Menantu Bayaran

Menantu Bayaran
29.Tetap menjadi istrinya


__ADS_3

Ceklek !


Hajar mendongakkan kepalanya dan gegas berdiri saat mendengar kunci pintu di sampingnya berbunyi. Dia harus keluar dari kamar itu. Namun saat pintu itu terbuka, Hajar tidak bisa melangkahkan kakinya. Hajar membeku melihat orang yang membuka pintu kamar itu.


"Hajar, ya ampun! kenapa tanganmu bisa berdarah" wanita yang terlihat masih cantik itu meraih sebelah tangan Hajar.


"I- ibu" gumam Hajar pelan."Kenapa Ibu bisa ada di sini?, Ibu sudah sehat?, Ibu kemana?" cerca Hajar raut wajahnya berbinar bahagia melihat wanita yang sudah di anggap Ibunya sudah sehat.


"Chandra tangan Hajar berdarah, dan tubuhnya hangat, sepertinya dia sakit" ujar Caroline, menoleh sebentar ke arah Chandra sembari berusaha menghentikan darah yang mengalir dari tangan Hajar, menghiraukan pertanyaan pertanyaan Hajar.


"Om" gumam Hajar lagi, mengalihkan tatapannya ke arah Chandra yang menyusul masuk.


Tanpa menjawab, Chandra pun langsung mengangkat tubuh Hajar membawanya ke arah ranjang, membaringkan tubuh lemah Hajar pelan di atas kasur. Kemudian Chandra mengeluarkan ponselnya dari saku celananya untuk menghubungi Dokter.


"Kenapa Hajar bisa seperti ini?, apa kau juga mengurungnya?" tanya Caroline, setelah Chandra mematikan sambungan teleponnya.


Chandra diam tidak menjawab, sambil tangannya menekan bekas tusukan jarum infus di tangan Hajar.


Melihat itu Caroline menghela napasnya, kemudian keluar dari kamar itu untuk mengambil air hangat dan handuk kecil ke dapur.


"Aku minta maaf" ucap Chanda mengambil lengat Hajar lalu mengecupnya.Entah? melihat Hajar terbaring lemah dengan wajah sembab, Chandra kasihan dan merasa bersalah kepada Hajar.


Sedangkan Hajar, dia langsung membuang muka, kesal dengan suaminya itu. Ternyata suaminya sendiri yang menculiknya dan mengurungnya. Dan tadi pagi...


Mengingat dirinya tadi pagi terbangun tanpa pakaian sama sekali. Hajar mengarahkan pandangannya kembali ke arah Chandra, menatap Chandra marah, karna sudah menikmati tubuhnya saat dia tidak sadar tadi malam.


"Ada apa?" Chandra mengerutkan keningnya sembari mengulas senyum tipis melihat tatapan marah Hajar kepadanya.


"Om keterlaluan!" geram Hajar.


"Kenapa Om menculikku, menikmati tubuhku saat aku tak sadar?. Om juga mengurungku di sini" cerca Hajar, berbicara dengan rahang mengeras. Andai saja tubuhnya tidak lemah, mungkin Hajar sudah memukuli pria matang itu dan menggigit kuat dadanya.


Dan seharusnya mereka tidak melakukan hubungan badan lagi. Bukankah suaminya itu sudah menentukan pilihannya?. Melihat Chandra sudah menemukan Ibunya, Hajar yakin hubungan keduanya sudah tersambung kembali, Chandra memilih Ibunya.


"Karna aku membutuhkanmu" jawab Chandra, mengelus ujung kepala Hajar, tanpa melepas sebelah tangan Hajar yang di genggamnya.


"Bukankah Om sudah menemukan Ibuku, aku rasa hubungan kalian sudah membaik" lirih Hajar menatap Chandra dengan mata berkaca kaca.


Entah? Hajar merasa dia mengharapkan Chandra memilihnya, meski tak mencintai pria itu.


Chandra pun menatap intens wajah Hajar yang nampak bersedih. Chandra dilema siapa sebenarnya yang harus ia pilih. Kedua wanita beda usia itu sama sama menempati hatinya.

__ADS_1


"Hubungan kami memang membaik, tapi tidak ada yang spesial lagi. Semuanya sudah menjadi masa lalu. Bukankah aku Ibumu semenjak lama. Bagaimana bisa seorang Ibu menjalin hubungan spesial dengan menantunya sendiri?."


Chandra dan Hajar sama sama menoleh ke arah Caroline yang berjalan ke arah ranjang, membawa baskom yang berisi air hangat. Caroline pun mendudukkan tubuhnya di atas kasur setelah terlebih dahulu memeras handuk kecil yang sudah di celupkan ke air hangat.


"Kamu akan tetap menjadi istrinya, dan aku akan tetap menjadi Ibumu" ucap Caroline lagi mengulas senyum kas keibuannya, kemudian menempelkan haduk kecil di tangannya ke kening Hajar.


"Tapi kamu bukan Ibu kandungku" ujar Hajar meneduhkan pandangannya ke arah Caroline.


"Kamu benar, aku bukan Ibu kandungmu. Tapi aku rasa itu tidak masalah." Caroline turun dari atas tempat tidur mengambil satu lagi handuk kecil yang di bawanya tadi, mencelupkannya ke dalam air. Setelah kembali naik ke atas kasur, Caroline melap wajah, leher sampai ke tangan Hajar.


"Tapi Om Chandra tidak mencintaiku, dia hanya mencintai Ibu" lirih Hajar pelan hampir tak terdengar.


Caroline mengembangkan senyumnya. Meski Hajar bukan putrinya, melainkan adik sepupunya. Tapi bagi Caroline Hajar adalah putrinya. Mereka sudah menjadi Ibu dan Anak semenjak 18 Tahun yang lalu.


"Tapi kamu mencintainya" goda Caroline.


Hajar mengerucutkan bibirnya melihat Chandra yang duduk diam di sampingnya melalui sudut matanya.


"Aku tidak mencintainya" cetus Hajar.


"Dia hanya mencintai uangku Caroline" ujar Chandra menimpali obrolan anak dan Ibu itu.


"Karna kau juga tak memberikan hatimu padanya" balas Caroline, masih sibuk membersihkan tangan Hajar, terutama bagian bekas yang berdarah.


"Tapi Om tak ingin aku mengandung anak Om" cetus Hajar. Sontak menghentikan gerakan tangan Caroline yang membersihkan tangannya. Caroline pun mengarahkan pandangannya ke arah Chandra yang terlihat biasa saja menanggapi pernyataan Hajar.


"Kenapa?" pertanyaan itu Caroline tujukan kepada Hajar dan Chandra.


"Karna dia juga malu mempunyai suami sepertiku. Dan juga dia tidak mau mencintaiku. Di otak kecilnya itu hanya ada uang dan uang" jawab Chandra mengulas sedikit senyumnya.


"Kalian benar benar pasangan yang cocok. Sama sama munafik, padahal kalian sama sama menyukai. Kalian sungguh konyol" Caroline menggeleng gelengkan kepalanya sembari tersenyum.


"Ibu" Hajar berusaha mendudukkan tubuhnya dan langsung memeluk Caroline."Ibu sudah sehat kan?, Ibu sudah sembuhkan?, Ibu gak sakit lagi kan?."


Hajar tidak percaya melihat Caroline baik baik saja. Benarkan Ibunya itu sudah tidak gila lagi?. Hajar sangat bahagia melihat Ibunya sudah tidak gila lagi. Hajar berpikir kalau Ibunya sembh karena sudah bertemu dengan Chandra suaminya.


"Asalkan Ibu baik baik saja, Hajar rela melepas Om Chandra untuk Ibu. Gak apa apa Bu, Hajar ikhlas. Hajar lebih bahagia melihat Ibu sembuh. Hajar sangat menyayangi Ibu. Sudah saatnya Ibu bahagia" isak tangis Hajar terharu bercampur sedih.


"Kamu bicara apa?" Caroline mengusap usap kepala Hajar dari belakang.


Mungkin cinta untuk Chandra di hatinya masih ada. Tapi tidak untuk menghancurkan rumah tangga Hajar. Yang di pikirannya dari dulu adalah mencari anaknya.

__ADS_1


"Hajar bahagia Bu, bahagia melihat ibu sudah sembuh" jawab Hajar di selah selah tangisnya.


Melihat pemandangan dramatis kedua wanita di depannya. Chandra memilih keluar dari kamar itu. Chandra masih bingung dengan perasaannya. Dia belum bisa menentukan pilihannya.


Setelah masuk ke dalam kamar sebelah yang di tempati Caroline. Chandra langsung melakukan panggilan lewat telephon kepada seseorang.


"Halo Tuan, ada apa?" tanya seorang pria dari sebrang telepon.


"Suruh anak buahmu mencari orang yang bernama Bruno dan Taslin" perintah Chandra.


"Baik Tuan" seperti biasa, Bryan akan patuh kepada Tuannya tanpa bantahan.


"Tangkap kedua brengs*k itu, hidup atau mati bawa kehadapanku" ujarnya geram.


"Baik Tuan"


Chandra langsung mematikan sambungan teleponnya sepihak. Kemudian melalukan panggilan telepon lagi ke no lainnya.


"Ya halo! ada apa?" tanya langsung dari dalam telepon.


"Aku punya tugas baru untukmu. Tugaskan anak buahmu untuk mencari putriku" perintah Chandra kepada sahabatnya bernama Marco.


"Tante Belinda sudah memberi perintah itu terlebih dahulu padaku" cetus Marco, memutar bola mata jengah. Kenapa Ibu dan anak itu suka sekali menyusahkannya?, pikirnya.


"Oh! bagus" ucap Chandra.


"Tapi masalahnya, nama putrimu siapa?. Ada photonya gak?" tanya Marco.


Bagaimana dia bisa mencari seseorang tanpa ada pengenal sama sekali, baik nama atau photo, atau tanda pengenal lainnya.


Chandra diam berpikir, siapa nama putrinya, dan seperti apa wajahnya?.


"Aku gak tau namanya, dan tidak memiliki photonya."


"Bagaimana orang orangku bisa mencarinya tanpa ada petunjuk sama sekali?" geram Marco.


"Nanti akan aku cari tau siapa namanya" jawab Chandra tak ingin memberitahu kalau Caroline sudah ditemukannya.


"Terserah kau saja" cetus Marco dan langsung mematikan sambungan telephonnya sepihak.


Chandra pun menurunkan handphonnya dari telinga sembari menghela napas. Dia juga bingung bagaimana caranya mencari putrinya, tanpa nama atau photo.

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2