
"Tuan! sepertinya Nona Hajar mengamuk di dalam kamarnya tuan" seru seorang pelayan dari luar kamar.
"Chandra apa yang kau lakukan pada Hajar?. Kenapa dia sampai bisa mengamuk?" Caroline berdiri dari pingggir kasur dan bergegas keluar kamar.
Dan Chandra langsung mengikutinya.
Sampai di depan pintu kamar yang ditempati Hajar. Caroline langsung memutar knop pintu sembari mendorongnya.
"Hajar" tegur Caroline lembut melihat Hajar berteriak teriak sambil menghancurkan isi kamar tersebut, sehingga membuatnya berantakan.
Sedangkan Chandra, ia langsung mendekati Hajar dan mendekapnya ke dalam pelukannya.
"Lepas Om!" Hajar meronta berusaha melepaskan pelukan Chandra dari tubuhnya.
"Kenapa kamu marah marah hm ?" tanya Chandra yang jelas sudah tau jawabannya.
"Lepas Om! aku mau pergi!" teriak Hajar marah sambil menangis.
"Gak" balas Chandra menggendong tubuh Hajar dan membawanya ke tempat tidur.
"Aku menyuruhmu istirahat. Kenapa kau malah marah marah?. Lihat tanganmu, sudah berdarah lagi" ujar Chandra meletakkan tubuh Hajar di atas tempat tidur.
Hajar langsung duduk, akan turun dari tempat tidur, di tahan langsung oleh Chandra dengan mendekap tubuhnya kembali.
"Jangan bandel, istirahatlah, ini sudah malam" ujar Chandra mengambil tangan Hajar yang berdarah, menekat bekas infusnya supaya darahnya berhenti mengalir.
"Aku mau pulang, Mama pasti mencariku" lirih Hajar terus berusaha melepas tubuhnya dari kuncian Chandra.
"Ibumu sudah tau, kalau kau bersamaku" balas Chandra.
"Lepaskan aku Om, aku mohon biarkan aku pergi" bibir Hajar bergetar, tubuhnya melemah pasrah di dalam pelukan Chandra. Entah? Hajar merasakan hatinya perih, memikirkan akan berakhirnya rumah tangga mereka.
"Lepaskan dia Chandra, bukankah kamu mengatakan tidak mencintainya, dan kamu masih mencintaiku" Setelah selesai membantu pelayan membereskan kekacauan di kamar itu, Caroline mendekati Hajar dan Chandra di tempat tidur.
"Lepaskan Hajar, karena aku tak mau di duakan. Aku pikir Hajar juga seperti itu" tambah Caroline lagi, melihat Chandra bingung dan membeku.
Kemudian Caroline menarik tangan Chandra, supaya pelukan pria yang sedang dilanda kebingungan itu melepas pelukannya dari tubuh Hajar.
"Kau tidak mencintai Hajar, biarkan dia pergi" tambah Caroline lagi, melihat Chandra enggan melepas pelukannya.
__ADS_1
Sedangkan Hajar yang berada di dalam pelukan Chandra, diam membeku dengan pandangan kosong, hatinya sakit dan dadanya terasa amat sesak. Berpikir apakah Chandra melepasnya atau tidak?.
Melihat pasangan suami istri itu sama sama membeku, Caroline mengulas senyumnya.
Kau mencintai Hajar Chandra, batinnya.
Ya Tuhan, siapa sebenarnya yang aku cintai. Aku bingung dengan perasaan ini. Kenapa aku terjebak dengan kedua wanita yang memiliki hubungan dekat ini?. Dan kenapa rasanya berat sekali untuk melepas Hajar?. Aku tidak rela melihatnya di dekati pria lain, apa lagi sampai ada pria lain yang memilikinya. batin Chandra.
Tuhan!, aku rela mengakhiri pernikahanku demi kebahagiaan Ibu. Karena aku lebih bahagia melihat Ibu sembuh dan menjalani hidup bahagia, batin Hajar.
"Lepaskan Hajar, kalau kamu masih mencintaiku" ucap Caroline lagi. Bermaksud untuk menyadarkan Chandra, kalau dia mencintai Hajar, bukan dirinya lagi.
Caroline berdecak melihat Chandra masih membeku. Kemudian Caroline pun menghempaskan kasar kedua tangan Chandra dari tubuh Hajar hingga terlepas, membuat Chandra tersadar dari lamunannya.
Dan Hajar langsung berlari cepat keluar dari kamar itu dengan berurai air mata. Dia harus pulang ke rumah orang tuanya.
"Lepaskan Hajar Chandra" ujar Caroline lagi.
Chandra malah menggeleng gelengkan kepalanya, dan gegas berlari mengejar Hajar. Keluar dari apartement, ternyata Hajar sudah menghilang bersama lif yang membawanya ke lantai bawah.
"Biarkan dia pergi Chandra"
"Apa kau ingin mengalami penyesalan untuk kedua kalinya?" tanya Caroline, dan Chandra terdiam merenung.
"Selama ini kamu hanya penasaran denganku. Kamu sudah tidak mencintaiku Chandra. Gadis kecil itu sudah berhasil menggeser posisiku di hatimu. Kejar dia jika kamu tak ingin menyesal lagi. Dan Hajar bisa membantu kita untuk menemukan putri kita."
Chandra berpikir sebentar, lalu menganggukkan kepalanya dan bergegas masuk ke dalam lif yang sedang kosong untuk turun ke lantai bawah. Sampai di dalam lif, Chandra langsung menghubungi no seseorang. Memerintahkan orang itu untuk mengawasi kemana Hajar pergi.
Sedangkan Hajar sudah keluar dari peralatan apartement, ia terus berlari di trotoar jalan tanpa arah tujuan. Terlihat Hajar terus menghapus air matanya yang terus mengalir tanpa henti.
Kenapa dia dan Ibunya harus terjebak dengan satu pria. Jika wanita lain yang menjadi saingannya, mungkin tidak serumit itu.
Bukankah aku tidak mencintai Om Chandra, kenapa dada ini sesak sekali. Dan apakah Ibu tidak menyayangiku sedikit pun?. Kenapa Ibu menyuruh Om Chandra meninggalkanku?.
Setelah berlari cukup jauh dari apartement, Hajar pun memutuskan untuk mencari taxi untuk pulang ke rumah orang tuanya. Namun sudah hampir setengah jam Hajar menunggu, satu pun kenderaan tidak ada yang melintas di jalan itu.
Hajar tak memiliki jam tangan, atau Handphon saat ini. Sehingga ia tidak tau jam berapa sekarang. Hajar pun memutuskan untuk duduk di pinggiran beton pembatas tanaman bunga.
"Dimana Hajar?"
__ADS_1
Sontak Hajar mengalihkan pandangannya ke arah pemilik suara berat itu."Om Chandra" gumamnya.
"Itu Tuan" tunjuk orang yang mengikuti Hajar itu dengan dagunya.
"Trimakasih" Chandra pun memberikan uang tip kepada pria berpakaian seragam security itu.Ternyata pria itu adalah salah satu petugas keamanan apartement.
Hajar gegas berlari dari tempat duduknya, ia tidak mau kembali pada Chandra lagi. Dia tidak mau bersaing dengan wanita yang dianggapnya Ibu selama ini.
"Hajar ! tunggu!" seru Chandra mengejar Hajar.
Namun Hajar menghiraukan panggilannya dan berlari lebih cepat lagi. Tapi itu percuma, Chandra mendapatkannya dengan mudah.
"Lepas Om" lirih Hajar kembali menangis, saat kedua tangan kekar itu berhasil melingkar di pinggangnya.
"Ini sudah larut malam, dan kamu juga lagi sakit. Jika ingin pulang, besok Om akan mengantarmu" Chandra mengangkat tubuh gadis yang nampak rapuh itu, membawanya ke arah mobil yang di parkirkannya tidak jauh.
Setelah mereka masuk ke dalam mobil, Chandra langsung melajukannya membawa Hajar ke arah jalan yang berlawanan dengan apartement.
"Lihatlah wajahmu sangat pucat, kau membiarkan saja darahmu terus mengalir dari tanganmu" ujar Chandra menarik Hajar supaya bersandar ke dadanya.
"Aku sudah mengembalikan semua uang yang di berikan Om dan Nyonya Belinda. Kenapa Om masih menahanku?" tanya Hajar terisak.
Hajar berpikir Chandra mengurungnya, karena dia belum mengembalikan uang yang di berikan Nyonya Belinda padanya. Bukan karena Chandra mencintainya, atau ingin mempertahankan pernikahan mereka.
"Tapi benihku yang sempat tertanam di perutmu belum kamu kembalikan" jawab Chandra mengulas sedikit senyumnya.
Bagaimana bisa ia rela kehilangan gadis penggodanya itu, yang selalu berhasil membuatnya tersenyum dan menggeleng gelengkan kepala dengan tingkah Hajar yang selalu berusaha keras untuk mengalahkannya.
Hajar terdiam, berpikir kapan suaminya itu menanam benih di perutnya. Seingat Hajar Chandra selalu mengeluarkan benihnya di luar.
"Katakan kalau kau mencintai Om Hajar. Supaya Om tidak melepasmu apapun alasannya" ucap Chandra mengecup dalam ujung kepala Hajar.
Hajar terdiam, kemudian menangis terisak merasakan dadanya semakin sesak dan hampir pecah. Apakah dia mencintai suaminya itu. Hajar sendiri pun tidak tau. Dan bagaimana bisa ia mengatakan cinta kepada pria matang itu.
"Aku gak tau, apakah aku mencintai Om atau tidak" balas Hajar.
Berhasil membuat Chandra menghentikan laju kenderaannya di tengah jalanan yang sunyi itu.
Bukan dia saja yang bodoh, tetapi Hajar juga. Mereka sama sama tidak tau dengan perasaan mereka.
__ADS_1
* Bersambung