Menantu Bayaran

Menantu Bayaran
68. Siapa wanita itu?


__ADS_3

Setelah merapikan penampilannya, Hajar keluar dari kamar rahasia ruang kerja Chandra. Dari tadi, Hajar menahan rindu untuk memeluk anaknya, kini dia sudah tak sabar lagi.


"Tunggu!"


Suara itu menghentikan langkah Hajar. Hajar berbalik ke arah Chandra yang baru keluar dari ruang istirahat itu.


"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Chandra menatap wajah Hajar dengan intens. Wanita itu sangat lihai memanjakannya, Chandra merasa seperti pernah merasakan sentuhan itu sebelumnya.


"Tentu aku adalah Hajar Nataya Callista Isti" jawab Hajar.


"Maksudku, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Chandra lagi.


"Apa saya mengingatkan Pak Chandra pada seseorang?" tanya balik Hajar lagi.


"Saya rasa begitu, tapi saya tidak mengingatnya" jawab Chandra dengan kening mengerut. Dia seperti mengenal wajah Hajar, tapi siapa?, dimana?.


Hajar mengulas senyumnya," cobalah ingat ingat" ucapnya.


Chandra menggigit bibir bawahnya, dan keningnya pun semakin mengerut. Namun sama sekali Chandra tidak dapat mengingatnya. Malah kepalanya yang terasa sakit.


"Pak Chandra baik baik aja" Hajar langsung mendekati Chandra dan menuntunnya duduk ke kurai kebesaran pria itu.


"Aku mengalami kecelakaan, kata Dokter ingatanku bermasalah" ucap Chandra.


"Kalau tidak bisa mengingatku, jangan memaksanya." Hajar begitu kasihan melihat suaminya itu.


Chandra diam dan menikmati sakit di kepalanya. Sudah tiga Tahun lebih, tidak ada yang membuat ingatannya bisa kembali.


Hajar pun memijat kepala Chandra, berpikir bisa meresakan sakit di kepala suaminya itu. Tak terasa air matanya menetes begitu saja, tanpa sadar terisak dan mengecup ujung kepala pria itu.


"Kamu kenapa menangis?" heran Chandra. Bukankah barusan wanita itu sangat nakal, kenapa tiba tiba berubah menjadi cengeng?.


Hajar menggeleng gelengkan kepalanya, lalu berlari keluar dari ruangan Chandra, masuk ke dalam ruangan Bryan dan Naomi.


"Hajar!" tegur Naomi" Apa yang terjadi?" tanyanya kawatir.


Hajar menggelengkan kepalanya dan terus terisak. Tidak ada yang terjadi kecuali di kamar itu. Hajar hanya tidak bisa membendung rasa rindu dan kasihannya melihat Chandra. Yang di manfaatkan Amel dan Nyonya Belinda sendiri.


"Mana anakku?"Hajar berlari ke arah bocah yang bermain sendiri si sudut ruangan. Menangkap bocah itu dan langsung menghujani wajahnya dengan ciuman.


Tiga Tahun Hajar menunggu, baru ia bisa memeluk langsung anaknya itu.


"Maafin Mama sayang" isak tangis Hajar. Andai saja ia punya kekuatan, Hajar tidak akan membiarkan Nyonya Belinda membawa anaknya. Hajar akan mencari anaknya dan Chandra sampai ke ujung Dunia sekalipun.


Bocah itu pun ikut mengangis, kaget dengan perlakuan wanita yang memeluknya. Apa lagi melihat wanita itu bukan orang yang dia kenal, anak itu takut.

__ADS_1


"Jangan menangis sayang, ini Mama Nak" ucap Hajar mengusap usap punggung balita itu.


"Mama! Mama!" tangis bocah laki laki itu malah.


Sudah seminggu Mamanya belum pulang liburan. Bocah itu sudah pasti merindukan Mamanya, Amel.


"Calix sudah memanggil Tante Amel mama. Carilah panggilan yang berbeda utukmu" ujar Naomi. Paham yang di panggil Mama oleh bocah itu adalah Amel.


Hajar menghapus air matanya, megeraskan rahangnya. Gemas dengan Amel yang menggantikan posisinya.


"Ini momy sayang" ucap Hajar menghapus air mata balita itu.


"Momy?" tanya balita itu.


"Iya, Momy. Ikut sama Momy, mau?" tanya Hajar lembut.


"Kemana?" tanya bocah itu lagi menajamkan pandangannya ke wajah Hajar.


Ternyata anaknya itu sangat pintar, meski usianya baru tiga Tahun, tapi bicaranya sudah jelas dan tidak cadel.


"Beli mainan, mau?"


Bocah itu langsung mengangguk tersenyum, sangat mirip dengan Papanya.


"Naomi, aku ingin menghabiskan waktu bersama anakku. Bisa kamu membantuku?" tanya Hajar pada Naomi.


"Iya, aku akan membawa kalian ke apartement Mama Caroline. Kamu bisa istirahat di sana bersama anakmu. Lagian Tante Amel lagi gak ada. Biasanya Papa mengijinkan Calix menginap di sana." Naomi melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerjanya dan Bryan. Di ikuti langsung oleh Hajar membawa anaknya itu di dekapannya.


"Gak minta ijin dulu sama Om Chandra?" tanya Hajar melihat Naomi membawa mereka ke arah lif.


"Tadi aku sudah meminta ijinnya" jawab Naomi. Tanpa Hajar minta, ia sudah tau apa keinginan sahabatnya itu.


Sampai di parkiran, Naomi membukakan pintu penumpang depan untuk Hajar, dan menutupnya kembali setelah Hajar masuk. Kemudian menyusul masuk duduk di kursi kemudi.


"Om Chandra sama sekali gak mengingatku" lirih Hajar. Naomi yang sudah mulai melajukan kenderaannya melihat sebentar ke arahnya.


"Tapi kamu berhasilkan menggoda Papa?" ujar Naomi.


"Semoga saja aku hamil lagi" Hajar mengulas senyumnya, mengingat panasnya permainannya dengan Chabdra tadi.


"Semoga saja" balas Naomi ikut tersenyum.


"Trimakasih sudah membantuku selama ini" Hajar menoleh sebentar ke wajah Naomi dari samping.


"Demi Adikku" balas Naomi.

__ADS_1


Hajar mengusap bocah yang anteng duduk di pangkuannya itu, lalu mengecup ujung kepalanya.


"Pantas dulu dia tidak menyukai Neneknya waktu di kandungan. Ternyata Neneknya ingin memisahkan kami" ujar Hajar lagi.


"Nasib kami memang sama. Tapi lebih tragis aku. Calix masih masih di asuh Papa. Sedangkan aku, Tente Amel."


"Dan aku di asuh Mama Misra. Aku juga tidak mengenal orang tua kandungku sampai aku menikah dengan Om Chandra" desah Hajar.


"Tapi ya sudahlah, semua sudah berlalu" desah Naomi juga.


Mereka pun sudah sampai di apartement, Hajar membawa bocah di dekapannya ke dalam kamar. Membaringkan tubuh mereka di atas kasur, memandangi wajah bocah yang ketiduran itu sambil mengusap usap kepalanya.


"Hajar, kamu sudah sampai?."


Hajar langsung mengarahkan pandangannya ke arah Caroline yang baru masuk ke kamar itu. Hajar mendudukkan tubuhnya, menyambut hangat pelukan yang sudah di anggapnya Ibu selama ini.


"Ibu Kangen banget sama kamu" ujar Caroline terharu. Setelah tiga Tahun melanjutkan pendidikannya di luar Negri, Hajar baru pulang hari ini.


"Hajar juga kangen Ibu" Hajar juga menangis terharu.


Caroline pun melepas pelukan mereka, lalu menghapus air mata Hajar. Caroline tersenyum melihat wajah Hajar yang sudah dewasa, terlihat bertambah cantik.


"Kamu bertambah cantik" pujinya.


Hajar mengulas pun mengulas senyumnya, dan mengarahkan pandangannya ke arah balita yang tidur di sampingnya." kalau aku gak cantik, gak mungkin aku punya bayi setampan ini."Hajar mengusap lembut kepala Calix.


"Putihnya mirip denganmu"lanjut Caroline.


"Syukurlah dia tidak ada miripnya dengan Nenek lampir itu" tambah Hajar lagi, kesal mengingat Ibu mertuanya itu.


.


.


Chandra yang di tinggalkan Hajar di ruangannya. Masih duduk termenug, tidak mengerjakan apa apa dari tadi. Otaknya masih berusaha mengingat siapa wanita cantik yang memberinya kenikmatan secara cuma cuma tadi.


Namun setiap kali memaksa mengingatnya, kepalanya terasa sakit. Hatinya sakit, merasakan rindu berat tapi tidak tau pada siapa?.


Siapa wanita itu?,


Entah sudah berapa kali Chandra menangakan pertanyaan itu ke hatinya. Tapi Chandra tidak bisa menjawabnya sama sekali.


Chandra mengulas senyumnya, sepertinya dia tertarik dengan wanita cantik itu.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2