Mengejar Cinta Fatimah

Mengejar Cinta Fatimah
Aku akan merebut berlian dan bidadariku kembali


__ADS_3

Bab 32


"Kamu hanyalah anak yang tidak di inginkan kehadirannya, sehingga Umi dan Abi terpaksa merawatmu!"


Perkataan Arman bagaikan kilatan petir di siang hari, terdengar sangat menyakitkan di telinga Fatimah. Hatinya terasa sakit sekali saat mendengar kenyataan yang sebenarnya.


"Arman, cukup!"


"Fatimah, jangan dengarkan abangmu itu Nak, kamu adalah putri kebanggaan Abi dan Umi."


Haji Maulana berusaha memeluk Fatimah, mencoba menenangkannya. Terlihat air mata yang sudah membasahi wajah mereka.


"Kenapa Abi tidak pernah memberitahu semua kebenaran ini? Bahkan, Umi tidak mau memberitahuku tentang semua ini sampai akhir hayatnya!" tangis Fatimah semakin pecah dan memilukan.


"Arman, pergilah dari sini! Atau kamu ingin wajah dan tubuhmu tidak berbentuk lagi?" Afif berkata dengan kilatan mata penuh amarah.


Arman membuang ludahnya dan menyeringai penuh ejekan ke arah Afif. "Kamu benar-benar lelaki bajingan! Baru juga menikah, sekarang sudah berniat ingin selingkuh!"


"Diam, bajingan!" Afif kembali menyerang Arman, melayangkan beberapa pukulan yang kuat ke wajah dan seluruh tubuh Afif, membuat Arman semakin tak berdaya. Dar*h sudah mengucur deras dari mulut, wajah dan pelipisnya.


"Afif, sudah!" Terdengar suara haji Maulana yang lemah, sambil memegangi dadanya yang semakin sesak.


"Abi!" teriak Fatimah histeris, membuat Afif membuang kasar tubuh Arman dan langsung menghampiri tubuh haji Maulana yang sudah tak sadarkan diri.


"Tolong, bawa Abi ke rumah sakit Mas!" Pinta Fatimah dengan wajah panik.


Afif mengangguk. Dia langsung mengangkat tubuh haji Maulana dan membawanya ke dalam mobil. Fatimah mengikuti langkah Afif dengan penuh rasa takut. Dia belum siap jika harus kehilangan orang yang di sayanginya lagi.


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, berkali-kali dia mengusap peluh yang mrngalir di dahinya. Melihat tsngis Fatimah yang memilukan membuat hati Afif sakit seperti teriris sembilu.


Akhirnya mereka sampai di rumah sakit, para petugas medis langsung menangani haji Maulana. Setelah di periksa ternyata kondisi jantungnya sudah sangat parah dan harus segera di lakukan tindakan operasi.


Fatimah semakin tidak kuasa menahan air matanya, Afif mencoba menenangkan dan Fatimah menyetujui tindakan operasi yang di ambil.


Fatimah terus memanjatkan do'a, air mata yang tadinya mengalir deras kini terasa kering, dia hanya bisa pasrah dengan mengikhlaskan dan menyerahkan kepada Sang Khaliq.


"Fatimah!" panggil Afif sambil menatap lekat Fatimah.

__ADS_1


"Terima kasih Mas, atas semua pertolonganmu. Aku janji akan mengganti semua biaya operasi Abi," ucap Fatimah tanpa membalas tatapan Afif.


"Jangan di pikirkan, ini semua adalah tanggung jawab aku," Afif berkata sambil tersenyum dan menatap penuh arti.


Perkataan Afif membuat Fatimah menatap ke wajahnya. Afif tersenyum manis membuat jantung Fatimah berdetak kencang. Untuk beberapa saat dia terpaku akan pesona dari seorang Afif Abizar.


"Istighfar Fatimah, ingat dia bukan mahrammu, bahkan, dia suami orang," ucap Fatimah dalam hati.


Saat Afif semakin terbius dengan pesona Fatimah yang selalu memberikan kedamaian di hatinya dan Fatimah yang berusaha keras menetralkan perasaannya, tiba-tiba asisten Afif datang membawakan beberapa makanan dan minuman.


"Tuan maaf, Nyonya Nabila mencari keberadaan Tuan," ucap asisten yang bernama Dion, sambil menundukkan wajahnya.


Perkataan Dion, membuat Afif dan Fatimah saling tatap.


"Pulanglah! Istrimu mencarimu! Aku tidak mau menambah masalah lagi." Fatimah berkata dengan penuh penekanan.


Terdengar Afif menghela napas. "Katakan kepadanya, jangan menungguku. Untuk beberapa hari ini aku sedang ada urusan penting!" tegas Afif, membuat Fatimah tersentak dan menatapnya tajam sambil mengerutkan keningnya.


"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi dulu." Dion berkata sambil mengangguk hormat ke arah Afif dan Fatimah. Dia pun langsung bergegas pergi meninggalkan mereka.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Fatimah dengan sorot mata tajam menatap Afif.


"Beliau juga sudah memberikan aku izin untuk meminang seorang bidadari berhati malaikat yang mampu membawa dan membimbingku ke dalam kebaikan." Afif berkata dengan suara bergetar menahan rasa sesak di dadanya.


Fatimah terdiam, dia melemparkan pandangannya. Dia juga merasakan nyeri dan sesak di dadanya. Dia tidak menyangka ternyata rasa cinta kepada Afif begitu kuat di hatinya, walaupun dia sudah berusaha untuk menepis semua rasa itu.


"Fatimah, apa kamu percaya dengan takdir?" Pertanyaan Afif, membuat Fatimah kembali menatap ke arah Afif.


"Aku sangat yakin, semua yang terjadi adalah ujian untuk cinta kita. Suatu saat nanti Allah pasti akan menyatukan kita kembali."


Perkataan Afif membuat hati Fatimah terasa sangat sakit, bahkan, tampak anak sungai sudah bermuara di matanya.


"Ya Allah, sesakit inikah mencintai makhlukmu?" Fatimah kembali bertanya di dalam hati. Dia berusaha untuk menahan agar anak sungai itu tidak mengalir membasahi pipinya.


"Lelaki beristri tidak boleh berbicara seperti itu kepada wanita lain!" tegas Fatimah dengan suara parau.


"Lelaki beristri ini akan segera berstatus single dan akan segera kembali mengejar cinta sang bidadari," ucap Afif tegas. Tentu sajs Fatimah kembali tersentak mendengar pernyataan Afif.

__ADS_1


"Kamu tidak boleh berbicara seperti ini! Apa kamu sadar, jika sikap dan perkataanmu ini akan membuat seseorang yang sudah jelas halal untukmu terluka?" Tanya Fatimah dengan suara meninggi.


"Apa kamu tega menjandakan istri demi seorang janda, hah?" Tanya Fatimah lagi dengan wajah memerah menahan amarahnya.


Pertanyaan-pertanyaan Fatimah membuat Afif terdiam dan hanya mampu menatapnya. Dia pun mendekati Fatimah beberapa langkah, membuat Fatimah harus mundur beberapa langkah, sampai akhirnya tubuh Fatimah menempel di tembok.


"Tuan Afif Abizar, jangan bersikap kurang ajar! Kalau tidak, aku akan berteriak!" ancam Fatimah membuat Afif tersenyum.


"Silahkan saja, jika kamu tidak ingin viral!" lagi-lagi Fatimah kembali tersentak sampai matanya melotot sempurna. Dia tidak menyangka jika Afif seberani dan senekad ini.


"Fatimah, kamu pasti sangat mengetahui siapa aku? Saat aku menjadi suamimu, apa aku pernah menuntut hakku?" Pertanyaan Afif membuat Fatimah terdiam dengan jantung yang semakin berdetak kencang, bahkan hembusan napas Afif terasa menyapu wajahnya.


"Perpisahan kita ini karena sebuah keterpaksaan. Melepaskan berlian sepertimu adalah kebodohan untukku. Aku akan kembali merebut berlianku," bisik Afif tepat di telinga Fatimah.


"Jika kamu menganggap aku sebagai bidadari dan berlian, kamu pasti sangat tahu bagaimana memperlakukannya?" Tegas Fatimah, membuat Afif tersenyum dan menatapnya penuh pesona.


"Aku tidak akan melepas berlianku. Aku berjanji akan segera mengambilnya kembali." Perkataan Afif membuat wajah Fatimah memerah, antara kesal dan tersanjung, tetapi dia tetap berusaha menyimpan perasaannya.


"Tuan Afif dan Nyonya Fatimah!" sebuah suara mengagetkan mereka. Fatimah bernapas lega karena dia bisa menghindari sikap gi*a Afif, dia pun bergegas menghampiri dokter.


"Doktar bagaimana keadaan Abi saya?" Tanya Fatimah dengan wajah sangat khawatir.


" Operasi berjalan lancar, Tuan Maulana akan kami pindahkan ke ruang observasi.


"Alhamdulillah, terima kasih Dok," ucap Fatimah sambil tersenyum dengan raut wajah bahagia, begitu juga dengan Afif.


"Berikan pengobatan yang terbaik untuk calon mertua saya." Kembali Fatimah tersentak dengan pernyataan Afif yang kini sudah berada di sebelahnya.


Tanpa mereka sadari, tampak seseorang yang sedang memperhatikan mereka dengan mata dan wajah memerah, dengan telapak tangan mengepal kuat.


*********


Hai pembaca setia aku, "Selamat Hari Raya Idhul Adha 1444H" semoga kita bisa di pertemukan lagi🤲🥰.


Hmm, siapa yang sedang memperhatikan Afif dan Fatimah dengan wajah penuh amarah?


Jangan pernah lewatkan di setiap upnya 🥰🤗

__ADS_1



__ADS_2