Menantu Bayaran

Menantu Bayaran
54. Plus madu


__ADS_3

Turun dari mobil yang mengantarnya, Chandra bergegas lari masuk ke dalam Villa.


"Mana istriku?" Chandra langsung bertanya kepada anak buahnya yang Khusus bertugas menjaga istrinya.


"Belum di temukan Tuan" Hasan menjawab dengan sedikit menundukkan kepalanya.


"Hanya menjaga anak kecil aja kalian tidak becus" cetus Chandra.


Anak kecil?, batin Hasan.


Sudah tau anak kecil masih saja di nikahi, di ajak membuat anak kecil pula, pikir Hasan.


"Maaf, Tuan" balas Hasan.


"Si Bibi mana?" tanya Chandra lagi, ia berpikir pasti si Bibi yang membantu Hajar kabur. Dan si Bibi juga yang membeli obat tidur itu atas perintah istri kecilnya.


Awas saja kamu, sayang, gemas Chandra dalam hati.


"Sepertinya di belakang, Tuan" jawab Hasan.


Chandra tidak mengatakan apa pun lagi. Ia segera melangkahkan kakinya ke arah bagian belakang Villa itu.


"Bi, istriku mana?" tanya Chandra langsung melihat si Bibi sedang mengambil jemuran.


Si Bibi tidak langsung menjawab, ia menundukkan kepalanya, takut melihat Chandra.


"Ma-maaf, Tuan" gugub si Bibi, jelas Chandra tau dia lah yang memuluskan rencana Hajar untuk kabur." Non Hajar mengancam akan memecat saya Tuan" jelas si Bibi, padahal Chandra tidak mengatakan apa pun.


"Bibi pasti tau kemana dia pergi" tebak Chandra. Siapa lagi yang menjadi petunjuk jalannya, kalau bukan si Bibi.


"Tuan, Non Hajar meninggalkan surat untuk Tuan" ucap si Bibi.


Chandra langsung gegas berlari ke arah kamarnya dan Hajar. Meninggalkan surat, surat apa?.


Brankk !


Debuman pintu itu sangat kuat membentur ke dinding saat Chandra membukanya dengan kasar.


"Hajar!" geram Chandra merapatkan giginya dan menutup pintu kamar itu dengan cepat.


Bukan surat yang di temukannya di dalam kamar itu. Melainkan Hajar, berdiri bertolak pinggang di samping tempat tidur tanpa baju, menggigit jari telunjuk kanannya, tersenyum. Kakinya memakai high heel di buat menyilang. Berfose layaknya model majalah wanita dewasa.


Gara gara mendapat kabar istrinya kabur, terpaksa Chandra menunda keberangkatannya ke luar Negri. Rasanya Chandra ingin marah, tapi melihat pemandangan indah di depannya, kemarahannya menguap begitu saja, gemas.


Hajar pun melangkahkan kakinya mendekati Chandra yang menaik turunkan jakunnya. Dan langsung melompat ke tubuh Chandra, supaya Chandra menggendongnya.

__ADS_1


"Om tidak bisa meninggalkanku begitu saja" ucap Hajar menyentuh bibir Chandra dengan jari telunjuknya.


"Sepertinya kamu minta di hukum sayang." Chandra melangkahkan kakinya ke arah kasur dan langsung melempar tubuh kurus itu ke atasnya.


"Aw!" keluh Hajar tersenyum menggoda, membuat Chandra semakin gemas tak sabar ingin menggigit.


Sebenarnya tadi Hajar benar ingin kabur, tapi mengingat selama ini Chandra selalu bisa menangkapnya, Hajar rasa itu percuma. Sehingga Hajar memutuskan untuk kembali ke Villa. Dan tadi Hajar tidak menyangka kalau Chandra datang. Sudah di pastikan Chandra akan marah padanya. Dan...


Menit berikutnya, Hajar berteriak teriak seperti orang tidak waras mendapat hukuman dari Chandra.


.


.


Selesai memberi hukuman pada istri nakalnya itu. Chandra terpaksa membawa Hajar ikut bersamanya. Jika tidak, gadis itu akan berulah main kabur kabur lagi.


"Gendong" manja Hajar, kakinya lemes banget, tubuhnya juga lelah karena baru habis di makan suaminya itu.


"Makanya jangan membuat Om marah." Chandra yang sudah selesai mengancing lengan bajunya, langsung mengangkat tubuh Hajar ke gendongannya.


"Aku sangat suka kemarahan Om tadi, pengen lagi dan lagi. Oh my God, itu sangat Ah!." Hajar menggigit bibir bawahnya untuk menggoda Chandra sembari tersenyum ke arah Chandra.


Chandra geleng geleng kepala, istrinya itu pintar sekali menggodanya. Mebuatnya gemas dan ingin selalu memakannya.


.


.


"Om kenapa membawaku kesini?" tanya Hajar melihat mobil yang membawa mereka memasuki gerbang rumah yang pernah di tempatinya. Setelah melewati beberapa waktu perjalanan.


"Sekarang kamu tinggal di sini" ujar Chandra.


"Aku mau ikut Om ke luar Negri"


"Tidak bisa!" Chandra tidak akan membawa istri kecilnya itu ke luar Negri. Di sana dia sibuk bekerja, kawatir istrinya itu nanti kelayapan terus di sana. Chandra menjadi tidak bisa pokus bekerja.


Hajar membuka kasar pintu di sampingnya setelah supir menghentikan laju kenderaannya. Hajar melongos masuk ke dalam rumah dengan bibir cemberut. Kalau sudah masuk rumah itu, di jamin Hajar tidak akan bisa keluar tanpa seijin Chandra.


Namun sampai di dalam rumah, bibir cemberut Hajar berubah senyum melihat orang orang yang berada di ruang tamu rumah itu.


"Aaaa! Mama, Papa, Kak Shakil, Naomi, Ibu Caroline, Katrin, Luna, Yona!" pekik Hajar gembira. Sudah lama sekali ia tidak bertemu dengan orang tua dan teman temannya.


"Kalau begitu, Om pergi dulu sayang, muah !" pamit Chandra mengecup kening Hajar dari samping. Sudah aman, Hajar tidak punya alasan lagi untuk main kabur kabur.


Hajar mengabaikannya, membiarkan Chandra pergi begitu saja. Berlari ke arah Ibu Misra dan memeluknya." Ma, Hajar kangen" tangis Hajar tiba tiba.

__ADS_1


Meski Ibu Misra bukan wanita yang melahirkannya. Tapi bagi Hajar wanita itulah Yang membesarkannya dengan kasih sayang. Hajar sangat menyayangi wanita itu.


"Mama juga kangen sayang" balas Ibu Misra memeluk Hajar, mengecup ujung kepala gadis itu.


"Papa" Hajar berpindah memeluk Pak Randy, setelah itu berpindah memeluk Shakil, Caroline dan Naomi, seterusnya memeluk teman temannya.


"Bagaimana?, apa dek bayinya sudah ada?" tanya Naomi mengelus perut Hajar.


"Belum" jawab Hajar begitu meyakinkan.


"Lama sekali" ucap Naomi bernada kecewa.


"Bagaimana denganmu?, apa kau sudah berhasil menggoda si Bryan?" tanya balik Hajar.


"Kami akan bercerai" jawab Naomi lesu.


"Jangan sedih, kamu pasti bisa mencari pria lain sayang." Hajar memeluk kembali Naomi, memberi semangat pada sahabatnya itu. Kalau Naomi tidak menghadapi masalah sendirian.


"Kamu memang Mama tiriku yang baik" puji Naomi lalu terkekeh. Hajar dan lainnya pun ikut terkekeh.


"Ayo makan, aku sudah lapar."


Sontak suara wanita itu mengalihkan pandangan Hajar, dan melepas pelukannya dari tubuh Naomi.


"Kenapa kau ada di sini?" tanya Hajar melihat Amel ada di rumahnya. Itu rumahnya, di beli Chandra atas namanya.


"Kenapa?, aku juga istri Om Chandra" tanya balik Amel.


"Istri di atas kertas" cibir Hajar.


"Sayang" Ibu Misra melangkahkan kakinya mendekati Hajar."Ayo kita makan, dari tadi kami menunggumu untuk makan bersama. Dan kasihan Amel, anaknya sudah kelaparan" ucapnya lembut mengusap kepala Hajar."Jangan bersikap seperti itu padanya, bagaimana pun Amel adalah sepupumu."


"Plus madu" cetus Hajar


Istri mana coba yang senang melihat wanita masa lalu suaminya berada di rumahnya sendiri, berstatus sebagai madu.


"Hidupku dan Kak Caroline hancur, itu karena ulah orang tuamu. Ayolah Hajar, bertanggung jawablah sedikit pada kami atas perbuatan orang tuamu" ucap Amel mengingatkan Hajar atas perbuatan orang tuanya yang membuat keluarga mereka hancur.


Hajar terdiam, pandangannya seketika meneduh. Ucapan Amel sudah seperti belati yang mengoyak hatinya,Hajar malu. Tapi apakah dia harus mendapat ganjaran atas perbuatan orang tuanya. Dan apa dia harus rela di madu?, tidak!.


"Amel" tegur Caroline.


Hajar berlari ke arah lif, naik kelantai tiga rumah itu masuk ke dalam kamar, mengunci pintunya rapat rapat.


*Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2