dan aku juga sudah berpura pura gila selama hampir dua puluh Tahun, demi keinginan kalian menjadikan putri kalian sendiri, sebagai alat memeras harta kekayaan keluarga Kurniawan!!."
Wanita tua itu langsung memutar tubuhnya, mendengar Caroline meninggikan suara." Kau yang menggoda suamiku Caroline!. Buktinya kau hamil bukan mengandung anak suamiku. Kau sengaja menjebak suamiku untuk menutupi aibmu mengandung anak dari kekasihmu!".Wanita tua itu berbicara merapatkan gigi giginya dan menajamkan pandangannya ke arah Caroline, tidak terima dengan tuduhan keponakannya itu. Dia lebih percaya dengan suaminya.
Pria yang sudah tua renta yang duduk di kursi roda tersenyum miring ke arah Caroline. Karna istrinya sudah percaya kepadanya, kalau Caroline lah yang dulu menggodanya. Padahal nyatanya, dia memperk*sa Caroline, dengan mengancam akan menyiksa Tantenya, jika Caroline tidak mau atau akan memberitahu Tantenya.
"Ya!! aku yang menggoda suami Tante!!. Tapi sekarang kembalikan anakku !!"teriak Caroline terdengar frustasi.
"Anakmu sudah mati" balas Tantenya.
Caroline menggeleng gelengkan kepalanya." Gak! anakku masih hidup, kalian menyembunyikannya" bantahnya.
Tentenya tersenyum ke samping. "Cari saja sendiri" ujarnya sembari berjalan ke arah suaminya yang duduk di kursi roda, mendorongnya masuk ke dalam kamar.
"Anakku masih hidup" gumam Caroline, berurai air mata.
Dia sudah sangat merindukan anaknya, semanjak lahir, ia tidak pernah melihatnya, dan bahkan menyentuhnya. Karena tantenya langsung mengambilnya saat bayi itu baru lahir dari rahimnya. Dan bahkan Caroline tidak tau apa jenis kelamin bayinya itu.
__ADS_1
"Anakku, kamu dimana?" isak Caroline menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
*Bersambung