Mengejar Cinta Fatimah

Mengejar Cinta Fatimah
Kepergian


__ADS_3

Bab 38


"Nabila!"


"Kak, Nabila!"


Suara teriakan Afif dan Fatimah secara bersamaan. Mereka langsung menghampiri tubuh Nabila yang sudah bersimbah dar*h, dua buah peluru bersarang di dada kanan dan kirinya. Afif menatap nyalang ke arah sosok bertopeng itu.


"Nabila, kenapa kamu melakukan hal sebodoh ini? Apa sudah tidak berartinya nyawamu?" Sosok bertopeng itu berkata, sambil menatap tubuh Nabila yang kini berada di pangkuan Afif.


Tampak ketegangan dan rasa tidak percaya di wajah nya, dia tidak ternyata orang yang sangat berarti yang terkena tembakannya. Terlihat penyesalan di matanya. Saat netranya bertemu dengan netra Afif, dia segera pergi meninggalkan tempat itu bertepatan dengan suara sirine mobil polisi.


************


Afif meyandarkan tubuhnya di kursi rumah sakit. Fatimah sedang di operasi untuk pengangkatan peluru di lengannya. Begitu juga Nabila, yang sedang menjalani operasi pengangkatan peluru di dada kanan dan kirinya.


"Tuan, Afif," sapaan Dion menyadarkan Afif yang terlihat sangat gelisah.


"Bagaimana Dion, siapa lelaki bertopeng itu?" Tanya Afif menatap tajam Dion.


"Maaf, Tuan, kami belum bisa melacak siapa lelaki bertopeng itu? Tetapi, saya menemukan ini Tuan." Jawab Dion sambil menyerahkan sebuah kalung dengan liontin hati.


Afif mengambil kalung itu dengan terus menatap tajam Dion, membuat Dion salah tingkah.


"Saya tidak berani membuka liontin itu, Tuan!" sergah Dion yang sangat paham dengan tatapan Afif.


Afif tidak menjawab, dia menatap lekat kalung itu, mencoba mengingat di mana dia pernah melihat kalung yang di temukan Dion.


Perlahan, Afif membuka liontin itu. Dia tersentak, gemuruh amarah sangat tampak di wajahnya.


"Dasar pecundang! Ternyata kamu masih mencintainya!" ucap Afif dengan wajah memerah.


"Aku sangat mengetahui siapa dia!" Afif memperlihatkan dua foto yang berada di dalam liontin itu, membuat Dion menarik napasnya kasar.


"Baik, Tuan! Saya akan segera menemukannya!"


Dion pun segera berlalu dari hadapan Afif, bertepatan dengan matinya lampu di ruang operasi, menandakan jika operasi sudah selesai. Terlihat Dokter di dampingi seorang perawat keluar dari ruangan, membuat Afif langsung menghampirinya.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Fatimah, Dok?" Tanya Afif dengan dada berdebar dan wajah yang telihat panik.


"Alhamdulillah, pengangkatan peluru di tangan Nyonya Fatimah berjalan lancar. Namun, harus sedikit bersabar untuk pemulihannya." Jelas dokter.


"Untuk sementara ini nyonya Fatimah masih dalam keadaan tidak sadar karena pengaruh obat bius saat operasi dan kami akan segera memindahkannya ke ruang pemulihan untuk di lakukannya observasi." Jelas dokter lagi sambil menatap Afif.


Afif menghela napas, ada sedikit kelegaan tampak di wajahnya mendengar berita tentang Fatimah, tetapi wajahnya menjadi tegang saat mengingat Nabila.


"Bagaimana dengan keadaan Nabila, Dok?" Tanya Afif dengan perasaan tak menentu.


Dokter menarik napas kasar. "Kami sudah berusaha melakukan yang terbaik Tuan." Jawab dokter, membuat jantung Afif semakin berdegup.


"M-maksud, Dokter?" Tanya Afif dengan pikiran yang mulai kalut.


"Kami juga sudah mengangkat dua peluru yang bersarang di dadanya, tetapi Nyonya Nabila masih tak sadarkan diri dan kami sudah memindahkannya ke ruang ICU." Jawab dokter, membuat Afif menghela napas dan mengusap kasar wajahnya.


"Baiklah, apa saya bisa menrmui mereka?"


"Silahkan, Tuan."


Afif pun mengangguk dan segera berlalu menuju ruang ICU. Dia ingin lebih dulu melihat Fatimah, tetapi keadaan Nabila lebih membutuhkannya.


Perlahan, Afif duduk di samping Nabila. Dia mengelus lembut wajah Nabila dengan masker oksigen yang berada di mulut dan hidungnya. Tiba-tiba Afif merasakan gerakan di jemari Nabila.


"Nabila!" seru Afif, langsung menekan tombol darurat.


Nabila mulai membuka matanya dan menatap Afif dengan tatapan yang sangat sendu. Terlihat ada gerakan di bibirnya menandakan jika dia ingin mengatakan sesuatu.


Dokter yang datang dan melihat Nabila pun mengerti jika pasiennya ingin mengucapkan sesuatu kepada Afif. Tim medis pun mengganti masker oksigen dengan nasal kanul di hidung Nabila.


Nabila mulai berkata dengan suara terbata-bata dan meminta Afif merekam semua perkataannya, untuk di jadikan sebagai salah satu barang bukti untuk mengetahui siapa saja yang menjadi tersangka dan otak dari semua kejahatan yang menimpa Afif dan Fatimah.


Melihat keadaan Nabila yang semakin lemah, Afif memintanya untuk tidak meneruskan semua perkataannya. Namun, Nabila tetap meneruskan semua perkataannya karena dua merasakan waktunya sudah tidak lama lagi, meskipun dengan terbata-bata dan napas yang semakin sesak, sampai akhirnya Nabila menghentikan perkataannya saat meminta Afuf untuk tetap bersama Fatimah. Perlahan, matanya terpejam sambil menggenggam erat jemari Afif.


Suara monitor pun terdengar sangat nyaring dan menakutkan bersamaan dengan hembusan terakhir napas Nabila.


*************

__ADS_1


Afif menatap pusara dengan tanah merah yang masih basah dan taburan bunga di atasnya. Rasa sedih dan sesak begitu menghimpit dada Afif, buliran bening menerobos tanpa permisi dari sudut matanya. Selain terpukul dengan kepergian Nabila, dia juga sangat takut untuk mengatakan semuanya kepada Fatimah.


Wajah sedih Fatimah kini terbayang di pelupuk mata Afif, dia tidak ingin lagi melihat luka dan kesedihan di mata indah Fatimah. Dia semakin merutuki dirinya, semenjak pertemuan mereka hanya kesedihan dan duka yang selalu di berikannya.


Di tengah kekalutannya, sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Membuat wajahnya langsung menegang dan memerah serta bola mata yang membulat sempurna.


{ Lepaskan dan serahkan kepada kami, jika kamu ingin semua selamat dan baik-baik saja }.


{ Ingat! Jangan pernah melibatkan yang berwajib }.


Kilatan amarah dan kekhawatiran sangat tampak di wajah Afif, rahangnya seketika langsung mengeras di saat nomor asing itu mengirimkan foto Fatimah yang sedang terbaring di ruang pemulihan.


Setelah mengusap nisan Nabila, Afif segera bangkit dan berlari menuju mobilnya, dengan kecepatan tinggi dia segera melaju membelah jalan raya menuju rumah sakit.


Tidak membutuhkan waktu lama, Afif segera sampai di rumah sakit dan langsung berlari menuju ruangan di mana Fatimah di rawat.


Afif bernapas lega, saat melihat Fatimah sedang terbaring dengan keadaan baik-baik saja. Sambil menenangkan hatinya dan mengatur napasnya, dia melangkah mendekati Fatimah.


Kehadiran Afif sangat di rasakan Fatimah, sehingga membuat Fatimah membuka matanya dan melihat ke arah Afif yang sedang menatapnya dengan tatapan tidak bisa di artikan.


"Mas ..." Panggil Fatimah dengan suara yang sangat lirih.


Afif mencoba tersenyum dan menghampiri Fatimah. Duduk di samping ranjangnya dengan tatapan nanar.


"Alhamdulillah, kamu sudah sadar. Bagaimana keadaanmu?" Afif bertanya dengan terus menatap Fatimah. Dia tidak sanggup jika kembali melihat kesedihan di wajahnya.


"Kenapa sulit sekali untuk menyatukan cinta kita, Fatimah?" Tanya Afif dalam hati.


"Mas ... Bagaimana keadaan kak Nabila?"


Deg ....


*************


Maaf ya baru up, terima kasih yang selalu menunggu kelanjutan dari novel ini 🤗🙏.


Masih ada beberapa rahasia yang belum terungkap ya☺️.

__ADS_1


Masker oksigen adalah alat bantu pernapasan yang dipasangkan di hidung dan mulut dengan bentuk seperti masker pada umumnya. Masker khusus ini dipakai sebagai pendukung dalam penyaluran oksigen dari dalam tabung oksigen ke saluran pernafasan.


Nasal kanul adalah alat bantu pernapasan yang diletakkan pada lubang hidung untuk mendukung kebutuhan oksigen pada pasien.


__ADS_2