Menantu Bayaran

Menantu Bayaran
55. Masih mencintai


__ADS_3

"Hajar, buka pintunya sayang!" seru Ibu Misra dari luar kamar.


Hajar yang berada di dalam kamar menangis menenggelamkan wajahnya ke bantal. Kenapa dia harus terlahir dari perut penjahat?. Kenapa bukan Ibu Misra atau Caroline saja yang menjadi Ibu kandungnya, dan Pak Randy yang menjadi Papa kandungnya.


"Hajar!" kini Caroline yang memanggil Hajar dengan suara lembutnya.


Namun Hajar tidak berniat sama sekali untuk membuka pintu, Hajar butuh sendiri.


"Hajar! buka pintunya dong!. Kami kawatir sama kamu tau!" Naomi ikut berseru.


"Buka pintunya dong Hajar!. Kita udah lama gak ketemu loh!. Masa kamu gak kangen sama kami?." Katrin ikutan berseru, membujuk Hajar supaya mau membuka pintu.


"Iya Hajar, dah lama loh kita gak main bareng. Jalan jalan yuk!" Luna menimpali.


"Iya Hajar, ayolah!" tambah Yona.


Ceklek!


Akhirnya pintu itu terbuka dari dalam. Terlalu banyak yang membujuknya membuat hati Hajar menjadi luluh. Hajar cemberut, wajahnya nampak merah dan sembab.


"Ayo makan, Mama tau kamu pasti sudah lapar." Ibu Misra menghapus air mata Hajar dan merapikan rambut putri kesayangannya itu, lalu menariknya keluar dari ambang pintu.


"Gitu dong, kalau merajuk itu gak usah lama lama" ujar Yona.


Hajar mendengus.


Mereka pun sama sama pergi ke ruang makan untuk makan bersama. Di sana Amel sedang makan sendirian. Melihat itu Hajar menghentikan langkahnya.


"Maafin Amel ya" ucap Caroline mengusap punggung Hajar. Dia mengerti di posisi Hajar dan Amel. Di antara keduanya, tidak ada yang bisa di salahkan. Keadaan terlalu rumit.


Pandangan Hajar meneduh, semua karena orang tuanya. Hajar pun menganggukkan kepalanya.Caroline, Ibu Misra dan Naomi sama sama mengulas senyum.


"Hanya sampai anak ini lahir Hajar" ucap Amel menatap Hajar berkaca kaca." Setelah itu, semua menjadi milikmu. Om Chandra dan bayi ini" Amel berdiri dari tempat duduknya, mengelus perutnya yang sudah membesar.


Setelah bayi itu lahir, dia akan pergi dari kehidupan Chandra tanpa bayi itu."Aku harap nanti kamu menjaganya dengan baik" lirih Amel, bibirnya bergetar menahan tangis.


Hajar meneteskan air matanya, akibat perbuatan orang tuanya. Banyak yang harus menderita, terutama bayi yang berada di perut Amel.


"Tapi aku tidak percaya kalau kamu tidak ingin merebut Om Chandra dariku" lirih Hajar dengan bibir bergetar. Itu yang di kawatirkan Hajar jika Amel tinggal serumah dengannya dan Chandra. Dan Hajar yakin, Amel masih mencintai Chandra.


"Tapi aku tidak berhasil" balas Amel.

__ADS_1


"Selesai makan malam, keluarlah dari rumah ini. Kamu bisa tinggal bersama Ibu Caroline di apartement, atau di rumah Mama." Hajar tidak mau, jika Amel terus terusan memanfaatkan kehamilannya untuk dekat dengan Chandra.


"Atau kamu minta saja Om Chandra membeli rumah untukmu. Aku rasa itu lebih bagus, dan aku tidak akan keberatan untuk hal itu" ucap Hajar lagi.


Amel menghapus air matanya, merapatkan gigi giginya, mengeram dalam hati. Setelah merasakan di usir orang tua Hajar dulu. Sekarang Amel merasakan di usir putri dari Taslin dan Bruno.


"Dasar anak penjahat" maki Amel tak bisa menahan ke geramannya lagi.


"Amel, sudah Dek" Caroline mendekati Amel, dan mengusap lengannya. Air mata Amel kembali mengalir lagi.


"Sayang, kasihan Amel. Dia lagi hamil, gak bagus untuk kesehatan bayinya, kalau dia sering bersedih atau emosi" nasihat Ibu Misra mengusap punggung Hajar dari belakang.


"Dia yang duluan membuat masalah" cetus Hajar melangkahkan kakinya ke meja makan. Hajar sudah lapar, dia butuh energi untuk menghadapi Amel yang sering membuatnya cengkel dan cemburu.


Semuanya pun duduk di kursi meja makan, dan segera menyantap hidangan di atas meja.


.


.


"Tuan, Oman baru melaporkan, Nona Hajar dan Nona Amel menangis" lapor Bryan saat mereka dalam perjalanan ke bandara.


Bryan pun menceritakan apa yang di ceritakan Oman padanya. Hajar yang tidak menyukai Amel di rumahnya, sehingga terjadi perdebatan.


Chandra menghela napasnya, dia mengerti dengan kekawatiran dan kecemburuan Hajar. Tapi Chandra tidak bisa mengabaikan Amel yang sedang Hamil. Chandra tidak mau melakukan kesalahan untuk yang kedua kali. Apa lagi mengingat Amel adalah adik Caroline.


"Suruh Naomi untuk mengajak Hajar jalan jalan bersama teman temannya" perintah Chandra. Ia berpikir selama tiga Bulan ini Hajar bosan karena terkurung di Villa. Tidak pernah kemana mana sama sekali.


"Baik,Tuan" patuh Bryan.


.


.


"Hajar, Papa memberi kita ijin besok untuk jalan jalan" seru Naomi menunjukkan pesan yang di kirim Bryan ke ponselnya.


"Benaran?" Hajar langsung antusias, dia memang butuh hiburan. Dia sudah bosan hidup terkurung di sangkar emas milik Chandra.


"Iya, kita sudah lama gak jalan jalan bareng" jawab Naomi.


"Serius kalian besok boleh keluar?" tanya Yona yang sibuk melihat jualan on line di hapenya.

__ADS_1


"Bryan yang mengatakannya, berarti itu Papa yang menyuruhnya" jawab Naomi.


"Kalau begitu, ayo kita tidur" Yona berpindah dari sofa ke kasur dan langsung membaringkan tubuhnya di samping Naomi. Malam ini Yona menginap di rumah Hajar, tidur di kamar Naomi yang berada di rumah itu.


"Sebentar, aku kabari Luna dan Katrin dulu" ucap Naomi, mengirim pesan ke nomor kedua teman mereka yang sudah pulang setelah selesai makan malam.


"Besok kita jalan kemana?" tanga Hajar. Ke mall Hajar sudah bosan. ke pantai juga sudah bosan. Ke pasar malam, apa lagi. Hajar ingin jalan jalan ke tempat yang belum pernah di kujunginya, tapi Hajar tidak tau kemana.


"Kemana ya biar seru?" bola mata Yona melirik ke atas sebelah kanan. Berpikir kira kira kemana mereka jalan besok.


"Bagaimana kalau kita ke bioskop aja. Udah itu malamnya kita ke Club" usul Yona berbisik di akhir kalimatnya.


"Papa pasti akan marah" desah Naomi. Dan juga mereka tidak akan bisa masuk ke sana. Chandra pasti akan menyuruh pengawal untuk mengawasi mereka.


"Jangan sampai Papamu tau" ujar Yona.


"Aku setuju" sahut Hajar yang sudah mulai memejamkan mata.


.


.


Esok harinya.


Nampak Chandra tidak tenang saat rapat pertemuannya dengan rekan kerjanya, setelah mendapat laporan tentang istri dan putrinya yang masuk ke dalam sebuah Club. Entah bagaimana caranya anak anak nakal itu bisa lolos dari pengawasan anak buahnya yang bertugas untuk menjaga gadis gadis remaja beranjak dewasa itu. Kepala Chandra pusing, namun ia tidak bisa mengabaikan pekerjaannya begitu saja.


Sedangkan Hajar, Naomi, Yona, Luna dan Katrin. Mereka asik berdisko ria di dalam sebuah Club. Tanpa mereka sadari, seorang pria sedang memperhatikan mereka dari tadi.


"Minum yok!" ajak Yona berteriak ke telinga Hajar.


"Gak!" Hajar menggeleng gelengkan kepalanya. Dia tak ingin minum, apa lagi sampai mabuk.


"Ayolah, biar tambah seru. Kita jarang bisa seperti ini" bujuk Yona.


"Ajak Katrin sama Luna aja. Aku dan Naomi tidak bisa minum. Nanti ketahuan sama Om Chandra, besok besok kami gak boleh lagi keluar" jelas Hajar.


Hajar ke Club hanya ingin sekedar hapy hapy aja, bukan untuk mabuk mabukan.


Yona menghela napasnya dan langsung mendekati Katrin dan Luna. Menurutnya Hajar dan Naomi tidak seru. Terlalu takut dengan si Om Chandra mereka, marah.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2