Menantu Bayaran

Menantu Bayaran
23.Berpoligami


__ADS_3

"Hajar!"


Hajar yang duduk di atas tempat tidur, mengalihkan pandangannya ke arah pintu, mendengar suara temannya memanggilnya. Tak lama kemudian pintu itu terbuka setelah di ketuk terlebih dahulu.


"Suami mu itu sangat keterlaluan. Kami tidak di ijinkan masuk ke pulau Nikoi" keluh Yona berjalan ke arah kasur menjatuhkan tubuhnya di samping Hajar.


"Bukankah kalian seharusnya berbulan madu?, kenapa sudah pulang?." Yona mengarahkan pandangannya ke arah Hajar dengan kening mengerut.


"Tiba tiba Om Chandra mendapat kabar perusahaannya sedang bermasalah" jawab Hajar berbohong. Tak ingin teman temannya tau apa yang sudah menimpa dirinya, kecuali Naomi teman yang bisa di percayanya.


"Kami terpaksa menghabiskan liburan kami di daerah L" ujar Yona.


"Meski di sana juga tempatnya bagus sih, tapi gak seru kalau gak ada kamu" timpal Katrin mendudukkan tubuhnya di pinggir kasur.


"Iyalah gak seru kalau gak ada aku" Hajar mengulas senyumnya tak ingin menunjukkan dirinya yang lagi bersedih.


Luna hanya menganggukkan kepalanya, menyetujui apa yang di katakan Kantrin. Sedangkan Naomi yang tidak ikut liburan, memilih mengambil buku dari atas meja sofa dan membacanya. Di antara mereka berempat, hanya dia yang tau apa sebenarnya yang terjadi pada Hajar.


"Kamu mendaftar kuliah dimana?" tanya Katrin kepada Hajar.


"Belum tau, mungkin ngikut kalian aja" jawab Hajar.


"Biar seru, kita sekolahnya satu kampus aja" sambung Luna, berpindah duduk ke sofa, dan langsung mengambil sebuah buku majalah, lalu membukanya.


"Satu jurusan juga?" timpal Naomi.


Hajar, Yona, Katrin dan Luna diam tidak langsung menjawab, karna belum tau mereka akan mengambil jurusan apa.


"Aku belum tau mau ngambil jurusan apa" jawab Hajar.


"Kalau aku sih bisnis" jawab Yona.


"Kalau kamu apa Naomi?" tanya Luna.


"Jurusan matematika" jawab Naomi.


"Katrin?" tanya Hajar.


"Belum tau" jawab Katrin sibuk dengan handphon di tangannya.


"Kita jalan jalan yuk. Kita belanja keperluan untuk kuliah" ajak Yona.


"Ayo" balas Katrin di angguki Luna.


"Aku lagi malas keluar" ujar Hajar.

__ADS_1


"Kalau aku gak punya uang" sambung Naomi,Yona berdecak.


"Ayolah, Hajar bisa mentraktirmu" ujar Yona." Iya kan Hajar?" tanyanya kemudian pada Hajar.


"Kenapa gak kau saja?" Hajar mendengus, sahabat luknatnya itu selalu saja ingin mengukur keuangannya.


"Buktikan dong, kalau kamu itu sekarang istri dari Om om kaya" ucap Yona meremehkan Hajar.


"Ayo Naomi kita ikut" Hajar kesal, ia pun segera turun dari atas kasur untuk mengganti pakaiannya.


"Nah! gitu dong" Yona tersenyum puas karna sudah berhasil membuat panas hati Hajar.


Siang itu, ke lima gadis remaja itu pun, menghabiskan waktu dengan berbelanja belanja di mall.


Jika Hajar dan ke empat sahabatnya sibuk memilah milah barang di sebuah mall. Berbeda dengan Chandra, yang sibuk berkutat dengan laptopnya.


Sudah seminggu semenjak dari rumah sakit. Chandra tidak pernah bertemu dengan Hajar. Mereka sibuk dengan Dunia masing masing. Seperti menganggap pernikahan mereka yang lebih tua dari umur toge, hanyalah sebuah mimpi.


"Permisi Tuan"


Pokus Chandra langsung teralihkan pada Bryan yang masuk ke ruangannya.


"Ada apa?"


Chandra mengambil kedua map itu,sembari menghembuskan napasnya kasar.


Entah kenapa tiba tiba jantungnya berdegup sangat kencang, setelah menceraikan Hajar tanpa sepengetahuan gadis itu. Padahal sebelumnya Chandra sudah memikirkan itu matang matang dengan berbagai pertimbangan sebelum benar benar melepas gadis ceria itu.


"Sebelum surat cerai itu sampai ke tangan Hajar. Tuan masih bisa membatalkan perceraiannya Tuan" ujar Bryan. Melihat wajah Chandra seperti berat melepaskan Hajar dari pernikahan mereka.


"Pergilah" Chandra membuka laci di sampingnya, memasukkan surat cerai itu ke dalamnya.


Bryan pun segera meninggalkan ruangan itu. Dan Chandra langsung mengambil botol minuman dari dalam laci mejanya, meneguk minuman itu rakus.


Bryan yang melihatnya dari selah pintu yang belum tertutup rapat, hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sudah seminggu ini, Tuannya itu selalu saja meminum alkohol di ruang kerjanya, setiap kali teringat dengan kedua wanita yang menguasai hatinya.


Kau mencintai Hajar Tuan, tapi Tuan sendiri tidak menyadarinya. Tuan terlalu tenggelam dalam cinta masa lalu Tuan, batin Bryan.


Di dalam ruangan orang no satu perusahaan itu, Chandra terus meneguk minuman botol di tangannya, berharap sakit kepalanya bisa hilang. Terlalu sulit baginya menerima kenyataan yang ada, sehingga ia tidak bisa berpikir jernih. Apa lagi saat mengingat kedua nama wanita yang berebut memiliki hatinya itu.


"Caroline, aku harus bagaimana Caroline?" Chandra merancau sambil menarik kuat rambut di ubun ubunnya.


Chandra ingin sekali menghilangkan nama itu dari hati dan pikirannya, namun sampai saat ini nama itu masih terus terngiang di benaknya. Rasa penyesalan yang kian besar karena pernah menyakiti hati wanita yang di cintainya dulu.


Sedangkan dengan Hajar, Chandra bingung dengan perasaannya. Menurutnya dia tidak mencintai Hajar, tapi entah kenapa melepas Hajar sangat menyiksa batinnya. Dadanya terasa sesak, hatinya sakit seperti kehilangan separuh jiwanya.

__ADS_1


Tapi untuk mempertahankan pernikahannya dengan Hajar, Chandra saat ini tidak bisa lagi. Karena tak ingin di tipu atau di permaiankan keluarga Hajar. Meski Chandra yakin, kalau Hajar tidak tau apa apa dengan permainan orang orang di dekatnya. Biarlah saat ini dia melepas Hajar, sebelum tau maksud dari Caroline mengirim Hajar untuk menjadi istrinya


"Hajar" ucap Chandra kembali meneguk minuman di tangannya, berharap rasa sesak di dadanya menghilang.


"Maafin Om harus melepasmu Hajar" gumam Chandra menangis terisak.


Sebenarnya Chandra merasa kasihan untuk menceraikan Hajar. Namun Chandra lebih kasihan lagi kepada dirinya dan Ibunya yang telah di permainkan keluarga Hajar.


"Caroline, kenapa kamu menghukumku sekejam ini?." Chandra kembali menegak minuman dari botol di tangannya.


Kepalanya sakit dan pusing jika mengingat kedua nama wanita yang menguasai hati dan pikirannya.


Bryan yang memantau Tuannya lewat cctv di ruangan Chandra, kembali melangkahkan kakinya masuk ke ruangan bos besar perusahaan itu.


"Sampai kapan Tuan seperti ini. Sudah seminggu Tuan selalu mabuk di ruangan ini. Jika para karyawan tau, repotasi Tuan akan buruk nantinya." Bryan mengambil botol minuman dari tangan Chandra.


"Mereka berdua membuatku gila" tangis Chandra.


"Tuan bisa memiliki kedua wanita itu. Bukankah Nona Hajar dan kekasih Tuan bukan Ibu dan Anak kandung?" ujar Bryan memberi ide konyol kepada tuannya itu.


"Apa maksudmu?" Chandra mengerutkan keningnya, tidak paham dengan apa yang dikatakan Bryan.


"Tuan bisa berpoligami" jelas Bryan.


"Gila"


Ide macam apa itu, meski Hajar dan Caroline bukan Anak dan Ibu kandung. Tetap saja kedua wanita itu adalah Anak dan Ibu. Dan juga Chandra tidak segila itu, untuk mengikat dua wanita dalam pernikahan.


"Dari pada Tuan pusing sendiri memikirkannya." Bryan menunduk untuk menghindari tatapan mematikan Tuannya itu.


Mendengar hanphonnya berbunyi dari atas meja, Chandra langsung mengalihkan tatapannya ke layar ponselnya, melihat siapa yang menghubunginya.


"Halo" sapa Chandra setelah mendial tombol hijau di layarnya.


"Tuan, Nona Hajar sekarang sedang berada di mall bersama teman remannya" lapor seorang pria dari dalam telepon.


"Kirim vidionya" perintah Chandra.


Entah kenapa ia sangat ingin melihat wajah Hajar saat ini. Sepertinya ia merindukan gadis yang selalu membuatnya ingin tersenyum saat melihat tingkahnya yang terus berusaha menggodanya.


"Baik Tuan" patuh dari dalam telepon.


Chandra langsung mematikan sambungan teleponnya sepihak dan menunggu pesan vidio masuk ke dalam Hpnya.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2