Menantu Bayaran

Menantu Bayaran
70. Tubuhku mengenal siapa pemiliknya


__ADS_3

Amel mengeram mendengar laporan dari orang yang di suruhnya untuk mengawasi Chandra. Chandra pergi ke sebuah Villa yang berada di pinggir kota. Amel yakin, Chandra menemui wanitanya di sana.


Amel merasa panas dingin. Bisa bisanya Chandra bermain dengan wanita lain. Sedangkan dengannya alat vital suaminya itu tidak berpungsi. Apa itu cuma akal akalan Chandra saja?. Jangan jangan, suaminya itu tidak benaran amnesia. Chandra hanya berpura pura untuk mengelabui Ibunya. Supaya tidak terus terusan memusuhi Hajar.


Amel meneteskan air matanya, sakit hati jika apa yang di pikirkannya benar. Chandra hanya pura pura amnesia. Atau Chandra sudah pulih ingatannya dan dia menyembunyikannya. Itu artinya Chandra juga hanya memanfaatkannya untuk mencari aman dari Nyonya Belinda. Anak dan Ibu itu sudah memanfaatkannya dengan tujuan masing masing.


Tidak!


Amel tidak menerima itu.


Amel bergegas keluar rumah masuk ke dalam mobilnya, melajukannya dengan kecepatan tinggi ke arah Villa yang pernah di tempatinya bersama Chandra dan Hajar. Amel yakin, sepertinya yang di temui Chandra itu adalah Hajar. Amel tidak terima jika mereka kembali bersama.


Namun sampai di Villa, sudah tidak ada orang sama sekali. Bahkan orang yang biasa merawat Villa itu pun tidak ada.


"Kenapa gak ada orang di sini?" guman Amel melihat Villa sama sekali tidak ada orang." Pasti mereka sudah pergi dari sini" gumamnya. Itu artinya ada orang yang mengintai pergerakannya.


Amel memutar balik kenderaannya, dia akan mencari Chandra ke perusahaan. Namun di sana Chandra pun tidak ada. Wajar saja, hari sudah menunjukkan jam sembilan malam. Amel tidak sadar kalau dia bolak balik dengan perjalanan jauh, memakan waktu berjam jam.


Amel menghela napasnya, lelah.


Sampai di rumah, Amel melangkahkan kakinya dengan lunglai masuk ke dalam kamar. Berharap Chandra sudah pulang. Nyatanya kamar itu kosong.


Ceklek!


Amel membalik badannya ke arah pintu. Chandra baru pulang, tubuhnya terlihat lelah. Dari mana suaminya itu, bukankah tadi tidak ada di kantor?.


"Om dari mana?" tanya Amel matanya menelisik pakain Chandra yang sedikit acak acakan.


"Dari kantor, dari mana lagi" Chandra mengerutkan keningnya ke arah Amel.


"Om berbohong!" sanggah Amel mendekati Chandra, mengendus aroma baju kemeja suaminya itu. Dan benar saja, aroma farpumnya bercampur aroma farpum wanita.


"Jujur Om, Om kencan dengan wanita mana?." Amel menatap Chandra dengan mata berkaca kaca.


"Kencan bagaimana, kamu tau sendiri keadaanku" bantah Chandra.


"Kemarin tubuh Om penuh dengan bekas ciuman. Barusan aku ke kantor Om, tapi Om gak ada di sana" ujar Amel.


"Aku lagi ada pertemuan klien di luar. Kebetulan kliennya wanita, Bryan juga ikut. Apa yang kamu curigai" jelas Chandra.

__ADS_1


"Lalu bekas ciuman di tubuh Om?" Amel memicingkan matanya ke arah Chandra.


"Bukankah kamu yang melakukan itu?." Chandra melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi. Tubuhnya sudah gerah seharian, jadi dia butuh penyegaran.


'Aku' batin Amel mengeleng gelengkan kepalanya. Chandra menganggapnya bodoh.


Chandra yang berada di kamar mandi menguyur tubuhnya dengan air hangat. Kepalanya pusing memikirkan kehidupannya yang tidak jelas. Siapa istrinya yang sebenarnya?. Apa benar wanita bernama Hajar itu istrinya?, tapi kenapa tidak tinggal bersamanya?, dimana wanita itu selama ini?. Kenapa tidak mengurusnya saat sakit akibat kecelakaan yang menimpanya?. Lalu, bagaimana Amel bisa menjadi istrinya?. Apa dia memiliki dua istri?.Kepalanya pusing, tidak bisa mengingat apa apa.


Keluar dari kamar mandi, Amel duduk di pinggir kasur menunggunya siap mandi. Sepertinya wanita itu masih ingin mengintrogasinya.


"Om! siapa wanita yang kamu temui hari ini?"


Benar dugaan Chandra. Amel masih ingin mendengar penjelasannya.


"Naomi, dan tadi aku ke rumah Caroline" jawab Chandra. Setelah sekian menit di kamar mandi, baru Chandra menemukan jawaban yang tepat, meski ia berbohong.


Amel terdiam memperhatikan raut wajah Chandra yang terlihat santai dan biasa biasa saja.


Apa Kak Om Chandra diam diam menjalin hubungan dengan Kak Caroline?, batin Amel.


Amel menggeleng gelengkan kepalanya.


Tidak mungkin, batinnya lagi.


Bergegas Amel pun keluar dari dalam kamar pergi keluar rumah. Dia perlu meminta penjelasan dari Caroline.


Sampai di apartement Caroline, Amel langsung masuk. Ia tidak perlu menekan bel lagi, karna sudah hapal kode pintunya.


"Kak Caroline!" teriak Amel memanggil Kakaknya.


Caroline yang berada di kamarnya langsung keluar.


"Ada apa denganmu?, kenapa kamu berteiak?" tanya Caroline menatap malas adiknya itu.


Semenjak Amel memanfaatkan Chandra yang lupa ingatan, Caroline sudah tidak menyukai adiknya itu. Dia tidak peduli lagi pada Amel.


"Kakak menjalin hubungan diam diam dengan Om Chandra 'kan?" teriak Amel emosi.


"Kenapa kamu marah?, bukankah kamu menjarah Chandra dengan cara yang curang?. Kamu memanfaatkan keadaan Chandra yang tak berdaya. Kamu bukan hanya menzolimi Hajar Amel. Tapi menzolimi Chandra dan Calix anak mereka. Sekarang kenapa kamu takut dan marah marah?" cerca Caroline ikut emosi.

__ADS_1


"Kau mengambil hak Hajar Amel. Kau tidak ada bedanya dengan kedua orang tua Hajar, kau jahat. Kau mengatakan Hajar anak penjahat. Tapi kau tidak tau, kau lahir dari perut pelakor. Ibumu merebut Ayahku dari Ibuku Amel. Membuat Ibuku sakit, sampai meninggal" ungkap Caroline.


Duarr!


Amel terdiam, kaget bagaikan di sambar petir.


"Tapi aku tidak pernah membencimu Amel. Aku tetap menyayangimu, karna bagaimana pun kau adikku. Jika bukan karna Ibumu yang merebut Ayahku. Mungkin aku juga tidak akan menjadi korban Om Bruno dan Tante Taslin" lirih Caroline menatap nanar Ke arah Amel.


"Dan Naomi juga tidak akan menjadi korban. Dia tidak akan terpisah dariku ataupun Chandra. Kami mungkin akan hidup bahagia dari dulu" lirih Caroline lagi.


Amel masih membeku.


"Kembalikan Chandra pada Hajar, kalau kamu masih punya hati. Kalau kau masih manusia." Caroline berbicara dengan merapatkan gigi giginya.


"Semua penderitaan ini berawal dari Ibumu Amel" lirih Caroline.


"Mama sudah pulang."


Suara anak kecil itu berhasil mengalihkan pandangan Amel dan Caroline ke arah Calix yang berada di gendongan Hajar.


"Mama!" Calix meronta minta turun dari gendongan Hajar. Namun Hajar menahannya, sehingga Calix menangis di gendongannya. Hajar tidak akan memberikan anaknya lagi di ambil. Sudah cukup tiga Tahun ia berpisah dari anaknya, sekarang tidak lagi.


"Lihat, kau tak berperasaan mengambil anaknya. Kau Ibl*s Amel, kau bukan manusia" geram Caroline.


Amel hanya bisa membeku di tempatnya berdiri.


"Pergi kau dari sini, jangan coba coba berani mengeluarkan tarikmu di sini" usir Caroline sengit.


Saat Amel memutar tubuhnya ke arah pintu, langkahnya terhenti melihat Chandra, Naomi dan Bryan berdiri di dekat pintu. Mereka mendengar semua apa yang di katakan Caroline tadi.


Tadi Bryan memberitahu Chandra, kalau Amel melajukan mobilnya ke arah apartement Chandra. Sehingga Chandra datang menyusul karna Hajar dan Calix ada di sana.


Chandra melangkahkan kakinya mendekati Amel, lalu mencampakkan poto poto Amel ke lantai bersama pria lain.


"Kau menghabiskan uangku untuk bersenang senang dengan pria lain" ucap Chandra gemas.


"Itu karna Om tidak bisa memberikanku kenikmatan. Dan sekarang malah memberikan kenikmatan itu pada wanita lain." Amel menantang tatapan tajam Chandra ke arahnya.


"Itu artinya kau bukan pasanganku yang sebenarnya. Aku memang tidak mengingat apa pun, tapi tubuhku mengenal siapa pemiliknya" ucap Chandra tersenyum miring.

__ADS_1


Amel terdiam tak bisa membalas perkataan Chandra.


*Bersambung


__ADS_2