
Selesai meeting, Chandra langsung meninggalkan perusahaan untuk menyusul Hajar ke rumah sakit. Chandra kawatir, mengingat Hajar lagi kurang sehat. Setelah memarkirkan sempurna kenderaannya, Chandra langsung turun dan masuk ke dalam gedung rumah sakit.
"Om" sapa Hajar saat melihat Chandra berjalan mendekati mereka di ruang IGD.
Chandra mengulas senyumnya, namun keningnya mengerut saat melihat Amel duduk salah tingkah tidak jauh dari Hajar dan Bryan.
"Bagaimana?" tanya Chandra mendudukkan tubuhnya di samping Hajar.
Hajar pun menatap Chandra teduh dengan mata berkaca kaca. Melihat itu Chandra menarik Hajar ke dalam pelukannya.
"Darah yang di donorkan masih kurang Tuan. Tadi saya hanya mendapatkan satu pendonor yang cocok untuk Naomi" Bryan yang menjawab.
"Apa golongan darahnya?" tanya Chandra.
"B Tyuan" jawab Bryan lagi.
"Katakan pada Dokternya, saya akan mendonorkan darah saya" perintah Chandra kepada asistennya itu, langsung dipatuhi oleh Bryan.
Bryan pun berdiri dari tempat duduknya, dan mengetok pintu ruangan IGD tersebut. Setelah di persilahkan masuk, baru Bryan mendorong pintu di depannya.
"Sssttt...temanmu akan baik baik saja" ucap Chandra kepada Hajar sambil tangannya mengusap usap kepala Hajar dari belakang, namun pandangannya tidak lepas dari wajah Amel yang menunduk.
"Kakaknya menjualnya, menjadikannya wanita penghibur" ujar Hajar terisak.
Chandra semakin menajamkan pandangannya ke wajah Amel. Menduga kalau Amel lah kakak dari teman Hajar.
"Aku juga menjual diriku selama ini untuk menghidupinya!" marah Amel menatap Hajar dengan berurai air mata.Amel mengeraskan rahangnya, menahan rasa cemburu pada Hajar yang berada di pelukan Chandra.
Sedangkan Hajar yang di tatap hanya bisa terdiam.
"Kau tidak tau apa apa dengan hidup kami, jadi diamlah" geram Amel.
"Tuan, Dokter menyuruh Tuan untuk memeriksa darah Tuan terlebih dahulu. Memastikan apakah darah Tuan cocok atau layak untuk di donorkan."
Chandra, Hajar dan Amel refleks mengarahkan pandangan mereka ke arah pintu saat mendengar suara Bryan.
"Om tinggal sebentar dulu" pamit Chandra kepada Hajar, langsung diangguki Hajar, dan Chandra langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Mari Tuan" ajak perawat yang akan membawa Chandra ke ruang pemeriksaan, dan Chandra pun langsung mengikuti langkah perawat itu.
*Takdir apa sebenarnya yang mempermainkan Tuan Chandra?. Apa iya ini semau secara kebertulan saja?. Ternyata Kakak dari Naomi adalah Amel, wanita bekas*nya tuan Chandra, yang ternyata kakak dari sahabat Hajar, bagaimana jika Hajar mengetahui hal itu?. Batin Bryan menatap punggung Chandra yang berjalan semakin menjauh.
Suasana lorong rumah sakit itu pun menjadi hening. Namun tiba tiba terdengar handphon berbunyi dari dalam tas Amel, ia pun mengeluarkannya, melihat siapa yang menghubunginya.
Om Dewa, batin Amel beranjak dari tempat duduknya.
"Iya Om, ada apa?" tanya Amel berbisik setelah menekan tombol hijau di layar Hpnya.
"Jangan libatkan Om dengan apa yang dilakukan Naomi. Karna Om sudah membayarnya mahal" ujar Dewa dari dalam telepon.
"Tapi Om, aku gak punya uang untuk membayar rumah sakitnya" ujar Amel. Karena memang dia benar tak punya uang. Semua uang hasil jual dirinya dan bayaran Naomi yang diberikan Dewa padanya, semua habis diambil suruhan orang tuanya.
"Berapa?"tanya Dewa
"Aku belum tau, Naomi masih berada di ruang IGD, karena keadaannya belum stabil" jawab Amel.
"Baiklah, nanti aku yang akan membayar pengobatannya. Tapi setelah dia sembuh, pastikan dia tetap bersedia menjadi wanita penghiburku" ujar Dewa tersenyum, mengingat betapa nikmatnya tubuh Naomi saat menggagahinya.
"I..iya Om" balas Amel.
Setelah mematikan sambungan teleponnya, Amel membalik tubuhnya ingin kembali ke depan ruang IGD. Namun langkahnya terhenti saat melihat Chandra berdiri di depannya.
__ADS_1
"Apa kau masih ingin menjual Naomi?."
"Kenapa?"tanya Amel sengit.
"Aku yang akan membelinya" jawab Chandra.
Setelah selesai mendonorkan darahnya, Chandra yang hendak ke toilet tak sengaja mendengar Amel berbicara lewat telepon dengan seseorang di lorong menuju toilet rumah sakit.
Amel mendecih, bisa bisanya pria itu ingin membeli adiknya. Sedangkan dia yang hamil, tidak dipertanggung jawabkan pria bernama Chandra itu.
"Sudah ada pria yang membayarnya sangat mahal" setelah berbicara Amel langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Chandra. Namun langkahnya terhenti karna Chandra menarik lengannya.
"Berapa pun aku pasti sanggup membayarnya. Katakan, berapa harga adikmu itu?" ujar Chandra.
"Sebesar mempertanggung jawabkan bayi di perutku ini" jawab Amel dan langsung menarik tangannya hingga terlepas.
Aku harus bisa memilikimu kembali Om, aku mencintaimu. Batin Amel menepis cairan bening yang menetes di sudut matanya.
Amel kembali menghentikan langkahnya, saat melihat Hajar berdiri menghalangi jalannya, menatapnya tajam bergantian ke arah Chandra yang masih berdiri. Kemudian tanpa mengatakan apa pun, Hajar memutar tubuhnya berlalu dari tempat itu.
"Hajar!" panggil Chandra mengejar Hajar, mengurungkan niatnya ke toilet.
"Hajar!" panggil Chandra lagi melihat Hajar semakin melangkah cepat keluar dari gedung rumah sakit. Namun Hajar menulikan pendengarannya. Dan terpaksa Chandra mempercepat larinya untuk mengejar Hajar yang sudah sampai di gerbang rumah sakit.
"Om bisa jelasin" Chandra yang berhasil mengejar Hajar, menarik tangan gadis itu.
"Aku sudah jelas mendengar pembicaraan kalian"Hajar menyentak tangannya dari genggaman Chandra hingga terlepas.
"Tapi tidak seperti yang kamu pikirkan" Chandra kembali meraih tangan Hajar." Aku bermaksud membebaskan temanmu itu dari laki laki yang membelinya" jelas Chandra.
"Lalu Om yang akan memakainya?."
"Aku belum mau pulang, aku ingin menjaga Naomi di sini. Naomi masih belum melewati masa kritisnya" tolak Hajar saat Chandra membuka pintu penumpang depan untuknya.
"Bryan yang akan menjaganya, dan juga ada Amel di sini. Bryan pasti nanti memberi kabar keadaan Naomi." Chandra memaksa Hajar untuk masuk ke dalam mobil Karna melihat Hajar sepertinya masih sakit dari wajahnya yang sedikit pucat.
"Tapi Om" Hajar menatap Chandra dengan wajah sedih.
"Nanti kita kembali kesini" Chandra yang sudah menyusul masuk langsung melajukan kenderaannya keluar dari pekarangan rumah sakit. Dia harus kembali ke kantor karena ada pekerjaan yang harus segera di selesaikan.
"Amel?" Hajar menatap intens wajah Chandra dari samping, menuntut penjelasan dengan nama yang dia sebutkan.
Chandra yang sibuk menyetir refleks menoleh sebentar ke arah Hajar dan kembali sibuk dengan jalanan di depannya.
"Apa yang ingin kamu dengar?"tanya Chandra.
Hajar menyunggingkan bibirnya kesamping. Meski dugaannya Amel kakak dari Naomi adalah wanita suaminya, tetap saja Hajar ingin mendengar pengakuan Chandra.
"Selain Ibu Caroline, Kak Amel, apa masih ada wanita lain?." Hajar kembali mengalihkan pandangannya lurus ke depan, kemudian berbicara lagi."Om itu aneh, tidak bisa move on dari Ibu, tapi hoby bermain wanita. Hati Om saja yang setia, tapi junior Om tidak."
Chandra berdecih sembari tersenyum." Kamu pun tidak mencintai Om. Tapi kamu bisa dengan suka rela menyerahkan tubuhmu pada Om demi uang" cibirnya.
"Tapi aku tidak suka bermain laki laki. Buktinya aku masih suci saat menikah dengan Om. Dan aku juga menyerahkan kesucianku itu kepada suamiku, sah sah saja kan?" balas Hajar.
Cup!
"Trimakasih!" ucap Chandra setelah mendaratkan satu kecupan di kepala Hajar.
Bukannya senang mendapat kecupan, Hajar malah memutar bola mata malas karna Chandra belum juga mengakui hubungannya dengan Amel.
Saat Chandra menghentikan laju kenderaannya, Hajar memutar pandangannya keluar kaca mobil. Hajar mengerutkan keningnya mereka berada di depan sebuah gedung perusahaan.
__ADS_1
"Om ada sedikit pekerjaan yang harus di selesaikan. Kamu bisa istirahat di ruangan Om" ujar Chandra menjawab pertayaan yang tersirat di kening Hajar, kemudian membuka pintu di sampingnya dan langsung turun. Dan Hajar juga terpaksa harus ikut turun.
Chandra pun menggandeng tangan Hajar masuk ke dalam perusahaa. Yang berhasil mengundang perhatian para karyawan yang melihatnya.
Hajar yang sadar di perhatikan pun mengangkat wajahnya, melangkah dengan begitu percaya diri kalau dia pantas menjadi istri dari bos besar perusahaan itu.
Tiba tiba...
"Aaa !"
Hajar hampir menjerit kencang karena tubuhnya hampir jatuh karena terpeleset, tak sengaja menginjak plastik yang jatuh ke lantai. Untung saja Chandra sigap menangkap tubuhnya, kalau tiadak?.
"Kamu gak apa apa?" tanya Chandra melihat wajah Hajar semakin pucat dari sebelumnya.
"Jantungku hampir copot Om" jawab Hajar kembali menegakkan tubuhnya sembari memegangi dadanya yang kembang kempes.
Duh kok bisa sih aku terpeleset di lantai sebagus ini, bikin malu aja, batin Hajar. Padahal tadinya dia ingin terlihat berjalan anggun dan angkuh, malah gagal.
Sedangkan Chandra yang melihat selembar plastik bungkus makanan yang terletak di lantai menghela napasnya. Kemudian Chandra melangkahkan kakinya selangkah, membungkuk mengambil plastik itu dan membuangnya ke tempat sampah. Membuat Hajar mengerutkan keningnya sembari tersenyum, mengagumi tindakan suaminya, menegur para karyawannya dengan perbuatan tanpa perlu harus marah marah.
Meski Om Chandra adalah bos besar, tapi dia sangat rendah hati, batin Hajar.
"Ayok" ajak Chandra, kembali menggandeng tangan Hajar masuk ke dalam lif.
Sampai di ruangannya, Chandra mengangkat tubuh Hajar, lalu mendudukkannya di atas meja kerjanya dan langsung menyambar bibir Hajar, menciumnya lembut, tapi itu hanya sebentar.
Saat ciuman itu lepas, Hajar langsung mengerucutkan bibirnya, dan memicingkan sebelah matanya ke wajah Chandra. Hajar masih kesal karna Chandra belum bercerita tentang hubungannya dengan Amel.
"Kenapa?" tanya Chandra tersenyum.
"Aku mau Om!" cetus Hajar kesal. Dia ingin melampiaskan kekesalannya dengan bercinta. Hajar ingin menunjukkan kalau dia juga bisa bergoyang yang membuat badan menjadi hot. Hajar tidak ingin dikalahkan wanita mana pun. Dia harus lebih hot dari Amel atau wanita lainnya.
"Tapi kamu masih kurang sehat" tolak Chandra halus. Dia tak ingin membuat Hajar tambah sakit, karena kelelahan menghadapinya.
"Dosa loh nolak istri" Hajar semakin mengerucutkan bibirnya.
"Kata siapa?"senyum Chandra semakin mengembang. Ini yang disukainya dari Hajar. Menurutnya Hajar sangat menggemaskan dengan sifatnya yang tidak malu malu sama sekali.
"Barusan aku yang ngomong"
"Om gak tega membuatmu kelelahan" tolak Chandra lagi. Memang benar benar tidak tega dan tidak bernafs* bercinta dengan orang yang sakit.
"Mau Om" rengek Hajar lagi.
"Tunggu kamu sehat dulu"
"Aku mau Om"
"Hajar" tegur Chandra lembut menangkap kedua sisi wajah Hajar, lalu mengecup keningnya.
"Mau Om" kekeh Hajar.
"Tubuhmu masih hangat dan wajahmu masih pucat. Seharusnya kamu istirahat biar cepat sembuh" Chandra juga masih kekeh menolak keinginan Hajar. Karna tak ingin membuat Hajar tambah sakit.
"Aku mau Om sekarang" Hajar menatap Chandra dengan mata berkaca kaca. Entah? hatinya terasa sakit mendapat penolakan dari Chandra. Membuat Chandra terdiam dan membalas tatapan Hajar.
Apakah Om Chandra sering bermain dengan Kak Amel?, batinnya.
"Mau Om" gumam Hajar hampir tak terdengar.
*Bersambung
__ADS_1