
"Buka gerbangnya!, beraninya kalian menghalangi saya masuk!." Nyonya Belinda berteriak teriak marah sembari memukul mukul gerbang besi yang menjulang tinggi di depannya.
"Maaf Nyonya, kami hanya menjalankan perintah Tuan Chandra" ucap security yang berjaga sedikit menunduk di balik gerbang.
"Kurang ajar!" napas Nyonya Belinda memburu menahan emosi yang meluap luap di dadanya, setelah mengetahui Chandra membawa Hajar dari rumah sakit. Dan Chandra menyembunyikan Hajar di rumah barunya.
"Pengawal, doprak gerbang ini sampai terbuka. Aku harus menemui kedua anak itu. Aku gak sudi punya menantu dari keluarga penipu" Nyonya Belinda berbicara merapatkan gigi giginya.
"Baik Nyonya" patuh ke empat Bodyguard itu, segera melaksanakan perintah bosnya. Namun percuma gerbang besi itu sangat kokoh.
*
Di lantai tiga rumah itu, Chandra terus menyuapi Hajar. Menghiraukan keributan yang ada di depan gerbang rumahnya.
"Om siapa sebenarnya yang datang, kenapa Om gak mengijinkannya masuk?" tanya Hajar menatap sendu ke arah Chandra, tadi sempat mendengar Chandra berbicara lewat telephon.
"Itu Mama" jawab Chandra.
"Om" panggil Hajar.
"Hm.."
"Biarkan Hajar pergi Om. Hajar ingin hidup tenang." Mata Hajar berkaca kaca, ia sangat takut menghadapi kemarahan Nyonya Belinda.
Chandra menghela napasnya, lalu meletakkan sendok di tangannya ke atas piring.
"Sayang"
Hajar terdiam dan semakin menajamkan pandangannya yang berkaca kaca pada Chandra.
"Biar Mama menjadi urusanku, tetaplah di sini menjadi istri om. Om gak mau kehilanganmu Hajar, om mencintaimu." Chandra mengusap kepala Hajar dari samping, lalu mencium keningnya.
"Kamu aman di sini, percaya sama om. Semuanya akan baik baik saja nanti" ucap Chandra lagi.
"Tapi Om..."
"Ssst.." Chandra menempelkan telunjuknya di bibir Hajar, supaya Hajar tidak mengatakan apa pun lagi.
Selesai menyuapi Hajar makan, Chandra pun memberinya minum obat.
"Om tinggal sebentar, istirahatlah" Chandra mengecup kening Hajar, lalu pergi keluar kamar.
__ADS_1
Sampai di lantai bawah rumah itu, Chandra keluar rumah melalui pintu belakang. Masuk ke dalam mobil melajukannya keluar dari gerbang bagian belakang rumah itu. Chandra harus menenangkan Ibunya, dan membawanya pulang.
Sampai di depan gerbang utama rumah itu, Chandra menghentikan laju kenderaannya dan langsung turun.
"Ma" panggil Chandra memeluk Nyonya Belinda yang sedang marah marah dari belakang.
"Akhirnya kamu datang juga, dimana Hajar?. Kamu menyembunyikannya di rumah ini 'kan?" Nyonya Belinda berusaha melepas tangan Chandra dari tubuhnya. Malah Chandra semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh sang Mama.
"Kenapa kamu melarang Mama masuk ke rumahmu?. Apa kamu sudah tidak menganggap Mama, Ibumu?" bentak Nyonya Belinda tak terima.
"Ma, tenanglah" ujar Chandra lembut.
"Pokoknya Mama gak mau kamu memperistri Hajar lagi Chandra. Mama gak mau punya hubungan dengan keluarga itu. Mama gak Mau Chandra ! Mama gak Mau!." teriak Nyonya Belinda histeris.
"Iya Ma"
"Jangan bohong sama Mama Chandra!" Nyonya Belinda tidak percaya begitu saja. Dia sudah mendapat laporan dari pihak Rumah sakit, jika Chandra membawa Hajar pulang.
"Iya Ma, Chandra gak bohong. Ayo kita pulang Ma. Jangan marah marah terus, nanti tensi Mama bisa naik." Chandra pun mengangkat tubuh Ibunya itu, membawanya masuk ke dalam mobilnya.
"Amel sedang mengandung cucu Mama. Kamu harus menikahinya Chandra, kamu harus memberi anakmu status yang jelas" ujar Nyonya Belinda setelah Chandra menyusul masuk ke dalam mobil.
"Kamu harus menjadi laki laki yang bertanggung jawab. Atau kamu ingin anakmu menjadi status anak pria lain, seperti Naomi?. Mama gak mau kehilangan cucu Mama, Chandra."
*
Sepeninggal Chandra, Hajar turun dari atas tempat tidur, melangkahkan kakinya keluar kamar. Ingin mengetahui seluk beluk rumah itu. Dan Hajar juga sudah bosan berada di dalam ruangan. Hajar ingin menikmati udara segar, ingin menikmati hangatnya sinar matahari langsung.
"Selamat pagi Nona" sapa seorang pelayan yang berpapasan di pintu masuk ke arah taman rumah itu.
Hajar membalas hanya dengan mengulas senyumnya dan melanjutkan langkahnya.
Sampai di halaman rumah, Hajar mendudukkan tubuhnya di sebuah ayunan, menyandarkan kepalanya ke tali ayunan. Duduk termenung meratapi nasibnya.
*
Sedangkan Chandra yang baru sampai di rumah Ibunya begitu terkejut saat masuk ke dalam rumah.
"Ma" tegur Chandra melihat sebuah persiapan pernikahan untuknya dan Amel.
"Amel sedang hamil anakmu, kamu harus bertanggung jawab" ujar Nyonya Belinda, menarik tangan Chandra untuk duduk di depan penghulu.
__ADS_1
"Gak Ma, itu belum tentu anakku Mak" bantah Chandra.
"Tapi bagaimana jika itu benar anakmu Chandra?. Dan itu sudah menjadi resikomu, bermain wanita tanpa menikah" ucap Nyonya Belinda. Nyonya Belinda sengaja ingin menikahkan Chandra dengan Amel, supaya Hajar sendiri lah yang meninggalkan Chandra.
"Baiklah Ma" dari pada ribut ribut, bikin malu. Chandra pun menuruti keinginan Ibunya untuk menikahi Amel.
"Tania, bawa Amel ke sini" perintah Nyonya Belinda kepada pembantu di rumah itu.
"Baik Nyonya"
Tak lama kemudian, Tania kembali ke ruang tamu, membawa Amel berjalan di sampingnya, sudah cantik dengan kebaya berwarna putih membalut tubuh rampingnya. Wajahnya di rias layaknya pengantin.
Melihat itu, Chandra hanya bisa menghela napasnya. Amel memang Cantik, tapi Chandra tidak pernah menaruh hati pada Amel. Selama ini hubungan mereka hanya saling membutuhkan.
"Bagaimana?, apa sudah bisa kita mulai" tanya sang penghulu setelah melihat Amel duduk di samping Chandra.
"Sudah Pak" jawab Nyonya Belinda dengan cepat.
Chandra tersadar dari lamunannya dan segera mengalihkan pandangannya dari wajah Amel.
Chandra berpikir, Amel bisa di percaya. Mau menerima takdir buruknya. Mau menjadi bagian dari keluarga Kurniawan tanpa harus dinikahinya. Ternyata Amel masih gigih untuk menginginkannya.
Caroline dan Naomi dimana?, batin Chandra. Hanya kedua wanita itu yang bisa menyelamatkannya dari pernikahan dadakan itu.
"Chandra ayo mulai" Nyonya Belinda meraih tangan kanan Chandra yang masih mematung. Mengulurkannya ke arah penghulu yang akan menikahkannya dengan Amel.
Dengan terpaksa, Chandra pun menikahi Amel. Mengikat wanita itu dengan janji sucinya.
"Bagaiamana saksi?, sah?."
"Sah !" seru kedua orang saksi yang di bayar Nyonya Belinda.
Chandra langsung berdiri dari tempat duduknya segera meninggalkan tempat itu, tak ingin menandatangani buku nikah yang di sodorkan penghulu padanya.
"Chandra !" panggir Nyonya Belinda mengejar Chandra ke arah pintu.
"Sudah cukup Ma!, sekarang Amel sudah sah menjadi menantumu!"Chandra membentak Ibunya tanpa sadar.
"Kamu tidak boleh pergi, apa lagi untuk menemui Hajar" Nyonya Belinda semakin marah, dan membenci Hajar. Karena untuk pertama kalinya Chandra berani berbicara kasar padanya.
"Hajar juga istriku Ma. Dan Mama juga yang memaksaku menikahinya dulu. Aku juga sudah menyentuhnya, dia juga sudah cacat karenaku. Sekarang aku harus bertanggung jawab atas perbuatan Mama yang memaksaku menikahinya. Dan Satu lagi, seharusnya Mama juga memaksaku menikahi Caroline demi cucu Mama, Naomi. Dan masih banyak wanita di luar sana yang pernah menjadi wanitaku, jika Mama ingin menyuruhku bertanggung jawab" ujar Chandra langsung pergi meninggalkan Nyonya Belinda yang mengeram di tempatnya.
__ADS_1
* Bersambung