Menantu Bayaran

Menantu Bayaran
21.Kecewa


__ADS_3

Di tempat lain, Hajar terus menangis dan terus meneguk sedikit demi sedikit minuman di depannya. Terlalu pahit kenyataan hidup yang menimpanya.


Selama ini Hajar berpikir kalau dia terlahir dari wanita gila. Ternyata dia terlahir dari wanita yang lebih gila dari orang gila. Yang tega membuangnya tanpa belas kasihan.


Dan yang lebih membuat Hajar shok, adalah suaminya ternyata mantan pacar wanita yang di anggap Ibu kandung selama ini. Suaminya masih mencintai Ibunya saat ini.


"Udah dong Hajar minumnya" ujar Naomi mengambil gelas dari tangan Hajar.


Saat ini Hajar dan Naomi sahabatnya berada di sebuah club malam. Tadi saat di dalam taxi, Hajar mengirim pesan kepada Naomi, untuk menyusulnya ke sebuah club untuk menemaninya.


"Aku harus bagaimana sekarang?. Apa yang harus kulakukan?. Tidak ada yang menyayangiku. Kenapa takdir mempermainkan hidupku?" rancau Hajar dalam tangisnya.


Naomi yang duduk di depannya diam tidak bisa menjawab. Karna apa yang dihadapi Hajar memang sangat rumit. Jika ia berada di posisi Hajar, Naomi juga tidak tau apa yang harus ia lakukan.


"Aku memang matre Naomi, tapi aku serius dengan pernikahanku. Aku tidak main main, tapi kenapa semua harus rumit" tangis Hajar menelengkupkan kepalanya ke atas meja di depannya.


"Pasti ada hikmah di balik apa yang menimpamu. Atau bisa saja ini hukuman untukmu, karna sudah menyakiti hati Bryan" ujar Naomi.


Hajar menghentikan tangisnya sebentar, kemudian menarik gelas minuman dari tangan Naomi. Namun Naomi langsung menjauhkannya.


"Berikan aku minuman itu Naomi"


"Kamu sudah banyak minum, lihatlah kamu sampai mabuk." Naomi semakin menjauhkan gelas itu dari jangkauan Hajar. Seingga Hajar berusaha berdiri untuk meraihnya.


Brukk!


Tak sanggup menopang tubuhnya, Hajar pun terjatuh ke lantai dan langsung tak sadarkan diri.


Naomi yang melihatnya menghela napas kasar, entah kemana dia akan membawa Hajar pulang. Naomi tidak mungkin membawa Hajar pulang ke rumahnya dalam keadaan mabuk berat. Apa kata kakanya nanti?.


Tidak ada cara lain, Naomi pun menghubungi Bryan. Supaya Bryan menjemput Hajar ke tempat mereka berada saat ini.


Tak lama menunggu, Bryan yang dihubungi sudah sampai di dalam club. Bryan melangkah sembari mencari cari letak dimana kedua gadis remaja itu berada.

__ADS_1


"Bryan!"


Mendengar seorang gadis memanggilnya, Bryan langsung mengarahkan pandangannya ke arah gadis yang melambaikan tangan ke arahnya, dan mengarahkan langkahnya ke arah gadis itu.


"Mana Hajar?" tanya Bryan.


"Tidur di lantai" tunjuk Naomi dengan dagu ke arah Hajar yang terbaring di lantai.


Bryan menghela napasnya, melihat wajah Hajar yang nampak sembab dan menderita. Kemudian Bryan pun mendekati Hajar dan langsung mengangkat tubuh gadis itu dari lantai membawanya keluar dari dalam club.


Sampai di sebuah hotel, Bryan membawa Hajar ke sebuah kamar dan meletakkan tubuh Hajar perlahan di atas kasur.


"Bukankah ini suaminya Hajar?" tanya Naomi melihat pria yang terbaring di kasur sebelah Hajar.


"Iya, dia juga sedang mabuk" jawab Bryan membuka sepatu Hajar, lalu menyelimutinya.


"Kau masih mencintai Hajar" Naomi memperhatikan cara Bryan memandang Hajar.


Bryan menghela napasnya pelan," tapi dia lebih mencintai harta" balasnya tanpa melepas netranya dari wajah Hajar yang terlelap.


"Kau hanya memujiku" balas Bryan melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar hotel itu, langsung di ikuti Naomi.


.


.


Hajar terbangun dari tidur lelapnya, merasa terusik dengan sinar matahari yang mengganggu indra penglihatannya. Perlahan Hajar membuka kelopak mata indahnya. Dan betapa terkejutnya Hajar, saat melihat wajah terlelap tepat di depan wajahnya.


"Om Chandra" gumam Hajar tak percaya.


Hajar pun memutar memorinya, kenapa dia sampai bisa tidur di ranjang yang sama dengan suaminya. Seingatnya tadi malam dia berada di sebuah club bersama Naomi.


Naomi, dimana Naomi, Hajar pun memutar pandangannya ke setiap sudut ruangan itu.

__ADS_1


Ini dimana?, batin Hajar. Hajar mengerutkan keningnya, dia tidak mengenali tempat itu sama sekali.


Apa Om Chandra tadi malam berada di club itu juga?, Hajar bertanya di dalam hati, sambil berpikir keras.


Hajar pun mengangkat tangan Chandra perlahan dari atas perutnya. Namun tangan itu semakin mengeratkan lilitannya, membuat Hajar menghela napas.


"Om" panggil Hajar terpaksa membangunkan pria matang di sampingnya. Hajar harus segera pergi, ia harus mencari Ibunya yang hilang.


Namun pria matang itu masih bergeming, membuat Hajar berdecak, lalu membuang kasar tangan Chandra dari atas perutnya. Sontak membuat pria itu terbangun dan membuka matanya.


Hajar yang sudah turun dari atas tempat tidur, melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi dan langsung mengguyur tubuhnya di bawah shower.


"Oh my Good" ucap Hajar menyadari tubuhnya ternyata tidak mengenakan apa apa. Hajar pun mencoba mengembalikan ingatannya tadi malam, apa yang sebenarnya terjadi di atas ranjang itu. Benarkah tadi malam mereka melakukannya tanpa sadar?. Atau Hajar saja yang tidak sadar saat di cumbu mesra suaminya.


Memikirkan itu, Hajar pun mempercepat cara mandinya. Ia penasaran apa yang terjadi tadi malam. Ia akan menanyakan hal itu kepada Chandra.


Setelah selesai membersihkan diri, Hajar mencari handuk di dalam kamar mandi itu, ternyata tidak ada.


Masa di kamar mandi semewah ini gak ada handuk?, batin Hajar. Hajar menghembuskan napasnya kasar, dengan terpaksa ia keluar dari dalam kamar mandi tanpa apa apa.


"Bukankah kita akan bercerai?. Kenapa Om masih membawaku tidur bersama Om?" tanya Hajar sambil memungut pakaiannya yang berserak di lantai, lalu mengenakannya di depan Chandra.


Menurut Hajar diamnya Chandra semalam, itu artinya Chandra setuju mereka bercerai. Apa lagi semalam Chandra membiarkannya pergi begitu saja, tanpa ada niatan mencegahnya apa lagi mengejarnya, membuat Hajar kecewa.


Chandra yang duduk bersandar di kepala ranjang, tidak menjawab pertanyaan Hajar, karna sibuk memijat mijat keningnya yang terasa pusing.


"Seharusnya kita tidak melakukannya lagi, karna aku gak mau mengandung anak yang tidak memiliki Ayah. Cukup aku yang merasakannya." Setelah mengatakan itu, Hajar melangkahkan kakinya ke arah pintu.


Hajar membalik tubuhnya sebelum benar meraih knop pintu di depannya. Hajar kecewa dan sakit hati melihat reaksi Chandra yang hanya diam seperti tidak mendengar ucapannya.


"Aku akan mengembalikan semua apa yang diberikan Nyonya Belinda" Hajar membalik tubuhnya kembali, segera meninggalkan kamar hotel itu.


Sampai di depan pintu, Hajar menghapus air matanya yang sempat mengalir, lalu melangkah pergi. Entah kenapa hatinya terasa sakit dan perih diabaikan suaminya. Bukankah Hajar tidak mencintai suaminya?.

__ADS_1


Sedangkan Chandra yang masih di dalam kamar hotel, menghela napas kasar. Berpikir, kalau Bryan sudah menjebaknya tadi malam, dengan menaruh sesuatu ke dalam minumannya, sampai ia mabuk dan tidak bisa menahan hasratnya saat terbagun, sehingga terpaksa melampiaskannya kepada Hajar. Padahal ia sudah menyuruh Bryan mengurus perceraiannya dengan Hajar.


*Bersambung


__ADS_2