Mengejar Cinta Fatimah

Mengejar Cinta Fatimah
Akhirnya Menikah


__ADS_3

Bab 18


Nabila menunduk sambil terisak, dia tidak menyangka jika dirinya sudah tidak berarti lagi untuk hidup seorang Afif. Melihat bagaimana dulu Afif memperjuangkan cinta mereka, bahkan, berani menikah tanpa restu kedua orang tuanya di usia mereka yang masih belia.


Nabila merutuki kebodohannya karena sudah melepaskan seorang Afif Abizar. Apa lagi Afif sekarang sudah mampu menyelesaikan kuliahnya, dan semua harta warisan dan kekayaan orang tuanya akan jatuh ke tangan Afif.


"Kenapa loe baru datang Bil, di saat semua sudah terlambat?" Tanya Kiki menatap sendu sahabatnya.


"Gue pikir, Afif cinta mati sama gue! dan ga mungkin ada wanita lain di hatinya, selain gue!" sergah Nabila, sambil mengusap kasar air matanya.


"Namanya cowok, pastilah hatinya akan berubah, jangankan loe yang sudah enam tahun menghilang, cewek masih ada di depan matanya aja, tuh cowok masih bisa selingkuh" perkataan Kiki membuat Nabila terdiam.


"Selama enam tahun Afif selalu menunggu loe Bil, gue aja ga pernah di lirik tuh sama dia, walaupun, setiap ketemu gue rajin banget godaan dia" ucap Kiki sambil tersenyum, membuat mata Nabila membulat menatapnya.


"Tenang Bil, Afif ga pernah tertarik sama gue" Kiki berkata sambil membenarkan jilbab yang kini menghiasai wajahnya.


"Ki, menurut loe apa sie kelebihan wanita berjilbab itu di banding gue? Dan loe ngapain juga ikut-ikutan pakai jilbab?" Tanya Nabila, sambil menarik pelan jilbab Kiki.


"Menurut bonyok gue ( bokap, nyokap ) dan semua orang di sekitar gue terutama Afif, katanya gue lebih cantik memakai jilbab" ucap Kiki sambil tertawa dengan gaya centilnya.


"Afif, bilang begitu?" Tanya Nabila tak percaya.


"Menurut loe, gue ga cantik gitu?" Tanya Kiki dengan wajah cemberut.


"Apa gue pakai jilbab saja ya? Biar Afif bisa jatuh cinta lagi sama gue" Nabila berkata dengan secercah harapan dan senyum di wajahnya. Kiki terdiam mendengar perkataan Nabila.

__ADS_1


"Menurut Fatimah, menutup aurat dan memakai jilbab itu harus di niatkan karena Allah, bukan karena seseorang atau apa pun" jawab Kiki, membuat senyum Nabila menghilang seketika.


"Baiklah, gue akan membuktikan siapa yang pantas menjadi pendamping Afif" ucap Nabila dengan senyum smirknya, membuat Kiki menelan kasar salivanya.


******************


Haji Abdullah kembali mengambil alih pesantren Darul Hikmah dan membuat keluarga haji Maulana angkat kaki dari tanah yang sudah di tinggali mereka selama puluhan tahun. Ternyata sertifikat kepemilikan tanah itu masih menjadi milik haji Abdullah. Mereka tidak menyangka jika orang yang sangat di hormati dan sudah di anggap seperti keluarga sendiri adalah orang yang sangat licik.


Azhar mencoba menawarkan bantuan kepada haji Maulana untuk membangun pesantren baru. Namun, dia menolak dengan alasan tidak mau berhutang budi seperti yang terjadi antara dia dan haji Abdullah. Bermodalkan dengan sisa hartanya, dia membeli lahan yang tidak terlalu besar lengkap dengan bangunan untuk tempat tinggal mereka.


Tepat satu bulan setelah Afif dan Fatimah gagal menikah, tidak menyurutkan langkah Afif untuk kembali memperistri Fatimah. Pernikahan mereka akan di laksanakan kembali dengan cara yang sangat sederhana, tanpa mengundang banyak orang, sehingga tidak banyak orang yang mengetahui pernikahan mereka termasuk Arman.


Setelah hari di mana gagalnya pernikahan adiknya, Arman justru dengan terang-terangan meminta haknya untuk mendapatkan bagian atas harta yang menjadi miliknya. Tentu saja permintaan dan sikap Arman membuat kedua orang tuanya kecewa, sehingga Umi Zahira jatuh sakit dan keadaan Salma yang mengidap kanker rahim semakin memperihatinkan.


Afif dan Azhar meminta izin kepada haji Maulana untuk membawa Umi Zahira dan Salma keluar negeri untuk melakukan pengobatan. Namun, kembali bantuan itu di tolak oleh haji Maulana dan akhirnya kanker yang menggerogoti tubuh Salma sudah ada di stadium empat atau stadium akhir, sampai akhirnya Salma menghembuskan napas terakhirnya.


Hari ini tepat di hadapan Umi Zahira yang sudah terbaring tak berdaya, Afif dan Fatimah mengucapkan janji suci pernikahan. Saat Afif selesai mengucapkan Ijab Qobul, suasana haru sangat terasa, terlihat Fatimah yang sudah tidak bisa menahan buliran bening yang terus memaksa keluar dari awal prosesi akad akan di mulai, sampai akhirnya dia pun terlihat menangis terisak di pelukan haji Maulana.


"Fatimah, kamu sekarang sudah menjadi seorang istri, tanggung jawab Abi dan Umi kini sudah berpindah ke tangan suamimu" haji Maulana berkata, sambil mengusap lembut kepala Fatimah. Sedangkan Umi Zahira hanya bisa mengeluarkan air mata kebahagiaan, tanpa mampu berkata apa pun.


"Umi, jangan menangis! Fatimah berjanji, akan selalu menjaga Umi dan Abi." Ucap Fatimah sambil menggenggam jemari Uminya, air mata terus mengalir deras di pipi mereka.


"Abi, mulai saat ini, bukan saja Fatimah yang menjadi tanggung jawab saya, tetapi Umi dan Abi sekarang menjadi tanggung jawab saya juga! tolong berikan do'a kalian di setiap langkah kami dalam mengarungi mahligai rumah tangga" pinta Afif sambil bersimpuh di hadapan haji Maulana.


"Do'a kami sebagai orang tua selalu menyertai langkah kalian, jagalah dan sayangilah Fatimah sebagaimana kami menyayangi dan menjaganya dari kecil" haji Maulana berkata sambil mengusap air matanya.

__ADS_1


"Jika suatu saat, kamu sudah tidak menginginkannya, jangan perlakukan dia dengan kasar apa lagi sampai memukulnya, tetapi, kembalikanlah dia kepada kami." Haji Maulana berkata lagi dengan suara parau, membuat suasana haru semakin terasa.


"Saya berjanji tidak akan pernah menyakiti apa lagi memperlakukan kasar Fatimah, karena dia lah yang akan membawa jalan saya ke surga kelak" jawab Afif, yang di Aamiinkan oleh mereka semua.


Tanpa mereka sadari, tatapan penuh sinis tampak di wajah Sarah yang tertutup oleh make up tebal. Dia meraih ponsel di dalam tasnya dan mengirimkan sebuah pesan.


[ Lakukan semua dengan baik, tetapi aku tidak mau terjadi sesuatu kepada Afif ].


Senyum sinis kembali terukir di bibir merah Sarah saat pesan terkirim. Dia melirik ke arah Azhar yang mengusap air matanya karena haru. Namun, kebahagiaan tampak terpancar di wajahnya.


"Maafkan aku tua bangka, sepertinya aku sudah lelah bersamamu dan sudah terlalu lama aku tenggelam di dalam permainan ini" ucap Sarah dalam hati, dengan tatapan tajam dan senyum penuh misteri.


********************


Akankah Afif dan Fatimah hidup bahagia dalam mengarungi bahtera rumah tangga mereka?


Apa yang di rencanakan Sarah?


Siapakah Sarah sebenarnya?


Apa tujuan dia sebenarnya menikah dengan Azhar?


Jangan pernah lewatkan bab selanjutnya ๐Ÿค—.


Mohon maaf untuk bab ini ceritanya lebih Author persingkat lewat narasi, karena di bab selanjutnya kita akan lebih berfokus kepada kisah rumah tangga Afif dan Fatimah yang penuh dengan drama, air mata, masa lalu, kebencian dan dendam, yang pastinya akan menguras emosi kalian๐Ÿ˜๐Ÿ˜.

__ADS_1



__ADS_2