
Al, tertegun melihat wajah cantik wanita berkerudung hitam yang sedang berdiri tak jauh dari tempatnya berada saat ini. Jilbab hitam yang kontras dengan warna kulitnya membuat pancaran aura gadis itu kian meluap-luap. Terpaan angin yang mengibarkan jilbab panjangnya seakan menambah wujud sempurna karunia sang pencipta.
Adindaku...
Dalam lirih Al, berucap. Sudut bibirnya terangkat ke atas membentuk lengkung. Betapa beruntungnya ia hari ini, setelah sekian lama mencari keberadaan wanita itu. Kini asanya telah terwujud menemukan sang gadis. Bahkan alam pun tampak merestui pertemuan ke duanya terbukti mereka di pertemukan dalam tempat yang agung.
Cantik dan sempurna, walau tanpa polesan make up sama sekali.
Getar-getar hati Al, bekerja jauh lebih cepat dari sebelumnya. Jantungnya berpacu seakan ingin keluar dari ruangnya.
"Ehe Mm....."
"Sedang apa kalian di sini?" ucap salah satu wanita yang tak lagi muda.
"Sedang ngintip" jawab Lukman dengan entengnya tanpa melihat arah sumber suara.
"Ehem...." Deheman kembali menguar dari wanita tersebut.
Lukman, merasa ada yang mengusik ketenangannya, ia mulai memberanikan diri untuk membalikan tubuhnya.
"Astaga!!!" pekiknya dengan wajah yang panik. Ia baru sadar jika saat ini dalam masalah yang besar.
"Sedang apa kamu di sini?" beliau kembali mengulang pertanyaannya dengan tangan yang bertengger di pinggang.
__ADS_1
"Ehem..." Lukman berdehem pelan, sebagai kode pada Al, untuk menghentikan aksi gilanya siang itu.
"Ya ampun Man, kalau lagi batuk itu beli obat. Jangan ehem-ehem terus" ucap Al, memberikan reaksi. Matanya masih fokus menetap pemandangan indah yang ada di depan matanya.
"Hem...ehem,,,," Lukman kembali berdehem untuk kesekian kalinya sebagai tanda pada teman barunya.
Adinda, tunggu kakanda ya. Kakanda akan memperjuangkan Adinda hingga titik darah penghabisan. Kakanda rela jika harus tobat demi bisa bersanding denganmu.
Masih dengan berjuta angan-angan, Al tersenyum penuh harap, ia bahkan merasa sedang terbang dengan di kelilingi seribu kupu-kupu di kepalanya.
"Al, sudah ayo" Lukman menarik pelan baju yang di gunakan Al, ketika kode yang di berikan sama sekali tak membuat posisi Al berubah.
"Kalian ngintip ya? mau saya laporkan pada ustad Mansyur?" ucap Bu Rahmi, beliau adalah guru mengaji di masjid ini bersama dengan Bibi Aminah.
"Al, ayo kabur!" perintah Al, menarik lengan temannya.
Alih-alih kebur Al, memilih untuk maju dan mendekati Bu Rahmi, ia hendak mencium tangan wanita itu namun dengan segera di tepis oleh Bu Rahmi.
"Bukan muhrim" desisnya dengan jutek.
"Kalian itu bukannya bantu-bantu bersih-bersih malah asyik mengintip di sini. Apa perlu saya kasih hukuman?" Bu Rahmi menatap wajah AL dan Lukman secara bergantian. Dalam lingkungan tempat tinggalnya saat ini, B u Rahmi terkenal dengan pribadinya yang jahat ketika mengajar. Ia tak segan-segan memberikan hukuman pada siapapun yang melanggar aturannya.
Akal Al, bekerja dengan cepat. Ia dengan memelas mengharap hukuman daeri Bu Rahmi.
__ADS_1
"Bu Rahmi, hukum saja saya. Saya memang salah telah melihat para wanita itu tanpa izin"
Al menunduk, ia berharap Bu Rahmi akan memberikan hukuman dan menahannya di sini agar bisa melihat Adindanya lebih lama lagi.
"Al, kamu gila ya? kamu belum mengenal wanita ini!" bisik Lukman merasa geram dengan ulah temannya.
"Saya memang salah Bu"
"Gila ya, ada ya anak model seperti ini, dasar manusia krisi iman" bisik Lukman kembali.
"Justru karena aku miskin iman aku mau sekalian belajar di sini!" jawan Al dengan yakin.
"Pergi ke halaman samping dan bersihkan bagian sisi jamaah laki-laki sekarang"
"Sekarang!"
"Baik Bu Rahmi, saya dan Lukman akan membersihkan"
"Eh kenapa bawa-bawa aku? yang di suruh kan kamu" Lukman jengah.
"Ayo" Al menarik paksa baju yang di kenakan Lukman membuat pria itu mengumpat sepanjang jalan menuju bagian tempat laki-laki.
"Ayo!!!"
__ADS_1