
Chandra keluar dari dalam mobilnya dan langsung masuk ke dalam rumah. Chandra pun menemui Ibunya di kamarnya.
"Ada apa Ma?" tanya Chandra setelah membuka pintu kamar Nyonya Belinda.
"Seorang gadis muda datang ke sini meminta pertanggung jawaban. Sekarang gadis itu berada di kamar tamu" jawab Nyonya Belinda menatap marah anaknya.
Chandra terdiam dan mengerutkan keningnya, dia bisa menebak kalau gadis itu adalah Amel. Siapa yang mengijinkan gadis itu masuk ?, pikirnya.
Tanpa mengatakan apapun, Chandra langsung meninggalkan kamar Ibunya, berjalan ke arah kamar tamu yang di sebutkan Ibunya. Chandra akan menemui Amel.
"Amel, apa apaan kamu ?" Chandra menatap Amel marah, setelah membuka pintu kamar yang di tempati Amel.
Bisa bisanya wanita bayaran itu meminta pertanggung jawaban darinya. Bukankah setiap permainan sudah di bayar cas?. Lantas bagaimana istilahnya seorang wanita penghibur menuntut pertanggung jawaban?. Bukankah itu sudah resiko, jika tak menjaga diri.
"Kenapa Om?, apa salah aku meminta Ayah dari bayi ini bertanggung jawab?" tanya balik Amel, menatap Chandra berurai air mata.
Amel sudah mendengar dari Naomi, kalau Hajar dan Chandra sudah berpisah. Karena itu Amel berani mendatangi rumah Chandra, untuk menaklukkan hati pria yang menikmati tubuhnya selama tiga Tahun belakangan.
Chandra berdecih," kamu pikir aku percaya itu anakku?."
"Aku tau, kau ingin menjadi Nyonya di rumah ini, sama halnya dengan gadis dan wanita wanita di luar sana. Dan tinggallah di sini, nikmati pelayanannya. Dan setelah bayi itu lahir, tinggalkan tempat ini tanpa bayi itu" ucap Chandra dan langsung berlalu.
Chandra masuk ke dalam kamarnya di rumah itu, dan langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur memilih untuk istirahat, merilekskan otaknya yang berpikir keras dengan teka teki hidup yang di hadapinya saat ini.
"Chandra !"
Chandra langsung membuka matanya yang sempat dipejamkannya, dan mangalihkannya ke arah Nyonya Belinda yang berjalan mendekatinya.
"Siapa gadis itu?, kenapa kamu membiarkannya tinggal di rumah kita?."
Chandra mendudukkan tubuhnya mendengar pertanyaan Ibunya, kemudian menjawab." Dia pacarku Ma."
"Jadi benar gadis itu mengandung anakmu?" wajah Nyonya Belinda berubah sumiringah mendengar dia akan punya cucu, meski dari wanita yang tidak jelas asal usulnya.
"Aku gak tau, apakah dia mengandung anakku atau tidak" jawab Chandra santai.
"Apa maksudmu ha ?, kau bermain wanita?" bentak Nyonya Belinda tiba tiba." Pantas saja di suruh menikah selama ini kamu tidak mau. Ternyata kamu.." geram Nyonya Belinda tidak melanjutkan kalimatnya, gemas dengan anaknya yang ternyata selama ini diam diam bermain dengan wanita.
"Bahkan menikah pun tidak membuatku bahagia Ma" ucap Chandra menatap sendu wajah Ibunya.
Chandra lelah, karna hatinya sedang dilema berat, memikirkan dua wanita yang terus berebut menguasai hatinya.
__ADS_1
Nyonya Belinda terdiam, menyesali perbuatannya yang memaksa anaknya menikahi wanita pilihannya. Yang ternyata gadis dari keluarga penipu.
"Permisi tuan, Nyonya. Ibu Misra datang dan marah marah Nyonya, tuan" seorang pelayan menundukkan sedikit kepalanya berdiri di ambang pintu kamar Chandra saat memberikan laporan kepada majikannya.
"Mau apa wanita itu kesini?" Nyonya Belinda langsung melangkahkan kakinya keluar dari kamar Chandra dan turun ke lantai bawah rumah itu.
"Ibu Misra menanyakan Nona Hajar Nyonya" jawab pelayan itu mengikuti langkah majikannya dari belakang.
"Gadis itu bukan menantu di rumah ini lagi, jadi kau tidak perlu memanggilnya Nona lagi" sungut Nyonya Belinda.
Pelayan itu pun tidak membalas ucapan majikannya lagi.
Sedangkan Chandra yang masih duduk di atas tempat tidurnya, memijit pelipisnya yang terasa pening. Memikirkan pasti masalah yang di hadapinya akan bertambah besar dan rumit. Ibunya yang tidak menerima Hajar lagi, dan keluarga Hajar yang tidak menerimanya lagi, di tambah Hajar sepertinya sudah tidak mau lagi menjadi istrinya.
Tak ingin Ibunya ribut ribut adu mulut dengan mertuanya. Chandra pun memutuskan untuk menyusul ke lantai bawah.
"Dimana putriku?, bukankah kami sudah mengembalikan uang kalian?. Kenapa kalian malah menahan putriku?, kenapa kalian menyenbunyikannya?" todong Ibu Misra langsung saat melihat Nyonya Belinda keluar dari dalam lif bersama seorang pelayan.
"Buat apa aku menyembunyikan putrimu yang tidak jelas asal usulnya itu?" jawab Nyonya Belinda berbicara cetus, sangat berbeda saat dia menjadi besan Ibu Misra.
"Anakmu mencuri putriku, dan menahannya di suatu tempat" ujar Ibu Misra, yang sudah mendapat informasi terlebih dahulu dari Shakil anaknya.
"Ma!" tegur Chandra yang baru datang menyusul, tidak terima Ibunya memanfaatkan Amel untuk membuat Ibu Misra membencinya.
"Chandra, Ibu mohon lepaskan putriku. Kami berjanji tidak akan mengganggu kalian lagi" ucap Ibu Misra memohon kepada Chandra.
"Di sini tidak ada putrimu, pergilah" usir Nyonya Belinda. Tidak mengetahui sama sekali apa yang dilakukan anaknya.
"Chandra lepaskan Hajar. Mending kamu pokus membantu Caroline untuk mencari putri kalian" ujar Ibu Misra, terpaksa memberitahu rahasia besar yang di tutupinya selama ini.
"Apa maksudmu ?" Chandra shok begitu juga dengan Nyonya Belinda.
.
.
Turun dari dalam sebuah taxi yang mengantarnya. Naomi melangkahkan kakinya ragu masuk ke sebuah hotel berbintang. Setelah menanyakan dimana kamar no 310 kepada resepsionis yang bertugas di aula hotel. Naomi melangkahkan kakinya masuk ke dalam lif untuk naik ke lantai tertinggi hotel itu.
Naomi sangat gugup dan ragu saat akan mengetuk pintu kamar hotel di depannya. Naomi sudah tau tujuan dan pekerjaan apa yang akan di lakukannya di dalam. Ini pertama kalinya untuk Naomi, tapi dia tidak berani menolak pekerjaan yang di berikan Kakaknya. Karna selama ini Kakaknya lah yang banting tulang membiayai hidupnya semenjak kedua orang tua mereka meninggal.
Ya Tuhan, aku tau ini dosa, tapi jika aku tidak menuruti kemauan Kakak, dia pasti marah besar, dia pasti memukuliku dan mengusirku dari rumah. Tolong aku Tuhan, batin Naomi mematung di depan pintu.
__ADS_1
Naomi ragu apakah dia akan menemui orang yang di katakan Kakaknya majikannya di dalam kamar itu. Karna sekali terjebak, makan selamanya Naomi akan berada di kubangan yang di sebut wanita penghibur.
Ceklek!
Refleks Naomi mendongakkan kepalanya, karena pintu di depannya tiba tiba terbuka. Naomi membolakan matanya, melihat pria yang berdiri di depannya.
"Masuklah"
Naomi menggelengkan kepalanya.
"Jadi untuk apa kau kesini?" kesal pria itu, melihat wanita yang di pesannya kali ini jual jual mahal.
"Maaf! kalau boleh tau, pekerjaan apa yang harus saya lakukan?"tanya Naomi pura pura bodoh, meski dia sudah tau tujuannya ke hotel itu.
"Tentu untuk menghiburku" jawab pria yang berkisar berusia empat puluhan itu.
Kaburrrrr
Naomi gegas berlari tapi percuma karna pria itu langsung menarik lengannya.
"Lepas Om" ringis Naomi terus berusaha melepas tangannya.
"Ayolah, nanti aku akan memberimu bayaran yang mahal" bujuk pria itu.
Naomi menggelengkan kepalanya, dia berubah pikiran untuk terjut ke Dunia wanita penghibur. Biarlah dia menjadi gembel karena di usir kakaknya dari rumah.
"Aku sudah membayarmu mahal pada kakakkmu. Jadi sekarang lakukan tugasmu" Pria itu pun menarik paksa Naomi masuk ke dalam kamar.
"Gak Om, aku gak mau" Naomi memberontak, terus berusaha melepaskan diri dari cengkraman pria itu. Tapi sayang, pria itu jauh lebih kuat tenaganya, sehingga berhasil menariknya masuk.
"Aku mohon Om, lepaskan aku" Naomi yang bersandar ke daun pintu di belakangnya menangis ketakutan.
"Jangan takut, aku ini bukan orang jahat. Kamu sangat cantik, aku menyukaimu" ucap pria dewasa itu, sambil tangannya membelai lembut wajah Naomi.
Naomi menepis kasar tangan pria itu, meski sebebarnya dia sangat ketakutan. Naomi merasa jijik di sentuh pria yang bukan siapa siapanya itu.
Tapi bukannya marah, pria itu malah tersenyum manis pada Naomi. Gemas melihat tingkah laku jual jual mahal gadis remaja di depannya.
"Aku sangat menyukai gadis sepertimu" pria itu memutar tubuhnya berjalan ke arah kasur dan menjatuhkan tubuhnya di sana dengan posisi terlentang.
...Aku akan menghancurkanmu Chandra, seperti kau dulu menghancurkan keluargaku, Hahahahaha....!, batin pria itu tertawa....
__ADS_1