
Chandra menghentikan laju kenderaannya di sebuah Apertement, dan langsung turun. Ia akan menemui Naomi putrinya dan Caroline. Menanyakan soal Amel yang baru di nikahinya. Kenapa Caroline dan Naomi mengijinkannya.
"Papa, bagaimana kabar Hajar Pa?" cerca Naomi langsung saat membukakan pintu untuk Chandra.
"Baik sayang, dimana Mama kamu" Chandra mengecup kening putrinya itu, merangkulnya masuk ke dalam Apartement.
"Di kamar Pa" jawab Naomi.
"Tolong panggil Mama kamu ya" Chandra mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tamu.
"Iya Pa" patuh Naomi, melangkahkan kakinya ke arah kamar Caroline.
"Ma, Papa datang!"
Chandra mendengar seruan Naomi memanggil Caroline ke ruang tamu.
Chandra yang merasa gerah, membuka kancing atas kemejanya menampakkan sedikit bulu bulu di dadanya. Menunjukkan petapa gagahnya dia sebagai lelaki. Tapi itu hanya milik Hajar saat ini.
Tak lama kemudian, Naomi pun kembali bersama Caroline.
"Chandra, ada apa?" tanya Caroline melihat Chandra sebentar, lalu mengalihkan tatapannya ke arah lain, dan mendudukkan tubuhnya di sofa yang bersebrangan dengan Chandra.
"Aku ke dapur buatin minum dulu" ujar Naomi langsung melangkahkan kakinya ke arah dapur.
"Aku baru menikahi Amel, Mama memaksaku" jawab Chandra memperhatikan wajah cantik Caroline.
"Maksudmu?" tanya Caroline bingung.
"Kamu mengetahuinya?, kamu mendukung Amel untuk menikah denganku?" tuduh Chandra tanpa basa basi.
"Kau selalu saja seperti itu. Menuduh tanpa bertanya baik baik" cetus Caroline tak suka." Lihat Naomi hasil perbuatanmu" cibirnya.
"Seharusnya kamu menasehati Amel untuk tidak merebutku dari Hajar. Bagaimana pun juga Hajar adalah adik sepupumu. Bagaimana bisa aku memperistri kakak beradik. Ya Tuhan, kenapa kehidupanku tidak lepas dari kalian" keluh Chandra tidak habis pikir.
"Aku tidak tau itu, Amel tadi pagi pergi dari sini tanpa berpamitan. Dan jangan asal menuduhku, tidak menasehati Amel. Dia sudah besar untuk bertindak sendiri, dan kami baru bertemu. Tentu tidak mudah bagiku untuk mengendalikannya" jelas Caroline.
"Makanya jangan main perempuan" cibir Caroline mentapa sinis Chandra.
"Sudahlah, aku pergi dulu. Hajar pasti menungguku." Chandra berdiri dari tempat duduknya dan hendak pergi. Namun suara Naomi mengurungkan langkahnya.
"Pah, minum dulu" Naomi mengambil gelas dari nampan yang ia bawa, memberikannya pada Chandra.
Chandra menerima gelas itu, dan langsung menegak isinya sampai habis. Chandra pun segera pergi dari Apartement itu setelah sempat mengecup kening Naomi.
"Tante Amel sebenarnya orang yang baik Ma. Selama ini dia mengorbankan dirinya demi Naomi" ucap Naomi setelah melihat Chandra menghilang di balik pintu.
Caroline hanya bisa menghela napasnya. Begitu sulit dan rumit masalah yang di hadapi keluarganya selama ini. Tapi saat ini Caroline sangat bersyukur, ia diberikan kesempatan bertemu dengan putrinya, dan adiknya yang di kabarkan meninggal.
__ADS_1
*
Chandra yang tiba di rumahnya dan Hajar, langsung turun dari dalam mobil, melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
"Tuan, Nona dari tadi berada di taman samping" lapor seorang ART saat Chandra akan masuk ke dalam lif.
"Trimakasih" Chandra langsung mengalihkan langkahnya ke pintu samping rumah itu. Di lihatnya Hajar memang berada di taman samping, duduk termenung di atas ayunan.
"Sayang" panggil Chandra mendekati Hajar.
Hajar menolehkan pandangannya sebentar ke arah Chandra. Dan kembali pokus ke arah bunga bunga di depannya.
Cup
Satu kecupan pun mendarat di pelipis Hajar. Tanpa permisi, Chandra mengangkat tubuh Hajar, membawanya masuk ke dalam rumah.
Hajar yang berada di gendongan Chandra, hanya diam saja. Membiarkan Chandra membawanya begitu saja.
"Mikirin apa? Hm.." tanya Chandra melihat Hajar terus melamun.
Hajar menggelengkan kepalanya, apa lagi yang ia pikirkan. Kalau bukan ketakutannya menghadapi kemarahan Nyonya Belinda. Dan dia tidak punya keluarga untuk membelanya.
"Ayolah Hajar, ini bukan kamu" Chandra mendudukkan tubuhnya di sofa, membiarkan Hajar di atas pangkuannya. Chandra pun mengusap usap kepala Hajar dari belakang, sembari memandangi wajah Hajar yang masih bersedih.
"Biarkan Hajar pergi Om" Hajar menatap Chandra memohon.
"Nyonya Belinda tidak akan menerimaku menjadi menantunya lagi Om. Mengertilah Om, jangan memaksa keadaan. Aku ingin hidup tenang. Aku tidak akan membawa sepersen pun kekayaan Om. Aku mohon Om."
"kamu ingin pergi kemana?. Om akan ikut denganmu. Ayo kita pergi, ke hutan blantara pun Om akan ikut denganmu" Chandra berdiri dari sofa, membawa Hajar yang berada di gendongannya masuk ke dalam lif untuk mengantar mereka ke lantai tiga rumah itu.
Sampai di dalam kamar, Chandra langsung melempar tubuh Hajar ke atas kasur dan langsung menindihnya.
"Om Hajar gak mau!" teriak Hajar berusaha mendorong tubuh Chandra.
"Tapi aku mau"
"Gak mau"
"Aku mau"
"Gak mau"
"Aku mau"
"Gak mau"
"Tapi aku mau sayangku, cintaku, istriku" Chandra memegang kepala Hajar, mengecup ngecup bibir Hajar dengan gemas.
__ADS_1
"Hajar lagi gak berselera" rajuk Hajar manja, berbicara dengan bibir mengerucut. Membuat Chandra gemas tak tahan untuk tidak mengecupnya lagi.
"Ya sudah, tapi jangan bersedih lagi. Om gak suka melihatnya. Lebih baik kekayaan Om habis terkuras, dari pada melihat wajah sedihmu" Chandra mendudukkan tubuhnya, kemudian menarik Hajar ke dalam pelukannya.
*
Di tempat lain, Nyonya Belinda begitu murka melihat Chandra meninggalkan acara pernikahannya begitu saja. Nyonya Belinda pun berencana ingin membuat pesta pernikahan untuk Chandra dan Amel. Supaya semua orang tau saat ini Amel lah yang menjadi menantunya, dan Chandra tidak bisa membantah lagi.
"Dalam waktu satu minggu semua harus sudah beres" perintah Nyonya Belinda kepada Asistennya.
"Baik Nyonya" patuh pria paruh baya yang duduk di sofa bersebrangan dengan Nyonya besar rumah itu.
"Hm..bagus"
Amel yang ada di ruangan itu tersenyum lebar mendengar rencana Nyonya Belinda. Sebentar lagi Dunia akan mengetahuinya, kalau dia sudah sah menjadi istri Chandra.
"Jangan lupa bonus untukku, sudah memberikan informasi selama ini."
Amel mencebik lalu menoleh sebentar ke arah Tania yang berdiri di sampingnya. Tania adalah teman Amel yang bekerja menjadi pembantu di rumah Nyonya Belinda. Tania lah yang memperkenalkan Amel dengan Chandra. Sehingga mereka menjalin hubungan, jasa dan uang di atas ranjang.
"Hati hati kalau bicara, jangan sampai ada yang dengar" bisik Amel pada Tania.
"Mengingatkan" bisik Tania.
"Iya, sana pergi" usir Amel.
Tanpa berbicara lagi, Tania pun meninggalkan Amel yang masih berdiri di kusen pintu kamar yang di tempatinya.
*
Chandra yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Melangkahkan kakinya ke arah ranjang. Chandra membungkukkan tubuhnya mengecup kening Hajar yang masih bergulung di bawah selimut.
"Om sudah menyuruh Bryan mengurus pendaftaran kuliahmu. Kamu dan Naomi akan mengambil jurusan yang sama" ucap Chandra setelah melepas kecupannya.
"Hajar sudah tak ingin kuliah" cetus Hajar menatap kesal pada Chandra. Dia sudah tidak punya muka bertemu dengan orang orang. karena kasus orang tuanya yang membuatnya sempat terlibat.
"Kenapa? Hm..." Chandra mengusap lembut kepala Hajar setelah duduk di samping Hajar.
"Ingin pokus mencetak anak"
Chandra langsung melengkungkan bibirnya ke atas mendengar jawaban Hajar. Sepertinya jiwa istri kecilnya itu sudah mulai kembali kesemula.
"Baiklah, tapi Om ingin kamu tetap melanjutkan sekolahmu. Karena untuk mengurus kekayaan Om nanti, butuh anak yang pintar dan cerdas. Di mulai dari Ibu yang pintar dan cerdas juga. Jadi tidak ada bantahan, Ok!" Chandra mengacak acak gemas rambut Hajar, kemudian berdiri dari pinggir kasur.
Hajar semakin mengerucutkan bibirnya, semakin panjang.
"Om berangkat dulu, istirahatlah. Jangan lupa sarapan" ujar Chandra langsung meninggalkan kamar itu. Banyak pekerjaan yang harus di kerjakannya, dia tidak bisa jika harus terus menemani Hajar di rumah.
__ADS_1
*Bersambung