
"Nyonya, Tuan Chandra pergi membawa Nona Amel menggunakan helikopter dari atas gedung hotel ini. Sepertinya Tuan Chandra dan Nona Amel sedang bekerja sama" Lapor seorang pria berpakaian serba hitam kepada Nyonya Belinda yang masih sibuk mengobrol dengan para anggota arisannya.
"Apa maksudmu?" Nyonya Belinda menatap marah pada pria itu.
"Menurut dugaan saya Nyonya. Soalnya kami tidak mengetahui keberadaan helikopter itu di atas gedung ini."
"Lalu kenapa kalian tidak mengejarnya?" Nyonta Belinda berdiri dari tempat duduknya. Wajahnya nampak tengang, dadanya naik turun, sehingga membuat para teman temannya mengernyit bingung.
"Kami tidak mungkin bisa mengejarnya Nyonya" pria itu menunduk takut.
Dengan apa mereka bisa mengejar helikopter yang bisa terbang bebas di udara?. Menggunakan kenderaan darat, rasanya percuma saja.
"Kalian cari Bryan, Naomi dan Caroline. Bawa mereka ke hadapan saya." Setelah mengatakan itu, Nyonya Belinda langsung pergi tanpa berpamitan pada teman temannya. Nyonya Belinda membatalkan niatnya untuk menginap di hotel itu. Ia lebih memilih untuk menenangkan diri di rumah.
Setelah sampai di rumah, Nyonya belinda yang sudah masuk ke dalam kamarnya, melempar kasar tasnya ke atas tempat tidur. Berjalan mondar mandir, berpikir kenapa dia bisa kecolongan?. Bukankah dia sudah mengurung Chandra selama lima hari ini, tanpa hp dan laptop. Tanpa bertemu dengan Bryan dan bahkan dengan Naomi. Lantas siapa yang membantu Chandra untuk menyiapkan helikopter itu?. Dan kapan kerja sama itu terjadi?.
Tak lama menunggu, Bryan, Naomi dan Caroline pun sudah sampai di rumahnya. Nyonya Belinda menatap tajam ketiga orang yang baru masuk ke dalam kamarnya. Ia yakin, ketiga orang itulah yang menyiapkan bantuan melarikan diri untuk Chandra. Dan Amel...
Kurang ajar, Nyonya Belinda tidak menyangka, Amel berpindah kubu ke pihak Chandra. Pasti itu karena hasutan Caroline.
"A- ada apa Nek?" gugub Naomi tanpa melihat Nyonya Belinda. Tatapan Nyonya Belinda sangat menyeramkan, matanya sudah seperti mata burung hantu yang sedang membidik mangsanya.
"Kemana Chandra pergi?" tanya balik Nyonya Belinda.
Naomi menggigit bibir bawahnya, dan meremas pinggiran bajunya. Matanya pun melirik Caroline dan Bryan bergantian. Berharap Kedua orang itu yang akan menjawab pertanyaan wanita tua di hadapan mereka.
Sedangkan Caroline, menghela napasnya mencoba untuk tetap tenang, sambil memikirkan jawaban dari pertanyaan Nyonya Belinda.
Sedangkan Bryan, wajahnya nampak datar tanpa ekspresi.
"Kemana Chandra pergi?" ulang Nyonya Belinda melihat tiga orang di depannya hanya diam saja.
"Tentu pergi berbulan madu Tante" jawab Caroline tersenyum.
Jika di test untuk akting, tentu Caroline sudah mahir. Bahkan selama bertahun tahun, ia sudah lolos berakting menjadi orang gila.
"Nyonya! Nyonya! Nyonya!"
Suara heboh seorang pembantu datang tergopoh gopoh masuk ke kamar Nyonya Belinda, berhasil mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu.
__ADS_1
"Ada apa Tania?" geram Nyonya Belinda. Dia sedang emosi, malah pembantu itu membuatnya panik.
Tania mengatur napasnya yang sedang ngosngosan karena baru saja berlari setelah mendapat berita mengejutkan.
"Katakan, ada apa?"
"I- itu Nyonya" Tania menunjuk tv di kamar itu, membuat Nyonya Belinda, Naomi, Bryan dan Caroline menoleh ke arah tv."Tv Nyonya"
"Hi-hidupin tvnya" ucap Tania lagi terbata.
"Ada apa?, katakan dengan benar!" suara Nyonya Belinda menggelegar seketika, sehingga membuat yang mendengarnya terlonjak kaget.
Tania menarik dalam napasnya, kemudian mengelurkannya perlahan.
Sedangkan Bryan, ia segera menghidupkan tv di kamar itu.
' Pemirsa, pesawat helikopter yang di duga membawa sepasang pengantin baru itu, telah terbakar. Saksi mata yang melihat, setelah helikopter itu jatuh ke tengah hutan, semburan api langsung menyala, yang di duga dari helikopter itu sendiri.'
"Ti- tidaaaaak!" Nyonya Belinda menjerit, menutup mulutnya dengan jari bergetar. Kepalanya pun mendadak pusing, tubuhnya melemah dan akhirnya pingsan.
"Nenek!" Naomi langsung berlari dan menangkap tubuh Nyonya Belinda supaya tidak sampai jatuh ke lantai.
.
.
Sementara itu di tempat lain. Chandra dan Amel beserta dua pria yang membantu mereka, baru keluar dari hutan dengan napas yang sama sama memburu setelah melakukan terjun payung dari udara dan berjalan kaki menembus hutan di tengah malam.
Dan jangan tanyakan Hajar berada dimana, dari tadi dia bobo cantik di dalam dekapan Chandra. Tidak tau apa yang terjadi sama sekali. Bahkan nyawanya pun hampir melayang, dia masih saja berada di dalam mimpi indahnya. Intinya, untung mereka selamat.
Sedangkan Amel, tubuhnya sudah menggigil karena udara malam, dan masih shok dengan apa yang baru saja mereka lakukan. Sungguh konyol, seharusnya dia tidak berpindah ke kubu Chandra. Dia juga sedang hamil, bisa bisanya Chandra mengajaknya melakukan hal yang gila.
Melihat Amel kedinginan, Chandra pun menarik Amel ke dalam pelukannya."Aku minta maaf sudah membuatmu dalam bahaya" ucapnya.
"Ya Tuhan, aku pikir aku tidak akan selamat. Om benar benar gila" ucap Amel dengan suara bergetar kedinginan.
"Kita tidak akan mati, kalau belum waktunya" balas Chandra tersenyum.
"Gara gara istri Om, semua orang menjadi ikut susah. Aku gak habis pikir, apa kelebihan gadis igusan ini?" cetus Amel, masih iri melihat Hajar yang begitu dicintai Chandra.
__ADS_1
"Dia lebih menggemaskan dari pada kamu" jawab Chandra lalu terkekeh.
Amel mendengus
Ehem!
Kedua pria yang bersama mereka sama sama berdehem mendengar pembicaraan Amel dan Chandra.
Melihat lampu sorot sebuah mobil datang ke arah mereka, yakin kalau itu adalah mobil yang akan melanjutkan perjalanan mereka, yang sudah di persiapkan Bryan sebelumnya.
Dan benar saja, mobil itu berhenti di dekat mereka. Chandra melihat yang mengendarai mobil itu adalah anak buahnya.
Chandra dan Amel berdiri dari tanah, dan langsung masuk ke dalam mobil berbentuk mini bus itu. Begitu juga dengan seorang pilot dan pria yang ahli terjun payung itu.
Mobil itu pun perlahan melaju meninggalkan hutan, melewati jalan yang masih tanah.
.
.
Kabar menghilangnya Chandra, dan Amel beserta seorang pilot yang menerbangkan helikopter, menjadi tranding topik. TIMSAR sedang melakukan pencarian di tempat jatuhnya helikopter, namun mereka belum menemukan korbannya.Jangan jangan, dan jangan jangan. Itulah yang ada di pikiran Para TIMSAR dan masyarakat.
Semenjak berita itu, Nyonya Belinda terus menangis dan sering berbicara sendiri. Ia meyesal telah memaksa Chandra menikah lagi, dan memisahkannya dengan Hajar. Namun penyesalan tidak ada gunanya.
"Nenek" panggil Naomi dengan suara lembut, saat masuk ke kamar Nyonya Belinda membawa nampan berisi makanan dan minum.
"Makan dulu Nek, dari pagi Nenek belum makan" bujuk Naomi.
"Mana mungkin Nenek bisa makan kalau Papamu belum ketemu." Nyonya Belinda kembali terisak, memikirkan anaknya yang entah berada dimana. Apakah masih hidup atau sudah go.
Lihatlah, Nyonya Belinda hanya memikirkan anaknya, tanpa memikirkan Amel yang juga menjadi korban. Dan untuk dia tidak tau kalau Hajar ikut bersama Chandra. Kalau iya, Nyonya Belinda bisa gila, karena marah dan bersedih sekaligus.
"Tapi Nenek harus tetap makan" bujuk Naomi lagi.
Naomi yang sudah duduk di pinggir kasur, mencoba menyuapi Nyonya Belinda. Namun Nyonya Belinda menolaknya, dan kembali menangis meraung raung.
Anak hanya satu, itu pun bandel dan nakal, dan kini sudah tidak tau kabar dan keberadaannya.
* Bersambung
__ADS_1