
Malam kian larut, sepasang kaki masih menapaki jalanan yang sunyi tanpa sebuah tujuan yang pasti. Hanya berpegang pada secarik kertas berisikan alamat Bibinya. Fatimah, mengayunkan langkah menapaki ruas-ruas jalanan kota dengan langkah yang gontai. Ada rasa bersalah pada orang tuanya ketika meninggalkan rumah tanpa seizin mereka. Jujur dalam hati ia takut mendapat laknat dari sang pencipta karena telah durhaka pada orang tuanya.
Siapa yang berbakti pada orang tuanya, dia akan mendapat keberuntungan dan Allah, akan memperpanjang umurnya.
Sepenggal hadis yang ia pegang teguh selama hidupnya, kini harus ia langgar sendiri.
Fatimah menyeka sudut matanya yang tengah basah menggunakan ibu jarinya, dadanya bergemuruh. Logika dan hatinya saling menabuh gendrang perang, mereka tak seirama. Antara kembali lagi pulang ke rumah dengan menerima perjodohan atau memperjuangan kebebasan yang ia gaungkan selama masa kuliah.
Ya, Fatimah adalah salah satu mahasiswi yang gencar menggaungkan makna kebebasan dan penindasan saat berorasi. Ia akan berdiri pada barisan paling depan dalam masalah itu. Namun saat ini, ia harus terjebak dalam situasi yang rumit. Antara wujud bakti dan kebebasan memilih yang akan ia perjuangkan.
Bruak....
Suara dentuman cukup keras yang berasal dari sebuah mobil membuyarkan lamunan Fatimah. Ia lekas menoleh ke sumber suara dengan tatapan yang terperangah. Matanya melebar menghindari pancaran sorot lampu dari mobil di hadapannya.
"Tabrak lari!" teriak Fatimah, dengan sekuat tenaga. Suara yang lemah lembut dan cenderung pelan tak mampu menghentikan laju mobil yang telah menabrak orang di hadapannya.
Fatimah, lekas berlari menghampiri korban tabrak lari yang terkulai lemas di medan aspal.
Astaghfirullah....
Rintihnya dengan lirih, ketika sudah berada di dekat korban. Fatimah, semakin mendekat dan ingin memastikan kondisi korban.
Banyak sekali lukanya.
Mata Fatimah, memindai jalanan berharap ada seseorang yang dapat di mintai pertolongan. Ia berlari ke kenan dan ke kiri masih berusaha untuk mencari bantuan, namun sayang kerena waktu yang sudah terlalu larut, tak ada satupun kendaraan yang melintas di sana.
Tak ingin membuang waktu yang lama, Fatimah lekas melakukan panggilan darurat Ambulance. Nalurinya sebagai sesama manusia ingin menolong meski ia sendiri sedang kesusahan.
Mobil Ambulan melesat dengan kecepatan tinggi, tak butuh waktu yang lama sampailah mereka di rumah sakit terdekat. Petugas yang melihat kedatangan mereka lekas menyambut pasien dan membawanya ke ruang IGD demi melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Fatimah, yang berada di depan pintu IGD tampak panik, wajahnya tegang dengan tangan yang berkeringat dingin. Ia takut sesuatu hal buruk terjadi pada pemuda itu.
__ADS_1
Aduh kenapa aku sepanik ini, padahal dia bukan siapa-siapaku. Aku bahkan tak mengenalnya.
Fatimah, memilih untuk beristigfar demi ketenangan hatinya.
Satu jam berlalu, segala urusan administrasi telah Fatimah selesaikan. Berbekal tabungan yang ia kumpulan selama kuliah dari sisa beasiswa yang ia dapatkan. Fatimah rela membagi, demi untuk rasa kemanusiaan. Meskipun Fatimah, sendiri begitu membutuhkan uang itu untuk bertahan hidup setelah ini. Namun ada nyawa yang harus di perjuangkan dan jauh lebih membutuhkan.
Bukankah Allah tengah berjanji :
Allah, akan memberi rezeki dari arah yang tak di disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal pada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendakinya). Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu (At-talaq : 3).
Kini pemuda itu sudah di pindahkan di ruang rawat. Fatimah lekas menuju ke sana untuk melihat kondisinya. Matanya mengedar menatap sekilas tampilan pria yang tengah terkulai lemas di atas ranjang rumah sakit. Rambutnya yang gondrong, dengan dua kancing kemeja bagian atas yang terbuka serta sebuah kalung warna hitam berliontin silet seakan menunjukan jati diri pria itu, sepintas terlihat urakan dan garang.
Benar saja, pria yang di tolong Fatimah adalah Aldebaran. Malam itu ia sedang melarikan diri dari kejaran ajudan yang tengah bersiap membawanya ke rumah utama. Kedua orang tua Al, telah sepakat untuk menjodohkan putranya dengan salah satu putri sahabatnya. Mereka berharap setelah menikah Al, akan berubah. Ia tidak akan bersikap liar seperti saat ini. Namun na'as, Al yang tengah kabur harus di hadapkan pada suatu musibah. Ia mengalami tabrak lari dan di tinggal begitu saja oleh pelakunya.
Fatimah, kembali menunduk dan memilih untuk duduk di samping ranjang pasien. Fatimah yang merasa kelelahan akhirnya terlelap begitu saja.
Menjelang waktu subuh, Al terbangun. Sepertinya pengaruh obatnya telah habis. Ia bahkan meringis merasakan sakit yang mendera kakinya.
Pandangannya tertuju pada seorang wanita yang tengah tertidur dengan damainya.
Cantik.
Satu kata yang terucap dari mulut Al, ini kali pertama ia mengakui kecantikan wajah seorang wanita. Al, kembali mencoba untuk mengingat-ingat kejadian sebelumnya. Ia baru tersadar jika baru saja mengalami kecelakaan.
Al, yang merasa kehausan berusaha untuk meraih gelas yang tersimpan di atas nakas sebelah ranjangnya. Namun karena salah satu tangannya di infus ia kesulitan untuk mengambil gelas tersebut.
Fatimah yang merasakan ada suatu gerakan lekas membuka matanya dengan segera.
"Mas, butuh minum?" tanyanya dengan suara yang lembut.
"Iya" jawab Al dengan singkat.
__ADS_1
"Saya bantu ya Mas"
Fatimah lekas meraih botol air mineral beserta sedotannya dan menyerahkan pada Al.
Al, masih tertegun mengagumi kecantikan wanita yang ada di hadapannya. Ia terpesona pada pandangan pertama.
Aku pikir cerita tentang bidadari hanya sebuah dongeng belaka. Tapi saat ini, aku menemukan kenyataan itu.
Al, masih memandang dengan lekat wajah Fatimah, hingga membuat wanita itu gugup sendiri.
"Saya permisi dulu, mau siap-siap sholat subuh" pamit Fatimah, lekas berbelok arah menuju pintu.
Al, masih tertegun dengan pesona Fatimah, dalam sepersekian detik ia hanya bisa melongo tanpa memberikan jawaban atas pernyataan Fatimah.
Tiga langkah kemudian...
"Tunggu!..."
"Dek...."
"Mbak...."
Fatimah, tak mempedulikan ia masih meneruskan langkahnya.
"Kisana?"
"Adinda?" teriak Al, di sisa tenaganya.
Fatimah menoleh sekilas. Sejurus kemudian ia berkata "iya, ada apa?"
"Hah, jadi nama kamu Kisana apa Adinda?"
__ADS_1
Teman-teman, mohon dukungannya ya. Jangan lupa tekan semua tombol yang ada di bawah 😊