Mengejar Cinta Fatimah

Mengejar Cinta Fatimah
Pemakaman


__ADS_3

Bab 31


Mobil jeep hitam itu langsung menghalangi laju mobil Salman, membuat Salman harus menginjak rem secara mendadak, Fatimah dan Iham pun langsung tersentak.


Tampak tiga orang berbadan tinggi besar, turun dari mobil jeep hitam itu dan langsung menghampiri mobil Salman, dengan kasar mereka langsung memukul jendela mobil dan berteriak meminta mereka turun.


Fatimah, Ilham dan Salman pun segera turun. Salah satu di antara mereka langsung menarik kasar tangan Fatimah, membuat Fatimah langsung menjerit dan berusaha melepaskan tangan kekar lelaki itu.


"Kurang aj*r! jangan berani menyentuh adikku!" teriak Ilham dengan wajah merah padam. Dia berusaha untuk menyelamatkan Fatimah, tetapi sebuah bogem mentah langsung mendarat ke wajahnya, membuatnya tersungkur ke tanah.


"Bang Ilham!" teriak Fatimah yang mulai menangis.


"Lepaskan!" Fatimah menggigit tangan lelaki kekar itu dengan sangat kuat, membuat lelaki itu meringis kesakitan dan langsung melepaskan pegangannya dan Fatimah pun langsung menendang kuat ke arah ************ lelaki itu, membuat lelaki itu kembali mengerang kesakitan sambil memegang selangkangannya.


Fatimah langsung berlari menghampiri Ilham, tampak wajah Ilham yang lebam dan dar*h yang keluar dari sudut bibirnya. Sementara itu, Salman terlihat masih bergelut dengan kedua lelaki berbadan kekar lainnya.


"Abang, ayo bangun!" Fatimah berkata, sambil mengangkat tubuh Ilham.


Ilham pun berusaha bangun, tetapi, tiba-tiba sebuah sepeda motor melaju sangat kencang dan langsung menabrak tubuh Ilham membuat tubuh Ilham terpental, sedangkan tubuh Fatimah ikut tersungkur ke aspal karena dorongan kuat dari Ilham untuk menjauh dari tubuhnya.


"Bang Ilham!" pekik Fatimah langsung berlari menghampiri dan memeluk tubuh Ilham yang berlumuran dar*h.


Salman langsung menghentikan baku hantamnya saat mendengar teriakkan Fatimah, membuat dia kehilangan kewaspadaannya. Tepat saat itu juga sebuah belati tajam menancap tepat di perut Salman, membuatnya mengerang kesakitan dengan dar*h yang mengucur dari perutnya dan dia pun kehilangan kesadarannya.


***************


Fatimah menangis tersedu-sedu di atas gundukkan tanah merah dengan nisan bertuliskan Muhammad Ilham bin Maulana Sihab.


Haji Maulana hanya bisa memejamkan mata menshan sesak dan kesedihan di hatinya sambil memeluk Fatimah. Satu persatu pelayat pun meninggalkan pemakaman, kini hanya tersisa Fatimah dan haji Maulana.


"Lebih baik kalian pergi dari kota ini karena tidak ada lagi yang bisa kalian harapkan dengan kehidupan di sini!" sebuah suara bariton yang sangat familiar di telinga mereka, bagaikan sebuah belati yang menusuk jantung mereka.


"Arman!" seru haji Maulana langsung berdiri, dia tidak percaya dengan penglihatan dan pendengarannya. Seorang anak yang sudah di rawat dari bayi ternyata berubah menjadi seekor ular berbisa yang siap memakannya hidup-hidup.

__ADS_1


"Apa maksudmu, Bang? Apa sudah hilang sopan santun dan etikamu terhadap orang tua?" Tanya Fatimah dengan suara meninggi dan wajah memerah.


"Dasar wanita pembawa sial, berani sekali kamu membentakku, hah!" hardik Arman, yang hendak melayangkan tangannya ke wajah Fatimah. Namun, ada tangan kekar yang menahan tangannya.


"Hanya lelaki pengecut yang berani dengan wanita!" Arman tersentak, saat melihat siapa lelaki yang berada di sampingnya.


"Afif!" seru Arman berusaha melepaskan tangannya dari pegangan Afif yang sangat kencang.


"Kamu di besarkan dan dididik di lingkungan yang penuh dengan nilai agama dan kehangatan dari keluarga yang utuh, orang tua saudara-saudara yang sangat menyayangi dan penuh perhatian. Beginikah balasanmu terhadap mereka?" Afif bertanya dengan tatapan tajam ke arah Arman.


"Aku curiga, jika kejadian tragis ini ada sangkut pautnya denganmu." Afif berkata, dengan tatapan penuh selidik.


Perkataan Afif membuat Arman tesentak dan seketika wajahnya langsung memucat. Begitu juga dengan Fatimah dan haji Maulana, dengan wajah tidak percaya mereka juga menatap penuh selidik ke arah Arman.


"Jangan sembarangan bicara kamu! Ini sama saja dengan fitnah! Aku bisa menuntutmu karena pencemaran nama baik!" Arman mengancam dengan wajah memerah karena amarah, gelisah dan ketakutan.


"Oh ya, bagaimana jika aku bisa membuktikannya dan menyeretmu ke jeriji besi?" Pertanyaan Afif membuat wajah Arman memucat, dia pun tampak menelan salivanya.


Haji Maulana yang selalu terlihat sabar dan wajah yang teduh, kini mulai di kuasai amarah. Telihat dadanya naik turun menahan gemuruh di dadanya. Jika benar Arman terlibat atas kejadian naas itu, dia tidak akan pernah memaafkannya.


Arman kembali menelan kasar salivanya, dia menatap geram ke arah Afif. Kebenciannya dari awal insiden di jalan raya waktu itu, membuat kebencian yang mendarah daging itu berubah menjadi dendam.


"Cepat katakan yang sebenarnya, Arman!" bentak haji Maulana sambil mencengkeram kuat kerah kemeja Arman.


"Ini fitnah! Aku tidak pernah terlibat dengan semua yang menimpa Bang Ilham dan Fatimah!" teriak Arman yang langsung melepaskan cengkeraman haji Maulana dan dengan kasarnya mendorong kuat tubuh lelaki yang sudah puluhan tahun merawatnya sampai tersungkur ke tanah


"Abi!" teriak Fatimah, langsung menghampiriku tubuh haji Maulana.


"Kurang aj*r! ucap Afif langsung melayangkan bogem mentahnya ke wajah Arman, membuatnya langsung tersungkur ke tanah.


Afif berkali-kali melayangkan pukulannya ke arah wajah Arman, sampai akhirnya sebuah suara mengehentikannya.


"Hentikan Mas?" ucap Fatimah dengan mata yang sudah beranak sungai.

__ADS_1


"Kamu bisa membunuhnya, bagaimana pun dia adalah abangku, di dalam dar*hnya mengalir darah kami." Fatimah berkata dengan suara parau.


Terdengar suara yang menggema sambil tertawa. "Percaya diri sekali kamu anak pembawa si*l! Kamu pikir aku mau jadi kakakmu, hah!" terlihat Arman yang berusaha berdiri dengan wajah sudah babak belur.


"Apa maksudmu, Bang?" Fatimah bertanya dengan suara bergetar, dia yakin jika ada suatu besar di keluarga mereka.


"Fatimah, apa pun yang di katakannya jangan pernah kamu percaya." Haji Maulana berkata sambil memegang lembut pundak Fatimah.


"Fatimah tidak apa-apa Abi, biarkan dia selesaikan bicaranya!" Fatimah berkata sambil mencoba menahan sesak di dadanya.


Arman tertawa sinis mendengar perkataan Fatimah.


"Kamu yakin ingin mendengar semuanya?" Arman bertanya kembali sambil tertawa, memperlihatkan beberapa giginya yang berwarna merah dari darah akibat pukulan Afif yang bertubi-tubi.


Afif yang sangat kesal dengan Arman berniat untuk menghajar Arman kembali. Namun, Fatimah menghalanginya.


"Biarkan, dia menjelaskan apa yang di ketahuinya!" sergah Fatimah sambil menatap sendu Afif.


Afif terpaksa menahan semua amarahnya demi Fatimah, sedangkan haji Maulana merasakan sakit dan sesak di dadanya. Tampak senyum kemenangan di wajah Arman.


" Fatimah Assyifa Khairunnisa, nama yang sangat cantik dan di banggakan oleh kedua orang tuaku," ucap Arman sambil tersenyum sinis.


Afif menatap geram Arman, sambil mengepal kuat kedua telapak tangannya dan rahang wajah yang mengeras menahan amarahnya, sedangkan haji Maulana merasakan dadanya semakin sesak.


"Akan tetapi sayang, kamu itu bukan anak Umi dan Abi."


**************


Alhamdulillah bisa up lagi.


Apa benar jika Fatimah bukan anak dari Haji Maulana dan Umi Kulsum?


Cerita semakin seru dan masa lalu semakin terkuak.

__ADS_1


Jangan pernah lewatkan kelanjutannya🤗🥰.



__ADS_2