Menantu Bayaran

Menantu Bayaran
56. mampus


__ADS_3

Yona, Katrin dan Luna mendekati Hajar setelah mereka memesan minuman . Yona menyodorkan minuman itu ke bibir Hajar. Dan Hajar langsung menjauhkan bibirnya.


Yona berdecak," Sedikit saja" ucapnya.


"Gak" tolak Hajar.


Yona berpindah menyodorkan gelasnya ke bibir Naomi. Naomi juga menolaknya, Yona berdecak lalu meneguk sedikit sedikit minuman di tangannya.


"Hai cantik!" seorang pria datang mendekati Naomi.


Melihat pria yang berdiri di depannya, Naomi langsung membeku dan meraih tangan Hajar.


"Ada apa?" tanya Hajar melihat ke arah Naomi.Naomi tidak menjawab, ia pun menarik Hajar menjauhi pria itu. Namun langkah Naomi terhenti, saat pria itu menghalangi jalannya.


"Jangan menyentuhnya!" bentak Hajar melihat tangan pria itu akan menyentuh wajah Naomi yang nampak ketakutan.


Pria itu adalah Dewa, pria yang merenggut kesucian Naomi. Entah bagaimana pria itu bisa bebas dari penjara?.


" Mama mertua kecil" ucap Dewa menyeringai ke arah Hajar.


"Menjauhlah brengs*k, kalau kamu masih ingin bisa menghirup udara" ancam Hajar.


"Takut!" ringis pria itu tanpa menyurutkan senyumnya. Dia tidak akan takut dengan kedua gadis cantik dan imut milik Chandra itu.


Geram, Hajar pun menedang senjata pria itu, dan langsung menarik Naomi berlari keluar dari dalam Club.


"Aw!" Dewa meringis kesakitan sambil memegangi senjatanya."Awas kalian" ucapnya gemas.


Sampai di luar Club, Hajar dan Naomi sama sama bernapas ngosngosan. Seorang pria langsung mendekati meraka.


"Mobilnya terparkir di sana Nona Hajar" ucap pria itu menunjuk mobil yang mengantar keruda majikannya tadi ke mall . Pria itu adalah Oman anak buah Chandra yang bertugas menjaga mereka.


"Ah! Iya" Hajar pun menarik Naomi masuk ke dalam mobil yang di tunjuk Oman.


Mampus! si Oman pasti sudah melapor sama Om Chandra, batin Hajar menyenderkan tubuhnya ke sandaran Kursi penumpang belakang.


Mampus! Papa pasti gak ijinin kami keluar lagi untuk jalan jalan, batin Naomi pasrah.


Mereka sudah mengecoh pengawal yang terus mengawasi mereka. Ternyata anak buah Chandra itu masih bisa menemukan mereka.

__ADS_1


Setelah Oman masuk ke dalam mobil. Supir yang duduk di kursi kemudi pun langsung melajukan kenderaannya. Membawa kedua majikan mereka itu pulang ke rumah.


.


.


"Kurang ajar!" geram Chandra saat menonton vidio yang di kirim anak buahnya ke handphon Bryan.


"Kenapa dia bisa bebas?. Siapa yang membebaskannya?" rahang Chandra mengeras, melihat putrinya di ganggu pria yang merusak masa depan putrinya itu.


"Saya akan menyuruh orang untuk menyelidikinya Tuan" ucap Bryan.


Chandra mengarahkan pandangannya ke wajah Bryan."Apa kamu tidak bisa menunda perceraianmu dengan Naomi lagi?."


Bryan menghela napasnya," maaf, Tuan."


Chandra pun ikut menghela napas, dia tidak bisa memaksa Bryan untuk tetap menjadi suami Naomi. Bukan hanya Bryan saja yang tersiksa nantinya, tetapi Naomi juga. Dan bisa saja Bryan dan Naomi saling menyakiti, karena terpaksa.


Tapi jika Bryan menceraikan Naomi dalam waktu dekat. Chandra kawatir Dewa akan lebih leluasa mengganggu Naomi.


.


.


Berulang kali Hajar memperhatikan penampilannya di depan cermin meja riasnya. Mulai dari baju yang di kenakannya, sampai riasan di wajahnya. Dan bahkan Hajar memperhatikan jam tangan, kalung yang melingkar di lehernya. Tas yang sudah bergelayut di punggungnya. Sampai sepatu yang sudah menempel di kakinya. Hajar memastikan semua harus, Oke!. Terakhir...


Hajar memperhatikan cincin di jari manisnya, lalu mencium cicin itu, mengatakan dalam hati kalau dia mencintai pria yang menyematkan cincin itu ke jarinya.


"Lama banget"


Mendengar suara Naomi, Hajar langsung memutar tubuhnya melangkah ke arah Naomi dengan wajah berbinar.


"Bagaimana dengan penampilanku?" tanya Hajar.


"Oke, dengan tubuhmu yang semakin berisi. Kamu terlihat semakin cantik dan s*ksi" puji Naomi apa adanya.


"Selama tiga Bulan di Villa, aku kebanyakan rebahan. Aku rasa itu yang membuat tubuhku agak berisi" desah Hajar.


Selama tinggal di Villa, pekerjaan Hajar hanya makan tidur. Belajar pun hanya sebentar, tidak sampai menyita waktu banyak.

__ADS_1


"Ayo, nanti kita bisa terlambat kalau lama lama. Apa lagi kamu masih baru di kampus, jangan sampai kamu di hukum karena terlambat" ujar Naomi.


Hajar menganggukkan kepalanya, setuju dengan yang di katakan Naomi.


Sampai di halaman rumah, Hajar langsung masuk ke dalam mobil barunya. Chandra membeli khusus untuknya, sebagai bayaran karena sudah setuju pergi ke kampus. Ah!, laki laki itu menunda kepulangannya dari luar Negri. Tapi tidak masalah bagi Hajar, karena ada Naomi yang menemaninya. Ibu Misra juga sering mengunjunginya, Hajar jadi tidak kesepian. Dan Amel juga sudah tinggal di rumahnya, sehingga ia tidak perlu kawatir lagi.


Sedangkan Naomi duduk di kursi pengemudi. Dia belum mahir menyetir, masih takut jika harus mengendara di jalan yang ramai kenderaan.


Saat mobil limitid edision itu melaju perlahan. Mobil pengawal yang bersiap dari tadi pun langsung mengikutinya.


Pagi pagi mobil itu pun melaju dengan cukup kencang di jalan raya. Sudah lama juga Hajar tidak mengendarai kenderaan.


"Hajar, jangan ngebut. Nanti kena tilang polisi, baru tau rasa."


Hajar tertawa kecil," aku hanya menguji kemapuanku lagi" ucapnya.


"Nanti kita malah tidak sampai ke kampus" balas Naomi.


"Tenang aja, ada penguntit di belakang kita."Hajar sangat tidak menyukai pengawal yang selalu mengikuti mereka. Tapi jika pengawal itu tidak ada, Chandra tidak mengijinkan mereka kemana mana.


Setelah sampai, Hajar menurunkan laju kenderaannya saat akan berbelok memasuki gerbang kampus. Mobil seharga belasan milliar itu tentu langsung menjadi sorotan para penghuni kampus. Dari warna dan bodynya, jelas sekali mobil itu keluaran terbaru.


Setelah mobil itu terparkir dengan sempurna, Hajar dan Naomi sama sama keluar. Naomi mendekari Hajar, melangkah bergandengan tangan masuk ke dalam gedung kampus.Primadona terbaru, itu kata yang tepat untuk Hajar.


"Pagi cantik cantik, boleh kenalan?." seorang pria menyapa Hajar dan Naomi dengan ramah.


"Tidak!" jawab Hajar melangkahkan kakinya dengan sombong.


"Cih!, menjadi istri Om om aja sombong" decih pria yang sering di panggil Dhikra itu. Menikah dengan seorang pengusaha terkenal membuat Hajar ikut terkenal juga.


"Muda tapi kere, buat apa?" balas Hajar setelah membalik badannya.


"Dasar matre" maki laki laki seusia Hajar itu.


Naomi tertawa cekikikan, matre itu sudah menjadi julukan Hajar sejak dulu.


Hajar tersenyum dan memeletkan lidahnya ke arah cowok berwajah tampan itu, tidak tersinggung sama sekali di katakan matre.


Kedua gadis itu pun meninggalkan laki laki itu. Mereka berjalan dengan wajah berbinar dan tersenyum menuju kelas mereka.

__ADS_1


* Bersambung


__ADS_2