
Bab 16
Arman mencoba menghindari godaan wanita seksi itu, dia memang menjalin kerja sama dengan wanita itu, tetapi bukan untuk urusan ranjang.
"Ayolah, Arman!" bisik wanita itu dengan gerakan dan suara erotisnya.
"Aku akan membantumu untuk lepas dari belenggu keluarga haji Abdullah, asal kamu mau menuruti rencanaku" ucap wanita itu yang terus menggoda Arman.
Arman terdiam, dia berpikir jika wanita ini dan keluarga Abdullah memiliki tujuan yang sama. Sebenarnya Arman tidak peduli dengan siapa Fatimah berjodoh. Obsesi terpenting dalam hidupnya hanya satu, dia ingin menguasai semua harta warisan dari orang tuanya yang belum di ketahui oleh anak-anak yang lain.
Senyum smirk menghiasi bibir Arman, dia berpikir kenapa tidak memanfaatkan semua yang ada di depan matanya. Kesempatan tidak akan datang untuk kedua kali. Akhirnya dia pun melakukan hal yang sangat di larang, dia menyerah oleh rayuan dan pesona wanita seksi itu.
*****************
Sementara itu, setelah kejadian di kediaman keluarga haji Abdullah, Afif memutuskan untuk memajukan hari pernikahan mereka. Tentu saja saja Azhar menyambut bahagia kabar itu. Namun, membuat geram sebagian orang. Mereka pun menyusun rencana untuk menggagalkan pernikahan Afif dan Fatimah.
Hari bahagia yang di nanti pun tiba. Senyum kebahagiaan terlihat di bibir semua orang yang hadir, terutama Afif dengan hati berdebar, dia duduk di depan penghulu. Terlihat haji Maulana sudah siap menjadi wali Fatimah. Azhar dan Sarah sudah duduk di samping Afif.
Ilham tersenyum bahagia, sangat berbeda sekali dengan Arman. Tampak senyum smirknya dan mata yang menatap sinis ke arah Afif. Sedangkan Umi Zahira, Salma bersama Aisyah berada di ruang sebelah menemani Fatimah yang terlihat sangat gugup menanti kata-kata Ijab Qobul keluar dari mulut Afif.
Kiki, Anton dan Reynold pun hadir menyaksikan pernikahan sahabatnya itu. Mereka tidak menyangka seorang Afif dengan cepat mengambil keputusan besar dalam hidupnya.
"Apa acara sudah bisa di mulai?" Tanya penghulu, menatap haji Maulana.
"Apa kamu sudah siap Afif?" Haji Maulana membalikksn pertanyaan penghulu kepada Afif.
"InsyaAllah, siap Abi!" Afif berkata dengan penuh keyakinan.
" Acara bisa di mulai sekarang Pak" ucap haji Maulana, sambil tersenyum.
"Baiklah! Nak Afif, silahkan kamu jabat tangan Pak haji Maulana." Ucap pak penghulu, di balas anggukan oleh Afif.
Sambil tersenyum bahagia dengan penuh keyakinan Afif langsung menjabat tangan haji Maulana, membuat semua yang hadir kembali tersenyum. Tampak Arman dan Sarah saling melempar pandang dengan senyuman sinis, hanya mereka yang mengetahui arti senyuman itu.
"Afif Abizar, aku nikahkan engkau dan aku kawinkan engkau dengan pinanganmu, puteriku Fatimah binti Maulana Yusuf dengan mas kawin satu set perhiasan di bayar tunai"
__ADS_1
"Saya terima nikahnya Fatimah binti ...."
"Tunggu!"
Tiba-tiba sebuah suara lantang menghentikan prosesi Ijab Qabul, membuat semua orang yang hadir terkejut. Tampak Arsyad datang dengan wanita cantik dan anak lelaki berusia lima tahun di sampingnya.
semua tamu langsung berdiri menatap ke arah Arsyad, begitu juga dengan Afif menatap tidak percaya dengan sosok wanita yang hadir di hadapannya. Arman dan Sarah kembali melempar pandang dengan senyum penuh kemenangan.
"Nabila!" ucap Afif dengan wajah tidak percaya.
"I-itu khan Nabila" ucap Anton tidak percaya. Sedangkan Kiki dan Reynold hanya diam terpaku menatap ke arah Nabila.
"Pernikahan ini tidak sah, karena lelaki ini masih terikat pernikahan dengan wanita lain!" tegas Arsyad.
Perkataan Arsyad kembali membuat semua orang tersentak terutama Afif, mereka semua orang menatap bergantian antara Afif dan Nabila.
"Apa maksud semua ini Arsyad?" Tanya haji Maulana menatap tajam Arsyad.
"Lebih baik Abi tanya langsung kepada calon menantu kesayangan Abi ini" jawab Arsyad dengan tersenyum menatap Afif.
"Pak haji Maulana, kita akan membicarakan ini baik-baik dan kita dengarkan dulu penjelasan dari Afif" ucap Azhar dengan wajah memerah, menahan emosi dan malunya.
"Kita ke ruang keluarga!" ucap haji Maulana, yang langsung melangkah masuk ke dalam.
Afif mengusap kasar wajahnya, tampak kesedihan di wajahnya membayangkan jika pernikahannya dengan Fatimah akan gagal karena masa lalunya.
"Jadilah lelaki yang bertanggung jawab dan berani menghadapi kenyataan!" Azhar berkata, sambil menepuk pelan pundak Afif dan mengajaknya masuk ke dalam menyusul haji Maulana.
Arman, Sarah, Arsyad, dan wanita yang bernama Nabila beserta puteranya ikut melangkah masuk. Ilham meminta maaf kepada para tamu yang hadir, dengan sopan dia meminta para tamu untuk pulang.
Sementara di ruangan sebelah Fatimah menunduk, dengan dada yang bergemuruh menahan sesak. Umi Zahira dan Salma memeluk tubuh Fatimah sambil menangis.
"Jangan pernah menangisi sebuah takdir! Apa yang menjadi milik kita pasti tidak akan pergi meninggalkan kita, begitu juga sebaliknya seberapa kuat kita menahan dan memintanya, jika bukan menjadi milik kita, dia akan pergi tetap menjauh dan menghilang." Fatimah berkata dengan tersenyum, walaupun hatinya begitu kecewa dan sakit.
"Kamu wanita yang kuat Puteriku, Umi dan kami semua akan selalu berada di sampingmu" ucap Umi Zahira, mengelus lembut kepala Fatimah.
__ADS_1
"Terimakasih Umi" ucap Fatimah sambil memeluk tubuh sang Umi, sekuat mungkin dia menahan genangan air yang beranak sungai di manik mata beningnya.
Mereka pun menuju ruang keluarga yang sudah ada Afif, Azhar, Sarah, haji Maulana, Ilham, Arman, Arsyad, Nabila dan putranya. Suasana semakin tegang saat Fatimah, Umi Zahira dan Salma memasuki ruangan itu.
"Duduklah, Puteriku!" Ucap haji Maulana, sambil menepuk sofa di sampingnya. Dia mengelus lembut kepala Fatimah.
"Afif, jelaskan kepada kami siapa wanita dan anak ini?" Tanya haji Maulana sambil menatap bergantian Afif, Nabila dan anak lelaki berusia lims tahun itu.
Afif menghela napas, dia menatap nanar Fatimah. Membuat Fatimah memalingkan wajahnya.
"Nabila adalah masa lalu saya Abi" perkataan Afif membuat semua tercekat. Nabila membulatkan matanya sempurna menatap tidak percaya Afif.
"Apa yang kamu katakan Afif? Kamu hanya menganggap aku sebagai masa lalu! bagaimana dengan dia? Dialah adalah Rio darah dagingmu!" sergah Nabila, dengan mata berkaca-kaca, membuat Fatimah menatap lekat ke arah mereka dengan hati yang bergemuruh. Umi Zahra langsung memberikan elusan lembut di punggung Fatimah, mencoba untuk menguatkannya.
"Aku tidak yakin jika anak ini Puteraku! aku sangat mengenalmu Nabila!" jawab Afif, menatap tajam Nabila, membuat Nabila langsung berdiri.
"Kamu keterlaluan Afif! setelah apa terjadi di antara kita, sekarang kamu menuduh aku dan tidak mengakui anakmu sendiri!" Teriak Nabila dengan wajah memerah.
"Ini kenyataan Nabila! kamu pergi tanpa pamit, bahkan ksmu tidak mengatakan apapun,! kamu pergi seperti di telan bumi, dan setelah enam tahun berlalu tiba-tiba kamu datang dan mengatakan jika kamu istriku dan anak ini adalah Puteraku!" ucap Afif dengan wajah memerah.
"Cukup!"
**************
Setelah tiga hari ga up, akhirnya up dengan cerita yang di gantung😁🙏.
Benarkah, jika Afif dan Fatimah sudah menikah? Dan anak laki-laki berusia lima tahun itu putra Afif?
Apakah pernikahan Afif dan Fatimah tetap berlanjut atau sebaliknya?
Tunggu kish serunya di bab selanjutnya 🤗.
Maaf ya masih menulis untuk dua ongoing🙏.
Sambil menunggu up, mampir yuk ke novelku yang hampir tamat 🥰👇
__ADS_1