Menantu Bayaran

Menantu Bayaran
08. Tidak ada yang gratis


__ADS_3

Setelah Chandra dan Hajar sampai di atas pelaminan, dan mendudukkan tubuh mereka di sana. Tak lama kemudian para tamu undangan mulai naik ke pelaminan untuk mengucapkan selamat kepada mereka.


"Tersenyumlah, Ibuku membayar mahal dirimu bukan untuk cemberut" bisik Chandra ke telinga Hajar, melihat bibir Hajar dari tadi sedikit manyun.


"Apa Om gak punya adik?,untuk menggantikan Om berdiri di sampingku."Oh sungguh Hajar benar benar malu kepada ke empat sahabatnya, karna menikah dengan Om om yang pantas menjadi Ayahnya.


Chandra berdecih, sungguh gadis di sampingnya itu sangat menyebalkan. Benar benar gadis itu hanya menginginkan hartanya saja.


"Aku tidak punya adik sama sekali. Jika kamu mau, aku bisa membuatmu bersanding dengan kambing di sini" jawab Chandra tersenyum.


Hajar tidak membalas perkataan Chandra lagi, karna tamu undangan mulai rame berdatangan mengucapkan selamat kepada mereka.


"Selamat Tuan, semoga bahagia!" ucap Bryan menyalam tangan Chandra. Dia datang bersama Marco.


Hajar yang berdiri di samping Chandra mengerutkan keningnya.Tuan?, batinnya. Hajar tidak tau selama ini mantan pacarnya itu kerja dimana. Yang dia tau hanya meminta duit dan di belanjain.


"Hm..." balas Chandra menatap malas asisten pribadinya itu.


Kemudian Bryan berpindah mengulurkan tangan ke arah Hajar dengan tersenyum.


"Selamat"


"Trimaksih"


Tapi bukan Hajar yang membalasnya, melainkan Chandra yang menarik tangan Hajar dengan cepat.


"Gak usah posesif gitu deh Om!" cibir Hajar. Mereka bukanlah pasangan yang saling mencintai, pikir Hajar.


"Jangan sekali sekali kamu berani menyentuh istriku walau hanya seujung kuku" ucap Chandra kepada Bryan, mengabaikan ucapan Hajar.


"Maaf Tuan" balas Bryan.


Hajar memutar bola mata malas.


"Sana cepat turun" usir Chandra berbicara ketus. Dan satu tangannya menarik pinggang Hajar supaya lebih dekat ke tubuhnya.


Membuat Bryan mendengus kesal melihat sifat tuannya yang berlagak posesif. Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Bryan pun memilih untuk turun.


Dan kini giliran Marco yang mengucapkan selamat kepada Chandra.


"Selamat bro!" ucap Marco tersenyum.


"Trimakasih" balas Chandra juga tersenyum.Dimana istri dan anakmu" tanyanya, karna sahabatnya itu hanya datang sendiri saja.


"Itu lagi bersama Tente Belinda" Marco memutar sebentar tubuhnya ke arah meja di bawah pelaminan."Aku sangat buru buru, makanya aku duluan!" ucapnya lagi.


"Hm..cepatlah pulang, aku sedang malas melihatmu. Karna aku rasa kau juga terlibat dengan pernikahanku dengan bocah di sampingku ini" cetus Chandra.

__ADS_1


Marco semakin melebarkan senyumnya, mengangkat sebelah tangannya untuk menepuk bahu Chandra."Kalau tidak seperti itu, kau takkan pernah menikah!" ujarnya dan langsung kabur.


" Lepasin tangan Om"cetus Hajar,berusaha melapas tangan Chandra dari pinggangnya, setelah Marco turun dari atas pelaminan.


"Jadilah istriku yang baik, kalau kamu ingin mendapatkan benihku" bisik Chandra ketelinga Hajar, dan semakin merapatkan tubuh Hajar ke tubuhnya.


"Saat aku berhasil, Om harus membayar mahal usahaku. Dan jika Om menginginkan aku mengandung anak Om, Om juga harus membayar pengorbananku selama sembilan Bulan. Begitu pun saat aku melahirkan dan menyusui, semua itu tidak gratis" balas Hajar.


"Matre" gemas Chandra, berbicara dengan merapatkan gigi giginya, mendorong kening Hajar dengan telunjuknya.


"Di Dunia ini tidak ada yang gratis, masuk toilet umum aja bayar." Hajar mendengus sambil mengelus keningnya bekas sentuhan jari Chandra.


"Hajar !!!" seru suara seorang gadis berjalan cepat naik ke atas pelaminan dan langsung memeluk Hajar dan mengucapkan selamat.


"Selamat ya, kamu kelihatan sangat cantik hari ini" Puji Katrin.


"Hm..dasarnya memang aku sudah cantik. Apa lagi di tambah make up, tentu semakin cantik" balas Hajar memuji diri sendiri.


"Iya Hajar, kamu kelihatan sangat cantik memakai gaun itu!" sambung Naomi, menyalam dan memeluk Hajar, kemudian mengucapkan selamat.


"Tapi kawinnya sama Om om" sindir Yona melihat Chandra dari sudut matanya.


ku kutuk kau mendapat suami yang lebih tua lagi. Hajar menatap tajam Yona sambil membatin.


Sedangkan Chandra, ia menatap Yona dengan tatapan mematikan. Membuat Yona langsung menciut dan berpamitan setelah mengucapkan selamat kepada Hajar.


Sedangkan Naomi, Kantrin dan Luna. Mereka masih berada di atas pelaminan berphoto bersama pengantin baru beda usia itu, menghiraukan Yona yang turun dari atas pelaminan.


Pesta pun terus berlanjut, dan kini pesta sudah di penghujung acara. Karna sudah lelah, Chandra pun memutuskan untuk istirahat.


"Ayo kita istrirahat" ajak Chandra melangkahkan kakinya turun dari atas pelaminan.


Ya ampun, ini orang tua gak ada romantisnya, istri di tinggalin begitu aja, di gandeng kek. Hajar mengerutu dalam hati karna Chandra tidak menunggunya.


Hajar juga sudah lelah, kakinya terasa pegal dan dan sakit karna seharian memakai sendal high heel. Sepertinya kakinya sudah lecet. Hajar pun melangkahkan kakinya turun dari atas pelaminan dengan langkah yang tertatih.


Hajar mengerucutkan bibirnya, ia cemberut. Sampai di dalam lif, Hajar langsung membuka sendalnya dan melempar kasar kedua sendal itu ke lantai lif, kesal dengan pria di sampingnya.


"Kau kenapa?" Chandra mengulum senyumnya dengan kening mengerut. Sebenarnya Chandra tau kalau gadis kecilnya itu kelelahan. Tapi Chandra ingin melihat seangkuh dan sematre mana gadis manis itu, yang malu memiliki suami sepertinya dan hanya mengharap hartanya.


Hajar diam tidak menjawab, ia mengalihkan wajahnya ke arah lain. Sungguh tubuhnya sangat lelah, tapi pria di sampingnya itu tak mengerti sedikit pun.


"Aku akan menggendongmu,tapi..."


"Gak perlu, sudah sampai juga" potong Hajar cepat dan langsung melongos keluar dari dalam lif, karna kebetulan lantai tujuan mereka sudah sampai.


Chandra menghela napasnya melihat tingkah istrinya yang masih kekanak kanakan itu. Chandra pun membungkukkan tubuhnya mengambil sendal Hajar dari lantai lif, membawanya masuk ke dalam kamar pengantin mereka.

__ADS_1


Di dalam kamar, Hajar sudah membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur tanpa membuka gaun pengantinnya.


"Kau tidak akan nyaman tidur mamakai baju itu" ujar Chandra meletakkan sendal Hajar di lantai. Kemudian membuka jasnya dan meletakkannya di sandaran sofa.


Namun Hajar bergeming dan pura pura terlelap.


Setelah membuka dasi yang mengikat lehernya, Chandra pun membuka kemeja yang melekat di tubuhnya, meletakkannya di atas jasnya tadi.


"Ayo bersihkan tubuhmu, kalau kau ingin mendapatkan saham 20% dari perusahaanku. Tapi itu jika terbukti kau masih perawan" ucap Chandra lagi.


Mendengar itu, Hajar langsung membuka matanya dan mendudukan tubuhnya. Mendapat saham 20% membuat jiwa matre Hajar langsung meronta ronta. Tidak masalah bagi Hajar jika ia harus menyerahkan kesuciannya meski tanpa cinta. Karna cita citanya hanyalah ingin menjadi orang kaya.


"Okeh" balas Hajar mengarahkan pandangannya ke arah Chandra.


"Aaa...!" Hajar tiba tiba menjerit dan langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Karna melihat Chandra hanya memakai celana d*l*m saja.


Chandra berdecak mendengar jeritan gadis yang pura pura polos di depannya. Melihat tingkah Hajar dari awal bertemu, Chandra berpikir kalau Hajar bukan lagi gadis polos. Tapi itu tidak masalah bagi Chandra.


"Aku belum menganiayamu, kau sudah menjerit duluan" cibir Chandra melangkahkan kakinya mendekati Hajar yang masih menutupi wajahnya di atas tempat tidur.


"Kenapa Om tidak memakai baju dan celana?, Om sudah menodai mataku."


"Kenapa? ada yang salah?, kita sudah suami istri" jawab Chandra." Tadi siang kau juga membuka pakaianmu di depanku" tambahnya.


Hajar merenggangkan jari tangannya, mengintip pria yang berdiri dekat di depannya.


Iii.. ya ampun, besar sekali, Hajat bergidik ngeri di dalam hati melihat besarnya tonjolan di balik kain kecil yang menutupi tubuh Chandra.


"Aku tau kau mengintip milikku, cepatlah bersihkan tubuhmu. Setelah itu kau boleh melihatnya langsung dan bermain main dengannya" Chandra mengulum senyumnya. Ia sengaja mengatakan itu untuk menggoda Hajar, menguji sejauh mana Hajar berani untuk mendapatkan benihnya.


"I..itu besar sekali Om" gugup Hajar, mendadak takut membayangkan benda tumpul itu menerobos tubuhnya.


"Hm.. baiklah kalau kau tidak mau. 20% saham di batalkan. Saya akan memberikannya kepada wanita lain yang mau memanjakannya." Chandra membalik badannya, melangkahkan kakinya masuk ke kamar mandi.


Sedangkan Hajar, ia terdiam membeku di atas tempat tidur. Ia ragu dengan kemampuannya untuk bermain main dengan benda kesayangan Om Chandra nya itu.


Bagaimana ini?, kalau aku tidak mau, aku tidak akan mendapatkan apa apa dari Om Chandra. Dan kalau aku tidak berhasil memberikan Nyonya Belinda cucu, aku tidak akan mendapat apa apa lagi. Batin Hajar berpikir keras.


Lama Hajar berpikir, sampai pintu kamar mandi di kamar itu terbuka. Menampakkan Chandra yang keluar dengan menggunakan handuk di lilit di pinggang. Penampilannya yang terlihat segar dengan rambut basah, membuat Hajar berhasil menelan salivanya bersusah payah.


Om Chandra sangat tampan meski sudah tak muda lagi. Tubuhnya sangat kekar, perutnya berotot, sangat seksi. Batin Hajar, otaknya melanglang buana kemana mana.


"Hapus air liurmu itu"


"Ha!"


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2