
Bab 19
Jauh dari sebelum pernikahan Afif dan Fatimah meminta haji Maulana, Umi Zahira, Ilham dan Aisyah untuk ikut dan tinggal bersama mereka. Namun, haji Maulana kembali menolaknya, dengan alasan dia tidak mau menyusahkan anak dan menantunya.
Setelah acara prosesi pernikahan selesai Afif meminta izin untuk membawa Fatimah ke rumahnya. Mereka berjanji akan kembali besok. Suasana haru kembali terasa, Afif menggenggam erat jemari Fatimah untuk memberikannya kekuatan.
"Kalau kamu berat meninggalkan Abi dan Umi, kita bisa menginap di sini" ucap Afif.
"Kamu adalah suamiku Mas, kemanapun kamu pergi, aku akan ikut denganmu" jawab Fatimah sambil memberikan senyum terindahnya.
"Terimakasih sudah menerimaku, sebagai suami yang jauh dari kata sempurna" Afif berkata, dengan menatap lekat wajah Fatimah yang semakin hari membuatnya semakin jatuh cinta.
"Aku juga sangat berterimakasih karena kamu sudah memilihku sebagai istri" Fatimah berkata sambil tersenyum malu.
"Kamu wanita yang pantas aku pilih" perkataan Afif membuat wajah Fatimah semakin memerah dan dia pun tertunduk malu.
"Melihatmu semakin membuatku jatuh cinta" Afif berkata lagi, sambil mengangkat dagu Fatimah.
"Tolong cintaiku karena Allah Mas, aku takut cinta itu akan hilang, jika kamu mencintaiku karena alasan yang lain" jawab Fatimah, membuat Afif tersenyum.
"Kamu adalah bidadari yang mampu merubah hidupku ke jalan yang jauh lebih baik, aku berjanji tidak akan melepaskanmu" Afif berkata, sambil mencium kening Fatimah.
"Afif, Fatimah, apa kalian sudah siap?" Azhar tiba-tiba muncul, membuat mereka tercekat dan seketika wajah Fatimah memerah karena malu. Kembali senyum bahagia terukir di bibir Azhar.
Akhirnya, mereka pamit meninggalkan kediaman haji Maulana yang baru saja menjadi saksi bisu janji suci yang mereka ucapkan. Afif segera menggandeng tangan Fatimah menuju mobil yang membawa mereka menuju rumah megah Afif. Kepergian mereka di lepas dengan perasaan haru.
Sepanjang perjalanan Afif terus menggenggam jemari Fatimah. Azhar yang duduk di belakang kemudi terus tersenyum menatap kebahagiaan anak dan menantunya dari kaca dalam spion mobil. Sedangkan,
Sarah memasang wajah tak suka dengan tersenyum licik, sambil kembali meraih ponselnya.
[ Sekarang waktunya ] sebuah pesan di kirim ke sebuah nomor yang tidak di kenal.
[ Oke, Bos ] balas pesan dari seseorang di seberang sana.
__ADS_1
Di tengah kebahagiaan mereka, tiba-tiba Azhar merasakan dadanya begitu sesak dan membuatnya langsung mengerang kesakitan. Tentu saja, membuat Afif dan Fatimah langsung panik. Begitu juga Sarah dengan kepura-puraannya langsung menjerit memanggil Azhar.
"Pah ...." panggil mereka bersamaan.
Afif langsung menerobos ke kursi depan, memegang kendali setir dan langsung menginjak rem. Mobil pun berhenti seketika dengan derit suara ban yang bersentuhan dengan aspal, tetapi naas mobil mereka langsung di tabrak dengan keras oleh mobil lain dari sisi kanan tepat di mana posisi Fatimah berada.
Mobil mereka pun terdorong sampai ke bahu jalan, sehingga menimbulkan suara benturan yang sangat keras dan terlihat percikan api keluar dari mesin mobil.
********************
Afif membuka matanya, dia mengerjapkan matanya melihat ke sekeliling ruangan yang berwarna serba putih. Dia mencoba mengumpulkan ingatannya sambil memegang kepalanya yang terasa sakit, Saat ingatannya sudah terkumpul, dia merasakan sakit di seluruh tubuhnya.
Afif berusaha menggerakkan seluruh tubuhnya, tetapi terasa sangat kaku terutama di bagian kakinya yang tidak mampu untuk di gerakkan.
"Mas Afif" Afif mendongakkan wajahnya, melihat ke arah asal suara.
"Fatimah, kamu ...." Afif menatap Fatimah dari ujung kepala sampai ujung kaki, terlihat perban di kening Fatimah dan tangan kanannya yang terbungkus dengan gips.
"Aku baik-baik saja Mas, tidak perlu khawatir" jawab Fatimah tersenyum, dengan mata yang berkabut.
"Jangan menangis sayang! itu membuat aku merasa sangat bersalah" Afif mengusap air mata Fatimah, membuat tangis Fatimah semakin pecah dan langsung menghambur ke pelukan Afif.
Afif terdiam, hatinya tiba-tiba terasa tidak enak, seperti ada sesuatu yang tidak beres, sehingga membuat Fatimah menangis sesedih ini. Dia membiarkan Fatimah menumpahkan segala kesedihannya. Dan dia mengusap lembut kepala Fatimah.
"Mas, apa pun yang terjadi, aku akan tetap bersamamu dan aku akan selalu berada di sampingmu" Fatimah melepaskan pelukannya, menatap sendu wajah Afif.
"Terimakasih sayang, aku akan berusaha memberikan yang terbaik untukmu dan selalu menjagamu" Afif berkata sambil tersenyum dan mengusap lembut wajah Fatimah.
Afif yang belum menyadari dengan keadaan dirinya dan yang menimpa Azhar, tampak tersenyum bahagia sambil memeluk tubuh Fatimah kembali. Sampai akhirnya dia menyadari jika ada yang tidak beres dengan kakinya yang tidak merasakan apa pun.
"Fatimah, kenapa kakiku tidak bisa di gerakkan dan aku tidak bisa merasakan apa-apa?" Tanya Afif sambil mengerutkan keningnya dan melepaskan pelukannya.
Fatimah tidak mampu untuk menjawab pertanyaan Afif, hanya air mata yang membasahi wajahnya. Terlihat wajah Afif yang mulai panik, dia berusaha menggerakkan kakinya, akan tetapi usahanya hanya sia-sia.
__ADS_1
"Nak Afif, sabar dan perbanyaklah Istighfar, Allah sedang memberikan ujian kepada kalian" ucap haji Maulana yang sudah hadir di antara mereka. Perkataan haji Maulana membuat Afif terdiam seketika. Dia menatap bergantian Fatimah dan haji Maulana dengan tatapan tak percaya, terlihat air yang sudah menggenangi manik matanya.
"Mas" panggil Fatimah lirih sambil memeluk tubuh Afif, tanpa terasa air itu pun mengalir dari sudut mata Afif, saat dia memejamkan matanya. Tubuhnya terasa begitu lemas bagaikan mimpi jika dia sekarang mengalami kelumpuhan.
******************
Afif menatap gundukkan dua tanah merah di depannya, dengan dua nisan bertuliskan nama Azhar dan Sarah. Dia tidak menyangka, jika kecelakaan itu merenggut nyawa papahnya dan membuatnya tak sadarkan diri selama tiga hari dan juga membuat kakinya menjadi lumpuh.
"Mas" panggil Fatimah lirih, sambil menyentuh lembut pundak Afif.
"Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan, kita pulang sekarang, besok kita bisa ziarah lagi ke makam papah" ucap Fatimah dengan penuh hati-hati, karena dia sadar, apa yang sudah terjadi membuat perasaan Afif lebih sensitif.
Afif menarik napas kasar, dia hanya menggangguk menjawab pertanyaan Fatimah. Sambil tersenyum Fatimah mendorong kursi roda Afif dengan tangan kirinya yang tidak terbungkus gips. Walaupun, Ilham menawarkan diri untuk menggantikannya tetapi Fatimah menolak, karena dia ingin selalu menemani Afif sampai fisik dan psikis Afif kembali sembuh.
Tak lama mereka pun sampai di rumah mewah Afif. Saat memasuki ruang tamu, mereka di kejutkan dengan kehadiran seorang wanita cantik dan seksi yang sudah berdiri di ruang tamu menunggu kedatangan mereka.
*****************
Bagaimana Fatimah melewati hari-harinya menemani Afif dalam mengarungi rumah tangga mereka?
Mampukah Afif berdamai dengan keadaan dirinya dan kenyataan yang terjadi dalam hidupnya?
Siapakah wanita cantik dan seksi yang sudah menunggu kedatangan mereka?
Jangan lewatkan lika liku perjalanan rumah tangga Afif dan Fatimah yang baru saja di mulai.
Cerita yang semakin seru menguras emosi dan air mata🤗.
Rekomendasi novel penyesalan seorang suami, yang bisa kalian di temui kisah serunya di salah satu karyaku🥰👇
.
__ADS_1