Mengejar Cinta Fatimah

Mengejar Cinta Fatimah
Tentang Hati


__ADS_3

...Selamat datang di novel terbaruku teman-teman. Trimakasih telah memilih Mengejar Cinta Fatimah untuk mengisi waktu luang kalian. Selamat menikmati dan menyelami kisah mereka....


🍃


🍃


🍃


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabahatuh


Dear Umi dan Abi...


Maaf...


Penuh cinta Umi dan Abi, membesarkanku. Namun penuh kedurhakaan aku membalas cinta dan kasih sayang kalian. Umi, Abi aku minta maaf atas kesalahan dan kekeliruan yang telah ku pilih hari ini. Maafkan aku yang tak bisa mewujudkan rasa baktiku pada kalian.



Maafkan aku yang tak bisa menerima pinangan dari lelaki pilihan Umi dan Abi, ada satu alasan yang tak bisa ku jelaskan saat ini.  Aku menyayangi Umi dan Abi, izinkan aku membalas rasa baktiku pada kalian suatu saat nanti, tanpa harus menerima perjodohan yang telah kalian sepakati, tapi untuk saat ini izinkan aku menghindar demi ketenangan hati. Tolong jangan mencariku*.


__ADS_1


Salam sayang penuh cinta


Adinda Fatimah Zara


Hari ini, adalah hari yang paling membuat hati Fatimah terguncang. Saat ia di hadapkan pada sebuah kenyataan bahwa orang tuanya terikat pada sebuah perjanjian perjodohan dengan salah satu sahabat karibnya ketika masih kecil.


"Piye Fat sudah siap belum? kamu itu sudah dewasa sudah sepatutnya untuk berumah tangga" Umi, bertanya seraya menuangkan semangkuk soto tepat di hadapan Fatimah.


Fatimah terdiam tak mampu memberikan jawaban. Ia lebih memilih untuk menunduk dan memberikan senyum termanisnya. Umi tidak boleh tahu, jika Fatimah sedang bersedih malam itu.


Sejak Fatimah lahir, ia telah di jodohkan dengan anak sahabat Abinya. Berkali-kali Umi mengingatkan padanya prihal perjodohan ini agar sang putri tidak terjerat dalam hubungan haram sebelum waktunya tiba.


Huft....


Fatimah hanya mampu menghela nafas yang panjang dan semakin menunduk. Jemarinya sibuk untuk meremas jilbab yang menjuntai menutupi surai panjangnya. Ia hanya sedang mencoba untuk terlihat baik-baik saja.


"Dia, berasal dari keluarga yang baik-baik Nduk. Atas izin Allah, merekalah yang telah menolong kita dari keterpurukan beberapa puluh tahun yang lalu. Mereka telah meminangmu, bahkan jauh sebelum kamu baligh. Sekarang mereka menginginkanmu untuk menjadi menantunya. Izinkan Abi,untuk menepati janji pada meraka nak"


Fatimah, semakin menunduk ketika lantunan kata sang Abi terucap dengan begitu tenangnya. Ia tak kuasa untuk memberikan penolakan langsung atas permintaan yang menyangkut hidupnya setelah ini. Fatimah memilih untuk beranjak meninggalkan orang tuanya dengan sopan.


Di sudut kamar, ia mulai menggelar sajadah menumpahkan segala gundah gulana yang mendera hati. Jiwanya menjerit, namun mulutnya terkunci tak bisa bersuara ketika sudah berhadapan langsung dengan orang tuanya.

__ADS_1


Ya Rabb, haruskah aku menerima perjodohan ini? sedang aku sendiri tak pernah sekalipun melihatnya. Desas-desus yang aku dengar, dialah sang putra mahkota yang memiliki sikap bringas dan tempramental. Akankah hamba ini sanggup untuk membersamai pria seperti itu.


Wahai Rabku, sebagai seorang wanita aku memimpikan sosok suami yang terbaik untuk membersamaiku dalam menyempurnakan separuh agama ini. Hamba yang hina ini, menginginkan sosok pendamping seperti sahabat Nabi, Abu Bakar As-Sidiq yang memiliki sifat dermawan. Tegas dan berani seperti Umar Bin Khatab, setia hanya pada satu istri seperti Ali Bin Abi Thalib. Akankah pria yang di jodohkan denganku memilki semua yang ku harapkan pada dirinya? Aku takut kecewa, aku takut terluka.


Ya Rab, maafkan hamba yang tak sempurna, namun terlalu banyak menuntut kesempurnaan atas hidup ini. 


Fatimah, kembali meneteskan air matanya pada sajadah yang tergelar di atas marmer dingin ketika teringat akan sosok pendamping impiannya. Ia bahkan berulang kali merapalkan do'a yang sama pada Rabnya demi untuk merayu sang pencipta.


Kini ia harus tersungkur pilu ketika harapannya di renggut paksa demi untuk mewujudkan rasa bakti dan cinta pada kedua orang tua. Malam itu di tengah gagap gempitanya sang malam Fatimah, memilih untuk meninggalkan sejenak istana yang telah memberikan kebahagian dalam hidupnya selama dua puluh tiga tahun ini.


*****


"Abi...." lengkingan suara terdengar menguar mengisi rumah bernuansa joglo yang jauh dari hiruk pikuk kota. Selembar kertas bertuliskan tinta biru telah tertinggal di atas sajadah sang putri bersamaan dengan lelehan bening yang masih basah.


"Ada apa Umi? malam-malam begini teriak-teriak?" jawab Abi, pria paruh baya yang sedang berzikir di kamarnya. Ia melangkah dengan tenang menuju sumber suara, tak lupa genggaman tasbih yang masih melekat di jari kanannya.


"Fatimah Abi. Fatimah..." desis Umi, dengan suara yang bergetar tak mampu menahan gejolak hatinya. Seketika kakinya terasa melunglai seakan tak bertulang. Wanita dengan gamis rayon motif bunga-bunga itu memilih untuk menjatuhkan bobot tubuhnya di atas kasur dengan membawa surat dalam genggamannya.


"Fatimah kenapa Umi?"


Jangan lupa dukungannya teman-teman like, komen dan subscribe. Jangan nabung bab ya, buat author semangat nulisnya 😊

__ADS_1


__ADS_2