
Chandra dan Hajar saling terdiam dengan pemikiran masing masing dari tadi, setelah Chandra menceritakan hubungannya dengan Caroline. Sampai dimana hubungan mereka, hingga mereka putus.
"Lebih baik kita bercerai Om" air mata Hajar luruh tak terbendung saat mengatakan itu.
Chandra mengarahkan tatapannya ke wajah Hajar yang duduk di depannya. Chandra pun bingung dengan perasaannya saat ini. Apakah dia mencintai Hajar atau tidak. Dan siapa saat ini wanita yang di cintainya. Hajarkah ? atau Caroline?.
"Aku yakin Om adalah obat kesembuhan Ibu. Biar aku yang mengalah" ujar Hajar lagi.
Ibu Misra sudah menceritakan sedikit kenyataan tentang dirinya. Kalau dia bukan putri kandung dari wanita yang di anggapnya sudah melahirkannya. Namun Hajar sudah terlanjur terlalu menyanyangi wanita tidak waras itu. Asalkan Ibunya bisa sembuh, biarkan dia yang mengalah.
Chandra masih bergeming tanpa melepas netranya dari wajah Hajar. Chandra tau saat ini hati Hajar sangat hancur sehancur hancurnya. Karena fakta tentang diri Hajar dan hubungannya dengan Caroline di masa lalu. Dan alasan Chandra yang tidak menikah selama ini, karena Caroline.
"Tidak mungkin kan Om bisa mencintai dua wanita dalam satu waktu?" tanya Hajar menundukkan wajahnya.
"Tidak mungkin kan Om memperistri Ibu dan anak?."
"Itu sangat lucu, Putriku maduku, atau Ibuku maduku."
"Atau suamiku dan Ibuku."
"Dan aku juga gak mau di madu."
"Aku yakin Om sanggat mencintai Ibu."
"Sedangkan aku hanya istri di atas kasur aja."
"Om tidak mencintaiku, aku juga tidak mencintai Om."
"Aku ini tidak jelas anak siapa?."
"Dan juga Om sudah akan memiliki anak dari wanita lain. Benar kata Om, aku tak perlu lagi mengandung anak Om.
Air mata Hajar semakin mengalir deras, memikirkan dia akan menjadi seorang janda di usia pernikahannya yang baru hitungan hari.
"Aku ingin cerai Om"
Chandra diam saja membiarkan Hajar terus mengoceh. Chandra juga masih shok, sehingga ia pun tak tau harus berbuat apa saat ini. Karna masa lalu, hidupnya menjadi rumit.
"Aku sangat menyayangi Ibuku, aku ingin Ibu sembuh dan hidupnya bahagia" oceh Hajar lagi.
__ADS_1
Iba melihat Hajar yang terus menangis sambil berbicara. Chandra berdiri dari kursi yang di dudukinya, mendekati Hajar yang duduk di atas ranjang rumah sakit tempat Ibunya di rawat selama ini.
"Kita hadapi sama sama masalah ini" ucap Chandra menarik Hajar ke dalam pelukannya.
Hajar menggelengkan kepalanya, bagaimana bisa mereka menghadapi masalah sama sama. Sedangkan perasaan mereka tidak sama.
"Tolong bahagiakan Ibuku Om" Hajar menekuk bibirnya sambil menangis terisak.
Bagaimana bisa ia dan Ibunya terjebak dengan pria yang sama. Hajar sebenarnya tak ingin bercerai, tapi Ibunya juga sangat membutuhkan sosok Chandra. Hajar merasa dadanya sangat sesak membayangkan akan berpisah dengan Chandra. Entah? Hajar juga tidak mengerti dengan rasa itu.
Chandra hanya bisa diam, dia juga bingung, apakah dia akan menceraikan Hajar atau tidak?. Meski dia menyayangi Hajar, tapi untuk cinta, sepertinya Chandra belum mencintai Hajar. Hatinya masih terpaut dengan wanita bernama Caroline. Dan selama ini tujuan hidupnya hanya untuk mencari Caroline.
"Kenapa Om diam saja?. Om sangat mencintai Ibu kan?" lirih Hajar dari dalam pelukan Chandra.Saat ini Hajar merasa dirinya hanya seonggok gumpalan darah yang terbuang. Hajar merasa kehadirannya di Dunia ini tidak di harapkan. Dia tidak berhak mendapatkan cinta dari kedua orang tuanya maupun suaminya.
Hati Hajar terasa perih, karena Chandra diam tidak menjawab. Hajar pun melepas tangan Chandra dari tubuhnya. Hajar keluar dari ruangan itu, meninggalkan Chandra yang membeku tanpa berniat mencegahnya. Membuat Hajar bisa menebak, kalau Chandra lebih memilih Ibunya.
"Hajar!" panggil Ibu Misra melihat Hajar berlari keluar gerbang rumah sakit. Namun Hajar tidak mendengar.
"Hajar!!!" Ibu Misra mengeraskan suaranya memanggil Hajar, karna Hajar tidak mendengarnya. Tapi percuma, Hajar sudah masuk ke dalam taxi yang kebetulan menurunkan penumpang di depan rumah sakit, dan langsung melaju membawa Hajar.
"Dia butuh sendiri, biarkan saja dia pergi. Nanti kalau sudah hatinya membaik, dia pasti akan pulang. Hajar adalah anak yang kuat" ujar Dokter yang berdiri di samping Ibu Misra.
"Anak yang mana lagi yang kalian maksud?. Pengorbanan apa?. Apa sebenarnya yang kalian sembunyikan?."
Sontak Kedua wanita paruh baya itu memutar tubuh ke belakang, karna mendengar suara Chandra.
"Tidak mungkin kan orang gila bisa diajak bekerja sama?" rahang Chandra mengeras, menatap Ibu Misra dan Dokter wanita itu dengan kilat kemarahan. Chandra berpikir, kalau dia saat ini sudah di permainkan.
"Siapa kalian sebenarnya?, apa yang sudah kalian rencanakan?" Chandra memicingkan matanya ke arah dua wanita itu, menatapnya penuh curiga.
Ibu Misra dan Dokter itu diam tidak menjawab. Mereka hanya membantu Caroline, dan hanya Caroline lah yang berhak menjawab pertanyaan pria di depan mereka.
"Baiklah, aku sudah paham sekarang" ucap Chandra segera meninggalkan tempat itu, dengan menahan emosi.
.
.
Nyonya Belinda menggemeletukkan giginya, geram setelah mendengar kabar dari Bryan masalah yang menimpa anaknya. Dia tidak menyangka, kalau temannya itu ternyata menipunya. Untuk mendapatkan uang yang banyak dengan memanfaatkan Hajar.
__ADS_1
Nyonya Belinda pun mengambil ponselnya dari atas meja, dan langsung menghubungi keponakannya.
"Halo Marco!" sapanya setelah telepon tersambung.
"Halo juga Tante, ada apa?" sapa balik pria dari sebrang telepon.
Nyonya Belinda pun menyampaikan rencananya, untuk membalas perbuatan orang orang yang sudah bermain main dengannya.
"Cari wanita bernama Caroline itu sampai ketemu" ucap Nyonya Belinda berbicara dengan rahang mengeras.
Nyonya Belinda sangat tidak menyukai wanita itu. Karna wanita itu anaknya tidak mau menikah selama ini. Dan sekarag, wanita itu malah mempermainkan anaknya, dan ingin menguras harta kekayaannya lewat Hajar.
Marco yang berada di sebrang telepon, mengernyitkan keningnya. Kenapa Ibu dan anak sangat menginginkan wanita bernama Caroline itu?, pikirnya.
"Baik Tante" patuh Marco.
Setelah itu sambungan telepon langsung terputus, membuat Marco mendengus. Anak sama Ibu sama saja!, batinnya.
.
.
"Bryan, urus perceraianku dengan Hajar" perintah Chandra.
Sekarang Chandra dan Bryan sudah berada di kantor perusahaannya.
"Apa tuan yakin dengan keputusan Tuan?" tanya Bryan menelisik wajah Chandra yang berkabut amarah.
"Apa menurutmu Hajar tidak terlibat permainan mereka?." Chandra menatap tajam Bryan yang berdiri di depan mejanya.
"Saya tidak tau Tuan" Jawab Bryan menunduk.
Chandra kembali mengalihkan pandangannya ke layar laptop di depannya, melampiaskan kemarahan dengan bekerja. Semuanya mendadak, terlalu mengejutkan baginya dalam waktu bersamaan.
Awalnya Hajar yang terlahir dari wanita gila, kemudian Ibu Hajar yang ternyata Caroline. yang membuat dugaan Chandra, kalau Hajar putrinya bersama Caroline, dan ternyata bukan. Di susul pakta ternyata Caroline pura pura gila, untuk melancarkan rencananya, mempermaiankannya dan menguras harta kekayaannya.
Kau yang bersalah Caroline!, kau yang dulu tidak jujur. Kenapa sekarang kau balas dendam padaku. Seolah olah aku menyakitimu, batin Chandra.
*Bersambung
__ADS_1