
Pagi hari, istri dari Chandra Wahid Kurniawan itu sangat manja. Mau mandi, minta dimandiin dan harus di gendong ke kamar mandi. Padahal Chandra masih ngantuk karna tidur dini hari tadi malam.
Selesai mandi, harus di pakein baju, rambut di sisirin. Malah menyuruh Chandra merias wajahnya.
"Kenapa kamu manja begini?, jangan katakan karena bayi kita." Chandra menjadi gemas melihat istrinya itu, pingin gigit aja.
"Karena apa lagi?" Hajar memeluk pinggang Chandra yang berdiri di depannya.
"Kamu gak usah memakai bedak lagi. wajahmu sudah cantik tanpa di kasih apapun" ucap Chandra berbada biasa, sibuk merapikan rambut Hajar ke belakang untuk mengikatnya.
"Aku libur kuliah aja ya hari ini" Chandra baru pulang, Hajar ingin melepas rindu dengan suaminya itu.
"Baru juga kuliah lima hari, sudah langsung libur." Chandra pun menyentil gemas kening Hajar.
"Om gak kangen sama Hajar?" rajuk Hajar mengembangkan pipinya. Susah ngadapin orang tua, gak paham aja sama remaja kasmaran.
"Nanti pulang kuliah kita bisa kangen kangenan" Chandra mengulas senyumnya.
hajar mengerucutkan bibirnya, lalu melongos dari hadapan Chandra. Hari ini Hajar malas kuliah. Memang sebenarnha Hajar malas untuk kuliah. Namun bujukan Chandra yang sangat menggiurkan, berhasil menggoyahkan imannya.
"Nanti aku pulangnya ke rumah Ibu" cetus Hajar lalu berjalan ke arah pintu setelah mengambil tasnya.
"Nanti pulang kuliah, aku akan menjemputmu. Kita ke rumah sakit memastikan mimpi manismu tadi malam!" seru Chandra.
Chandra belum berani berharap dengan apa yang di katakan Hajar tadi malam. Mengingat Hajar langsung tertidur pulas setelah memeluknya. Menurut Chandra tadi malam Hajar sedang mengingau. Mungkin sedang bermimpi dan refleks terbangun saat merasakan sentuhannya.
Hajar diam tidak menjawab, menutup pintu kamar itu dan langsung pergi. Ceritanya Hajar sedang merajuk.
Chandra menghela napasnya, memikirkan Hajar jika benar hamil. Sebenarnya Chandra kasihan jika Hajar harus hamil di usia yang sangat muda. Tapi bagaimana lagi, selain untuk berkasih sayang, tujuan menikah juga untuk mendapatkan keturunan, sebagai penerus untuk menjaga bumi ini.
Chandra pun kembali membaringkan tubuhnya ke atas kasur. Tubuhnya masih lelah dan mengantuk.
.
.
Seperti kata Chandra, siang hari ia menjemput Hajar ke kampus. Chandra melajukan kenderaannya perlahan masuk ke halaman kampus. Memarkirkan kenderaannya di samping mobil Hajar. Pasti anak buahnya yang memberitahu letak parkiran mobil istri kecilnya itu.
Chandra pun menunggu di dalam mobil, tak ingin menjadi pusat perhatian penghuni kampus jika dia menunggu Hajar di luar.
Melihat istri kecilnya sudah keluar bersama dengan Naomi. Baru Chandra keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
"Om, mobilku mana?" tanya Hajar melihat mobil barunya sudah tidak ada di parkiran.
"Hasan membawanya pulang" jawab Chandra.
"Aku mau ke rumah Ibu" rajuk Hajar manja.
Naomi berdecak, melihat kemanjaan Hajar kepada sang Papa. Membuat Papanya seakan melupakannya.
"Nanti setelah dari rumah sakit" ucap Chandra membuka pintu kursi penumpang depan untuk Hajar."Ayo masuk" Chandra pun menuntun Hajar masuk ke dalam mobil.
"Aku di lupain" cetus Naomi.
Bisa bisanya Ayah biologisnya itu hanya membukakan pintu untuk Hajar. Apa dia sudah tidak di anggap anak?.
"Maaf sayang, Papa lupa."
Jelas Chandra sering lupa kalau sudah mempunyai putri. Dia mengetahui keberadaan putrinya setelah besar. Terkadang Chandra tidak percaya, kalau Naomi itu putrinya, rasanya seperti mimpi. Tiba tiba punya anak yang sudah dewasa.
Setelah membukakan pintu penumpang belakang untuk Naomi. Chandra menyusul masuk dan langsung melajukan kenderaannya ke Rumah Sakit.
Sampai di Rumah Sakit, Chandra langsung membawa Hajar dan Naomi ke ruangan Dokter kandungan. Tidak perlu mengantri lagi, Karena Chandra sudah membuat janji sebelumnya.
Tanpa aba aba, Chandra langsung mengangkat tubuh Hajar. Membuat Hajar menjerit kaget.
Chandra mengabaikannya, ia pun membaringkan tubuh Hajar di batas brankar pemeriksaan. Sudah tak sabar ingin memastikan apakah Hajar benar hamil atau tidak.
Naomi geleng geleng kepala.
"Kau tak sabaran aja" ujar Dokter wanita yang bertugas di ruangan itu. Dia adalah sepupu Chandra, Adik dari Marco.
"Cepat periksa istriku" perintah Chandra.
Dokter yang berparas cantik itu berdecak, lantas berdiri dari tempay duduknya. Perawat yang bertugas di ruangan itu pun segera menutup tubuh bagian bawah Hajar dengan selimut. Dan menyibak dress yang di kenakan Hajar sampai menampakkan permukaan perutnya.
Dokter wanita itu pun langsung melakukan USG ke perut Hajar. Tanpa di suruh, Chandra, Hajar dan Naomi mempokuskan pandangan mereka ke layar monitor di depan mereka.
"Perhatikan ini Pak Chandra yang terhormat" Dokter kandungan itu menunjuk gambar apa yang dia cari di perut Hajar." Ini lah hasil percintaan kalian."
Senyum Chandra mengembang dengan mata berkaca kaca, begitu juga dengan Hajar. Mereka akan segera punya anak, dan Hajar akan mendapatkan uang yang banyak dari Chandra.
"Kamu benar hamil sayang. Tadi malam aku pikir kamu mengigau" ucap Chandra. Ia pun mengecup gemas bibir Hajar dan sedikit menyapunya, tanpa peduli dengan mahluk lain di ruangan itu.
__ADS_1
"Ingat, Om harus membayar mahal ini semua" ucap Hajar mengingatkan.
Tak!
Satu sentilan pun mendarat di kening Hajar." Duit aja di otakmu ini" gemas Chandra.
"Aku boleh berhenti kuliah ya Om."
"Nggak!" tolak Chandra cepat.
Hajar langsung mengerucutkan bibirnya. Dia pikir kalau dia hamil, Chandra tidak akan memaksanya kuliah lagi. Tapi itu tidak menjadi alasan untuk Chandra. Karena bagi Chandra pendidikan itu sangat penting.Dan seharusnya Hajar bersyukur, jika ingin kuliah, tidak terkendala dengan biaya dan fasilitas.Tidak seperti banyak orang di luaran sana. Ingin kuliah tapi tidak punya biaya.
"Cuti, setelah melahirkan baru lanjut" tawar Hajar. Suaminya sudah kaya dari lahir, ngapain lagi dia harus kuliah. Nanti lulus sarjana juga gak di ijinin kerja, pikir Hajar.
"Sayang, kamu di kampus itu hanya sebentar saja. Di rumah juga kamu mau ngapain?" ujar Chandra.
"Iya Hajar, ngapain kamu di rumah aja?. Mau nyuci piring, nyuci baju, nyapu, ngepel, nyetrika" sambung Naomi mengabsen setiap pekerjaan rumah tangga.
"Enak aja" cetus Hajar.
"Ehem! Pak, Bu bisa bahas sekolahnya nanti aja. Sekarang kita harus membahas hasil dari percintaan kalian" ujar Dokter itu setelah berdehem.
"Ah! iya, lupa" Hajar pun kembali mengarahkan pandangannya ke layar monitor di depannya.
"Usia kandungannya jalan lima minggu. Sehat dan detak jantungnya normal" jelas Dokter wanita itu."Kalau ada keluhan, mual, muntah dan pusing. Itu biasa dialami wanita hamil, di awal kehamilan." jelasnya lagi.
Hajar hanya diam menanggapi, dia tidak mengalami itu. Dia hanya mual saat mencium aroma farpum Dhikra aja di kampus.
"Ada yang mau di tanyakan?" tanya Dokter itu melihat Hajar dan Chandra diam saja.
"Tidak ada Dok" jawab Hajar.
"Ehem ! tidak ada larangan kan untuk berhubungan badan?" tanya Chandra.
"Lakukan dengan pelan pelan. Dan selagi Ibunya tidak merasakan sakit, atau keluhan lain, aman aman saja" jawab Dokter itu.
"Itu saja" balas Chandra.
"Saya akan buatkan resep vitamin untuk Ibunya.
Setelah mendapatkan resep vitamin yang di berikan Dokter kandungan tadi. Chandra pun membawa kedua gadis itu ke rumah Caroline, sesuai permintaan Hajar tadi pagi.
__ADS_1
*Bersambung