Menantu Bayaran

Menantu Bayaran
46.Benci


__ADS_3

Lima hari berlalu


Hajar kembali menangis saat menonton vidio pesta pernikahan Chandra dan Amel di handphon barunya. Vidio itu di kirim oleh Yona salah satu sahabatnya. Itu artinya para sahabatnya sudah mengetahui masalahnya sekarang. Dan juga, sepertinya Nyonya Belinda sangaja mengundang teman temannya ke acara pesta itu.


"Aku pikir Om benar benar mencintaiku" gumam Hajar dengan bibir bergetar. Semudah itukah Chandra berpaling darinya?.


Hajar pikir Chandra akan mencarinya dan memperjuangkannya, nyatanya Chandra lebih memilih mematuhi Ibunya.


Melihat senyum kebahagiaan terpancar di wajah Chandra dan Amel. Membuat Hajar menjadi benci melihat laki laki yang masih berstatus suaminya itu.


Tapi kembali lagi ke awal, semuanya salah Hajar sendiri. Mau maunya menikah dengan pria yang tak dikenalnya sama sekali. Yang penting pria itu kaya.


Sekarang Hajar mulai bisa berpikir, suami kaya tidak menjadi patokan untuk hidup bahagia. Hidup berkecukupan yang penting sejahtra lahir dan batin.


.


.


"Kamu hebat ya Jeng, bisa menikahkan anakmu dua kali dalam waktu yang singkat."


Nyonya Belinda mengulas senyumnya mendengar komentar salah satu dari tamu undangannya.


"Ya bagaimana lagi, saat aku menikahkan Chandra dengan Hajar. Aku gak tau kalau anakku sudah memiliki wanita lain. Mereka sudah menikah tanpa sepengetahuanku, dan wanita itu sedang mengandung cucuku. Gak adil dong aku jadi mertua jika tidak membuat pesta untuk menantu ke duaku"ucapnya tanpa beban.


"Masa sih! Chandra menikah diam diam?. Dia anakmu satu satunya loh!" komentar Ibu yang satunya.


"Wanita itu berasal dari keluarga kelas bawah. Chandra pikir aku tidak menerima wanita itu jadi menantuku. Makanya dia diam diam menikah. Setelah wanita itu hamil, baru dia mengakuinya" jawab Nyonya Belinda berbohong.


"Beruntung sekali menantu menantumu memiliki mertua seperti kamu. Sudah baik, kaya, dermawan lagi" puji Ibu lainnya." Oh ya, mana menantu pertamamu?, dia gak hadir?" tanyanya lagi sembari mencari sosok yang ditanyakannya.


"Maklumlah jeng, istri mana yang tahan melihat suaminya bersanding di pelaminan dengan wanita lain" desah Nyonya Belinda seperti menyesali apa yang terjadi dengan anaknya. Padahal semua yang terjadi pada Chandra karena ulahnya sendiri.


"Iya juga sih"


Jika Nyonya Belinda sibuk mengobrol dengan anggota geng arisannya. Chandra yang bersanding di atas pelaminan dengan Amel. Sesekali mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya. Jika mendengar notifikasi masuk ke handphonnya.


Chandra tersenyum membaca pesan masuk di handphonnya. Membuatnya tak sabar untuk menunggu malam, dan pesta itu cepat selesai.

__ADS_1


"Om" panggil Amel, Refleks Chandra menoleh ke arahnya.


"Kakiku sakit sekali, sepertinya sudah lecet" ucap Amel.


"Duduklah" Chandra membantu Amel untuk duduk di kursi pelaminan. Kemudian menurutkan tubuhnya untuk membuka high heel yang melekat di kali Amel. Chandra pun memeriksa kaki Amel. Dan benar saja, kakinya sudah lecet.


"Seharusnya kamu tidak memakai sendal seperti ini" ucap Chandra.


Amel meringis saat Chandra menyentuh luka di kakinya.


"Chandra, kaki Amel kenapa?" tanya Caroline yang tiba tiba datang naik ke pelaminan.


"Kakinya lecet, tolong ambilkan obat untuk kakinya" suruh Chandra.


"Tunggu sebentar" Caroline langsung turun dari atas pelaminan, untuk mencari obat untuk kaki Amel. Dan setelah mendapatkannya, Caroline kembali naik ke pelaminan, langsung menempelkan plaster ke kaki Amel yang lecet.


Pesta terus berlangsung meriah, sampai pada akhirnya tiba di penghujung acara. Melihat Amel kelelahan, Chandra pun memutuskan untuk membawa Amel istirahat lebih awal setelah berpamitan pada Nyonya Belinda.


Naomi yang melihat Chandra dan Amel turun dari pelaminan, melangkahkan kakinya untuk mendekat. Naomi pun membisikkan sesuatu ketelinga Chandra.


"Hati hati Pa, anak buah Nenek menyebar di mana mana."


"Iya sayang, jaga Nenekmu baik baik. Dan Papa titip perusahaan,Bryan akan mengajarimu" balasnya.


"Semoga sukses Pa" ucap Naomi lagi, dan Chandra menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Kemudian Naomi beralih menatap Amel dan memeluknya."Tante adalah wanita yang baik, aku yakin suatu saat kebahagiaan akan menyertai tante" ucapnya terharu.


"Kamu juga, semoga kebahagiaan menyertai pernikahanmu dan Bryan" Amel membalas pelukan Naomi.


Tiga hari yang lalu, Naomi dan Bryan sudah melangsungkan pernikahan. Meski hanya ijab kabul saja.


"Semoga saja" lirih Naomi


Mengingat bagaimana pahitnya perjalanan hidup mereka. Tentu mereka berharap penderitaan mereka segera berakhir.


"Hei ini hari bahagia, kenapa kalian malah menangis?."


Suara wanita yang sangat mereka kenal itu, langsung menghentikan tangis mereka. Amel dan Naomi pun sama sama melepas pelukan mereka dan menoleh ke arah Nyonya Belinda.

__ADS_1


"Kami menangis bahagia Nek" Jawab Naomi tersenyum sembari menghapus air matanya.


"Kamu juga istirahatlah, cucu Nenek pasti sudah lelah." Nyonya Belinda mengusap kepala Amel dengan lembut.


"Nenek juga" balas Amel.


"Nenek juga sebentar lagi akan istirahat" ucap Nyonya Belinda.


Setelah Chandra, Amel dan Naomi berpamitan sekali lagi kepada Nyonya Belinda, mereka pun meninggalkan tempat acara itu. Jika Naomi masuk ke dalam salah satu kamar hotel yang di siapkan untuknya. Berbeda dengan Chandra dan Amel, mereka naik ke lantai teratas gedung itu. Di sana sudah ada sebuah helikopter menunggu mereka. Entah kemana Chandra akan membawa Amel.


.


.


"Kalian mau membawa aku kemana?. Siapa kalian?, kenapa kalian bisa masuk ke kamar ini?." Hajar meronta ronta berusaha melepaskan diri saat dua orang pria berpakian seragam hotel menyeretnya keluar kamar.


"Kami hanya di perintahkan untuk membawa Nona" jawab pelayan hotel itu.


"Kenapa?, saya kan sudah membayar kamar ini selama tujuh hari" tanya Hajar.


"Nanti Nona akan tau sendiri" balas pria yang berada di sebelah kiri Hajar.


"Lepasin, aku gak mau di ba..."


Kesadaran Hajar langsung menghilang, saat mulutnya di bekap dengan sapu tangan. Kedua pria itu pun membawa Hajar masuk ke dalam lif. Sampai di atas gedung hotel itu, kedua pria itu memasukkan Hajar ke dalam sebuah helikopter, dan langsung membawanya terbang.


"Apa Om yakin?" tanya Amel tanpa melepas netranya dari wajah Hajar yang terlelap di pangkuan Chandra.


"Tidak ada cara lain, Mama sudah keterlaluan mempermainkanku."


Amel menghela napasnya" aku kawatir dengan Tante" desahnya.


"Bagaimana lagi" pasrah Chandra." Aku gak mau kehilangan Hajar. Om gak sanggup, cukup sekali aku kehilangan orang yang kucintai" ucap Chandra lagi, mengusap kepala Hajar dan memandang wajahnya dengan iba.


"Aku mengerti dengan perasaan dan pikiran Mama. Tapi seharusnya Mama juga mengerti aku. Dan tidak seharusnya Mama mewariskan kesalahan orang tua kepada anaknya. Apa lagi Hajar juga adalah korban dari keegoisan orang tuanya. Hajar juga tidak tau apa apa."


Amel terdiam dan memandangi wajah Chandra dari samping.

__ADS_1


Kamu pria yang baik Om, itu yang membuatku jatuh cinta padamu. Tapi sekarang aku harus membuang jauh jauh perasaan itu, karena sudah tidak ada celah untukku di hati Om. Semua sudah di penuhi oleh Hajar. Batin Amel


*Bersambung


__ADS_2