
Kesal dengan kebodohannya sendiri dan Hajar. Chandra kembali melajukan kenderaannya ke salah satu gedung apertement. Setelah memarkirkan sempurna mobilnya, Chandra langsung turun, mengeluarkan Hajar dari dalam mobil, membawanya masuk ke dalam lif.
Dia membawa Hajat ke apartement yang berbeda, Hajar tidak heran dengan hal itu. Pria sekaya suaminya itu, pasti memiliki apartement lebih dari satu. Dan bisa saja memiliki apartement di setiap kota di Indonesia.
Sampai di unit apartement milik Chandra, suaminya itu langsung membawanya ke dalam kamar, dan menjatuhkan tubuhnya pelan di atas kasur. Dan...tanpa aba aba langsung menyambar bibirnya rakus.
"Om!!!" pekik Hajar, saat berhasil melepas pagutan kasar Chandra ke bibirnya.
Dia sedang sakit, pria matang itu malah tak berperasaan menciumnya.
"Katakan kalau kamu mencintai Om Hajar" ucap Chandra bernapas ngosngosan. Dia ingin memastikan perasaannya kepada Hajar, apakah jantungnya berdebar atau perasaannya bahagia jika Hajar mengucapkan cinta kepadanya.
"Aku gak tau" balas Hajar.Chandra mencium bibirnya kembali.
"Om !!!" pekik Hajar lagi
"Katakan kalau kamu mencintai Om" ulang Chandra memaksa.
"Kenapa bukan Om saja yang mengatakannya?" kesal Hajar berusaha menormalkan pernapasannya. Namun Chandra mencium bibirnya kembali sampai membuatnya hampir gagal napas.
"Cepat katakan Hajar, katakan cinta sama Om" paksa Chandra lagi kembali mendekatkan bibirnya ke bibir Hajar.
"Aku gak tau, aku belum pernah benar benar yang namanya jatuh cinta."
"Hhhppp!"
Hajar berusaha menghindari ciuman brutal Chandra. Namun percuma, karena Chandra menahan kepalanya dari belakang.
"Cepat katakan Hajar Nataya Callista Isti!"
Dug dug dug dug......!
Jantung Hajar seketika berdetak sangat kencang saat mendengar Chandra menyebut nama lengkapnya untuk yang kedua kalinya. Yang pertama saat mengucapkan janji suci pernikahan mereka, dan sekarang yang kedua kali. Hajar pikir suaminya itu sudah lupa nama lengkapnya, atau tidak tau dan tidak hapal.
"Aku gak tau Om"
"Aw !" tiba tiba Hajar mengeluh karena Chandra menarik kuat rambut belakangnya.
"Satu anak perusahaan"
"Ya ! aku mencintai Om" refleks Hajar mengatakan cinta kepada Chandra, mendengar tawaran yang menggiurkan, tidak dapat menahan jiwa matrenya yang seketika meradang.
__ADS_1
Chandra menjatuhkan tubuhnya di kasur sebelah Hajar sembari menghela napas, kemudian menggulingkan tubuh Hajar ke atas tubuhnya.
"Bantu Om untuk mendapatkan putri Om Hajar. Setelah itu, kita akan menjalani pernikahan kita sebagaimana mestinya. Om berjanji akan menghabiskan sisa usia Om bersamamu" Chandra menatap wajah Hajar dengan serius dan memohon.
"Maksud Om?" Hajar bingung dan mengerutkan keningnya.
Chandra mengecup kening Hajar, kemudian menurunkan Hajar dari atas tubuhnya. Chandra pun menceritakan masalah yang sebenarnya. Mulai dari asal muasal dari mana Hajar berasal sampai kenapa dia menyandra Hajar dan Caroline di apartementnya.
"Ternyata Ibu kakak sepupuku?" Hajar menangis terisak dari tadi mendengar cerita Chandra tentang dirinya dan Caroline.
"Aku yakin, aku ini bukan putri kandung mereka. Kenapa mereka membuangku?. Dan malah menjadikanku pancingan untuk mendapatkan uang yang banyak" oceh Hajar dalam tangisnya.
"Aku tidak akan mengakui mereka orang tuaku!."
"Sssttt..! makanya bantu Om, hanya kamu yang bisa membantu Om. Membujuk orang tuamu supaya mereka memberitahu dimana putri Om mereka sembunyikan" ucap Chandra sambil tangannya mengusap usap kepala Hajar dari belakang.
Chandra akan menjadikan Hajar sebagai umpan. Berpura pura memberikan Hajar harta yang banyak. Dan menyuruh Hajar membawanya kepada kedua orang tuanya.
"Aku gak mau ketemu mereka, aku gak sudi punya orang tua jahat dan bej*t" tolak Hajar.
"Ada satu lagi, untuk sementara kita tidak bisa tinggal bersama dulu. Setelah kita menemukan putri Om. Baru kita sama sama berusaha menaklukkan hati Mama lagi" ujar Chandra.
Bukan Chandra tidak bisa tegas dalam meminpin rumah tangganya. Tapi Chandra tak ingin Hajar disakiti Ibunya. Atau membuat kedua wanita itu saling menyakiti nantinya. Dan sementara mereka harus pokus mencari putrinya.
"Kamu bisa tinggal di apartement ini. Atau di rumah orang tuamu" jawab Chandra, tangannya ikut membantu mengeringkan wajah basah Hajar.
Sontak Hajar memicingkan matanya ke arah Chandra, menelisik maksud Chandra apa.
"Ibu Caroline?"
"Di apartement tadi" Chandra mengulas senyum manisnya kepada Hajar. Senang melihat Hajar cemburu dan penuh curiga.
"Aku tidak percaya jika Om tidak mengunjungi Ibu. Bisa saja kalian mengulangi percintaan kalian." Hajar berpikir kedua mantan kekasih itu bisa saja meluahkan rasa rindu mereka selama ini dengan bercinta. Apa lagi mengingat Chandra suaminya juga suka bermain dengan wanita lain. Dan Juga dia dan Ibunya, bukanlah Ibu atau Anak kandung, melainkan saudara sepupu. Sah sah saja jika Chandra memakai mereka berdua, atau memperistri mereka.
"Semenjak menikah aku sudah berkomitmen untuk setia pada satu wanita. Ayolah, percaya sama Om. Tidak mungkin Om melakukan yang tidak seharusnya lagi. Om tidak mau menyesal untuk yang kedua kali, karna menyakitimu dan Caroline" jelas Chandra meyakinkan Hajar.
Biar bagaimana pun, Hajar dan Caroline statusnya adalah Ibu dan anak. Sangat tidak bermoral jika menggauli kedua wanita itu, meski Chandra bukan orang yang Agamis, tapi Chandra masih waras.
.
.
__ADS_1
Sementara itu di tempat lain, tepatnya di salah satu kamar di rumah besar keluarga Kurniawan. Amel sedang berbicara dengan seseorang lewat telephon.
"Aku akan memberimu bonus karna sudah memberikan suguhan yang nikmat malam ini" ucap suara seorang pria dari balik telepon.
"Aku ingin Om membuatnya hamil seperti yang kualami saat ini. Dan ingat Om harus berhati hati, Om Chandra sudah tau kalau dia mempunyai putri. Sekarang Chandra dan Nyonya Belinda sudah menyuruh orang untuk mencarinya" ucap Amel.
"Nanti setelah aku bosan bermain main dengannya" balas Pria itu.
"Terserah Om saja, sekarang aku butuh duit. Besok aku ingin kesalon. Om Chandra sudah memblokir atm yang diberikannya" ujar Amel.
"Baiklah, karena aku lagi baik hati, aku akan mentransfernya, selamat malam. Besok bilang pada adikmu untuk menungguku di kamar hotel tadi" ucap Pria itu sambil mentransfer uang ke rekening Amel lewat handphonnya.
"Baik Om, tapi jangan lupa, aku juga butuh servisan dari Om. Om Chandra sudah tidak mau menyentuhku" rengek Amel manja.
"Hm! pasti Baby" pria di balik telepon itu pun mematikan sambungan teleponnya.
Seharusnya aku yang dibuat menikah dengan Om Chandra, bukan Hajar. Batin Amel mengerutu dalam hati.
.
.
Melihat Hajar sudah tertidur, Chandra pun melepas pelukannya dari tubuh Hajar. Merasakan tubuh Hajar masih hangat, Chandra turun dari atas tempat tidur, kemuar kamar menuju dapur untuk mengambil air dan handuk kecil untuk mengompres Hajar.
Setelah menemukannya, Chandra kembali ke dalam kamar, meletakkan baskom yang berisi air di atas meja, lalu memeras handuk kecilnya, menempelkannya di keninh Hajar. Chandra pun memandangi wajah polos Hajar yang tertidur pulas. Chandra menghela napasnya, entah? Chandra masih bingung dengan perasaannha kepada Hajar. Namun Chandra tak ingin menyesal kedua kali seperti apa yang di katakan Caroline.
Chandra mengulurkan tangannya membelai lembut pipi Hajar. Gadis kecilnya itu sangat cantik dan imut. Kenapa bisa terlahir dari manusia yang tidak punya hati. Demi harta dan tahta rela membuang anak sendiri, menjadikan putri sendiri sebagai umpan.
Apa aku mengembalikan perusahaan mereka saja?, batin Chandra.
Perusahaan Pak Bruno dan Taslin, dulunya bukanlah di rebut oleh Pak Wirya Kurniawan Ayah dari Chandra. Melainkan perusahaan itu dulu adalah sebagai tebusan hutang atas kecurangan yang dilakukan Pak Bruno. Karna Pak Bruno yang tidak mampu membayar kerugian Pak Wirya atas ulahnya sendiri.
Dan Pak Wirya juga dulu memberikan dana kepada Pak Bruno untuk memulai usaha baru. Bukan menelantarkannya begitu saja. Hanya saja nama baik Pak Bruno sudah tercoreng di dalam Dunia bisnis. Sehingga tidak ada yang percaya dengannya untuk bekerja sama.
Seharusnya dulu Papa menjeploskan si pria brengs*k itu ke penjara, geram Chandra dalam hati.
Dan dimana selama ini mereka bersembunyi?, bukankah seharusnya Pak Bruno dulu masuk penjara atas pelecehan yang di lakukannya terhadap Caroline?. Kenapa dia bisa bebas?. Batin Chandra lagi mengusap kasar wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Kenapa dulu dia tidak mencari Pak Bruno ke penjara?. Chandra merutuki kebodohannya dulu. Seharusnya dia dulu menanyakan Om dan Tante Caroline ke kantor polisi. Atas kasus yang menimpa keluarga itu.
Chandra mengerutkan keningnya, mengingat kenapa Caroline bisa berada di bawah kendali Om dan Tantenya. Dan kenapa bayi Caroline bisa di ambil Om dan Tantenya?. Dimana Caroline dulu melahirkan.
__ADS_1
Sepertinya ada yang tidak beres, batin Chandra.
*Bersambung