Menantu Bayaran

Menantu Bayaran
28.Hampir gila


__ADS_3

"Putrimu di sembunyikan oleh Pak Bruno dan Taslin. Sebagai jaminan supaya Caroline menikahkan putri mereka denganmu,untuk mendapatkan harta kalian. Makanya saat saya mendengar Nyonya Belinda mencari calon menantu, saya merasa mendapat kesempatan menawarkan Hajar. Dan meminta uang yang banyak dengan alasan membujuk Hajar supaya bersedia menikah. Dan selama ini saya juga selalu mendidik Hajar untuk menjadi wanita matre, supaya dia bisa mengerus harta kalian tanpa sungkan. Itu semua kulakukan untuk menbantu Caroline, untuk mendapatkan putrinya" jelas Ibu Misra.


"Ya Tuhan" Chandra duduk di sofa mengusap wajahnya kasar setelah mengetahui masalah sebenarnya. Dan ternyata Hajar adalah anak dari musuh keluarganya, adik sepupu dari kekasihnya, Caroline.


"Brengs*k!" Nyonya Belinda mengeraskan rahangnya, geram, dengan kedua tangan yang terkepal kuat.


Nyonya Belinda tidak lupa itu, Bruno lah dulu yang bermain curang dalam berbisnis. Kalau saja tidak ketahuan oleh asisten suami Nyonya Belinda, mungkin perusahaan keluarga Kurniawanlah yang akan mengalami gulung tikar.


"Chandra, bantu Caroline mencari putri kalian. Setelah itu terserah kamu mau melepaskan Hajar atau tidak" ujar Ibu Misra lagi.


"Lepaskan Hajar, aku tidak sudi menerima menantu dari anak kedua manusia luknat itu" geram Nyonya Belinda murka. Dia tidak akan menerima Hajar menjadi menantunya lagi, apapun itu alasannya.


"Ma" tegur Chandra lembut, melihat wajah marah dan benci Ibunya kepada orang tua Hajar.


Meski perasaannya juga entah berantah kepada Hajar. Namun melepas Hajar, sepertinya masih berat bagi Chandra.


"Lebih baik kamu memperbaiki hubunganmu dengan Caroline. Dan kalian bisa sama sama pokus mencari putri kalian. Oh ya Tuhan, ternyata aku sudah punya cucu selama ini, aku tidak mengetahuinya" desah Nyonya Belinda terharu bercampur sedih.


Chandra diam, memikirkan apa yang di katakan Ibunya ada benarnya juga.


Apa iya aku melepas Hajar saja, dan aku rasa aku masih mencintai Caroline. batin Chandra.


Teringat kalau dia mengurung Hajar dan Caroline di apartement. Chandra pun berdiri dari tempat duduknya. Dia akan menemui kedua wanitanya itu. Melihatnya apakah baik baik saja.


"Ma aku pergi dulu" pamit Chandra gegas meninggalkan rumah.


"Kamu mau kemana?, cepat cari cucu Mama" seru Nyonya Belinda memperhatikan anaknya berjalan cepat keluar rumah.


"Ya Tuhan, ternyata aku sudah punya cucu. Dimana cucuku berada sekarang" lirih Nyonya Belinda lagi.


"Aku berharap Nyonya tidak membenci Hajar. Bisa jadi saat ini dia sudah mengandung cucumu juga" ujar Ibu Misra mengingatkan.


Nyonya belinda langsung mendongak ke arah Ibu Misra." Aku tidak membencinya, hanya saja aku tidak mau lagi memiliki hubungan dengan keluarga itu. Jika dia mengandung cucuku, aku akan mengambilnya. Sesuai perjanjian, aku akan memberikannya satu persen saham dari perusahaan suamiku."


"Bagaimana dengan Caroline?, bukankah dia juga bagian dari keluarga Bruno dan Taslin?."Ibu Misra berpikir, lebih baik melepas kedua wanita itu. Dari pada memilih salah satunya, yang akan membuat salah satunya sakit hati.


" Caroline adalah anak dari sahabatku" desahnya pasrah."Aku tidak percaya jika Taslin tega memperlakukan keponakannya sendiri dengan sangat kejam" tambah Nyonya Belinda.


Ibu Misra pun ikut menghela napasnya." aku pun begitu, Taslin dan Riana dulunya sangat dekat. Mereka seperti saudari kembar."


"Kamu mengenal Riana?" Nyonya Belinda mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Aku sepupunya Riana dan Taslin. Dan Dokter pemilik rumah sakit jiwa tempat Caroline bersembunyi itu adalah Adikku" jawab Ibu Misra mengulas senyumnya.


" Kenapa aku tidak mengenalmu?.Jadi kalian sudah merencanakan semuanya matang matang?" Nyonya Belinda menatap murka pada Ibu Misra.


"Ya, termasuk kandidat kandidat calon menantumu yang mundur dari perjodohan. Semua itu adalah ulahku" jawab Ibu Misra lagi.


"Kurang ajar" geram Nyonya Belinda.


"Sudahlah, tidak saatnya untukmu marah. Sekarang ada hal yang lebih penting yang harus kita lakukan, yaitu mencari cucumu dan Caroline yang juga hilang" ujar Ibu Misra. Tak ingin membahas yang tidak terlalu penting saat ini.


.


.


Chandra melajukan kenderaannya dengan kecepatan tinggi menuju apartement dimana dia menahan Hajar dan Caroline. Setelah mendengar penjelasan dari Ibu Misra tentang Caroline dan Hajar.


"Ya Tuhan, ternyata aku sudah punya anak. Pasti anakku sudah besar" gumam Chandra dengan wajah berbinar. Dan seketika raut wajahnya berubah marah, rahangnya mengeras mengingat anaknya disembunyikan Tante dan Om Caroline semenjak lahir.


"Lihat saja, jangan harap aku akan membiarkan kalian hidup dengan tenang. Aku akan memberikan kalian hukuman yang sangat menyakitkan, sampai kalian meminta kematian kalian sendiri" Chandra berbicara dengan mengeraskan rahangnya, dan kemudian memukul setir mobilnya untuk melampiaskan kemarahannya.


Sampai di peralatan apartement, Chandra memarkirkan kenderaannya dan buru buru keluar, berlari masuk ke dalam lif untuk naik ke lantai dimana apartementnya berada.


"Tuan, Nona Hajar demam, seharian dia tidak makan dan minum. Dan hampir seharian dia terus menangis" lapor seorang pelayan yang biasa merawat apartement saat Chandra melangkah masuk.


Melihat gelagat Tuannya, Pembantu itu menghela napasnya sembari memperhatikan punggung Chandra yang menghilang di balik pintu. Berpikir untuk apa Tuannya menahan kedua wanita beda usia itu?. Dan juga, pelayan itu sudah memanggil Dokter untuk memeriksa Hajar dan memberinya obat. Hanya saja istri dari majikannya itu tidak bisa di kasih minum obat, karna tak makan dan minum.


"Ca- chandra" gugup Caroline saat Chandra yang baru masuk ke kamarnya, tiba tiba memeluknya.


"Maafkan aku dulu karna sudah menyakitimu. Seharusnya aku bertanya baik baik padamu. Mendengarkan penjelasan darimu. Kenapa menghadapinya sendiri, kenapa tidak meminta bantuanku?" cerca Chandra terisak.


Caroline yang berada di dalam pelukan Chandra diam membeku dengan wajah basah dengan air mata.


"Aku hampir gila mencarimu selama ini Caroline. Oh Tuhan, pasti putri kita sudah besar. Aku yakin dia sangat cantik sepertimu" meski suara Chandra terdengar getir, namun bibirnya tersenyum.


"Cha- Chandra jangan seperti ini. Kau adalah suami Hajar" ucap Caroline, tersadar jika mereka sudah tak pantas berpelukan.


"Sebentar saja, biarkan aku mengobati rasa rindu ini" balas Chandra malah semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh Caroline.


"Itu tidak benar Chandra" tegur Caroline lagi mencoba melepas tangan Chandra dari tubuhnya. Caroline tidak mau sampai Hajar kecewa padanya. Apa lagi sampai menuduhnya menggoda pria yang sudah beristri.


Chandra pun melepas pelukannya, kemudian menghapus air matanya dari pipinya.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak meminta bantuanku?. Kenapa kamu menghadapinya sendirian?" setelah menghapus air matanya, tangan Chandra pun beralih menghapus air mata yang mengalir dari sudut mata Caroline.


"Kau sangat membenciku Chandra. Dan satu satunya cara membantuku sekarang adalah dengan mengembalikan kehidupan Om dan Tante seperti dulu. Supaya mereka mengembalikan putriku, putri kita" jawab Caroline kembali menumpahkan air matanya. Menyiratkan kekawatiran dan kerinduan yang mendalam kepada putrinya yang tidak pernah di lihatnya sejah lahir.


Refleks Chandra kembali memeluk Caroline, mendengar kata putri kita meluncur dari bibir kekasihnya itu.


"Apapun akan kulakukan demi putri kita" ucapnya kembali menangis.


.


.


Sementara itu di kamar sebelah, Hajar yang sempat tak sadarkan diri tadi, perlahan membuka kelopak matanya. Hajar mengerutkan keningnya, meringis karna kepalanya yang terasa pening dan pusing akibat kekurangan cairan dalam tubuhnya. Melihat kamar yang di tempatinya, kalau dia masih berada di kamar tempatnya di kurung, hajar pun mendudukkan tubuhnya.


"Aw" keluh Hajar saat merasakan lengannya sakit. Hajar kembali mengerutkan keningnya, melihat jarum infus tertancap di lengannya. Tak ingin berpikir kenapa dia di infus, Hajar pun menarik jarum infus itu dan segera turun dari atas tempat tidur.


Aku harus bisa keluar dari tempat ini, Mama pasti sudah mencariku, batin Hajar melangkahkan kakinya ke arah pintu.


Hajar pun kembali menggedor gedor pintu kamar itu sambil berteriak teriak.


"Buka pintunya!!!"


"Aku mohon, biarkan aku pergi dari sini!!!"


"Kalau kau ingin uang, kau bisa meminta tebusan sama Kakakku. Kakakku punya banyak uang, dia memiliki jawatan tinggi di perusahaan besar!. Aku mohon bebaskan aku!."


"Tolong buka pintunya!, siapa pun di luar!."


"Ibuku pasti sudah mencariku, dia pasti mengkawatirkanku!."


"Buka pintunya hiks hiks hiks"


Karna lelah dan tubuhnya lemah, Hajar pun menjatuhkan tubuhnya ke lantai.


"Buka pintunya! aku mohon !" isak Hajar lirih, membiarkan darah mengalir dari bekas tusukan jarum infus di tangannya.


Sudah sehari semalam dia di kurung di kamar itu. Pintu kamar itu akan terbuka saat dia di kamar mandi atau tertidur. Setelah itu pintu kamar itu terkunci kembali. Sehingga Hajar tidak memiliki kesempatan untuk kabur.


"Mama, Kak Shakil, Papa Randy tolong Hajar" lirih Hajar lagi, memukul pelan pintu di sampingnya karna lelah.


Ceklek!

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2