
Bab 12
Tidak terasa Afif, Anton dan Kiki sudah hampir sebulan berada di pesantren. Atas izin haji Maulana, Afif bisa bolak balik antara kampus dan pesantren, dia juga menyempatkan untuk pulang ke rumah sekedar menengok Bi Rina.
Afif mencoba untuk tidak berkomunikasi dengan Fatimah, walaupun mereka tinggal dalam satu lingkungan. Di Kampus juga mereka menjaga jarak. Afif bertekad untuk bisa menjadi seorang muslim sejati dan segera menyelesaikan skripsi, sehingga bisa cepat menyelesaikan wisuda.
*****************
Azhar terdiam mendengar laporan dari Mang Sardi dan seseorang yang di tugaskan untuk mengawasi gerak gerik Afif selama ini.
"Jadi gadis ini bernama Fatimah?" tanya Azhar, menatap foto Fatimah.
"Iya Tuan, gadis itulah yang sudah bisa merubah Tuan Muda"
Azhar mengangguk dan tersenyum mendengar penuturan anak buahnya yang bernama Haris.
"Terimakasih Haris, awasi terus gerak gerik Afif dan gadis itu, jangan sampai ada satu hal pun yang terlewatkan!"
"Siap Tuan!"
"Kamu boleh pergi, bayaran sudah masuk ke rekeningmu"
"Terimakasih Tuan"
Haris membungkukkan tubuhnya penuh hormat, dan berlalu dari hadapan Azhar.
Azhar kembali menatap foto Fatimah dan Afif yang di ambil beberapa kali di saat pertemuan tidak sengaja mereka.
Azhar membaca biodata Fatimah beserta keluarganya, senyum bahagia terukir di bibirnya.
"Maafkan Papah yang tidak pernah mempedulikan pendidikan agamamu" ucap Azhar dengan suara parau.
"Anjani, seandainya kamu masih hidup, pasti kamu sangat bangga dan bahagia melihat Putra kita belajar hijrah" ucap Azhar lagi, sambil mengusap air mata yang keluar tanpa permisi dari sudut matanya.
Dia membuka sebuah dokumen di lap top nya dengan logo AA, saat logo di klik keluarlah banyak foto dirinya, Anjani dan Afif yang masih kecil dan menggemaskan.
Azhar tersenyum menatap foto-foto itu, sampai terdengar suara pintu terbuka, saat dia melihat ke asal suara, tampak Sarah dengan pakaian seksi dan glamor di hiasi make up tebal di wajahnya, berjalan lenggak lenggok ke arah meja kerja Azhar.
Azhar langsung mengeluarkan dokumen yang sedang di lihatnya, dan mematikan lap topnya, dia tersenyum hangat ke arah Sarah.
"Sayang, ayolah, aku sudah lapar!" ucap Sarah, sambil merangkul Azhar dari belakang.
"Baiklah kita berangkat sekarang" ucap Azhar, mengelus lembut lengan Sarah, yang sedang memeluk lehernya.
Azhar mematikan lap topnya, dan segera beranjak dari duduknya, sambil memeluk pinggang Sarah, mereka segera melangkah pergi.
__ADS_1
***************
Tidak terasa waktu terus berlalu, melalui kesabaran dan ketekunan Afif sudah bisa melakukan gerakan dan bacaan shalat dengan baik dan fasih membaca Al Qur'an. Dia juga sudah mempelajari berbagai ilmu agama yang sudah di dapat di pesantren. Sedangkan, Anton dan Kiki memutuskan hanya waktu enam bulan mereka belajar di sana.
Hari ini adalah hari yang di tunggu sekaligus mendebarkan untuk Afif. Dia menatap pantulan dirinya di cermin dengan senyum mengembang. Dia benar-benar tidak menyangka, akhirnya dia bisa memakai jubah kebanggaan para Mahasiswa dan Mahasiswi lengkap dengan topi toga di kepalanya.
"Terimakasih Nak, kamu sudah berhasil menyelesaikan kuliahmu" ucap Azhar yang sudah berdiri di belakang Afif, sambil menepuk pelan pundak Putra semata wayangnya itu.
"Mamahmu pasti sangat bahagia melihat ini!" Azhar berkata dengan suara parau, mencoba menahan kesedihannya.
Afif menarik napas kasar..
"Kehilangan itu akan sangat terasa, jika dia sudah tiada!" ucap Afif, menatap lekat pantulan wajah Azhar di cermin.
Azhar tercekat mendengar perkataan Afif. Dia menyadari jika dulu kebahagiaannya dengan Anjani harus terhempas karena harta dan keegoisan mereka. Penyesalan pun datang terlambat saat Anjani pergi untuk selama-lamanya.
"Belajarlah dari kami!" Azhar kembali menepuk pelan pundak Afif.
"Aku akan mengejar bidadariku dan tidak akan melepaskannya" tegas Afif, dengan penuh keyakinan. Dia sudah berencana setelah wisuda dia akan datang kembali ke pesantren meminta Fatimah kepada kedua orang tuanya.
"Aku akan meminta gadis itu untuk menjadi menantuku!" Azhar berkata, sambil tersenyum.
"Ayo, kita berangkat sekarang!" ajak Azhar.
"Aku akan berpamitan dulu dengan Bi Rina"
Afif memeluk Bi Rina, di balas dengan pelukan hangat dan air mata.
"Bibi bahagia sekali melihat Tuan Muda"
"Setelah dari wisuda nanti, aku akan datang kepada orang tuanya dan memintanya sebagai istriku"
"Bawalah dia ke sini! Bibi sudah tidak sabar ingin melihat wajah yang sudah merubah hidup dan masa depan Tuan Muda"
"Dia bidadari surgaku Bi"
"Aamiin"
"Afif, ayo kita berangkat sekarang!" ucap Azhar sambil melihat ke arah jam branded di pergelangan tangannya.
"Berangkatlah Tuan muda! do'a Bibi menyertaimu"
"Terimakasih Bi, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
__ADS_1
Afif mencium punggung tangan dan kening Bi Rina, dia pun berlalu meninggalkan Bi Rina, yang menangis penuh kebahagiaan.
*************
Wisuda berjalan lancar, di luar dugaan ternyata Afif menyandang gelar Mahasiswa terbaik dengan IP tertinggi. Tampak wajah bangga dan bahagia di wajah Azhar, tetapi tidak dengan wanita muda di sampingnya, wajahnya tampak terlihat gusar.
"Aku tidak akan membiarkan semua harta warisan itu jatuh ke tangannya" ucap wanita muda yang tak lain adalah Sarah, dengan tatapan tajam dan senyum sinisnya menatap ke arah Afif yang sedang menerima penghargaan dan memberikan kata sambutan.
Setelah prosesi wisuda selesai, mobil mereka segera meluncur ke pesantren Darul Hikmah, senyum bahagia terus terlihat di wajah Afif, walaupun dadanya berdebar kencang. Dia tidak mempedulikan kehadiran Sarah yang ikut dalam rencananya hari ini.
Tak lama, mobil mewah mereka pun sampai di halaman pesantren Darul Hikmah. Afif dengan semangat langsung turun dari mobil. Namun, dia memicingkan matanya, karena ada tiga mobil mewah yang juga terparkir di halaman itu.
Afif melangkah dengan baju toga wisuda dan sertifikat penghargaan di tangannya, senyum terus mengembang di bibirnya.
"Assalamualaikum" ucap Afif saat sampai di depan kediaman haji Maulana.
Tampak keadaan rumah yang ramai, semua orang yang berada di sana menoleh ke arah Afif. Keluarga besar Fatimah langsung berdiri menatap Afif.
Afif mencoba tersenyum sambil melangkah ke dalam dan langsung mencium punggung tangan haji Maulana dan Umi Zahira, dan memberikan salamnya kepada semua orang di sana.
Azhar menahan langkahnya mengikuti Afif, firasatnya mengatakan jika ada sesuatu yang tidak mengenakkan.
"Mohon maaf, jika kedatangan saya di waktu yang tidak tepat" ucap Afif.
"Abi Maulana, saya datang sesuai dengan janji saya" ucap Afif lagi, yang di balas dengan tatapan sendu mereka.
Afif mengerutkan keningnya.
"Nak Afif, kenalkan ini Nak Arsyad dan ini kedua orang tuanya beserta keluarga besarnya".
Deg....
Arsyad.
*********************
Apa rencana Sarah di balik pernikahannya dengan Azhar?
Apakah kembalinya Rasyid dan kedatangan keluarga besarnya untuk melamar Fatimah?
Bagaimana Afif menghadapi kenyataan, jika benar Rasyid melamar Fatimah.
Perjuangan Afif yang semakin menguras emosi dan air mata.
__ADS_1