Mengejar Cinta Fatimah

Mengejar Cinta Fatimah
Baku tembak di Mansion Sony


__ADS_3

Bab 64


Afif memasuki mansion megah milik Sony. Dia segera menuju ruang pribadi Sony yang biasa di jadikan tempat pertemuan untuk keperluan bisnis gelapnya.


"Besar sekali nyalimu untuk kembali ke sini!" ejek Sony tersenyum sinis sambil meminum segelas wine.


Afif membalas perkataan Sony dengan senyum tak kalah sinis. Dia segera duduk di hadapan Sony. Sementara, para anak buah Sony sudah siap siaga mengawasi Afif.


"Kenapa kamu ingin membunuhku?" Afif bertanya sambil menatap Sony yang kembali tersenyum dan menuangkan kembali wine itu ke gelasnya.


"Hanya ada dua pilihan untukmu. Menjadi pengikut dan orang kepercayaanku atau menjadi pengkhianat, maka aku tidak membiarkanmu dan orang-orang terdekatmu hidup!" jawab Sony santai sambil kembali meneguk winenya.


Afif menarik napas kasar, menahan gemuruh amarahnya. Setelah menyakini jika Fatimah pasti aman bersama Mark, begitu juga dengan Salma dan Arsyad yang kini di lindungi oleh polisi, membuat Afif yakin dengan keputusannya.


"Aku muak denganmu, Sony! kamu pasti paham dengan keputusanku!" Afif berkata sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Sony.


Seketika anak buah Sony ingin bergerak maju menyerang Afif, tetapi Sony mengangkat tangan kanannya sebagai isyarat untuk mereka tidak perlu bertindak.


"Aku sebenarnya sangat tertarik denganmu. Jika kamu bersedia bergabung, kamu akan mendapatkan apa saja yang kamu mau dan kamu bisa mendapatkan wanita yang kamu cintai dengan aman." Sony berkata sambil mengelus lembut wajah Afif yang hampir tak berjarak dengannya.


Afif langsung mencekal kuat pergelangan tangan Sony, sambil berkata. "Aku tidak akan membiarkanmu hidup! Sebentar lagi kehancuranmu akan tiba!" ancam Afif dengan sorot mata penuh amarah.


"Sempurna. Kamu benar-benar lelaki pilihanku!" Sony tersenyum mesum menatap Afif, membuat rasa jijik dan muak semakin menyeruak di hati Afif.


Secepat kilat tangan Afif mengambil jarum suntik kecil yang di selipkan di bagian pinggang celananya dan langsung menancapkannya tepat di urat leher Sony. Seketika mulut Sony menganga lebar dengan mata melotot menahan rasa nyeri yang langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.


Jarum suntik itu sudah berisi racun yang sangat mematikan, membuat orang yang terkena racun itu langsung kritis, bahkan bisa meninggal seketika. Apa lagi Afif menancapkannya tepat di leher, di mana terdapat pembuluh darah arteri besar yang mengalirkan darah dari jantung menuju ke kepala.

__ADS_1


Tubuh Sony pun ambruk di atas meja. Anak buah Sony langsung memberondong Afif dengan tembakan. Ternyata, tanpa di sadari mereka, Afif sudah memakai rompi anti peluru di balik jaketnya.


Secepat kilat Afif mengambil pistol yang berada di saku celana Sony sehingga terjadi baku tembak. Afif juga mengeluarkan beberapa belati kecil yang sudah di siapkan di balik pakaiannya.


Gerakan lincah Afif melempar belati-belati itu tepat sasaran. Namun, anak buah Sony semakin banyak yang datang dengan membawa pistol.


Keadaan yang tidak menguntungkan membuat Afif memutar otak, apalagi peluru di pistol Sony sudah habis. Dia melempar pistol itu dan segera memecahkan kaca jendela itu dengan kursi besi yang berada di depannya. Secepat kilat dia melompat keluar. Seketika tubuh Afif langsung melayang ke bawah karena posisi ruang pribadi Sony berada di lantai empat mansion itu.


Afif sudah membuat perhitungan yang sangat matang. Dia langsung berpegangan pada balkon yang berada di lantai dua. Sambil menahan rasa perih akibat goresan dari kaca jendela. Afif langsung naik ke atas balkon. Namun tiba-tiba seseorang langsung melepaskan tembakan.


Walaupun terlambat menyadari bahaya yang mengancam, tetapi Afif mampu menghindari tembakan itu sehingga peluru itu menembus dadanya melainkan bahu kanannya.


Afif mencoba menahan rasa sakit yang luar biasa itu. Sambil memegangi bahunya yang banyak mengeluarkan dar*h. Dia menatap tajam wajah seseorang yang kini sedang berdiri di hadapannya dengan pistol yang berada di tangannya.


"Ini adalah hari terakhirmu melihat dunia!" ucap seseorang itu dengan senyum smirk dan sorot mata penuh dendam.


"Aku tidak membutuhkan ceramahmu! Aku hanya ingin kematianmu!" teriak Arman, kembali menodongkan pistolnya ke arah Afif.


Arman bergerak maju mendekati Afif, sehingga kini jarak mereka sangat dekat. Seringai kemenangan tampak di bibir Arman sambil mengarahkan pistol itu tepat di kening Afif.


Afif yang merasakan dinginnya pucuk pistol yang berada di keningnya menatap tajam Arman. Dia tidak habis pikir, jika Arman bisa menjadi sekejam ini.


"Selamat pergi ke neraka, Afif Abizar!" Arman berkata, sambil menarik pelatuk pistol. Tiba-tiba suara tembakan terdengar sangat kencang membuat Afif memejamkan matanya.


Seketika tubuh Arman roboh menimpa Afif dan pistol itu seketika terlepas dari tangannya. Tampak dar*h mengalir dari punggung dan belakang kepalanya. Dua peluru itu menembus sampai jantung dan otak dalam, sehingga Arman langsung tewas di tempat.


Afif menatap tidak percaya ke arah sosok wanita dengan pistol di tangannya. "Salma!" seru Afif langsung menghampiri Salma.

__ADS_1


"Kenapa kamu berada di sini?" Tanya Afif dengan wajah cemas. Dia tidak mau terjadi sesuatu dengan Salma.


"Aku ke sini bersama para polisi." ucap Salma langsung memeluk Afif.


"Syukurlah kamu selamat. Aku sangat takut kehilanganmu!" ucap Salma lagi sambil terisak.


"Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku," ucap Afif membalas pelukan Salma. Tiba-tiba wajah Fatimah hadir di pelupuk matanya. Padahal saat ini yang berada di pelukannya adalah Salma.


"Tuan Afif, Nyonya Salma," beberapa petugas polisi menghampiri mereka. Afif segera melepaskan Salma dari pelukannya.


"Semua anak buah Sony sudah kami tangkap. Jenazah Sony juga akan segera di bawa ambulans dan kedua orang tua tuan Arsyad yang di sekap sudah kami bebaskan." jelas salah satu petugas polisi.


"Syukurlah pak," ucap Afif sambil meringis memegang bahu kanannya.


Salma yang baru menyadari luka tembak di bahu kanan Afif langsung berteriak histeris. Tidak menunggu waktu lama mereka pun keluar dari mansion mewah yang di jadikan tempat transaksi ilegal dan kejahatan lain yang di lakukan Sony bersama para relasinya yang merupakan penjahat kelas kakap.


Saat keluar dari mansion, ternyata sudah di penuhi oleh para awak media yang mencari berita dan suara serine mobil ambulans dan polisi. Tidak bisa di hindari Afif yang sedang di papah Salma menuju ambulans, menjadi sasaran utama cahaya kamera mereka.


Penangkapan dan baku tembak di mansion mewah itu, menyebar ke seluruh dunia dan menjadi trending topik di berita-berita utama.


Termasuk di negara Jerman. Berita itu berseliweran di televisi maupun di medsos. Membuat sepasang mata teduh dan indah itu berkaca-kaca. Bibirnya bergetar tidak mampu mengucap kata-kata, menatap sosok lelaki yang sedang di papah oleh wanita cantik dengan wajah indo.


...****************...


Hai, maafkan author yang baru up. Selain sibuk banget, kesehatan juga lagi drop.


Mohon maaf ya, terima kasih yang selalu setia 🙏.

__ADS_1


Insya Allah tinggal beberapa bab lagi menuju tamat 🤗.


__ADS_2