Menantu Bayaran

Menantu Bayaran
19.Maaf


__ADS_3

"Pergilah jauh, jangan pernah menampakan diri lagi. Karna kami akan menjemput putri kami."


Caroline yang masih berdiri di tempatnya menatap nanar wanita tua itu yang berhenti di depan pintu kamar. Kenapa Tantenya begitu kejam padanya?.


"Aku tidak tau putrimu dimana. Dulu aku membuangnya di tempat sampah."


Air mata Caroline semakin mengalir deras, mendengar apa yang di katakan Tantenya, kemana ia harus mencari anaknya. Bahkan wajah anaknya saja dia tidak tau seperti apa.


.


.


Keluar dari bandara, Hajar berlari masuk ke sebuah taxi, dan menyuruh sang supir segera berangkat.


"Cepat jalan Pak, saya sangat buru buru" ujar Hajar, namun pandangannya tidak lepas dari Chandra yang berdiri di depan pintu keluar bandara.


"Baik mbak" balas supir taxi itu dan segera melajukan kenderaannya meninggalkan bandara.


Chandra yang melihat Hajar berlari masuk ke dalam taxi, memerintahkan Bryan untuk menyuruh orang mengikuti kemana arah taxi yang membawa Hajar.


"Jangan biarkan Hajar sampai hilang jejak" ujar Chandra, melangkahkan kakinya ke arah dimana mobilnya terparkir.


"Baik Tuan" patuh Bryan seperti biasanya, dan segera menghubungi anak buahnya untuk mengikuti Hajar. Setelah mematikan sambungan teleponnya, Bryan langsung mengikuti Chandra masuk ke dalam mobil, duduk di kursi pengemudi.


"Ikuti mobil yang membawa Hajar" titah Chandra dari kursi belakang.


Setelah menjawab iya, Bryan langsung melesatkan kendaraannya menuruti perintah tuannya.


.


.


Sampai di rumah sakit jiwa, Hajar langsung turun dari dalam taxi. Hajar berlari masuk ke dalam rumah sakit.Hajar mendorong kuat pintu di depannya, mengarahkan pandangannya ke arah tempat tidur Ibunya yang sudah kosong.


"Kenapa Ibu bisa hilang?" marah Hajar kepada Dokter yang datang menyusulnya bersama Ibu Misra.


"Ibu Caroline meninggalkan kamarnya saat malam hari. Kami sudah berusaha mencarinya, tapi kami kehilangan jejak" jelas Dokter yang biasa merawat Ibunya itu.


"Ibu kemana, kenapa pergi Bu?. Kemana Hajar harus mencari Ibu?." Hajar menangis terisak.


Meski ia tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari wanita yang menderita gangguan jiwa itu, Hajar tetap menyanyanginya.


"Ibumu pasti di temukan, tenanglah" Ibu Misra menarik Hajar ke dalam pelukannya.


"Ibu siapa yang kalian maksud?"


Suara berat itu berhasil menghentikan tangis Hajar. Hajar, Ibu Misra dan Dokter yang ada di ruangan itu pun sama sama menoleh ke arah pintu.

__ADS_1


"Ibu Misra, bisa memberi saya penjelasan?" Chandra menatap tajam Ibu mertuanya, merasa ada yang tidak beres. Atau lebih tepatnya, ada yang di rahasiakan darinya.


Bagaimana ini?, semuanya pasti kacau kalau Chandra mengetahui siapa Hajar sebenarnya.Batin Ibu Misra membalas pandangan Chandra dengan wajah gugub.


"Sebenarnya aku bukan Ibu kandung Hajar. Ibu kandungnya adalah salah satu pasien di rumah sakit ini. Ibunya menghilang sejak tadi malam" terpaksa Ibu misra memberikan penjelasan kepada Chandra.


Chandra mengerutkan dahinya, saat menikahi Hajar, Chandra memang tau kalau Hajar bukan putri kandung dari suami Ibu Misra. Tapi Chandra tidak tau kalau Hajar juga bukan putri kandung dari mertuanya itu.


Chandra menghela napasnya, seharusnya dia menyelidiki siapa gadis yang sudah di nikahinya itu.


"Bryan perintahkan orangmu untuk mencari Ibunya Hajar" ujar Chandra melangkahkan kakinya mendekati Hajar dan Ibu misra.


"Baik Tuan"


Chandra menarik Hajar ke dalam pelukannya setelah Ibu Misra melepas pelukannya, kasihan melihat Hajar, tidak menyangka gadis manisnya yang ceria itu ternyata menyimpan kepiluan yang dalam.


"Tenanglah Ibumu pasti bisa ditemukan" ucap Chandra mengecup ujung kepala Hajar.


"Tuan, mereka membutuhkan photonya, untuk mengenali orangnya" ujar Bryan setelah menghubungi orang suruhannya.


Mendengar itu, Chandra melonggarkan pelukannya."Ada photonya?."


Hajar mengangguk sambil menghapus air matanya.


"Boleh Om meminjamnya?" tanya Chandra lagi dengan suara lembutnya, sambil tangannya mengusap rambut Hajar dari belakang.


"Di laci sana Om" tunjuk Hajar dengan dagunya ke arah laci meja nakas di samping tempat tidur.


Gawat kalau sampai Chandra melihat photo Caroline, batin Ibu Misra.


Ya ampun Caroline,kenapa kamu main kabur tidak memberitahuku?. Batin Ibu Misra lagi, wajahnya tampak gelisah. Berpikir, jika Hajar belum mendapatkan apa apa dari Chandra, Caroline tidak akan mendapatkan anaknya yang di sembunyikan tantenya.


"Ini Om" Hajar memberikan photo Ibunya kepada Chandra setelah mengambilnya dari dalam laci.


Chandra pun menerima photo itu. Keningnya langsung mengerut ketika melihat wajah wanita di dalam photo itu. Chandra berpikir, kalau wajah itu tak asing baginya.


"I..ini photo siapa?" tangan Chandra perlahan bergetar, setelah bisa mengenali photo wanita di tangannya. Pandangannya pun beralih ke wajah Hajar yang berdiri di depannya.


"Si..siapa nama Ibumu?" tanyanya lagi gugub. Perlahan wajah Chandra memucat dengan pkirannya sendiri.


Melihat itu Hajar mengerutkan keningnya, bingung dengan reaksi Chandra." Om kenapa?" tanya Hajar.


"Katakan siapa nama Ibumu !"


Sontak Hajar, Ibu Mirsa, Bryan dan Dokter wanita di ruangan itu terlonjak kaget, mendengar suara Chandra yang meninggi.


"Caroline" jawab Ibu Misra.

__ADS_1


Tubuh Chandra langsung melemah, sampai mundur ke belakang. Mendengar nama itu meluncur dari bibir mertuanya.


Ya Tuhan, apakah Hajar putriku?. Takdir apa ini?. Batin Chandra tak sadar meneteskan air matanya.


Apa yang harus ia lakukan, jika ternyata Hajar putrinya?. Chandra pun menjatuhkan tubuhnya ke lantai menangis terisak, tak mampu membayangkan jika gadis yang di nikahinya itu adalah darah dagingnya. Dan jika pun tidak, tapi itu sama saja, dia sudah menikahi gadis yang terlahir dari rahim wanita yang pernah dalam pemeliharaannya.


"Tuan"


Melihat tuannya tidak baik baik saja, Bryan pun mendekati Chandra membantunya berdiri kembali.


"Apa yang terjadi Tuan?" tanya Bryan.


Chandra malah semakin menangis dan meneriakkan nama Caroline.


"Caroline...!"


Apa sebenarnya yang terjadi?, kenapa Chandra sampai menangis frustasi mengetahui kalau Caroline Ibunya Hajar. Batin Ibu Misra bingung


Setau Ibu Misra, Chandra hanyalah mantan pacar Caroline. Hajar anak tante dan paman Caroline. Selain itu, Ibu Misra tidak tau apa apa lagi.


"Om kenapa menangis? apa Om mengenal Ibuku?" tanya Hajar polos.


Dia juga tidak tau apa apa, selain dirinya terlahir dari wanita gila, akibat mendapatkan pelecehan s*ksual. Dan bahkan Hajar tidak tau siapa Ayah biologisnya.


Chandra tidak menjawab, malah ia menghambur memeluk Hajar dan menciumi wajah Hajar dengan berurai air mata, sebagai ungkapan rasa sayangnya yang tidak dapat diungkapkan dengan kata kata, bercampur dengan rasa penyesalan yang mendalam dengan takdir sudah menggauli gadis yang tidak sepantasnya.


"Om" Hajar memperhatikan wajah Chandra dengan bingung.


"Maafin Om Hajar, maaf maaf maaf" isak tangis Chandra lagi, memeluk erat tubuh Hajar.


"Maaf maaf maaf ...."


Kata kata maaf itu terus meluncur dari bibir Chandra. Membuat orang orang yang ada di ruangan itu semakin heran dan bingung.


"Om" panggil Hajar lagi, namun Chandra tidak mendengarnya lagi, karna ia hanya sibuk terus mengucapkan kata maaf.


"Chandra ada apa?" Ibu Misra mendekati Chandra dan menyentuh bahunya. Karna sudah tidak tahan lagi membendung rasa penasarannya.


"Chandra jelaskan ada apa?" tanya Ibu Misra lagi, karna Chandra sepertinya tak mendengarnya.


"Iya Om, ada apa sebenarnya?" sambung Hajar yang masih berada di dalam pelukan Chandra.


"Iya Tuan, ada apa sebenarnya?, kenapa Tuan menangis histeris?" timpal Bryan.


Bukankah tadi Hajar yang kehilangan Ibunya, kenapa malah Tuannya itu menangis lebih histeris dari pada Hajar, pikir Bryan.


Chandra masih tidak bisa menghentikan tangisnya, ia tidak bisa menjelaskan yang sebenarnya saat itu, dadanya amat terasa sesak, memikirkan jika dugaannya benar. Bagaimana jika Hajar benar putrinya?, rasanya Chandra mau ikut gila memikirkannya.

__ADS_1


"Bryan cari Caroline sampai dapat, bagaimana pun caranya!" perintah Chandra, saat ia sudah bisa menguasai dirinya.


* Bersambung


__ADS_2