Menantu Bayaran

Menantu Bayaran
25. Aku dimana


__ADS_3

"Dari mana kamu?"


"Di ajak Hajar ke mall kak" jawab Naomi menundukkan kepalanya.


Amel mengarahkan pandangannya ke arah belanjaan yang ditenteng Naomi. Terdapat enam buah paper bag ditangannya.


"Kamu tau keuangan kita sudah menipis, masih saja kamu menghabis habiskan uang. Sekarang aku lagi hamil, aku sudah gak bisa mencari uang" ujar Amel, menatap tubuh Naomi dari kaki hingga kepala.


"Aku rasa kamu sudah bisa menggantikanku untuk mencari uang" lanjutnya.


"Iya kak, besok aku akan mencari pekerjaan" balas Naomi tanpa melihat Amel yang berdiri di ambang pintu.


"Tidak perlu kamu mencari pekerjaan lagi. Aku sudah mendapatkan pekerjaan untukmu. Besok pergilah ke hotel XX, temui majikanmu di kamar no 310" ucap Amel melenggang masuk ke dalam rumah, di ikuti Naomi dari belakang.


Naomi menghela napasnya, bisa menebak pekerjaan seperti apa yang di maksud kakaknya. Karena selama ini Naomi tau Kakaknya bekerja sebagai wanita penghibur untuk menunjang kebutuhan mereka sehari hari.


.


.


Ciiiiiii......!!!!!!!


Dukh !


"Aw!"


Hajar yang melajukan kenderaannya dengan kecepatan tinggi, terpaksa melakukan rem mendadak, karna ada kenderaan yang tiba tiba menghalangi jalannya. Hajar mengusap usap keningnya yang terasa sakit karena terbentur ke setir mobilnya.


"Ya ampun sakit banget" keluh Hajar meringis.


Tok tok tok !


"Nona !"


Hajar mengalihkan pandangannya ke arah kaca jedela mobilnya, mendengar ada yang mengetuk dan memanggilnya.


"Nona, tolong buka pintunya Nona. Kami minta maaf karena sudah menghalangi jalan Nona" ujar dari luar mobil lagi terdengar samar samar.


Hajar yang masih merasakan keningnya sakit, dan bahkan kepalanya pusing akibat terbentur kuat, membuka pintu di sampingnya. Karena Hajar juga merasa butuh bantuan saat ini.


"Tolong saya Pak, kepala saya pusing" Hajar turun dari dalam mobil sambil memegangi kepalanya. Bahkan Hajar merasa dia ingin muntah sangking pusingnya.


"Maaf Nona" tanpa aba aba pria itu langsung membekap mulut Hajar dengan saputangan di tangannya. Membuat Hajar seketika kehilangan kesadarannya.


Pria itu pun mengangkat tubuh Hajar, membawanya masuk ke dalam mobilnya. Sedangkan temannya masuk ke dalam mobil milik Hajar, dan langsung melajukannya.

__ADS_1


.


.


Hajar yang terbangun dari tidur lelapnya, menggeliat sambil menguap menutup mulutnya dengan tangan, tanpa menyadari dimana dia berada pagi itu.


Sudah jam berapa,tumben Mama gak bangunin aku?, batin Hajar.


"Aaa...!!!!"


Tiba tiba Hajar memekik saat membuka selimut yang menutupi tubuhnya yang ternyata polos seperti bayi baru lahir.


Oh Tuhan, aku ini dimana, Hajar memutar pandangannya ke setiap sudut ruangan kamar itu. Memori ingatan Hajar pun berputar dengan sendirinya, mengingat kenapa dia sampai di kamar yang asing baginya.


Ya Tuhan!, batin Hajar meringis membayangkan apa yang sudah terjadi pada dirinya. Hajar pun menelan air ludahnya dengan susah.


Bagiamana ini?, bagaimana jika aku hamil, tapi bukan anak Om Chandra?. Aku pasti di cap wanita murahan sama Om Chandra, Ya Tuhan!. Batin Hajar frustasi.


Hajar pun melilit tubuhnya dengan selimut dan segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Hajar harus pulang ke rumah orang tuanya.


Setelah membersihkan diri, Hajar langsung keluar dari kamar mandi. Hajar celingukan mencari dimana keberadaan bajunya. Namun Hajar tidak melihat satu pun pakaiannya di kamar itu.


Bajuku dimana?, kenapa gak ada?, batinnya.


Saat Hajar akan melangkahkan kakinya ke sebuah lemari di kamar itu. Ia mengurungkan niatnya saat pandangannya terarah ke meja yang berada di dekat pintu. Di atas meja terdapat nampan yang berisi makanan dan minuman, di sampingnya ada sebuah paper bag, yang di perkirakan berisi pakaian. Hajar pun melangkahkan kakinya ke arah meja tersebut.


Hajar mengeluarkan isi paper bag yang berada di samping nampan. Melihat pakaian itu pas untuk ukuran tubuhnya, Hajar yakin kalau pakaian itu untuknya, Hajar pun langsung mengenakannya.


Tak ingin berlama lama di tempat itu, Hajar memutar knop pintu di depannya, tanpa menyentuh makanan di atas meja. Tapi sayang, ternyata pintu kamar itu di kunci. Membuat Hajar tidak bisa keluar.


Tidak ada cara lain, Hajar pun menggedor gedor pintu kamar itu sambil berteriak.


"Buka pintunya!"


"Siapa kalian?, kenapa aku di kurung di sini?."


"Hei !buka pintunya!"


Hajar terus berteriak teriak dan mengedor gedor pintu di depannya, karena pintu itu tidak di buka juga.


"Buka pintunya ! atau aku akan melompat dari jendela ."


.


.

__ADS_1


Di kamar sebelah yang di tempati Hajar, seorang wanita berpakaian tertutup mengerjabkan matanya, terusik dengan silau matahari yang menyapa kelopak patanya. Perlahan wanita yang masih menyisakan kecantikan di parasnya itu membuka kelopak mata indahnya.


Aku dimana?, wanita itu mengerutkan keningnya melihat langit langit ruangan yang di tempatinya saat ini. Wanita itu pun memutar pandangannya ke setiap sudut ruangan. Menghentikan pandangannya di satu titik objek yang mengaketkannya.


Chandra


Wanita itu memandang wajah tampan yang membalas tatapannya tanpa berkedip dengan wajah datarnya.


"Apa kabar?" Chandra melangkahkan kakinya mendekati sang kekasih berbaring di atas ranjang, yang membuatnya tak ingin menikah selama ini.


Wanita itu diam, wajahnya nampak gugup.


Chandra membungkukkan tubuhnya setelah kedua kakinya sampai di samping kasur. Chandra mendekatkan wajahnya ke wajah wanita bernama Caroline itu, sangat dekat, hampir saja ujung hidung mereka bersentuhan.


"Katakan sesuatu padaku Caroline" ucap Chandra napas hangatnya menyapu kulit wajah wanita yang memejamkan mata itu.


"Katakan Caroline, kenapa kamu suka sekali mempermainkan perasaanku?" ucap Chandra lagi. Chandra kecewa, namun entah kenapa ia tidak bisa membenci mantan kekasihnya itu. Meski sudah di permainkan.


Melihat Caroline membeku, Chandra menjauhkan wajahnya dan kembali menegakkan tubuhnya.


"Jelaskan siapa Hajar?"


Caroline yang terlonjak kaget langsung membuka matanya, mendengar suara Chandra membentaknya. Caroline gugub, dia tidak tau harus menjelaskan dari mana. Dan dia belum menemukan putrinya, Caroline tidak bisa memberitahu siapa Hajar sebenarnya.


"Hajar berada di kamar sebelah, itu artinya kau dan Hajar berada dalam tahananku. Aku bisa menggilir kalian untuk kutiduri" ucap Chandra santai, melangkahkan kakinya ke arah pintu. Chandra memutuskan untuk keluar dari kamar itu, kawatir tidak bisa mengontrol emosinya, yang berakhir meyakiti wanita itu lagi.


"Ca- chandra !" Caroline memanggil Chandra yang hampir keluar pintu dengan nada ragu. Berhasil membuat Chandra menghentikan langkahnya.


"Bantu aku" ucap Caroline memohon, setelah Chandra membalik tubuhnya.


Chandra menaikkan satu alisnya."Setelah memgirim seorang gadis untuk menikah denganku?."


Caroline terdiam.


Chandra membalik tubuhnya kembali, segera meninggalkan apartemen itu. Dia harus pergi bekerja, karna banyaknya pekerjaannya yang menumpuk.


"Tuan, Nona Hajar terus berteriak teriak menyuruh membuka pintu" lapor seorang pengawal kepada Chandra yang melintas di depan Kamar yang di tempati Hajar.


"Nona Hajar mengancam akan melompat dari jendela Tuan" lapor pria itu lagi.


"Tidak perlu kawatir, dia itu bukan orang bodoh" balas Chandra melanjutkan langkahnya keluar dari dalam apartement.


Caroline yang duduk di atas tempat tidur, menghela napasnya kasar. Mengingat kecerobohannya kemarin, dia lupa memakai penutup wajahnya saat keluar dari rumah Tantenya.


Aku harus pergi dari sini, aku harus mencari anakku, batin Caroline gegas turun dari atas tempat tidur, melangkahkan kakinya ke arah pintu kamar itu, namun ternyata pintu itu terkunci dari luar.

__ADS_1


.


.


__ADS_2