
Chandra melangkahkan kakinya ke arah Caroline, membuka lakban yang menutup mulutnya. Chandra berjongkok di depan Caroline menatapnya teduh.
"Katakan dengan jujur Caroline, katakan apakah benar aku memiliki putri?. Dimana Caroline?, kenapa kau tega membiarkannya hidup sendirian selama ini?" tanya Chandra, tanpa terasa meneteskan air matanya.
"Katakan pada mereka Caroline, jika mereka ingin Harta, aku akan memberikan seluruh hartaku" ucap Chandra lagi.
"Aku tidak tau, mereka menyembunyikannya" Caroline menangis terisak.
Chandra berdiri dari hadapan Caroline sembari mengusap air matanya. Chandra berpindah ke hadapan Ibu Misra yang diketahuinya adalah Ibu mertuanya. Chandra benurunkan tubuhnya di depan wanita itu dan membuka lakban di mulutnya.
"Apa aku bisa percaya padamu Ibu mertua?" Chandra mengeraskan rahangnya menatap tajam Ibu Misra."Benarkah kalian menikahkan Hajar denganku demi putriku yang aku sendiri tidak tau benar ada atau tidak?, itu sangat konyol" Chandra berdecih.
"Berikan putriku, maka aku akan memberikan yang kalian inginkan" ujar Chandra.Tidak ragu lagi, dugaan Chandra benar jika sekelompok keluarga itu sudah bersekongkol.
"Tuan, Dokter pemilik rumah sakit jiwa tempat Nyonya Caroline selama ini, berhasil melarikan diri" ujar salah satu anak buah yang ditugaskan Chandra membereskan orang orang yang dicurigainya.
"Cari sampai dapat" ucap Chandra dengan wajah tanpa ekspresi. Dia tidak akan membiarkan orang yang ikut bekerja sama dengan Bruno dan taslin bebas berkeliaran.
"Berikan semua hartamu" sahut Bruno menyeringai." Tanpa ada sisa sepersen pun."
Chandra mengalihkan pandangannya ke arah Bruno dan tersenyum miring.
"Bawa putriku ke sini. Ada uang ada barang" ujar Chandra.
"Oke"balas Bruno mengalihkan pandangannya ke wajah Amel." Dia berada bersama Amel" ucapnya.
Refleks Chandra dan Hajar menoleh ke arah Amel. Chandra berdecih, dia tidak percaya begitu saja. kemudian Chandra menatap Hajar curiga. Kecewa, ternyata selama ini dia sudah di kerumuni musuh keluarganya. Amel yang pernah menjadi wanitanya. Ibu Misra yang menjadi salah satu teman Ibunya. Shakil yang meminpin salah satu cabang perusahaannya. Hajar istrinya, selama ini dekat dengan gadis bernama Naomi,yang di perkirakan putrinya.
"Aaaakh...!" Chandra berteriak frustasi dan menjatuhkan dirinya ke lantai. Bodohnya dia, kenapa begitu mudah percaya sama orang selama ini. Hidupnya yang tenang, Chandra pikir semua baik baik saja, ternyata?.
"Chandra !"
Chandra mengalihkan pandangannya ke sumber suara itu, begitu pun dengan yang lainnya.
"Mama" gumam Chandra, Ibunya datang bersama Marco sepupunya.
"Kau selalu saja lemah karena wanita" Nyonya Belinda membantu Chandra berdiri dari lantai."Mereka semua sudah berada di tanganmu, jangan mau diperdaya mereka" ujar Nyonya Belinda lagi.
"Marco suruh polisi membawa mereka semua" perintahnya tegas kepada keponakannya, namun netranya menghunus tajam orang orang yang masih terikat di kursi secara bergantian.
"Hajar juga, aku tidak yakin dia tidak ikut bersekongkol dengan keluarganya" kini pandangan Nyonya Belinda mengarah pada Hajar yang meringis ketakutan. Hajar menggeleng gelengkan kepalanya tidak ingin di bawa ke kantor polisi.
"Om" lirih Hajar saat tangannya diikat oleh anak buah Marco. Bukan seperti ini rencana awal Chandra, kenapa malah dia ikut terlibat. Dan juga Hajar tidak tau apa apa.
Chandra diam hanya menatap Hajar dengan sendu. Berharap Hajar tidak terlibat, tapi saat ini Chandra tidak percaya.
Tak lama kemudian gerombolan polisi datang, mereka segera membawa anggota keluarga besar itu. Tidak ada yang bersuara karena mulutnya masih di lakban. Namun semuanya nampak meronta ronta minta di lepas.
"Om" Hajar menatap Chandra berlinang air mata sembari melangkahkan kakinya mengikuti polisi yang menariknya.
__ADS_1
.
.
Seminggu berlalu dari kejadian itu, Chandra hanya berdiam diri dikantornya. Chandra menyibukkan diri dengan bekerja untuk mengalihkan pikirannya. Namun hatinya selalu terusik oleh gadis bernama Hajar.
Ceklek!
Mendengar ada yang membuka pintu ruangannya, Chandra langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Chandra mengulas senyumnya melihat gadis cantik berjalan tersenyum ke arahnya.
"Sayang"Chandra berdiri dari kursinya, berjalan menyambut gadis itu.
"Aku yakin Papa belum makan, ini aku bawa makanan untuk Papa. Aku yang masak sendiri loh" ujar Gadis itu menunjukkan rantang berbahan plastik di tangannya.
Senyum Chandra samakin merekah, menggambarkan kebahagiaan yang tiada tara, lalu menjatuhkan satu kecupan di kening putrinya itu.Gadis itu adalah Naomi, setelah melakukan tes DNA seminggu yang lalu, ternyata benar Naomi adalah putrinya.
"Ternyata begini rasanya punya putri. Seharusnya dari dulu papa mengetahui keberadaanmu" desah Chandra penuh penyesalan, merangkul pinggang Naomi membawanya untuk duduk di sofa.
"Aku harap Papa tidak melakukan kesalahan untuk dua kali" ujar Naomi meletakkan rantang di tangannya di atas meja setelah mereka duduk.
"Harusnya begitu" balas Chandra membuka kotak makanan di depannya.
"Aku mengenal Hajar sejak SMP Pah. Selama ini dia sangat baik padaku, dia banyak membantuku. Aku yakin Hajar tidak terlibat Pah" Naomi meneduhkan pandangannya ke arah Chandra yang sedang makan.
"Papa juga berharap seperti itu. Tapi biarkan saja Hajar membuktikan dirinya kalau dia tidak terlibat" ujar Chandra setelah menelan makanan di mulutnya.
"Aku rasa setelah dia keluar dari penjara, Hajar tidak akan menyukai Papa lagi" cetus Naomi.
"Papa akan memaksanya" ucap Chandra santai.
Naomi memutar bola mata malas.
Tiba tiba bunyi handphon dari atas meja kerja Chandra. Chandra langsung meletakkan kotak makan di tangannya ke atas meja. Chandra mendekati meja itu, dan langsung meraih handphonnya setelah melihat siapa yang menghubunginya.
"Halo"
"Pak Chandra, Nona Hajar pingsan, dia sedang sakit" lapor seorang polisi dari balik telepon.
Chandra terdiam, wajahnya langsung terlihat kawatir.
"Pak" Sapa polisi dari sebrang telepon karena tidak ada suara.
"Bawa dia kerumah sakit"ujar Chandra.
"Baik Pak" patuh dari sebrang telepon, dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.
"Siapa yang sakit Pah?" tanya Naomi dari sofa.
"Hajar, ayo sayang kita menyusul ke rumah sakit sekarang" ajak Chandra gegas mengambil kunci kenderaannya berjalan ke arah pintu.
__ADS_1
Naomi langsung mengikutinya.
Keluar dari ruangannya, Chandra menarik tangan Naomi berjalan cepat masuk ke dalam lif. Tak sabaran untuk segera sampai di rumah sakit.
"Hajar sakit apa Pah?" tanya Naomi ikut kawatir.
"Papa gak tau" jawab Chandra.
Setelah sampai di lantai bawah, mereka langsung keluar dari dalam lif, berjalan cepat ke arah tempat mobil Chandra diparkirkan.
"Tuan tuan" guma Bryan memandang Chandra yang masuk ke dalam mobil. Jika memang cinta, kenapa tidak mencoba untuk percaya. Bukan malah memenjarakannya. Bryan heran dengan pemikiran Tuannya itu.
Namun seketika pandangan Bryan berobah kesal, melihat Naomi calon istrinya. Apa iya dia harus menikahi Naomi. Meski pernikahan hanya untuk status, tapi berat rasanya bagi Bryan. Bryan ingin menikah sekali seumur hidup, satu istri untuk selamanya. Karena itu, Bryan sangat selektif untuk memilih wanita untuk pendamping hidupnya. Ini malah dia dipaksa Tuannya menikahi gadis yang tidak perawan lagi. Jika dia tidak mau, Chandra akan memecatnya, dan membeklis namanya ke setiap perusahaan di Indonesia, supaya tidak menerimanya bekerja. Sungguh konyol, pikir Bryan.
Sampai di rumah sakit, Chandra langsung menghambur masuk ke ruang perawatan Hajar. Nampak Hajar terbaring lemah di atas brankar.
"Hajar kenapa kamu bisa sakit?" tanya Naomi langsung memeluk Hajar.
Mendengar pertanyaan Naomi, Chandra langsung teringat. Kalau seminggu yang lalu Hajar sudah kurang sehat. Mungkin keadaan di penjara yang pasti tidak nyaman, membuatnya semakin sakit.
"Aku tidak butuh kepedulian kalian" ujar Hajar dengan suara lemah, tapi terdengar marah.
"Kenapa bicara seperti itu?, aku ini sahabatmu, tentu aku peduli" balas Naomi.
"Pergi kalian, aku tak ingin melihat kalian, pergi" Hajar berbicara dengan megeraskan rahangnya, menatap tajam pada Chandra yang berdiri di belakang Naomi.
Istri mana yang tidak sakit hati, jika di penjarakan suami sendiri tanpa ada bukti nyata kalau dia melakukan tindakan melanggar hukum. Dia juga korban, tetapi ikut menjadi tersangka. Seminggu ditahan di kantor polisi, namun tidak satu pun penyidik menemukan bukti kalau dia bersalah, namun polisi tetap menahannya.
Chandra menyentuh bahu Naomi, supaya Naomi menjauhi Hajar. Chandra pun memeluk Hajar, mengindahkan Hajar yang mengusir mereka. Sehingga tubuh lemah Hajar meronta ronta minta di lepas.
"Lepas" geram Hajar
Malah Chandra semakin mengeratkan pelukannya. Membuat Hajar tambah murka. Apa maksud suaminya itu, setelah memenjarakamnya, kini malah memeluknya posesif.
"Diamlah, kamu masih istriku, aku berhak memelukmu."
Hajar berdecih, istri? istri yang bagaimana?. Wanita mana yang mau bersuami yang memenjarakannya?.
"Lepaskan keluargaku, jika kau masih ingin memperistriku."
"Tidak akan" tolak Chandra cepat. Dia tidak akan melepas keluarga Hajar, karena sudah mempermainkannya selama ini. Dan juga, penyidik belum selesai memeriksa keluarga Hajar yang tersangka. Biarkan kebenaran yang membebaskan mereka, pikir Chandra.
"Biarkan aku bersama keluargaku" ujar Hajar.
"Sekarang aku yang menjadi keluargamu, ada Naomi juga." Chandra melepas pelukannya dari tubuh Hajar, memandang wajah Hajar sendu.
"Om minta maaf. Om membiarkanmu dipenjara, karna ingin membuktikan jika kamu tidak terlibat. Maafin Om Hajar, Om ingin percaya kepadamu, tapi apa yang menimpa Om membuat Om susah untuk percaya dengan orang."
"Tapi gara gara itu nama baikku sudah tercemar, Om membuatku malu" Hajar berbicara cetus, menatap Chandra malas.
__ADS_1
"Dan jangan harap aku masih mau menjadi istri Om lagi" ucap Hajar lagi mengalihkan tatapannya ke arah lain.
*Bersambung