
Si Bibi yang di tuntun Amel berjalan ke ruang tamu pun, mendudukkan tubuhnya di salah satu sofa kosong. Kepalanya menunduk malu melihat Chandra yang masih berjongkok di depan Hajar.
Hajar tersenyum melihat si Bibi malu malu." Om si Bibi juga kakinya ikut tersiram air panas" ucap Hajar.
Sontak Chandra mengarahkan tatapannya ke arah si Bibi dan melihat kaki si Bibi yang juga melepuh.
Si Bibi yang di perhatikan Chandra, semakin menunduk malu malu, berharap Chandra mengobati kakinya.
"Lihatlah, karena kecerobohanmu kaki si Bibi jadi ikut terkena air panas" ucap Chandra. Dia tidak tau apa yang terjadi pada wanita wanita itu. Terutama si Bibi yang ingin menjadi istri ke tiganya.
Ada ada aja si Bibi.
Hajar pun membiskkan sesuatu ke telinga Chandra, kemudian terawa terbahak bahak. Dan Chandra langsung menoleh ke arah si Bibi, tidak menyangka kalau si Bibi belum menikah malah masih gadis.
" Bibi sama Oman aja ya" tawar Chandra tersenyum.
Wajah si Bibi merah malu malu.
"Kalau nanti sama aku, si Bibi gak bakalan dapat giliran. Hajar pasti akan menguasaiku" ucap Chandra lagi. Kasihan melihat wanita yang belum menemukan jodoh itu.
Si Bibi mengangguk pelan dan tersenyum hambar.
"Amel, tolong kasih obat kaki si Bibi" suruh Chandra memberikan salap di tangannya pada Amel.
"Biar Bibi aja Non" Si Bibi merasa tidak pantas jika majikannya harus menyentuh kakinya.
"Gak apa apa Bi, santai aja" ucap Amel tersenyum. Ia pun mengangkat kaki si Bibi ke pangkuannya, lalu mengoles kaki si Bibi dengan salap.
Si Bibi menjadi menangis terharu. Para majikannya itu baik baik banget, tidak memandangnya rendah walau dia hanya seorang pembantu.
"Sayang, ayo ke kamar" ajak Chandra berdiri dari tempat duduknya dan langsung mengangkat Hajar ke gendongannya.
"Kak Amel, kami ngamar dulu, jangan mengganggu, okeh !" ujar Hajar pada madunya yang malang itu.
Amel memutar bola mata malas.
Sampai di dalam kamar, Chandra menurunkan Hajar ke atas kasur, dan langsung membaringkan tubuhnya di samping Hajar.
Benar kata Hajar, beberapa hari ini tubuhnya memang lelah. Karena bekerja harus bolak baik jauh ke kota. Demi ketengan Hajar, Chandra rela melakukan itu.
"Apa Om butuh sesuatu?" tanya Hajar melihat Chandra memejamkan matanya. Wajah Chandra memang terlihat kelelahan.
Chandra membuka kelopak matanya, ia pun memindahkan kepalanya ke pangkuan Hajar yang masih duduk.
"Apa kita kembali saja ke kota" ucap Chandra memandang wajah Hajar yang berada di atas wajahnya.
Hajar terdiam, menatap dalam ke dalam manik mata Chandra. Apa suaminya itu serius untuk mengajaknya pulang. Hajar belum siap, dia sudah nyaman di tempat baru.
"Aku mau tinggal di sini" cetus Hajar.
"Tapi Om lelah harus bolak balik kerja dari sini." Chandta mengangkat tangannya untuk mengelus pipi Hajar.
__ADS_1
Hajar diam dan mengerucutkan bibirnya.
Begini nih kalau istri masih ABG, batin Chandra. Tidak punya pikiran, maunya di manja terus.
"Ya udah" pasrah Chandra.
"Aku gak percaya Nyonya Belinda tidak akan menggangguku."Hajar mengatakan alasannya tidak ingin pulang. Hajar berpikir, Ibu mertuanya itu hanya pura pura menerimanya di depan Chandra.
Begini nih kalau mertua dan menantu sudah bentrok, mereka akan seperti kucing dan tikus, sulit untuk di damaikan.
"Tapi tidak mungkin selamanya kita tinggal di sini sayang. Kita harus tetap pulang." Chandra mendudukkan tubuhnya, kemudian menaril Hajar ke dalam pelukannya.
"Tapi gak mau sekarang" manja Hajar.
"Apa kamu tidak ingin mengunjungi orang tuamu?. Ibu Misra, Pak Randy dan Kakak Shakil mu."
Hajar langsung mendongakkan wajahnya ke arah Chandra.
Chandra mengulas senyumnya, ia pun merapikan rabut Hajar yang berantakan di wajahnya." Mereka sudah bebas."
"Serius Om?"
Chandra menganggukkan kepalanya.
"Trimaksih Om" ucap Hajar memeluk erat tubuh Chandra. Hajar menangis, ia sudah dangat merindukan keluarga yang membesarkannya itu.
"Dari awal aku yakin mereka tidak bersalah Om" isak tangis Hajar.
"Hei ! berhentilah menangis, Om tidak suka melihat cewek cengeng" ucap Chandra menghalus air mata Hajar dengan jari tangannya.
"Om itu sangat jahat tau. Om rela memenjarakan istri dan mertua Om" cetus Hajar mengerucutkan bibirnya.
Cup!
"Om minta maaf sayang" ucap Chandra setelah mengecup bibir Hajar." Ayo tidur, besok om harus bekerja lagi." Ngajak tidur, tapi malah baju Hajar di buka tanpa sisa.
.
.
Bangun pagi, Hajar sudah tidak melihat Chandra di sampingnya lagi. Melihat jam sudah menunjukkan pukul delapan lagi, pasti suaminya itu sudah berangkat kerja.
"Non!" panggil si Bibi dari luar.
" Masuk Bi" balas Hajar mendudukkan tubuhnya bersandar di kepala ranjang.
Si Bibi membuka pintu dari luar, masuk dengan membawa kranjang berisi pakaian yang sudah di setrika.
"Ngantar pakaian Non" ucap si Bibi.
"Susun langsung ke lemari Bi" Hajar kembali membaringkan tubuhnya. Dia tidak punya kerjaan selain malas malasan setiap hari.
__ADS_1
"Apa Nona ingin sarapan? biar Bibi antar" tawar si Bibi sambil menyusun pakaian ke lemari.
"Iya Bi, jangan lupa jusnya ya Bi." Hajar tidak suka makan sayuran, jadi dia harus banyak makan buah untuk memenuhi serat dalam tubuhnya.
"Baik, Non" balas si Bibi tersenyum manis pada Hajar.
Selesai menyusun pakaian ke lemari, si Bibi langsung ke luar dari dalam kamar menuju dapur.
Tak lama kemudian si Bibi kembali ke dalam kamar membawa nampan berisi semangkok bubur ayam dan segelas jus wortel dan tomat.
"Ini Non" ucap si Bibi meletakkan nampan di tangannya di atas meja sofa.
"Trimakasih Bi"
Setelah si Bibi keluar kamar, Hajar pun turun dari atas tempat tidur, berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu baru sarapan.
Saat sarapan tiba tiba handphon Hajar berbunyi dari atas meja nakas. Hajar segera berdiri dari sofa untuk mengambil handphonnya.
"Halo Om!" sapa Hajar setelah menerima panggilan di handphonnya.
"Sayang, nanti aku gak pulang. Aku harus berangkat ke luar Negri" ucap Chandra.
"Berapa lama?" bibir Hajar langsung saja mengerucut dan keningnya pun mengerut.
"Seminggu cinta" jawab Chandra.
Sambungan telephon itu langsung saja mati begitu saja. Hajar langsung menonaktifkan telephonnya.
Sudah di tinggal kerja saat tidur, ini malah suaminya pamitan ke luar Negri lewat telephon. Lihat saja, Hajar akan kabur dari rumah.
.
.
Dan benar saja, Chandra yang sibuk menyiapkan berkas berkas yang akan di bawa ke luar Negri. Mendapat kabar dari penjaga Villa, kalau istri kecilnya menghilang dari Villa. Entah bagaimana caranya istrinya itu bisa lolos dari penjagaan ketat dari anak buah Chandra yang di tugasnya menjaga istrinya.
"Kenapa bisa?" tanya Chandra menghembuskan napasnya kasar. Istrinya itu suka sekali main kabur kaburan.
"Tadi Nona Hajar memberikan kami teh manis dingin, Tuan. Setelah kami meminumnya, kami merasa pusing, Tuan. Dan Nona kesempatan melarikan diri dari Villa."
Dari mana Hajar mendapat obat tidur ?, batin Chandra mendengar penjelasan si Oman.
"Kalian cari istriku sampai ketemu" perintah
Chandra. Kepalanya mendadak pusing memikirkan istri kecilnya yang suka melarikan diri. Sepertinya istrinya itu minta di hukum lebih dasyat lagi, gemas.
"Baik,Tuan" patuh Oman.
Chandra pun mematikan sambungan telephonnya. Chandra jadi bingung, dia tidak bisa menunda keberangkatannya ke luar Negri. Tapi dia tidak bisa tenang memikirkan istrinya yang pergi kabur.
Sedangkan Hajar yang berada di pinggir pantai, memberenggut kesal. Tadinya ia sempat mengurungkan niatnya untuk kabur. Tapi setelah mendengar kabar kalau Amel tadi pagi ikut kembali ke kota bersama Chandra. Hajar pun memutuskan untuk kabur dari Villa.
__ADS_1
*Bersambung