Mengejar Cinta Fatimah

Mengejar Cinta Fatimah
Kenyataan


__ADS_3

Bab 36


"Aisyah," panggil Fatimah dengan suara yang sangat lirih.


"Umi Fatimah ...." Tangis Aisyah pecah, dia langsung memeluk tubuh Fatimah. Terlihat binar kebahagiaan di wajah Afif dan Nabila.


Tim medis segera memeriksa keadaan Fatimah, kehadiran Aisyah merupakan keajaiban yang mampu memberikan kekuatan untuk kesadaran Fatimah. Dokter meminta Fatimah untuk beristirahat beberapa hari di rumah sakit. Namun, Afif memutuskan untuk membawa Fatimah pulang dan menyewa beberapa perawat untuk memantau kesehatan Fatimah dan Aisyah.


**********


Hanya membutuhkan waktu seminggu, hasil DNA Fatimah dan Nabila kini berada di tangan Afif. Terlihat dia menarik napas dalam-dalam sambil memejamkan matanya sesaat.


Afif melangkahkan kakinya hendak mencari keberadaan Nabila, tetapi, langkahnya terhenti saat mendengar canda tawa yang berasal dari kamar Fatimah. Perlahan, Afif mengintip dari balik pintu, terlihat Nabila sedang memotongkan buah apel untuk Fatimah dan Aisyah di iringi dengan canda tawa, terlebih dengan kehadiran Aisyah membuat suasana semakin terasa lebih hangat.


Seulas senyum terukir di bibir Afif. Dia tidak menyangka takdir membawanya kepada dua wanita yang hadir bersama dalam hidupnya dan kenyataannya mereka memiliki hubungan darah.


"Abi Afif!" seru Aisyah yang mengetahui kehadiran Afif.


Seketika Fatimah dan Nabila menoleh ke arah Afif.


"Afif, masuklah! Untuk apa kamu mengintip kami?" Tanya Nabila sambil tertawa menatap Afif, membuat wajah Afif memerah, sedangkan Fatimah menelan kasar salivanya, jantungnya berdetak kencang saat netranya bertemu dengan netra Afif.


Nabila yang menyadari itu langsung mengembangkan senyumnya, membuat Fatimah menundukkan wajahnya. Afif langsung melangkah masuk ke dalam kamar, di sambut pelukan hangat oleh Aisyah.


Sambil memeluk dan mendudukkan Aisyah di pangkuannya. Afif duduk di hadapan Fatimah dan Nabila dengan mata menatap bergantian ke arah mereka.


"Nabila, dugaanmu benar." Afif berkata, sambil memberikan amplop coklat kepada Nabila.


Nabila mengerutkan keningnya sambil menerima amplop coklat yang di berikan Afif. Fatimah pun mengangkat wajahnya menatap penuh tanya ke arah amplop coklat yang kini berada di tangan Nabila.


Nabila menarik napas perlahan, dengan tangan gemetar dan dada berdebar dia membuka amplop coklat itu. Matanya seketika membulat sempurna, dia tidak percaya dengan apa yang di bacanya. Sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya, terlihat buliran bening yang sudah beranak sungai di matanya.

__ADS_1


"Fatimah," ucap Nabila langsung memeluk tubuh Fatimah, dengan buliran bening yang sudah mengalir bebas membasahi pipinya.


Perlakuan Nabila tentu saja membuat Fatimah tersentak. Dia menatap ke arah Afif dengan penuh tanda tanya.


"Fatimah, ternyata kita bersaudara. Kamu adalah adikku yang selama ini menghilang!" perkataan Nabila membuat Fatimah kembali tersentak.


Fatimah menatap Afif, dibalas dengan senyuman dan anggukkan oleh Afif yang terus memeluk hangat Aisyah. Seketika bulir bening pun ikut beranak sungai di mata Fatimah dan tanpa permisi mengalir deras membasahi wajahnya. Dia pun ikut menangis sambil membalas pelukan Nabila.


Suasana haru pun sangat terasa. Afif segera menghapus kasar air mata yang memaksa keluar dari sudut matanya. Aisyah tersenyum bahagia sambil mengeratkan pelukan ke tubuh Afif. Dia merasakan jika Afif benar-benar seorang Abi untuknya.


**************


Dua minggu berlalu, kesehatan Fatimah dan Aisyah berangsur membaik. Tampak Fatimah yang sedang duduk santai di kursi taman dengan Aisyah yang berada di pelukannya.


"Fatimah, Aisyah, aku membawakan jus spesial buat kalian," seru Nabila sambil membawa nampan dengan tiga macam jus di atasnya.


"Jus strawberry buat adik tercantikku Fatimah, jus alpukat buat anak manisku Aisyah, dan jus kiwi spesial buat aku sendiri." Nabila berkata sambil tertawa dan menaruh tiga gelas di atas meja yang berada di depan mereka.


"Aku tidak menyangka, wanita yang sangat aku benci selama ini ternyata adik aku sendiri," Nabila berkata sambil menatap Fatimah dengan sebuah senyuman.


"Allah Maha Kuasa, saat aku merasakan kehilangan arah dan menganggap jika hidup ini tidak adil, karena sudah merenggut orang-orang yang aku kasihi," ucap Fatimah dengan suara mulai parau.


"Ternyata dugaanku salah, aku sudah berprasangka buruk kepadaNya, di balik kehilangan dan kenyataan pahit, Dia membiarkan Malaikat kecil ini tetap bersamaku, dan Dia juga mengirimkan aku seorang kakak kandung yang sangat cantik." Fatimah berkata sambil menatap bergantian Aisyah dan Nabila, dengan buliran bening yang sudah mulai beranak sungai di bola matanya.


"Aku juga merasakan hal yang sama, saat hawa nafsu dan kebencian menguasai hatiku. Allah langsung menyadarkanku dengan sebuah kenyataan dan kebenaran yang menjadi hidayah untukku," ucap Nabila sambil tersenyum.


"Maafkan, atas semua kesalahan yang sudah aku perbuat! Aku sudah siap menghadapi semua konsekuensinya." Nabila berkata sambil tersenyum. Ada rasa sesak di dadanya. Cepat atau lambat dia harus menghadapi proses hukum atas ikut sertanya dengan semua kejahatan yang sudah menimpa Afif dan Fatimah.


"Alhamdulillah jika kita masih mendapatkan hidayah Kak. Semoga kita bisa menjadi keluarga yang bahagia dan tidak akan terpisah lagi!" Fatimah berkata sambil memeluk tubuh Nabila.


"Seperti mimpi, setelah kita berpisah selama lebih dari dua puluh tahun dan saat aku mengetahui jika aku mempunyai seorang adik perempuan, saat itu juga aku berusaha mencarinya. Ternyata adikku seseorang yang selama ini aku benci, maafkan aku!" Tangis Nabila kembali pecah dalam pelukan Fatimah.

__ADS_1


"Lupakan, Kak! Itu semua adalah masa lalu untuk kita. Jangan pernah lagi melihat ke belakang, dari kesalahan kita belajar kebaikan." Fatimah berkata sambil ikut terisak.


"Aku akan meminta Afif untuk segera menceraikanku!" tegas Nabila sambil melepaskan pelukannya dan mengusap kasar air matanya.


Fatimah tersentak menatap tidak percaya Nabila. "Jangan, Kak! Allah tidak melarang perceraian, tetapi perceraian adalah sesuatu yang sangat di benciNya. Saat seorang istri meminta bercerai, saat itulah Arasy Allah bergetar hebat." Fatimah berkata sambil menatap lekat Nabila.


Nabila tersenyum menatap Fatimah. "Keputusan hati Afif benar-benar tepat, tidak salah dia menjatuhkan pilihannya kepadamu. Kamu adalah bidadari untuknya, wanita yang mampu merubahnya menjadi pribadi yang jauh lebih baik."


"Aku tidak akan mengambil suami Kakakku!" tegas Fatimah, kini tangisnya menjadi sebuah isakan.


"Fatimah, kamu lebih pantas untuk mendampingi dan menjadi teman hidup Afif. Dosa dan kesalahanku terlalu banyak dan aku harus mempertanggung jawabkannya." Jawab Nabila, sambil menangkup wajah Fatimah dan menghapus air matanya.


"Mereka tidak akan membiarkan aku lolos! Hanya dua pilihanku, hidup menjalani hukuman atau mati secara tragis!" Nabila kembali berkata dengan suara penuh penekanan, membuat Fatimah terdiam menatap lekat Nabila. Fatimah menggelengkan kepalanya dengan air mata yang terus mengalir deras membasahi pipinya.


"Aku akan melindungimu!" sebuah suara bariton mengagetkan mereka, membuat mereka menoleh ke asal suara.


*************


Alhamdulillah bisa up lagi, semoga ceritanya semakin seru ya 🤗.


Menurut kalian apa yang terjadi dengan kisah cinta mereka?


Tuliskan komennya kalian ya🥰.


Pasti ada yang masih penasaran kenapa Fatimah dan Nabila bisa berpisah saat kecil dan kenapa mereka di asuh dengan orang tua yang berbeda?


Pastinya masih banyak kenyataan masa lalu yang akan terungkap, jangan lewatkan bab selanjutnya.


Terima kasih yang selalu hadir di kisah cinta Afif dan Fatimah😍.


__ADS_1


__ADS_2