
Hajar yang menyadari kalau menjadi buronan di rumah sakit itu. Berusaha berjalan untuk tetap tenang, supaya tidak ada yang mencurigainya.Sesekali Hajar menoleh ke belakang, melihat keadaan apakah aman atau tidak.
Aku harus bersembunyi, mereka pasti sedang mencariku sekarang.
Melihat pintu sebuah ruangan sediki terbuka, Perlahan Hajar mendorong pintu itu sembari melangkah masuk.
"A.."
Hampir saja Hajar menjerit kencang jika dia tidak langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan. Hajar begitu kaget melihat mayat berdarah darah terbaring di atas brankar. Hajar menelan air ludahnya, ternyata ia masuk ke dalam kamar mayat rumah sakit itu.
Hajar langsung keluar dari kamar mayat itu. Namun belum sempat keluar, tiba tiba ada yang menagkap tubuhnya dari belakang.
"Aaa...!!!"
Hajar menjerit kencang dan kesadarannya pun langsung menghilang.
Hahaha...! dapat kau gadis kecil.
Pria yang menangkap tubuh Hajar itu tertawa di dalam hati. Kemudian mengangkat tubuh Hajar dan membawanya pergi.
Sampai di depan sebuah rumah, Chandra turun dari dalam mobilnya, membawa Hajar di gendongannya masuk ke rumah tersebut. Rumah besar berlantai tiga, dengan halaman yang luas.
Chandra membawa Hajar ke lantai tiga rumah itu dengan menggunakan lif. Dimana di sana hanya terdapat dua kamar dan satu ruang kerja. Chandra pun membawa Hajar ke dalam kamar utama ruangan itu, membaringkan tubuh Hajar dengan sangat hati hati di atas tempat tidur.
"Kamu takkan bisa kabur lagi sayang." Chandra menghembuskan napasnya kasar." Hampir saja Om kehilanganmu Hajar. Tapi Om tidak akan lalai lagi dan membiarkanmu berhasil kabur dari Om. Kamu hampir membuat Om gila sayang." Chandra membelai lembut pipi Hajar.
Puas memandangi Hajar, Chandra pun membuka baju pasien yang dikenakan Hajar, kemudian menciumi tubuh itu pelan tapi pasti..
*
"Ukh!"
Tanpa sadar Hajar melenguh saat merasakan sesuatu yang unik menjalar di tubuhnya. Antara sadar dan bermimpi, Hajar menikmati nikmatnya sentuhan di tubuhnya. Sehingga membuatnya terus ingin mengeluarkan suara suara indahnya.
"Aaa....!!!!" seketika Hajar berteriak dan langsung terbangun saat kenikmatan yang di rasakannya semakin memuncak. Napas Hajar memburu, keringat halus mulai membasahi wajahnya.
"Akhirnya kamu sadar juga"
Suara itu berhasil mengalihkan pandangan Hajar ke arah pria yang duduk tersenyum di sampingnya.
"Om" gumam Hajar.
Pria yang di panggil Om oleh Hajar itu semakin melengkungkan bibirnya ke atas. Tanpa merasa bersalah sudah menikmati tubuh Hajar tanpa permisi.
Hajar mengerutkan keningnya saat melihat langit langit kamar itu terasa asing. Seketika Hajar mengingat terakhir kali, kalau dia melarikan diri dari rumah sakit meninggalkan Chandra yang tertidur. Dan Hajar tak sengaja masuk ke ruang mayat dan...
__ADS_1
Tanpa sepengetahuan Hajar, Chandra terlebih dahulu masuk ke ruang mayat itu, setelah berhasil mengintai Hajar lewat cctv.
Sebenarnya Chandra bersembunyi di ruang mayat itu untuk menangkap Hajar saat akan lewat. Hajar malah masuk ke ruangan itu.
"Kamu takkan bisa kabur dari Om."
Hajar mengalihkan pandangannya kembali ke arah pria matang yang membaringkan tubuh di sampingnya.
Chandra memeluk tubuhnya, namun Hajar langsung meronta minta di lepas.
"Diamlah" ucap Chandra.
"Lepas Om" Hajar berusaha mendorong dada Chandra, tapi tidak berhasil, kerena tubuh itu sangat kokoh untuk dikalahkannya.
"Hajar" tegur Chandra dengan suara lembutnya, melihat Hajar tidak diam dan terus berusaha melepaskan diri.
"Lepas Om" lirih Hajar mulai terisak.
Hajar ingin hidup tenang, ia tak ingin menghadapi masalah besar lagi. Hajar ingin pergi jauh, dimana orang tidak ada yang mengenalnya. Sungguh Hajar sangat malu dengan apa yang sudah di lakukan keluarganya. Hajar juga malu sudah menjadi nara pidana. Teman temannya pasti akan mengejek dan memandangnya hina.
"Kamu masih istri Om Hajar, ingat itu" Chandra megusap kepala Hajar dari belakang, kemudian menepis cairan bening yang mengalir dari sudut mata istri kecilnya itu.
"Om sudah menceraikanku" bantah Hajar.
"Kalau begitu Om merujukmu sekarang. Dan juga Om belum menyampaikannya padamu. Om juga sudah mencabut gugatan itu" tutur Chandra.
"Hajar" Chandra menatap teduh manik mata Hajar, berharap Hajar luluh padanya.
"Kamu mau kemana kalau tidak mau hidup bersama Om?. Keluargamu semua sudah di penjara, kecuali Caroline, dan Amel. Dan Om yakin kamu gak mau tinggal bersama mereka."
Hajar menggeleng gelengkan kepalanya lagi, ia juga tidak tau mau kemana, yang di pikirannya dia harus pergi sejauh mungkin.
"Tetaplah menjadi istri Om. Om mencintaimu. Om bisa gila kalau kamu menghilang" bujuk Chandra, mengecup kening Hajar dengan sayang.
Lagi Hajar menggelengkan kepalanya." Hajar takut Nyonya Belinda Om."
Chandra semakin merengkuh tubuh kurus itu ke dalam pelukannya, seolah tak ingin tubuhnya kehilangan tubuh Hajar." Jangan takut, ada Om yang akan menjadi pelindungmu. Om tidak akan membiarkan Mama atau siapa pun menyakitimu."
Hajar diam, ia pun memilih menikmati pelukan Chandra, rasanya sangat hangat dan nyaman.
"Rumah ini baru Om beli untukmu. Mama tidak mengetahui tempat ini. Kita akan tinggal di sini tanpa sepengetahuan Mama. Kamu aman di sini" ucap Chandra lagi.
Tapi itu sampai kapan, Nyonya Belinda bukan orang bodoh. Lambat laun Ibu dari suaminya itu pasti berhasil menemukannya.
Melihat Hajar mulai tenang di dalam pelukannya. Chandra mendudukkan tubuhnya tanpa melepas tubuh Hajar dari dalam pelukannya. Chandra pun meraih ponselnya dari atas meja nakas. Menghubungi pelayan untuk mengantarkan makanan ke dalam kamar, mengingat Hajar belum makan dari semalam.
__ADS_1
Tak lama menuggu, pintu kamar itu di ketuk dari luar. Chandra menyuruh pembantu itu masuk setelah membuka pintu melalui remot di tangannya.
"Permisi tuan" ucap pelayan itu saat melangkahkan kakinya masuk.
"Letakkan makanannya di meja nakas" perintah Chandra.
"Baik tuan" setelah pembantu itu meletakkan nampan di tangannya di atas meja, ia pun langsung berlalu meninggalkan kedua majikannya.
"Kamu harus makan sebelum minum obat" ucap Chandra.
"Gerah Om, Hajar ingin mandi" Hampir dua hari Hajar tidak mandi, tentu tubuhnya terasa lengket dan tidak nyaman.
"Hm..baiklah, kamu memang harus mandi. Tubuhmu terasa asem dan asin saat om tadi menciumnya" ucap Chandra tersenyum kemudian menggigit bibir bawahnya.
Hajar menatap malas ke arah Chandra, yang sudah menikmatinya saat tidur.
Chandra pun menyibak selimut Hajar yang menutupi sebagian tubuhnya, mengangkat tubuh Hajar membawanya ke kamar mandi. Chandra memandikan Hajar dengan air hangat hingga bersih, kemudian membawa Hajar kembali ke dalam kamar.
Setelah selesai memakaikan pakaian ke tubuh Hajar, Chandra pun menjatuhkan kecupan di kening istri kecilnya yang duduk bersandar di kepala ranjang.
"Ayo makanlah" ucap Chandra sembari meraih nampan di atas meja nakas.
"Hajar makan sendiri aja Om" tolak Hajar saat Chandra menyuapinya.
"Sekali saja" Chandra mengusap lembut kepala Hajar, supaya Hajar tidak menolak suapannya.
Hajar pun membuka mulutnya, menerima suapan dari Chandra tanpa melepas pandangannya dari wajah Chandra.
"Kenapa hm..? apa Om sangat tampan?" gurau Chandra dengan wajah sumiringah.
"Tapi tua, cocoknya Om itu jadi Ayah Hajar, seperti Naomi" Hajar berbicara dengan bibir mengerucut.
cup
Satu kecupan mendarat di bibir Hajar yang mengetucut.
"Makanya jangan terlalu matre" cibir Chandra tersenyum sembari menyuapi Hajar lagi.
Trrrt..trrrt..trrt..!
Mendengar getaran hp dari atas meja nakas, Chandra langsung meraih ponselnya, melihat siapa yang menghubungi. Chandra mengerutkan keningnya saat melihat pos security yang melakukan panggilan ke nomornya.
"Halo ada apa?" tanya Chandra langsung setelah mendial tombol hijau di layar ponselnya.
"Tuan, Nyonya Belinda datang, marah marah dan memaksa masuk. Nyonya membawa empat orang bodyguard, Tuan" lapor Pak satpam yang berjaga di pos security rumah itu.
__ADS_1
*Bersambung