Mengejar Cinta Fatimah

Mengejar Cinta Fatimah
Pengajian


__ADS_3

Pengajian rutin malam kamis kliwon di mulai. Ustad Mansyur sebagai pengisi acara mulai menuju tempat yang di sediakan panitia acara.


"Assalamualaikum waroh matulohi wabarakaktuh" sapanya dengan suara yang lemah lembut dan menenangkan.


 "Waalaikumsalam waroh matulohi wabarokatuh" kompak seluruh jamaah yang ada di dalam masjid menjawab, termasuk Al yang turut serta untuk menyumbangkan suaranya. Mungkin ini adalah salam pertama yang ia ucapkan ketika dewasa. Beruntungnya dia masih ingat lafalnya.


Semua jama'ah tampak duduk dengan rapi  baik itu perempuan maupun lelaki. Membentuk barisan tanpa instruksi sesuai dengan non muhrimnya. Ada sebagian ibu-ibu yang bersandar pada tiang-tiang masjid untuk mencari posisi ternyaman. Ada sebagian pula para remaja yang duduk di barisan paling depan serta beberapa anak kecil yang tampak bermain tasbih di tangannya.


Tenang.


Begitulah yang di rasakan Al, tak terhitung berapa lamanya ia tak menginjakkan kaki di tempat yang teduh seperti ini. Tempat yang penuh dnegan rahmat dan pertolongan dari sang maha pencipta. Ia tertunduk, bahkan sebelum acara pengajian dimulai. Ada sebagian dalam ruang hatinya yang terasa terombang-ambing.


"Tema pengajian pagi hari ini adalah prihal jodoh"


Pasangan hidup adalah salah satu rezeki dan rahasia Allah SWT untuk umatnya. Jodoh merupakan ketentuan yang sudah di tetapkan oleh Allah dan tertulis dalam lauful mafhfuz.


Meski sudah di tetapkan oleh Allah, dalam prosesnya pencarian jodoh harus melalui usaha dan ikhtiar. Taaruf atau pada zaman dahulu lebih familiar di sebut sebagai perjodohan adalah salah media untuk menjemput jodoh.


Dalam Surah An-nur ayat 26 telah di jelaskan bahwa wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk laki-laki yang keji (pula), dan wanita yang baik untuk adalah untuk lelaki yang baik. 


Deg...


Fatimah yang sedari tadi tertunduk di barisan samping membersamai Buleknya, mulai mengangkat kepala. Hatinya tersentil dengan pesan yang di sampaikan dalam pengajian ini.


Apa yang harus aku khawatirkan? apa yang sedang ku ragukan prihal jodoh. Bukankah janji Allah sudah pasti. Sebaik itu kah aku, hingga terbesit pikiran lelaki yang akan di jodohkan denganku tak pantas bersanding denganku. Sementara aku sendiri masih jauh dari kata sempurna.

__ADS_1


Menunduk...


Fatimah, menunduk dengan jemari yang meremas resah. Merasa berdosa telah kabur begitu saja dari perjodohan yang di sepakati orang tuanya.


Jika jodoh adalah cermin dari kita. Apakah wanita yang akan di jodohkan denganku memiliki sikap sehina diriku? lantas apa yang bisa kami raih jika kami sama-sama hina dan fakir ilmu agama.


Al, menunduk lesu. Hatinya resah dan bimbang. Baru pertama kali mengikuti kajian sudah di buat gundah gulana.


Selepas acara pengajian berakhir, semua jama'ah satu per satu mulai meninggalkan masjid menyisakan muda-mudi yang saling membantu membereskan sisa acara.


"Kamu ngapain Man?" tanya Al, ketika melihat pria yang baru beberapa jam lalu menjadi temannya.


"Kamu buta apa bagaimana? sudah tahu ini bersi-bersih pakai tanya lagi" jawab Lukman, sedikit geram.


"Maksudnya Man?"


"Ya, kayak pohon pisang yang hanya punya jantung tapi tak punya hati, Sudah tahu muda-mudi semuanya sedang bersih-bersih, bukannya bantu malah diam saja. sudah kayak juragan saja" Omel Lukman, kini pria gendut itu mulai menata karpet dan melipatnya dengan rapi.


Sementara Al, pria itu menerima sapu yang di berikan Lukman. Ini adalah kali pertama Al memegang sapu dalam hidupnya, Ia sama sekali tak tahu cara menggunakannya. Al, memilih untuk menyeret sapu tersebut dan membawanya ke segala arah.


Area putri. Pria di larang masuk.


Sebuah tulisan yang menggantung besar di bagian sisi kanan masjid. Kening Al, berkerut ketika membaca aturan tersebut.


Pasti banyak ceweknya di sana. AKu harus ke sana!

__ADS_1


Desis Al, dalam hati. Ia melangkah cukup tenang dengan menyeret sapu di tangannya.


Pandangan mata Al, tertuju pada beberapa remaja putri yang sedang mencuci gelas. Mereka tampak sedang bergurau dan saling membantu. Sebagian ada yang membilas dan sebagian lagi ada yang mengeringkan gelasnya. Beberapa di antara mereka juga ada yang menata gelas dan piring dalam rak khusus penyimpanan.


"Al, kamu ngapain di situ" teriak Lukman, ingin menghentikan langkah temannya.


Al masih diam saja, tak menghiraukan panggilan Lukman. Lukman yang merasa di abaikan memilih untuk menyusul temannya.


"Ini anugrah dari Allah" ucap Lukman, kala ia berdiri di sebelah Al dan memperhatikan para remaja putri sedang mencuci gelas di sana.


"Ngapain kamu di sini?"


"Aku sedang menikmati pemandangan indah, ciptaan Allah yang luar biasah" Firman tersenyum simpul, matanya terhipnotis pada pemandangan di depan mata.


"Fatimah, masyaallah" desis Lukman degan pelan.


"Fatimah? yang suaranya tadi terdengar indah itu? mana dia?"


"Lihat, itu dia"


"Yang mana?"


"Pakai jilbab warna hitam"


Deg.....

__ADS_1


__ADS_2