Mengejar Cinta Fatimah

Mengejar Cinta Fatimah
Kita hadapi bersama


__ADS_3

Bab 21


"Sarah, apa rencanamu sekarang? Mereka berpikir jika kamu sudah meninggal karena kecelakaan itu?" Tanya Arman menatap Sarah.


Sarah tersenyum miring sambil menuangkan dua gelas wine yang berada di atas meja dan memberikan salah satu gelas itu ke tangan Arman. Mereka pun menyesap wine itu secara bersamaan.


"Kita akan menjalankan skenario kedua, agar pihak berwajib tidak curiga jika kecelakaan yang terjadi adalah kesengajaan" Sarah berkata sambil kembali menyesap winenya.


"Sebentar lagi, harta kekayaan itu akan jatuh ke tanganku dan Afif tidak mendapatkan sepeser pun, aku akan membuat hidupnya menderita, seperti kedua orang tuanya yang sudah membuat keluargaku menderita!" ucap Sarah, dengan api dendam di bola matanya.


Arman hanya terdiam mendengar perkataan Sarah. Jauh di lubuk hatinya dia merasa bersalah terhadap keluarganya terutama Abi dan Uminya. Namun, saat mengingat bagaimana haji Maulana sebagai seorang ayah sering membedakan dirinya dengan abangnya yaitu Ilham. Bahkan, dia juga sering di bandingkan dengan Fatimah yang berstatus sebagai adik bungsunya.


Rasa tidak adil itu lah yang membuat Arman nekat menjalin kerja sama dengan Sarah, Arsyad dan Nabila. Keserakahan juga sudah menguasai dirinya, nafsu dunia sudah membutakannya, apa lagi Sarah dan Arsyad menawarkan uang yang banyak dan kehidupan yang mewah.


*****************


Pagi itu selesai sarapan, Afif dan Fatimah kedatangan seseorang yang sudah lama dan di percaya menjadi pengacara keluarganya. Pengacara yang bernama Fuad itu membawa berkas-berkas surat warisan yang sudah di tanda tangani Azhar.


Afif membaca dengan detail isi surat warisan itu. Setelah di rasa semua sudah benar dan sesuai, Afif berniat untuk membubuhi tanda tangannya. Namun, tiba-tiba sebuah suara mengejutkan mereka.


"Kamu tidak berhak menandatangani surat warisan itu! karena surat warisan itu tidak benar!"


Suara lantang seorang wanita yang menggema membuat mata mereka membulat sempurna, mereka tidak percaya dengan kehadiran sosok wanita yang kini berada di hadapan mereka. Wanita itu datang bersama seorang pria setengah baya.


"Tante Sarah" ucap Fatimah, dengan wajah tidak percaya.


"Nyonya Sarah" ucap pak Fuad tak kalah kagetnya.


Afif hanya terdiam menatap tajam Sarah. Wajahnya memerah, rahang wajahnya mengeras dan kedua telapak tangannya mengepal kuat. Emosi membuncah di dadanya.


"Apa yang kamu rencanakan wanita ular?" Tanya Afif dengan nada penuh emosi.

__ADS_1


Sarah tertawa puas melihat kemarahan di wajah Afif. Dia pun melangkah mendekati mereka dan dengan santai langsung duduk di sofa tepat di sebelah kursi roda Afif.


"Afif, seharusnya kamu menyambutku dengan suka cita, karena aku selamat dari kecelakaan itu" Sarah berkata, sambil mencoba menyentuh wajah Afif.


"Ini semua adalah rencanamu wanita licik!" bentak Afif, menjauhkan wajahnya dari tangan Sarah.


Sarah tertawa kecil melihat penolakan Afif, dia meminta pria yang datang bersamanya untuk duduk di sofa. Pria itu dengan patuh mengikuti perintah Sarah.


"Pak Burhan, perlihatkan surat-surat itu kepada mereka!" Perintah Sarah kepada pria yang bernama Burhan, yang tak lain adalah pengacaranya.


"Baik Nyonya" Pak Burhan mengangguk dan mengeluarkan map yang berisi surat warisan dan menyerahkan kepada mereka.


Mereka mengerutkan keningnya membaca semua surat-surat yang sudah di tanda tangani Azhar. Wajah Afif semakin memerah menatap nyalang Sarah, yang tampak tersenyum puas.


"Ini tidak mungkin Nyonya, Tuan Azhar sudah menyerahkan semua surat yang di tandai tangani di atas materai kepada saya." Ucap pak Fuad.


"Maaf pak Fuad, di sini sudah di jelaskan dan sudah di pastikan jika almarhum Tuan Azhar dengan sadar merubah semua isi dari surat warisan, karena selama ini dia melihat bagaimana perjuangan Nyonya Sarah mendampinginya.!" Sergah pak Burhan.


"Kalau begitu, kita akan mengecek keaslian surat yang berada di tangan kalian!" jawab pak Fuad tidak mau kalah.


"Tidak semudah itu Afif, aku menyiapkan bukti-bukti yang kuat, jika aku bisa keluar dari kecelakaan itu! dan semua harta kekayaan suamiku akan jatuh ke tanganku!" tegas Sarah.


"Jika kamu masih ingin bertahan, dan ingin kakimu kembali normal, itu sesuatu yang mudah, asalkan ....." Sarah tidak melanjutkan perkataannya, dia tersenyum smirk sambil menatap sinis Fatimah.


Fatimah sangat mengerti apa yang di maksud Sarah, dia menatap Afif, sambil menyentuh lembut lengan Afif.


"Aku ikhlas, apa pun yang menjadi keputusanmu, Mas" Fatimah berkata dengan suara lirih, kembali sebuah senyuman licik terukir di bibir Sarah.


"Jangan pernah berpikir untuk menjauh dariku Fatimah, tetaplah di sampingku, mendampingiku apa pun yang terjadi" tegas Afif, menggenggam tangan Fatimah, membuat wajah Sarah memerah, menatap penuh kebencian ke arah mereka.


"Kita akan menyelesaikan ini di pengadilan!" Seru Afif, menatap bergantian Sarah dan pak Burhan.

__ADS_1


"Baiklah, jika aku yang terbukti benar, kamu harus menerima konsekuensinya Afif!" sergah Sarah.


"Aku akan menerima apa pun resikonya, tetapi jika kamu terbukti menipu, aku pastikan kamu akan membusuk di penjara.!" Perkataan Afif membuat wajah Sarah semakin merah padam.


"Kalau begitu, selamat bertemu di pengadilan!" Sarah berkata sambil melangkah pergi di ikuti oleh pak Burhan.


"Saya akan berusaha membuktikan keaslian dari surat-surat ini Tuan Afif, saya dan team juga akan membantu melakukan tuntutan terhadap Nyonya Sarah, atas penipuan dan keterlibatannya dalam kecelakaan yang terjadi waktu itu" ucap pak Fuad.


"Terimakasih atas kepercayaan dan bantuan bapak" jawab Afif tersenyum.


"Sudah kewajiban saya sebagai pengacara, kalau begitu saya pamit Tuan, Nyonya" ucap pak Fuad di jawab anggukan dan senyuman oleh Afif dan Fatimah.


"Aku minta maaf Mas, jika kebersamaan kita membuatmu berada di lingkaran masalah" Fatimah berkata dengan suara bergetar.


"Apa yang kamu katakan? Justru aku yang meminta maaf, belum bisa membahagiakanmu lahir dan batin" jawab Afif menatap lekat Fatimah, sambil memegang lembut pundaknya. Sesaat Afif terdiam, semskin menatap lekat Fatimah dan menghela napas.


"Fatimah, seandainya semua harta kekayaan ini berpindah ke tangan Sarah dan aku sudah tidak mempunyai apa-apa dengan keadaanku yang lumpuh, apa kamu masih mau menjadi istriku yang terus mendampingiku?" Afif bertanya dengan tatapan nanar, ketakutan tiba-tiba menyeruak di hatinya. Ketakutan kehilangan semuanya terutama kehilangan Fatimah.


Sambil tersenyum, Fatimah berkata " Bukankah tujuan kita menikah itu adalah karena Allah? Aku menerimamu sebagai suamiku bukan karena hartamu! sepertinya aku tidak perlu menjelaskannya lagi Mas."


Terlihat mata Fatimah yang sudah berkaca-kaca.


"Maafkan aku Fatimah ... Maafkan, aku sangat takut kehilanganm." Afif tidak bisa lagi menutupi keresahan hatinya. Pertama kali dia menangis di hadapan wanita selain Bi Rina. Dia menangis sambil menunduk menciumi punggung tangan Fatimah.


"Kita akan menghadapi ini bersama Mas, jangan pernah menganggapku orang lain" Fatimah mengelus lembut rambut Afif, membuat Afif menenggelamkan kepalanya di pelukan Fatimah, menumpahkan segala ketakutan dan kesedihannya.


******************


Dapatkah Afif mempertahankan harta kekayaan yang sudah menjadi haknya atau sebaliknya?


Bagaimana perjuangan Afif dan Fatimah, menghadapi kejahatan dan kelicikan dari orang-orang sekitar mereka?

__ADS_1


Bab selanjutnya akan semakin menyajikan dendam dan kebencian di masa lalu🤗.



__ADS_2