Menantu Bayaran

Menantu Bayaran
43. Rencana penculikan


__ADS_3

"Amel"


Suara wanita yang masuk ke kamar itu, berhasil mengalihkan pandangan Amel. Ia pun menghapus air matanya, menatap Caroline dengan teduh.


"Kamu kenapa?" Caroline menurunkan tubuhnya untuk membantu Amel berdiri, lalu mendudukkan tubuh mereka di pinggir kasur.


Amel tidak langsung menjawab, ia pun menghamburkan tubuhnya memeluk Caroline kakaknya.


"Kenapa hidup kita harus seperti ini?. Apa salah kita?. Apa kita tidak boleh bahagia?."


Caroline terdiam, ia hanya bisa mengusap usap kepala Amel dari belakang. Dia juga mempertanyakan hal itu selama ini. Namun semenjak mengetahui Amel adiknya masih hidup, dan dia menemukan putrinya. Pertanyaan itu sudah tidak penting bagi Caroline. Dan bahkan perasaan cintanya kepada Chandra pun sudah tidak ada penting lagi.


"Kakak tidak tau Amel" jawab Caroline.


"Apa Kakak tidak mencintai Om Chandra lagi. Kenapa Kakak terlihat biasa saja?" tanya Amel dalam tangisnya.


Cinta?, sepertinya Caroline sudah mati rasa. Cinta itu sudah terlalu lama ditenggelamkan kesengsaraan yang dirasakannya selama ini. Banyangkan! Hampir dua puluh Tahun hidup berada di bawah tekanan. Mengurung diri berpura pura gila.


"Kakak gak tau" lirih Caroline."Berhentilah mengharapkan Chandra, kamu tidak akan mampu menaklukkannya. Jangan menyakiti hatimu sendiri. Berbenahlah untuk masa depanmu, masa depan anak yang berada di dalam perutmu ini." Caroline mengusap lembut perut Amel." Jadikan anak ini menjadi tujuan hidupmu, sehingga kamu tidak punya waktu memikirkan laki laki manapun, termasuk Chandra."


Caroline melepas pelukannya, menjauhkan sedikit tubuh Amel." Kamu masih muda dan Chantik, Kakak yakin pria di luar sana banyak yang menyukaimu. Biarkan laki laki itu yang tergila gila padamu. Kamu hanya perlu jual jual mahal untuk membuat mereka bucin" Caroline mengulas senyumnya sembari membelai lembut wajah Amel.


"Ayo kita pulang, Kakak mencoba membuat masakan Papa dulu. Pasti kamu menyukainya" ajak Caroline berharap Amel luluh ikut kembali tinggal bersamanya.


.


.


Chandra yang baru sampai di rumah, langsung masuk ke dalam lif untuk naik ke lantai tiga rumah itu, dimana kamarnya dan Hajar berada.


Sampai di lantai tiga, Chandra langsung membuka pintu kamarnya, berharap Hajar berada di dalam kamar.


"Pah!"


"Kalian belum tidur?." Chandra melangkahkan kakinya ke arah ranjang, dan menjatuhkan kecupan di kening kedua gadis remaja itu bergantian.


"Mumpung belum masuk kuliah, puas puasin nonton hehehehe..." cengir Naomi, wajahnya begitu nampak polos dan lembut mirip Caroline.


"Apa yang membuat kalian tertarik dengan pria pria berwajah cantik itu?" tanya Chandra sembari membuka kancing kemejanya dan melepasnya dari tubuhnya.


"Gemes Pah" jawab Naomi, sedangkan Hajar dari tadi hanya diam saja pokus ke layar tv yang menempel di dinding, menghiraukan Chandra di ruangan itu.


"Kenapa? Hm..."

__ADS_1


Hajar menoleh sebentar ke arah Chandra yang duduk di sampingnya, dan kembali pokus ke arah tv yang menayangkan drama kesukaannya. bukan karena drama itu membuat Hajar malas melihat Chandra, melainkan Chandra tidak pernah menanyakan kabarnya seharian. Ceritanya saat ini Hajar sedang merajuk.


"Sayang" panggil Chandra melihat Hajar hanya diam saja.


"Naomi, tolong keluar, aku ingin memarahi Papamu" usir Hajar tanpa melihat Naomi duduk di sebelahnya.


"Baik Mama" Naomi tersenyum, ia pun segera keluar dari kamar orang tua itu.


Sedangkan Chandra mengulas senyumnya, mendengar Hajar ingin memarahinya. Ia pun menarik Hajar ke dalam pelukannya, dan mengecup gemas pipi Hajar dari samping.


"Aku pengen lihat seperti apa istri kecilku ini memarahiku" ucap Chandra.


"Kalau Om ingin aku tetap menjadi istri Om. Om harus melayaniku dengan tangan Om sendiri. Om harus membuat sarapan untukku, makan siang dan makan malam, se-ti-ap ha- ri!" tekan Hajar di akhir kalimatnya.


"Hm..baiklah, itu hal yang gampang" ujar Chandra.


"Sebagai hukuman Om karena sudah tidak memberi kabar Hajar seharian. Om harus memijat punggung dan kaki Hajar setiap malam."


"Tidak masalah"


"Satu lagi, Om harus mengeluarkan Mama, Papa Randy dan Kak Syakil dari penjara."


Senyum Chandra langsung luntur, ia pun memutar tubuh Hajar ke arahnya.


Chandra diam memperhatikan wajah Hajar yang bersedih. Kemudian Chandra menggeleng gelengkan kepalanya.


"Biarkan mereka sendiri yang membuktikan, kalau mereka tidak bersalah Hajar. Mengerti jugalah posisi Om. Saat ini Om sangat sulit percaya dengan orang lain" lirih Chandra.


Hajar mendongakkan kepalanya ke arah Chandra."Apa Om tidak bisa memaafkan mereka?."


"Kalau mereka tidak bersalah, polisi akan membebaskan mereka Hajar" ucap Chandra.


Hajar menyandarkan kepalanya ke dada Chandra." Aku sangat menyayangi mereka Om, seperti mereka menyayangiku. Meski aku bukan putri kandung mereka. Tapi aku tidak merasakan kalau aku hanya anak angkat" ucapnya.


Chandra mengecup ujung kepala Hajar." Om mengerti perasaanmu, percayalah semuanya akan baik baik saja nanti. Semua hanya masalah waktu."


.


.


"Besok kalian tangkap anak itu, kurung dia di ruang bawah tanah" perintah Nyonya Belinda kepada anak buahnya.


"Baik Bos" patuh ke empat pria yang berdiri di depan Nyonya besar keluarga Kurniawan itu.

__ADS_1


"Silahkan pergi" Nyonya Belinda mengibaskan tangannya mengusir ke empat pria itu dari ruang kerjanya. Karena sudah tidak ada lagi yang perlu di bicarakan.


"Beraninya kamu menantang Mama Chandra" gumam Nyonya Belinda menajamkan pandangannya ke arah ke empat bodyguard yang keluar satu persatu dari ruang kerjanya.


Nyonya Belinda tak ingin kalah dari anaknya. Bagaimana pun caranya, dia harus berhasil memisahkan Chandra dan Hajar.


.


.


"Silahkan Tuan tuan putri" Chandra meletakkan hasil masakannya di atas meja makan, di depan Hajar dan Naomi.Seperti permintaan Hajar, Chandra memasak sendiri sarapan untuk istri kecilnya itu.


"Aku tidak yakin untuk memakannya" ujar Naomi memperhatikan tampilan nasi goreng yang di masak Chandra.


"Sepertinya begitu" sambung Hajar menyangga dagunya dengan kedua tangannya sembari memperhatikan penampilan nasi goreng di depannya. Nasi goreng berwarna putih, dengan campuran telor dan daun bawang.


Chandra berdecak, ia pun mengambil sendik dari atas piring, lalu menyuapkan nasi goreng ke mulut Hajar.


"Coba dulu" ujar Chandra melihat Hajar menutup mulutnya.


"Gak Om, Om dulu yang coba" tolak Hajar.


Chandra berdecak sekali lagi, lalu menyuapkan nasi goreng buatannya ke mulutnya. Meski tidak pernah terlihat memasak. Namun hanya membuat nasi goreng dan masakan sederhana, Chandra masih bisa. Karena dulu saat kuliah dia sering memasak makanan sendiri.


"Enak sayang" setelah menelan makanan di mulutnya, Chandra kembali menyuapi Hajar.


Perlahan Hajar pun membuka mulutnya, menerima suapan dari Chandra.


"Bagaimana?" tanya Naomi memperhatikan raut wajah Hajar saat mengunyah, dan Hajar pun mengangguk anggukkan kepalanya.


"Tuan, sebaiknya hari ini Tuan jangan pergi ke kantor."


Hajar, Chandra dan Naomi refleks menoleh ke arah Bryan yang sedang bernapas ngosngosan berdiri di samping Chandra.


"Kenapa?" tanya Chandra mengerutkan keningnya.


Hajar dan Naomi pun mengangguk anggukkan kepala mereka, menanyakan hal yang sama dengan Chandra.


"Nyonya berencana untuk menculik Tuan" jawab Bryan masih sibuk mengatur napasnya karena kelelahan berlari masuk ke dalam rumah.


Tadi dia sudah sampai di kantor, saat mendapat kabar Bryan langsung menghubungi Chandra lewat telepon. Namun tak kunjung di angkat. Akhirnya Bryan memutuskan untuk menyusul Chandra ke rumahnya.


"Dan kamu juga hati hati, Mama juga pasti mengincarmu."

__ADS_1


* Bersambung


__ADS_2