Menantu Bayaran

Menantu Bayaran
30. Mengamuk


__ADS_3

Selesai menelepon, Chandra kembali ke kamar yang di tempati Hajar. Di sana sudah ada Dokter yang di hubunginya tadi untuk memeriksa kembali keadaan Hajar.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Chandra saat Dokter itu selesai memeriksa Hajar.


"Lapar dan harus sampai tubuhnya kekurangan cairan. Dan istri Tuan mengalami stres" jawab Dokter wanita itu.


Chandra mendudukkan tubuhnya di pinggir kasur, tangannya terulur menyentuh kening dan leher Hajar, memeriksa sendiri apakah Hajar masih demam atau tidak.


"Apakah karena kurang cairan tubuh orang bisa demam?" tanya Chandra.


"Bahkan mati pun bisa Tuan" jawab Dokter itu bernada malas.


Chandra menghiraukannya, ia pun berdiri kembali, melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu. Dan tak lama kemudian, kembali dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman di tangannya. Chandra meletakkan nampan itu di atas meja nakas.


"Kamu harus makan dan sehat, jika kau ingin mendapatkan lebih banyak lagi hartaku" ujar Chandra sembari membantu Hajar untuk duduk.


Hajar mendengus, bukankah Nyonya Belinda sudah tidak menyukainya lagi. Kenapa Chandra berpura pura tidak mengetahui itu?. Dan juga sekarang Chandra tidak perlu berlagak menjadi suami yang peduli lagi, karna sudah ada kekasihnya saat ini.


"Aku sudah gak membutuhkan Harta Om dan Om lagi. Aku bisa mencari pria kaya lain di luar sana, yang lebih kaya dan yang pasti lebih muda" cibir Hajar.


"Itu jika aku melepasmu dari kamar ini. Ayo buka mulutmu, atau kau mau disuapi menggunakan mulutku?" meski suaranya terdengar santai, tapi wajah Chandra terlihat marah, karna Hajar mengatakan ingin mencari penggantinya.


Hajar mendengus lalu memilih menerima suapan dari Chandra. Karna memang perutnya sangat lapar, dia butuh tenaga untuk melarikan diri dari kamar itu.


Melihat pemandangan romantis di depannya, Caroline tersenyum getir. Meski keduanya tidak mengakui cinta, tapi sebenarnya Chandra dan Hajar sudah saling mencintai tanpa mereka sadari. Perlahan Caroline pun melangkahkan kakinya dari kamar itu setelah memberi isyarat kepada Dokter wanita di kamar itu terlebih dahulu, untuk membiarkan suami istri itu berdua saja.


.


.


Sementara itu di tempat lain, seorang gadis menangis meringkuk di bawah selimut setelah pria yang terbaring di sampingnya berhasil merenggut harta berharganya.


"Salahkan kakakmu yang sudah menjualmu. Yang jelas aku tidak mau rugi, karna sudah membayar mahal dirimu" ujar pria itu turun dari tempat tidur, mengambil pakaiannya dari lantai dan langsung memakainya.


"Lagian kalau kau tidak bersedia, seharusnya kau tidak datang kesini" ujar pria itu lagi.


Naomi semakin terisak, menangisi kebodohannya. Ya! pria itu benar, seharusnya ia tidak mendatangi tempat itu. Tapi tadi sebelum sempat Naomi masuk ke kamar hotel itu, Naomi sudah mengurungkan niatnya, tapi pria itu menariknya paksa, dan mengurungnya di dalam kamar hotel itu.


"Tapi meski tadi aku terkesan memaksa, tapi aku bukanlah pria yang tidak tau terimakasih. Dan karna kau masih suci, maka aku akan memberimu uang tips di luar harga yang disebutkan kakakmu" pria itu meletakkan sebuah atm di atas meja nakas.

__ADS_1


Pria itu kemali naik ke atas kasur duduk di samping Naomi, lalu berbisik ke telinga Naomi.


"Ingat! kamu harus menjadi wanitaku sampai aku bosan. Kamu harus selalu siap kapan pun aku membutuhkanmu. Jangan mengelak, jika tak ingin kakakmu masuk penjara. Karna uang yang kubayarkan pada kakakmu sangat banyak." Pria itu menjeda kalimatnya sebentar, lalu menyeringai tipis." Tadi kamu sangat nikmat, aku menyukainya."


Pria itu pun berlalu dari kamar hotel itu, meninggalkan Naomi yang menangis terisak di bawah selimut tebal yang membungkus tubuh polosnya.


Sebenarnya aku sudah tidak sabar melihatmu hancur Chandra. Tapi karna kenikmatan putrimu. Aku masih ingin terus menikmatinya, sampai aku bosan. Setelah itu, baru aku akan mengembalikan putrimu yang cantik itu. Batin Pria itu melangkahkan kakinya ke arah lif di gedung itu.


.


.


"Istirahatlah" ucap Chandra setelah memberi Hajar minum obat setelah makan.


Hajar mendengus namun tetap menurut.


Chandra pun berdiri dari tempat duduknya, membawa piring dan gelas kotor di atas nampan membawanya keluar kamar.


Hajar yang melihat pintu kamar itu tertutup gegas menarik jarum infus yang di pasang kembali ke tangannya, dan langsung turun dari atas tempat tidur.


Aku harus pergi dari sini, batin Hajar melangkahkan kakinya ke arah pintu. Namun sayang, saat Hajar memutar knop pintu tersebut, ternyata di kunci dari luar.


"Om !!!"


Hajar pun terus berteriak teriak sambil memukul mukul pintu kamar itu. Namun pintu tidak di buka juga.


Lelah memukul pintu itu, Hajar pun beralih memporak porandakan kamar itu. Mulai dari menghancurkan kaca cermin, tv, mengeluarkan isi lemari, menarik sprei, mengoyak bantal sampai isinya keluar, memecahkan meja sofa, sampai berusaha memecahkan dinding kaca apartement itu, tapi sayang, Hajar tidak berhasil memecahkan kaca berkualitas tinggi itu.


Sementara itu, Kembali dari dapur Chandra masuk ke kamar yang di tempati Caroline. Dia ingin menghabiskan waktu dengan kekasihnya itu. Untuk mendengarkan cerita wanita itu, apa sebenarnya yang terjadi, dan Chandra ingin mencari petunjuk, supaya ia tau dari mana memulai pencarian anak mereka.


"Chandra" Caroline yang sedang duduk di pinggir kasur memandang keluar kaca apartement itu, menunduk melihat Chandra masuk ke kamarnya.


Chandra yang sudah sampai di samping kasur mendudukkan tubuhnya di samping Caroline sembari menghela napasnya.


Caroline refleks menjauhkan sedikit tubuhnya dari samping Chandra.


Hening, Chandra dan Caroline sama sama terdiam dengan pikiran masing masing. Entah apa yang dirasakan kedua pasangan kekasih itu setelah tidak bertemu selama 20 Tahun.


Sampai beberapa menit berlalu, akhirnya Chandra memecahkan kesunyian di kamar itu.

__ADS_1


"Aku merasa masih mencintaimu" ucap Chandra.


"Kembalilah ke kamar Hajar" balas Caroline.


Chandra langsung mengalihkan tatapannya ke arah Caroline. Diam, Chandra memandang wajah Caroline dengan intens.


"Apa kau tak mencintaiku lagi?"


Caroline menghela napasnya mendengar pertanyaan Chandra.


"Apa sedikitpun kau tidak mencintai Hajar?" Caroline membalas tatapan Chandra, mencari jawaban pertanyaannya di sana.


Chandra terdiam sambil menyelami hatinya yang terdalam. Apakah dia tidak mencintai Hajar sama sekali.


"Kau mencintainya" Caroline menjawab pertanyaannya sendiri." Hanya saja kau tidak menyadarinya" tambah Caroline.


"Aku rasa tidak" balas Chandra.


"Lepaskan dia. Untuk apa kau mengurungnya?" tanya Caroline.


"Katakan, dari mana kita bisa mencari putri kita?. Dan apa kamu punya petunjuk?. Atau kau bisa mengingat wajah putri kita seperti apa?" tanya Chandra balik tak ingin menjawab pertanyaan Caroline, karna saat ini yang paling perlu adalah mencari putri mereka.


Caroline menggelengkan kepalanya, dia tidak punya petunjuk sama sekali, dan dia juga tidak bisa membayangkan seperti apa wajah anaknya. Karna ia tidak sempat melihat wajah bayi yang di lahirkannya.


"Aku tidak mengenali wajahnya sama sekali. Tapi terakhir tante mengatakan kalau dia membuang anak kita di daerah permukiman XX" jawab Caroline dan tiba tiba mengerutkan keningnya saat samar samar mengingat sesuatu.


"Ada apa?, apa kau sakit?" tanya Chandra melihat kening Caroline berkerut.


"Sepertinya aku mengingat sesuatu, kalau aku tidak salah, anak kita memiliki tanda lahir di bagian pinggangnya sebelah kanan" jawab Caroline.


"Selain itu apa tidak ada?. Itu sangat sulit kita temukan. Tidak mungkin kita memeriksa tubuh setiap gadis yang berusia 18 Tahun. Apa la..."


Tok tok tok!


Ucapan Chandra terpotong saat mendengar suara pintu di ketuk dari luar.


"Tuan! sepertinya Nona Hajar mengamuk di dalam kamarnya tuan !!" seru seorang pelayan dari luar kamar.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2