Menantu Bayaran

Menantu Bayaran
64. Omong kosong


__ADS_3

Hajar terus tertawa terbahak bahak melihat gambar mikrophon di atas gunung kembar Naina. Jelas sekali menandakan wanita itu suka berkaraoke.


"Apa tidak ada gambar lain?" tanya Hajar tak bisa menghentikan tawanya.


Niana, sekretaris Chandra itu melipat bibirnya ke atas. Kesal melihat Hajar menertawakannya. Tato di dadanya itu masih baru. Tapi tato gambar mikriphon itu bukan permintaannya, tapi tukang tato yang menatonya yang mengerjainya. Membuat gambar milik lelaki di dadanya.


"Lucu sekali" ucap Hajar mulai menghentikan tawanya.


"Kalau sudah puas tertawanya, saya permisi Ibu Presdir" pamit Naina langsung keluar dari ruangan itu dengan sedikit menghentakkan kakinya, tidak terima di tertawakan.


Tak lama Naina keluar Chandra kembali ke ruangannya. Hajar tersenyum ke arah Chandra yang berjala mendekatinya.


"Apa yang membuat istriku ini tersenyum? Hm!" tanya Chandra. Bukankah tadi istrinya itu lagi kesal. Lantas apa yang membuatnya tersenyum tidak jelas?.


Hajar kembali tertawa setelah menelan nasi bersama krupuk yang ada di mulutnya.


"Om udah pernah lihat belum tato di dada sekretaris Om itu. Gambarnya sangat menggemaskan" tanya Hajar sebari tertawa, mengingat gambar mikrhopon di dada Naina.


"Untuk apa aku memperhatikan dada Naina?" Chandra mengambil kursi lain menggesernya kesamping Hajar, dan duduk di sana.


"Baguslah kalau Om gak pernah lihat.Itu berarti Om sudah bertaubat, meski aku gak percaya."Hajar menyuapkan kembali makanan ke mulutnya.


"Aku sudah bertaubat demi kamu. Bagaimana dengan istriku ini?. Sampai kapan kamu akan menganggap Mama musuh?."


Hajar menghentikan kuyahannya dan merubah wajahnya cemberut menatap ke arah Chandra.


"Tolong, berdamailah dengan Ibuku" pinta Chandra untuk yang kesekian kalinya.


"Aku gak mau, kalau Om memaksa. Lebih baik kita bercerai." Hajar berdiri dari kursinya hendak melangkah, namun Chandra langsung menarik gadis itu ke pangkuannya dan menyerang bibirnya brutal.


"Om!" pekik Hajar bernapas ngosngosan setelah Chandra melapas ciumannya.


"Jangan harap" Chandra menatap marah ke arah Hajar. Ia tak suka mendengar kata cerai dari mulut Chandra.


"Aku udah bilang, tunggu bayinya lahir baru aku mau melihat Ibunya Om. Kenapa Om gak sabar?. Aku gak suka melihatnya sekarang, perutku mual" lirih Hajar menunduk tak berani membalas pandangan Chandra.


'Omong kosong' batin Chandra tidak percaya.


"Terserah kamu saja." Chandra memindahkan Hajar ke kursi sebelahnya, kemudian membuka laptopnya lalu menghidupkannya.


Hajar diam, ia pun memilih untuk pulang ke rumah. Hajar malas melihat suaminya itu.

__ADS_1


.


.


Malam hari, Hajar yang sudah ketiduran, terbangun karna merasakan ingin pipis. Saat ia membuka mata, ternyata Chandra belum pulang. Hajar pun melihat jam yang menempel di dinding kamar itu, ternyata sudah jam tiga pagi. Chandra tidak pulang ke rumah.


'Sudah tua, masih suka merajuk' sungut Hajar dalam hati. Hajar turun dari atas kasur berjalan masuk ke kamae mandi.


Selesai dari kamar mandi, Hajar kembali ke atas tempat tidur untuk melanjutkan mimpi indahnya. Tidak peduli dimana suaminya saat ini.


Sedangkan Chandra yang berada di rumah Nyonya Belinda, tertidur pulas di kamarnya. Tadi malam pulang kerja ia pulang ke rumah orang tuanya. Karna Nyonya Belinda memintanya. Seperti yang di katakan Nyonya Belinda saat di kantornya. Nyonya Belinda menyerahkan perusahaan mendiang suaminya kepada Chandra sebagai ahli waris. Jadilah pekerjaan Chandra bertambah banyak mulai malam itu.


Hari pun terus berlalu


Sudah seminggu Chandra tidak pernah pulang ke rumahnya dan Hajar. Selain sibuk mengurus dua nama perusahaan. Chandra masih kesal melihat istrinya. Jadilah Chandra setiap malam menginap di rumah Nyonya Belinda.


dasar anak Mama.


Hajar yang mengetahuinya, bukannya luluh, malah Hajar semakin tidak menyukai mertuanya itu. Pasti mertuanya itu sudah mempengaruhi suaminya.


Hajar yang duduk di teras balkon kamarnya menghapus air matanya. Merasa Chandra sudah tidak peduli padanya lagi.


Kemarin aku sudah ingin pergi dari hidupnya. Tapi dia gak membiarkanya, dia menahanku' batin Hajar.


Di dalam perusahaan, Chandra melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangannya. Naomi yang melihatnya langsung menyusul masuk.


"Pah!"


Chandra mendudukkan tubuhnya di kursi ruang kerjanya dan lansung menoleh ke arah Naomi yang berdiri.


"Ada apa?"


"Hajar bilang Papa gak pulang sudah seminggu" ucap Naomi.


"Untuk apa Papa pulang, dia tidak mengharapkan itu. Dia haya mengharapkan harta dari Papa" balas Chandra memulai pekerjaannya.


"Tetap saja dia istri Papa" ucal Naomi lagi.


Chandra mengedikkan bahunya.


Apa susahnya berdamai?, pikir Chandra. Ibunya sudah mau berdamai tapi Hajar tidak. Kata istrinya itu tunggu melahirkan dulu. Kenapa gak sekarang aja?.

__ADS_1


Naomi menghela napasnya, ingin menasehati Ayahnya, tapi Hajar sahabatnya juga bersalah. Jadilah Naomi keluar dari ruangan Chandra tanpa mengatakan apa pun lagi.


Tok tok tok!


"Masuk!" sahut Chandra mendengar pintu ruangannya di ketuk.


Pintu itu pun langsung terbuka, Nyonya Belinda masuk ke dalam ruangannya.


"Mama!" ucap Chandra berdiri dari kursinya mendekati Nyonya Belinda yang baru masuk.


"Anak cabang perusahaan kita yang di Thailand bermasalah. Kamu tau, itu anak cabang terbesar. Bahkan lebih besar dari perusahaan pusat" ucap Nyonya Belinda, wajahnya terlihat tengang dan serius.


"Aku akan mengirim seseorang ke sana" balas Chandra.


"Gak bisa Chandra. Saat ini Mama gak percaya pada siapa pun. Harus kamu yang turun tangan langsung" cengah Nyonya Belinda cepat.


"Tapi di sini pekerjaanku juga banyak Ma. Dan gak mungkin aku meninggalkan Hajar jauh jauh" tolak Chandra lembut.


"Hajar akan baik baik saja. Meski Mama tidak bisa menjaganya. Ada Ibu Misra dan Caroline yang akan menjaganya" tukas Nyonya Belinda." Mungkin jika anak perusahaan itu bangkrut, tidak berpengaruh sama kita. Tapi Nak, pikirkan nasib ribuan karyawan kita di sana. Karyawan kita di sana juga banyak yang di kirim dari sini. Bayangkan bagaimana mereka pulang ke Indonesia menjadi pengangguran" jelas Nyonya Belinda, cemas.


Chandra terdiam, berpikir kalau yang di katakan Ibunya ada benarnya.


"Baiklah, aku akan berangkat" pasrah Chandra.


"Hajar akan mengerti dengan posisimu sebagai peminpin. Dan juga, bukankah kamu melakukan itu untuk masa depan anak anak kalian." Nyonya Belinda mengusap lembut bahu Chandra sembari tersenyum.


'Seharusnya aku melakukannya dari dulu. Menyerahkan perusahaan Papanya kepada Chandra. Biar dia lebih sibuk menghabiskan waktu dengan bekerja. Sehingga Hajar lama kelamaan merasa di abaikan, dan memilih meninggalkan Chandra. Jujur, rasanya berat menerima Hajar menjadi menatuku' batin Nyonya Belinda.


"Kalau begitu aku pulang dulu untuk berpamitan pada Hajar" ucap Chandra bergegas memasang kembali jasnya dan meninggalkan ruangan kerjanya, langsung di ikuti Nyonya Belinda dari belakang.


Sampai di rumah, Chandra melangkah cepat masuk ke dalam lif, untuk menemui istrinya di lantai tiga rumah itu.


"Sayang!' panggil Chandra saat membuka pintu kamar mereka.


Hajar yang duduk di sofa sambil memakan buah yang sudah di potong potong, diam saja malas melihat Chandra.


"Sayang, sekarang aku harus berangkat ke Thailand, gak apa apa 'kan aku tinggal sementara?" tanya Chandra mendudukkan tubuhnya di samping Hajar.


Hajar diam saja, enggan menjawab.


"Hajar, dengar gak Om bicara?" kesal Chandra. Sudah seminggu kesalnya belum hilang melihat istrinya itu.

__ADS_1


"Pergi saja" jawab Hajar malas.


*Bersambung


__ADS_2