Mengejar Cinta Fatimah

Mengejar Cinta Fatimah
Pesta di hotel mewah


__ADS_3

Bab 29


Hari ini pernikahan Afif dan Nabila, pesta meriah di gelar di sebuah hotel ternama dan termewah di ibukota. Nabila tampil memukau bagaikan seorang ratu. Kebahagiaan menghiasai semua wajah orang-orang yang hadir, kecuali pengantin pria yang tak lain adalah Afif. Sesekali dia hanya melempar senyum kepada para tamu undangan.


Resepsi pernikahan mereka tidak luput dari sorotan media. Semua stasiun televisi dan media sosial memberitakan tentang hari bahagia mereka. Jauh dari tempat pesta, tampak Fatimah hanya menatap nanar melihat pesta yang begitu mewah melalui sebuah siaran infotainment di salah satu stasiun televisi.


"Jangan pernah melihat sesuatu yang menyakitkan hatimu, Nak." Haji Maulana berkata, sambil duduk di samping Fatimah.


Fatimah yang sedang fokus dengan perasaan yang bercampur aduk, langsung meraih remote dan menekan tombol off. Dia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, buliran bening yang sejak tadi di tahannya, kini mengalir membasahi pipinya.


"Ternyata, rasanya sesakit ini Abi," ucap Fatimah dengan suara parau.


Haji Maulana menghela napas dan membawa Fatimah ke dalam pelukannya. "Rasa sakit dan kecewa itu adalah salah satu fitrah manusia. Kita tidak akan pernah nengerti artinya kebahagiaan dan rasa syukur jika kita tidak pernah merasakan itu semua." Haji Maulana berkata sambil memeluk tubuh Fatimah, mencoba memberikan kekuatan untuk sang putri.


"Assalamualaikum," suara salam dari Ilham membuyarkan mereka. Ilham menarik napas kasar, dia sangat mengerahui apa yang sedag di tangisi oleh adik perempuannya itu. Diapun melangkah mendekati mereka dan duduk di sebelah Fatimah.


"Waalaikumsalam." Jawab Fatimah dan haji Maulana bersamaan.


Ilham langsung mencium punggung tangan haji Maulana, begitu juga Fatimah mencium punggung tangan Ilham.


"Fatimah, apa kamu ingat dengan kawan abang yang bernama Salman?" Tanya Ilhan, mengelus lembut kepala Fatimah.


Fatimah melepaskan pelukannya dari Abinya, dia menatap lekat Ilham sambil mengusap kasar air matanya. "Maksudnya, Bang Salman, teman Abang saat kuliah dulu?" Tanya Fatimah sambil menatap lekat Ilham.


"Iya, dia menanyakanmu tadi saat abang bertemu dengannya, dia ingin mengajakmu untuk bekerja sama." Jawab Ilham dengan wajah sumringah.


"Kerja sama?" Tanya Fatimah sambil mengerutkan keningnya.


"Ini kesempatan emas untukmu mengembangkan diri Fatimah." Ucap Ilham antusias dengan senyum terukir di wajahnya.


"Aku belum mengerti dengan kerja sama yang di tawarkan Bang Salman?" Fatimah kembali bertanya, membuat Ilham semakin tersenyum.


"Abang tidak mau memberitahumu, yang jelas ini kesempatan yang sangat bagus untukmu." Perkataan Ilham membuat Fatimah dan haji Maulana saling tatap, mereka benar-benar penasaran kerja sama apa yang di maksud Ilham.

__ADS_1


"Besok pagi, abang akan menemanimu untuk bertemu Salman, sekarang abang mau mandi dulu." Ilham langsung beranjak dari duduknya untuk menuju kamar mandi.


"Apa Abi tahu, apa yang di tawarkan bang Salman?" Tanya Fatimah, sambil menatap haji Maulana.


"Abi sudah lama sekali tidak mendengar kabar tentang Salman, tetapi menurut Abi sepertinya sebuah kerja sama yang membawa kebahagiaan dan kebaikan untukmu."


Jawaban haji Maulana membuat Fatimah tersenyum. "Aamiin, semoga saja Abi, tolong bantu Fatimah dengan do'a Abi."


"Tentu saja, tanpa di minta Abi pasti mendo'akan yang terbaik untuk anak-anak Abi." Haji Maulana berkata dengan ekspresi wajah yang langsung berubah sendu.


"Terima kasih Abi, maafkan kami yang jauh dari kata sempurna sebagai anak-anak Abi." Fatimah berkata sambil memeluk kembali haji Maulana. Dia sangat mengetahui jika Abinya sedang mengingat Arman abangnya.


"Tidak perlu sempurna untuk menjadi anak-anak Abi, melihat kalian bahagia itu sudah lebih dari cukup untuk Abi sebagai orang tua." Jawaban haji Maulana, membuat Fatimah lebih mempererat pelukannya dan tidak terasa buliran bening kembali membasahi pipinya.


**************


Pagi menjelang siang, tampak Fatimah dan Ilham sudah sampai di sebuah restoran mewah yang terletak di jantung ibukota. Tampak seorang lelaki berkulit putih bersih dengan tampilan rapi dan elegan melambaikan tangan dan tersenyum ke arah mereka.


"Waalaikumsalam." Jawab mereka, Ilham langsung menjabat tangan Salman, sedangkan, Fatimah menangkupkan tangannya di dada sambil tersenyum.


"Silahkan duduk, Ilham, Fatimah," ucap Salman ramah.


"Terima kasih." Jawab Fatimah.


"Sebelum membahas masalah kerja sama, lebih baik kita pesan makan dulu," ajak Salman sambil tersenyum dan menatap Fatimah tanpa berkedip.


"Walaupun statusmu seorang janda, tetapi pesonamu semakin menggetarkan." Salman berkata di dalam hati sambil menelan salivanya dan mengusap kasar wajahnya, mencoba menenangkan debaran yang semakin tidak menentu di hatinya.


Mereka pun memesan beberapa menu makanan dan minuman. Salman yang sejak lama sudah menaruh hati kepada Fatimah merasa sangat bahagia, karena wanita impiannya kini berada sangar dekat di hadapannya.


Sudah lama Salman ingin sekali mengungkapkan semua perasaannya, tetapi semua terhalang karena kehadiran Arsyad, yang menurut kedua orang tuanya mereka sudah di jodohkan sejak kecil.


Namun, saat mengetahui jika Fatimah tidak jadi menikah dengan Arsyad, justru dia menikah dengan lelaki lain tentu membuat dirinya shock, saat mengetahui dengan lelaki seperti apa Fatimah menikah.

__ADS_1


Akan tetapi, saat dia mengetahui perceraian Fatimah dan suaminya, hatinya sangat bahagia. Namun sayang, dia kalah cepat dengan Arsyad, yang sudah terlebih dahulu meminta kembali Fatimah untuk menjadi pendampingnya.


Kini, mantan suami Fatimah sudah menikah dengan salah satu model papan atas, yang melebarkan sayapnya sampai ke luar negeri. Ilham juga memberitahunya, jika Fatimah dan Arsyad gagal menikah karena ulah penjebakan yang di lakukan Arsyad melalui obat perangsang, membuat Salman memantapkan langkahnya kembali untuk mendapatkan Fatimah.


Setelah menyantap beberapa menu makanan dan minuman, merekapun langsung membahas tentang kerja sama yang di tawarkan Salman.


"Fatimah, aku ingin mengajakmu bekerja sama untuk membangun sekolah bahasa dan agama. Aku juga ingin mengajakmu bekerja sama dalam bidang kuliner." Ucap Salman, membuat Fatimah menatap tidak percaya ke arah Salman.


"Aku melihat potensi yang sangat besar pada dirimu Fatimah." ucap Salman lagi sambil tersenyum dan meyakinkan Fatimah.


Tampak Fatimah menghela napas.


"Suatu kehormatan untukku di minta bekerja sama dengan bang Salman, tetapi ilmu agama dan memasak yang aku punya masih sangat minim, Bang." tolak Fatimah secara halus. Dia sangat mengetahui jika Salman menaruh hati kepadanya sejak lama, dia tidak mau jika Salman mengejarnya seperti Arsyad. Tiba-tiba dia teringat dengan sosok Afif.


"Ternyata kamu tidak berubah tetap rendah hati." Puji Salman, menatap lekat Fatimah.


"Hai, jagalah pandanganmu! Adikku bukan mahrammu!" tegas Ilham sambil menepuk pelan pundak Salman, membuatnya salah tingkah.


Fatimah hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan Ilham dan Salman. Namun, tiba-tiba senyumnya langsung memudar saat melihat pasangan yang baru saja memasuki restoran dan sangat mencuri perhatian para pengunjung.


Fatimah berusaha bersikap setenang mungkin, mencoba menahan sesak di dadanya. "Kenapa sangat sakit sekali? Ya Allah, tolong bantu aku mengikhlaskannya." Fatimah berkata pada dirinya sendiri.


Akan tetapi, perasaan sesak itu semakin terasa di dadanya, hatinya terasa bagaikan tertancap sembilu, rasanya sakit, bahkan sangat sakit.


************


Mampukah Fatimah menahan rasa sakit dan luka di hatinya?


Bisakah dia menunjukkan kepada Afif jika dia wanita yang kuat?


Tunggu perubahan Fatimah di bab berikutnya🤗🙏.


__ADS_1


__ADS_2