Mengejar Cinta Fatimah

Mengejar Cinta Fatimah
Kewajiban kita sebagai suami istri


__ADS_3

Bab 58


"Tolong,"


"Fatimah,"


Suara-suara begitu terdengar jelas di gendang telinga Fatimah. Terlihat kegelisahan di matanya yang kini sedang terpejam sempurna. Deru napasnya begitu memburu.


"Fatimah,"


"Tolonglah aku!"


Suara-suara itu kembali menggema. Seluruh tubuh Fatimah mendadak menggigil, terapi peluh membasahi seluruh wajah dan tubuhnya. Dia merasakan mata yang sangat sulit sekali untuk di buka, lidah yang terasa sangat kelu, jangankan untuk berteriak, mengeluarkan satu kata saja terasa sangat sulit.


Fatimah merasakan tubuhnya yang kaku, sehingga tidak mampu untuk di gerakkan. Suara itu kini di iringi dengan siluet seorang pria yang sangat di kenal Fatimah. siluet itu terlihat sedang merintih kesakitan dan kembali meminta tolong dan memanggil namanya.


Tidak terasa air mata Fatimah mengalir deras dari sudut matanya. Bahkan, dadanya terasa sangat sesak, ingin sekali dia berlari menghampiri siluet itu dan memeluknya. Namun, dia tidak mampu melakukannya, sampai akhirnya, dia melihat siluet seorang wanita datang dengan tiba-tiba sambil mengulurkan tangannya kepada siluet pria itu.


Siluet pria itu, sempat melihat ke arah Fatimah sebelum menerima uluran tangan dari siluet wanita itu. Dada Fatimah semakin sesak, saat kedua siluet itu melangkah menjauh darinya, air matanya semakin deras dengan isakan pilu yang sangat menyayat hati.


"Fatimah, bangunlah!"


Sebuah suara bariton yang begitu lembut dan sedikit guncangan di bahunya, menyadarkan Fatimah, sehingga dirinya mampu membuka mata. Tampak wajah yang sangat tampan dengan kedua mata biru sedang menatapnya penuh dengan rasa khawatir.


Fatimah langsung terbangun dan memeluk pemilik mata biru itu. Seketika tangisnya pecah di dada pria yang tak lain adalah Mark.


Mark terdiam sesaat, tangannya sangat ragu untuk membalas pelukan Fatimah, walaupun, sang istri adalah miliknya yang halal untuk di sentuh. Sambil menarik napas dalam-dalam, dia membalas pelukan Fatimah dan mengelus lembut punggungnya, mencoba memberikan ketenangan.


Hampir setengah jam Fatimah menumpahkan segala kesedihan dan sesak di hatinya, sampai dia tersadar saat merasakan sebuah kecupan hangat di puncak kepalanya. Dia segera melepaskan pelukannya membuat Mark tersentak.


"M-maaf Fatimah, aku tidak bermaksud ...." Mark tidak melanjutkan ucapannya, saat Fatimah mencium punggung tangannya.


"Aku yang seharusnya minta maaf. Istri macam apa aku ini? Sudah mempunyai suami, tetapi terus memikirkan pria lain," ucap Fatimah, menyembunyikan wajahnya di punggung tangan Mark.


"Maafkan aku sudah menangisi seseorang yang bukan mahramku di depanmu." Fatimah berkata, sambil mengangkat wajahnya menatap Mark dengan penuh penyesalan.

__ADS_1


Mark terdiam menatap lekat Fatimah, mencoba mencerna apa yang di katakannya. Ada kebahagiaan dan kehangatan merasuki hatinya, seulas senyum kebahagiaan tampak di bibir tipisnya.


"Ya Allah, apa ini jawaban atas do'aku," Mark berkata di dalam hati dengan penuh kebahagiaan. Tetapi, Mark segera menepis semuanya, ketika dia teringat kabar yang baru saja di terimanya tentang keadaan Afif.


Mark yang baru saja mendapatkan berita dari Alex tentang apa yang terjadi dengan Afif, merasa sangat khawatir, sehingga dia segera menghubungi Alex. Namun, di tengah pembicaraan mereka yang serius, tiba-tiba dia mendengar Fatimah menangis, dan membuatnya menghentikan obrolan dengan Alex.


"Aku tidak boleh egois, Fatimah adalah amanah yang harus aku jaga. Aku tidak akan membiarkan hawa nafsu mengalahkan semuanya." Mark berkata lagi dalam hati.


Mark merasakan telapak tangannya menyentuh kulit yang begitu halus dan lembut, dia juga merasakan sentuhan bibir hangat di telapak tangannya. Ternyata, Fatimah membawa tangan Mark ke wajahnya dan menciumi telapak tangan Mark.


"Maafkan aku, Suamiku," Fatimah berkata, sambil menciumi terus telapak tangan Mark, tanpa berhenti menangis dengan wajah penuh penyesalan.


"Fatimah, tolong jangan seperti ini," ucap Mark lembut sambil melepas pelan tangannya dari genggaman Fatimah. Dia tidak percaya jika Fatimah memanggilnya dengan sebutan suami.


Mark mengusap lembut air mata Fatimah. Dia tersenyum hangat, mencoba menahan hasratnya untuk tidak memberikan sentuhan lebih kepada Fatimah.


"Apa kamu bermimpi buruk tentang Afif?" Tanya Mark dengan dada berdegup kencang. Dia yakin jika Fatimah bermimpi tentang Afif.


"Sekali lagi aku minta maaf," jawab Fatimah dengan suara parau sambil menundukkan wajahnya.


Mark menghela napas dan memejamkan matanya sesaat, sambil berkata di dalam hati. "Perasaanmu sangat kuat terhadapnya Fatimah."


"Tenanglah! Afif baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir." Mark mencoba menenangkan Fatimah.


"Apa aku boleh bertanya sesuatu?" Tanya Fatimah dengan wajah ragu.


"Apa pernah aku melarangmu untuk bertanya kepadaku?" Mark balik bertanya dengan raut wajah menggoda sambil tertawa kecil, membuat wajah Fatimah bersemu merah.


"Hai, kenapa wajahmu memerah? Apa ada yang salah dengan ucapanku?" Mark berkata sambil mengusap rambutnya sendiri dan berkata dengan gaya yang terus menggoda.


Sesaat Fatimah tertegun, dia menatap wajah Mark tanpa berkedip. Wajah yang sangat sempurna sebagai seorang laki-laki, membuatnya tidak percaya jika sosok yang berada di depannya adalah suaminya.


"Selain menyelamatkanku, apa ada alasan lain, kenapa kamu menikahiku?"


Pertanyaan Fatimah membuat senyum Mark memudar. "Aku sudah menjelaskan jika dulu aku sudah berniat untuk mengkhitbahmu," jawab Mark sambil menatap Fatimah.

__ADS_1


"Ketika seorang laki-laki melakukan khibah terhadap wanita, pasti ada alasannya, kenapa dia melakukan itu?" Tanya Fatimah lagi menatap lekat Mark.


Mark menarik napas kasar. "Fatimah, apa alasanku penting untukmu? Kita sekarang sudah hidup sebagai suami istri!" tegas Mark. Jauh di lubuk hatinya terasa sakit, jika cinta istrinya untuk lelaki lain.


"Jika kamu menikahiku karena rasa cinta, aku akan belajar dan terus belajar, karena aku yakin cinta akan tumbuh dengan seiringnya waktu." Fatimah berkata dengan wajah yakin menatap Mark.


Mark kembali menarik napas kasar, meraih jemari Fatimah dan berkata. " Aku akan menjagamu, jangan pernah melakukan sesuatu yang membuatmu tersiksa." ucap Mark membuat Fatimah mengerutkan keningnya.


"Sudah aku bilang kamu adalah amanah yang akan ku jaga," ucap Mark, membuat Fatimah melepas kasar genggaman Mark di jemarinya, dia pun langsung bangun dari tempat tidur.


"Seharusnya kamu membantuku menjadi istri yang Solehah dan menjalankan semua kewajibanku!" tukas Fatimah, dengan suara yang cukup tinggi membuat Mark tersentak.


"Mas Afif adalah masa laluku dan kamu adalah masa depanku! Tolong bantu aku melaksanakan semua kewajibanku sebagai seorang istri!" Fatimah berkata, dengan buliran bening yang sudah membasahi kedua pipinya.


Mark langsung berdiri dan menghampiri Fatimah. Tetapi, Mark tertegun saat Fatimah berniat melepas jilbabnya.


"Fatimah, apa yang kamu lakukan?" Mark berkata sambil menghentikan tangan Fatimah.


"Apa aurat aku tidak pantas untuk kamu lihat, Mas?" Tanya Fatimah membuat Mark terdiam.


"Maaf, apa kamu lelaki yang normal Mas?" Pertanyaan Fatimah membuat Mark benar-benar tersentak. Dia tidak menyangka jika Fatimah berpikir sejauh itu.


"Maksudmu?" Tanya Mark, di jawab seulas senyuman oleh Fatimah.


"Kalau kamu normal, ayo kita lakukan sekarang kewajiban kita sebagai suami istri," ajak Fatimah, merapatkan tubuhnya dan mengikis jarak di antara mereka.


Mark tidak menjawab, dia menelan kasar salivaya saat merasakan hangatnya tubuh Fatimah. Baru pertama kali dia merasakan getaran yang sangat hebat saat bersentuhan dengan seorang wanita.


...****************...


Akankah, Fatimah dan Mark melakukan kewajiban mereka sebagai suami istri?


Bagaimana nasib Afif, setelah menyetujui persyaratan Sony?


Tunggu up selanjutnya ya.

__ADS_1


Terima kasih untuk kesabaran kalian ya 🤗🙏.



__ADS_2