
Chandra keluar dari mobil yang mengantarnya pulang. Langsung masuk ke dalam rumah.
"Sore, Tuan" sapa seorang pembantu yang berpapasan dengannya.
Chandra membalas hanya mengulas senyumnya tanpa berhenti melangkah ke arah kamar Ibunya. Sebelum masuk ke dalam kamarnya, Chandra selalu melihat kondisi Ibunya terlebih dahulu setiap pulang kerja.
"Slamat sore Ma" sapa Chandra setelah duduk di tepi ranjang Nyonya Belinda.Nyonya Belinda hanya mengangguk dengan bibir miring. Susah untuk bicara.
"Bagaimana keadaan Mama?" tanya Chandra, meski wanita tua itu tak bisa menjelaskan keadaannya yang semakin memburuk.
Nyonya Belinda hanya bisa menatap teduh anaknya sebagai jawaban.
Sudah tua tak bisa mengontrol emosi, masih tega berbuat jahat, lupa kalau arwahnya sudah akan lepas dari jasatnya. Sekarang jadi begini keadaannya. Mulutnya menjadi bungkam karna sudah tega menyembunyikan anak dari Ibunya, suami dari istrinya.
"Mama semoga cepat sembuh. Chandra ke atas dulu" pamit Chandra. Dia tidak bisa berbuat apa apa selain menyerahkan Ibunya ke tangan Dokter untuk merawatnya.
Sampai di kamarnya, ternyata Amel sudah pulang. Wanita itu langsung menyambutnya dengan pelukan.
"Kamu sudah pulang?, kenapa gak bilang?. Tadi Naomi membawa Calix ke rumah Caroline" cerca Chandra kaget melihat istrinya yang tiba tiba sudah pulang liburan.
"Aku bosan liburan" Amel mengambil jas dari tangan Chandra untuk menyimpannya.
"Ada juga orang bosan liburan" ujar Chandra sambil membuka kancing kemejanya.
Amel yang masih berada di depan Chandra mengernyit melihat dada Chandra yang di hiasi bentol bentol merah kebiruan. Amel mendekati Chandra kembali, memeriksa yang di duganya bekas ciuman itu.
"Apa ini?" tanyanya menatap tajam wajah Chandra.
Chandra terdiam, dia lupa dengan bekas bekas ciuam di dada dan di lehernya. Wanita itu benar benar buas, pikir Chandra.
"Aku tidak tau" elak Chandra.
"Bohong!" geram Amel.
Selama tiga Tahun ini, mereka tidak pernah bercinta. Karna bermasalah di alat vital Chandra yang tidak mau bereaksi sama sekali. Meski Amel sudah berusaha keras menghidupkannya. Tapi kenapa bisa di dada Chandra ada Ciuman?. Apa suaminya itu mencobanya dengan wanita lain?.
"Kamu tau sendiri keadaanku" Chandra menjauhi Amel.
"Siapa wanita itu?" Amel tidak mau sampai ada wanita lain berusaha mengambil suaminya, termasuk Hajar.
Selama tiga Tahun ini, hidupnya sudah tenang dan bahagia menjadi seorang istri pria konglomerat. Dia bisa membeli apa saja yang dia inginkan. Berlibur kemana saja. Amel tidak mau sampai kehilangan itu semua.
Chandra mengindahkan pertanyaan Amel, memilih masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Om Chandra!" teriak Amel
Amel akan mencari tau wanita yang menyentuh suaminya itu. Target utamanya adalah Hajar, dia akan menyingkirkan wanita itu. Mungkin Hajar sudah berani menampakkan diri setelah mendengar Nyonya Belinda jatuh sakit.
"Aku harus menyuruh orang mengawasi Om Chandra. Dengan siapa dia berkencan" gumam Amel.
__ADS_1
Tak lama kemudia, Chandra keluar dari dalam kamar mandi. Amel memandangi tubuh Chandra yang hampir penuh dengan bekas ciuman. Bringas sekali wanita itu, pikirnya.
Chandra memakai pakaiannya, lantas keluar kamar masuk ke ruang kerjanya. Setelah mendudukkan tubuhnya, Chandra langsung melakukan panggilan kepada Asistennya, Bryan.
"Halo, Tuan. Ada apa?" tanya Bryan langsung dari balik telepon. Meski Chandra adalah Ayah mertuanya, tetap saja Bryan memanggilnya, Tuan.
"Berikan saya nomor telepon pemilik perusahaan Callista" ujar Chandra.
Bryan tersenyum di tempatnya sekarang. Ternyata mertuanya itu sudah langsung takluk dengan Hajar, baru saja sekali serpis.
"Baik, Tuan" balas Bryan. Chadra langsung mematikan sambungan teleponnya. Menunggu pesan masuk dari Bryan.
Chandra penasaran dengan wanita itu yang mampu menghidupkan gairahnya. Bahkan tadi Chandra bisa bermain dengan durasi yang cukup lama. Chandra merasa seperti pernah merasakan sentuhan wanita itu. Dan tadi wanita itu mengecup kepalanya dan menangis terisak. Meski tak mengingatnya, Chandra yakin wanita itu orang yang dekat dengannya.
.
.
"Tuan Chandra meminta nomor teleponmu." Bryan yang baru selesai menerima telepon melangkahkan kakinya ke arah sofa ruang tamu apartement Caroline.
"Berikan saja" balas Hajar yang sibuk bermain main dengan Calix dan Adam, anak Bryan dan Naomi.
"Aku sudah mengirimnya" Bryan mendudukkan tubuhnya di sofa.
Dan yang benar saja, baru Brayn mengirim nomor Hajar pada Chandra. Handphon Hajar sudah berdering di hubungi oleh nomor baru.
"Halo!" sapa suara pria dari sebrang telepon.
"Halo juga" balas Hajar.
"Aku ingin bertemu denganmu lagi. kapan ada waktu?" tanya Chandra langsung mengatakan niatnya.
Hajar diam sebentar, berpikir kapan kira kira dia punya waktu. Sebenarnya saat ini juga bisa, tapi Hajar belum puas melepas rindu dengan anaknya.
"Besok siang bagaimana" ucap Hajar setelah berpikir.
"Baiklah, tentukan tempatnya. Aku akan datang ke sana" balas Chandra.
"Aku akan mengirim alamatnya nanti" ujar Hajar.
Sambungan telepon pun berakhir.
"Dia menyuruhku menentukan tempat kami bertemu. Tapi aku tidak tau harus dimana" ujar Hajar pada Bryan.
"Biar itu menjadi urusanku. Persiapkan saja dirimu" balas Bryan.
"Trimakasih Bryan, kamu memang pria yang baik. Meski aku sudah pernah membuatmu sakit hati. Tapi kamu masih mau membantuku." Hajar terharu punya mantan pacar baik seperti Bryan. Hajar pun menghambur ke pelukan Bryan dengan mata berkaca kaca.
Ehem!
__ADS_1
Hajar langsung melepas pelukannya mendengar Naomi berdehem.
"Tenang saja, aku tidak akan merebutnya" ucap Hajar tersenyum.
"Coba saja kalau berani" dengus Naomi.
"Kau cemburuan sekali, aku juga tau kalau Bryan itu tampan. Tapi tak perlu kawatir Nyonya" gurau Hajar.
Naomi mengedikkan bahunya.
.
.
Bryan melajukan kenderaannya membawa Chandra duduk di sampingnya. Bryan akan membawa Chandra ke sebuah Villa di pinggirab kota. Dan di sana sudah ada Hajar bersama Calix.
Sampai di depan Villa, Chandra memutar pandangannya ke sekitar halaman Villa itu. Chandra merasa tidak asing dengan tempat itu.
"Apa Tuan mengingat sesuatu?" tanya Bryan yang mengikuti langkah Tuannya.
"Sepertinya iya, aku merasa pernah ke tempat ini" jawab Chandra.
"Di dalam sudah ada Nona Hajar, saya akan menunggu di mobil saja Tuan" ujar Bryan. Biar dia memberikan waktu berdua pada Chandra dan Hajar.
Chandra mengangguk lantas masuk ke dalam Villa. Chandra menghentikan langkahnya saat melihat Calix bersama Hajar di ruang tamu.
"Calix" panggil Chandra.
"Papa!" seru bocah kecil itu berlari ke arah Chandra.
"Kenapa kamu ada di sini?" Chandra menangkap tubuh mungil itu, membawanya ke gendongannya.
"Momy!" ucap Calix mengarahkan pandangannya ke arah Hajar yang mendekat.
"Momy?" Chandra mengerutkan kenibgnya.
"Aku memintanya untuk memanggilku Momy" ucap Hajar mengulas senyumnya." Aku memiliki anak, tapi dia bersama Ayahnya"ujar Hajar lagi, mengusap kepala Calix dari belakang." Anakku seusia Calix" tambahnya lagi.
"Kenapa anakmu bersama Ayahnya?. Kenapa kamu gak ikut bersama suamimu?." Chandra melangkahkan kakinya ke arah sofa, mendudukkan tubuhnya di sana.
"Terjadi permasalahan rumah tangga" jawab Hajar singkat." Oh ya, ada apa mengajakku bertemu?." Hajar mendudukkan tubuhnya dekat di samping Chandra.
"Aku penasaran denganmu. Aku berpikir kamu adalah orang yang dekat denganku. Bahkan mungkin sangat dekat, tapi aku tidak mengingatnya. Siapa kamu bagiku"jelas Chandra.
Hajar terdiam menatap Chandra dengan mata berkaca kaca.
"Kalau aku akan mengatakannya, apa kamu akan percaya?" lirih Hajar.
*Bersambung
__ADS_1