
Bab 53
Pernikahan Fatimah dan Mark di gelar dengan sangat sederhana, mengingat keadaan yang masih belum kondusif. Pernikahan mereka hanya di hadiri Alex, Grace dan beberapa kolega mereka.
Fatimah tersentak, saat Mark menyebutkan satu nama dengan tarikan satu napas saat pengucapan ijab qobul. Tidak terasa air mata mengalir di pipinya. Dia teringat saat pernikahannya dengan Afif, hatinya bagaikan teriris sembilu, mengingat orang-orang yang hadir saat pernikahannya dengan Afif.
Kata sah yang terdengar bersamaan dari semua orang-orang yang hadir saat ini, membuat air mata Fatimah semakin mengalir deras. Sepanjang do'a dia terus menangis, sampai tiba waktunya dia mencium punggung tangan Mark.
Hati Mark begitu sakit melihat air mata Fatimah, dengan penuh kasih sayang, dia langsung mengusap air mata Fatimah, mencium keningnya dan membawanya ke dalam pelukannya. Isakan Fatimah bagaikan menyayat hati di hari bahagia mereka.
Grace memberikan selamat dan memeluk hangat Fatimah, membuat mereka menangis bersamaan. Antara bahagia dan sedih yang di rasakan mereka.
Setelah acara selesai, Mark meminta izin kepada Alex dan Grace untuk membawa Fatimah ke tempat tinggalnya. Awalnya dia ingin membawa Fatimah untuk tinggal di rumah mewahnya. Namun, sambil menunggu semua keadaan kondusif, Mark terpaksa membawa Fatimah untuk tinggal sementara di salah satu apartemennya yang tidak di ketahui banyak pihak.
Alex dan Grace dengan berat hati melepas Fatimah. Tetapi, mereka yakin jika Mark yang tepat dan mampu untuk melindungi Fatimah.
...****************...
Tak lama waktu berselang, Fatimah dan Mark tiba di sebuah apartemen yang tidak terlalu besar. Mark sengaja membawa Fatimah ke apartemen itu untuk menghindari sesuatu yang bisa mengancam keselamatan Fatimah.
"Maaf, jika aku harus membawamu tinggal di tempat sederhana seperti ini," ucap Mark, saat mereka memasuki apartemen sambil menatap lekat Fatimah.
Fatimah mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Dia berdecak kagum, melihat ruangan yang sangat rapi dan bersih. Ruangan yang kecil, tetapi terlihat elegan.
"Aku sudah terbiasa hidup dalam kesederhanaan. Bagiku tempat ini sangat nyaman dan layak untuk di huni," jawab Fatimah sambil membuka koper yang di bawanya. Sebuah senyuman terulas di bibir tipis Mark.
"Di mana aku bisa meletakkan pakaian-pakaianku?" Tanya Fatimah menatap Mark.
"Di kamar kita." Mark berkata, sambil melangkah mendekati Fatimah.
Seketika Fatimah merasakan jantung berdegup kencang. Beberapa kali dia menelan salivanya untuk membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering.
Mark yang mengetahui itu tersenyum jahil. Dia mencoba untuk menggoda Fatimah. Perlahan, dia memegang kedua pundak Fatimah, tepat saat tubuh mereka hampir tidak ada jarak.
Tangan kanannya mulai membelai lembut wajah Fatimah, dan dia pun mendekatkan wajahnya ke wajah Fatimah, membuat jantung Fatimah semakin tidak karuan. Bahkan, detak jantungnya sampai terdengar di telinga Mark, membuat Mark semakin semangat untuk menggoda Fatimah.
__ADS_1
Hampir saja bibir mereka bersentuhan. Tetapi, Fatimah langsung memalingkan wajahnya dan tanpa sengaja mendorong dada Mark untuk menjauh.
"Maaf," ucap Fatimah dengan suara lirih, sambil menundukkan wajahnya.
Mark tidak marah, justru dia tersenyum. Walaupun, ada sedikit kekecewaan di relung hatinya, karena dia sangat mengetahui siapa yang di inginkan Fatimah sebenarnya.
"Aku tidak akan memaksamu, jika kamu tidak siap," ucap Mark dengan suara lembut.
Fatimah mencoba untuk menatap mata biru Mark sambil berkata dengan mata berkaca-kaca.
"Aku ...."
Fatimah tidak melanjutkan kata-katanya, karena Mark langsung meletakkan telunjuknya di bibir Fatimah.
"Aku tidak apa-apa, jangan terlalu di pikirkan! Aku baik-baik saja," Mark berkata dengan tatapan hangat.
"Ayo, aku antar ke kamar," ucap Mark sambil menutup kembali koper pakaian Fatimah, dan membawa koper itu ke dalam kamar yang tidak terlalu besar.
Fatimah mengikuti langkah Mark masuk ke dalam kamar, dia menatap punggung lelaki yang kini sudah berstatus suaminya yang sah. Ketika sampai di dalam kamar, dia mengamati seluruh isi kamar yang tidak terlalu besar, tetapi sangat bersih dengan penataan barang yang sangat rapi dan terlihat estetik.
"Tidak, aku hanya seminggu sekali datang ke sini untuk membersihkannya," ucap Mark santai.
Fatimah terdiam, sambil terus menatap punggung Mark yang membelakanginya. Dia tidak percaya, jika seorang Mark yang sangat sibuk, bisa meluangkan waktunya untuk membersihkan apartemen. Ketika Mark membalikkan badannya, Fatimah langsung membuka kopernya.
"Sisi sebelah kanan, bisa kamu gunakan untuk menaruh pakaianmu. Nanti aku akan menyiapkan fasilitas yang lebih bagus dari ini semua," ucap Mark, yang hendak membantu Fatimah merapikan pakaiannya.
"Hai, tidak perlu Mark, aku bisa sendiri!" cegah Fatimah, sambil menahan tangan Mark.
Mark menatap ke punggung tangannya yang sedang di pegang Fatimah, membuat wajah Fatimah merona. Fatimah hendak mengangkat tangannya, tetapi Mark langsung menahannya, membuat netra mereka kini saling menatap.
"Kamu tidak perlu mengganti semuanya, ini sudah lebih dari cukup," ucap Fatimah gugup, mencoba mencairkan suasana.
Mark tidak menjawab, seulas senyum tersungging di bibirnya. Dengan lembut, dia kembali membelai wajah Fatimah, membuat napas Fatimah kembali tercekat, jantungnya kembali berdegup kencang.
"Maafkan aku, Mark! Aku belum siap." Fatimah berkata, sambil memejamkan matanya dan menjauhkan wajahnya, ketika Mark hendak menyatukan bibir mereka.
__ADS_1
Mark tersentak dan tersadar. Dia pun segera menurunkan tangannya dari wajah Fatimah dan langsung menjauhkan tubuhnya.
"A-aku minta maaf, Fatimah!" ucap Mark sambil mengusap kasar wajahnya, membuat Fatimah segera membuka matanya.
"Mandilah! Semua sudah tersedia di dalam," ucap Mark yang hendak melangkahkan kakinya ke luar kamar.
"Mark," panggil Fatimah, membuat Mark menghentikan langkahnya.
Sambil mengatur napasnya, Fatimah melangkah mendekati Mark.
"Ambillah hakmu dan aku akan menjalankan kewajibanku," Fatimah berkata sambil meraih punggung tangan Mark, membuat Mark tersentak dan terdiam.
"Aku tidak akan memaksamu apa lagi kamu melakukan semuanya hanya kewajiban." Mark berkata sambil menatap Fatimah. Jauh di lubuk hatinya, dia ingin sekali meminta haknya sebagai suami. Tetapi, dia bukanlah seorang lelaki egois yang hanya mengedepankan sebuah hak berselimut nafsu.
"Mas Afif belum pernah menyentuhku," ucap Fatimah dengan suara parau, sambil menundukkan wajahnya.
Pernyataan Fatimah tentu saja mengagetkan Mark. Dia tidak menyangka jika Afif mampu menahan nafsunya terhadap Fatimah, membuat dia merutuki dirinya yang ingin sekali menyentuh Fatimah, walaupun itu haknya yang halal.
"Kita jangan membicarakan ini lagi, Mandilah! Aku akan menyiapkan makan malam spesial untuk kita." Mark berkata sambil tersenyum dan melepaskan tangan Fatimah.
"Biar aku saja yang memasak, setelah itu aku mandi," tawar Fatimah, karena memasak tugasnya sebagai istri.
"Apa kamu meragukanku? Akan ku buktikan, jika seorang Mark William Hendri adalah salah satu koki terhebat di dunia," Mark berkata dengan gaya sombong sambil menepuk dadanya, membuat Fatimah tertawa, tentu saja itu membuat Mark semakin terpesona. Tetapi, Mark segera menepis semua perasaannya.
...****************...
Nama siapakah yang di ucapkan Mark saat ijab qobul?
Apakah Mark dan Fatimah akan bahagia tanpa bayang-bayang Afif?
Bisakah Fatimah menerima Mark sepenuh hati dan melupakan Afif?
Jangan pernah lewatkan bab selanjutnya 🤗🙏
__ADS_1