Menantu Bayaran

Menantu Bayaran
33. beruntung


__ADS_3

Chandra menghentikan laju kenderaannya di halaman rumah orang tua Hajar. Dia mengantar Hajar pulang ke rumah orang tuanya saat ia akan berangkat bekerja.


"Istirahat yang banyak, jangan kelayapan. Badanmu masih sedikit demam. Nanti pulang kerja aku akan menjemputmu, kita tidur di apartement lagi" ujar Chandra tersenyum, sambil satu tangannya membelai lemput kepala Hajar.


"Aku masih sakit, seharusnya Om tak usah bekerja" Hajar mengerucutkan bibirnya, sedikit cemberut.


"Aku ada meeting penting, selesai meeting nanti aku akan pulang" ujar Chandra lagi, kemudian mengecup pelipis Hajar.


"Hm baiklah" Hajar membuka pintu di sampingnya dan langsung turun.


Chandra pun melajukan kenderaannya kembali. Pagi ini dia ada meeting, jadi dia tak sempat mampir untuk menyapa mertuanya.


Sampai di kantor perusahaannya, di sana sudah ada Bryan menunggunya.


"Selamat pagi Tuan" sapa Bryan berdiri dari sofa dengan berkas berkas di tangannya.


"Apa materi untuk meeting pagi ini sudah beres?" tanya Chandra menghiraukan sapaan Bryan. Chandra pun meletakkan tasnya di atas meja kerjanya.


"Sudah Tuan" jawab Bryan


Chandra melihat jam tangan yang melingkar di lengannya, ternyata masih ada waktu setengah jam lagi supaya meetingnya dimulai. Chandra pun mendudukkan tubuhnya di kursi kebanggaannya.


"Siapkan berkas untuk surat pemindahan nama salah satu cabang perusahaan atas nama Hajar. Tapi pastikan surat itu ASPAL ( asli tapi palsu)."


Bryan mengerutkan keningnya, tidak memahami maksud Tuannya itu.


"Lakukan saja apa yang kuperintahkan. Oh ya, bagaimana? Apa anak buahmu sudah menemukan kedua brengsek itu?" tanya Chandra mengarahkan pandangannya ke wajah Bryan, kemudian mengambil berkas yang di letakkan Bryan di atas mejanya.


"Mereka sudah sempat kabur dari rumah itu Tuan. Sepertinya mereka punya mata mata yang siap memberikan informasi setiap saat. Dan juga sepertinya ada yang membantu mereka" jawab Bryan, membuat Chandra terdiam dan berpikir.


Siapa kira kira mata mata Bruno dan Taslin?.


"Apa Tuan tidak curiga dengan Nyonya Caroline?. Maaf Tuan, tapi seharusnya Tuan lebih berhari hati, jangan langsung percaya begitu saja. Bisa saja Nona Caroline benar mempermainkan Tuan. Mengingat selama ini Nyonya Caroline memilih berpura pura gila dari pada meminta bantuan Tuan" terang Bryan dengan pemikirannya.


Chandra menghela napasnya. Perkataan Bryan berhasil membuat hatinya terganggu. Terlalu banyak teka teki yang dia hadapi saat ini. Membuatnya kadang tak bisa berpikir dengan baik.


Tok tok tok !


Ketokan pintu itu berhasil mengalihkan pandangan Chandra dan Bryan ke arah pintu. Pemilik ruangan itu pun menyuruh orang yang mengetuk pintu tersebut untuk masuk.


"Masuk!"


Pintu itu pun langsung terbuka, menampakkan seorang wanita memakai kemeja ketat di padukan dengan rok span pendek memiliki belah di samping pahanya. Wanita itu adalah sekretaris Chandra.


"Pak, anggota meeting sudah berkumpul di ruang rapat" lapor wanita itu sedikit menundukkan kepalanya, namun matanya melirik wajah tampan bos besar perusahaan itu.

__ADS_1


"Saya akan segera kesana" balas Chandra tanpa berniat memperhatikan penampilan sekretarisnya yang selalu berpenampilan menggoda itu.


Bukan maksud Chandra sok alim atau tidak tergoda sama sekali dengan sekretarisnya itu. Hanya saja dia tidak mau bermain dengan bawahannya. Sebagai orang no satu di perusahaan itu, ia perlu menjaga imagnya.


"Kalau begitu saya permisi Pak" wanita itu membungkukkan sedikit tubuhnya hingga membuat tonjolan di dadanya hampir menyembul.


"Ternyata wanita tidak jauh beda dengan Hajar. Lebih menyukai uang dari pada orangnya" ujar Chandra setelah sekretarisnya itu menghilang di balik pintu. Chandra segera berdiri dari kursinya melangkah ke arah pintu.


"Maksud Tuan?" tanya Bryan mengikuti langkah Tuannya.


"Apa kamu tidak lihat wanita tadi?. Setiap dia ke ruanganku, dia selalu melirikku. Bukankah kamu lebih muda. Tapi dia lebih berniat kepadaku, lebih tepatnya kepada uangku" jelas Chandra.


"Bisa saja dia berpikir Tuan mem


butuhkan wanita. Itu artinya dia siap melayani Tuan" balas Bryan.


"Bagaimana denganmu?, apa kamu tidak butuh wanita. Atau kamu masih mengharapkan Hajar?" Chandra memicingkan matanya ke arah Bryan yang berjalan di sampingnya.


"Tidak Tuan" jawab Bryan membuka pintu ruangan di depannya dan mempersilahkan Tuannya masuk terlebih dahulu.


.


.


Aku gak mau menjadi wanita penghibur, lebih baik aku mati saja. Ayah ! Ibu ! kenapa kalian cepat sekali meninggalkan Naomi. Coba Ayah sama Ibu masih ada. Aku sama Kakak tidak akan hidup kesusahan. Batin Naomi menghapus air matanya yang mengalir kembali.


Naomi mau ikut Ibu sama Ayah aja. Masa depan Naomi sudah hancur. Kakak sudah menjual Naomi Bu, Ayah, batin Naomi lagi.


Naomi berdiri dari lantai kamar mandi, dan berjalan keluar, melangkah ke dapur. Naomi pun mencari sesuatu yang menurutnya bisa mengantarnya ke surga.


Melihat pisau dapur di atas meja masak, Naomi pun mengambilnya, dan....


Seketika darah mengalir dari lengannya, Naomi meringis kesakitan, perlahan tubuhnya melemah, kepalanya pusing, pandangannya kabur dan berkunang kunang.


Brukk !


"Naomi !!!"


Amel yang baru pulang langsung berlari ke arah Naomi. Kemudian berteriak meminta tolong.


.


.


Chandra yang sedang meminpin rapat, terpaksa menjeda pembicaraannya sebentar karena handponnya terus bergetar di atas meja. Saat melihat nama yang menghubunginya di layar ponselnya, Chandra pun menerima panggilan tersebut.

__ADS_1


"Om hiks hiks hiks...!" tangis Hajar dari sebrang telepon.


"Hajar, ada apa?, kenapa kamu menangis?" tanya Chandra kawatir. Semua anggota rapat di ruangan itu pun menoleh ke arahnya, penasaran, apa gerangan yang terjadi dengan istri bos mereka itu.


"Teman Hajar masuk rumah sakit Om. Naomi hampir kehabisan darah, dia kritis Om. Stok darah yang cocok dengannya lagi habis. Hajar boleh minta tolong, cariin pendonor darah untuk Naomi?." ujar Hajar di selah selah tangisnya.


Chandra mengurut keningnya mendengar alasan kenapa istrinya itu menangis tersedu sedu. Dia lagi sedang meminpin rapat, bagaimana bisa mencari pendonor darah saat ini.


"Om" tegur Hajar karna tak mendengar suara Chandra.


"Sebentar" ucap Chandra, kemudian berbicara kepada Bryan.


"Bryan, carikan pendonor darah sekarang juga" perintahnya.


"Pendonor darah?" ulang Bryan bingung.


"Teman Hajar sedang kritis di rumah sakit. Stok darah golongan darah B lagi habis" jelas Chandra.


"Baik Tuan" patuh Bryan dan langsung berpamitan.


"Om" rengek Hajar manja sambil terisak.


"Bryan akan segera kesana. Sekarang Om lagi meeting.Sudah dulu ya nelephonnya, nanti Om akan menyusul kesana." ujar Chandra lembut dengan suara membujuk.


"Iya Om" patuh Hajar.


Chandra pun segera mematikan sambungan teleponnya. Kemudian melanjutkan meetingnya.


.


.


Sedangkan Hajar yang duduk di depan ruang IGD, mengalihkan tatapannya ke arah kakak Naomi yang duduk berjarak dua bangku darinya.


"Tidak mungkin Naomi mencoba bunuh diri tanpa ada sebabnya" ujar Hajar sengit, menatap marah kepada Amel.


"Tak usah sok peduli, kamu tidak tau seperti apa kami menghadapi hidup" balas Amel.


"Kau menjualnya kan?"


"Bukan urusanmu"cetus Amel membalas tatapan tajam Hajar.


Hidupmu sangat beruntung Hajar, tidak sepertiku. Di buang dengan membawa seorang bayi. Kamu enak, di asuh tante Misra, membesarkanmu dengan kasih sayang. Tidak sepertiku, harus membalas jasa Om Dewa yang membantuku dengan tubuhku sendiri setelah aku besar. batin Amel.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2