
Bab 59
Saat Mark berperang batin, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dia meraih ponsel yang berada di dalam jasnya. Terpampang di layar ponselnya nama Alex, seketika itu juga membuat dadanya berdebar kencang.
"Fatimah, aku harus mengangkat telpon dulu," Mark berkata, sambil melepas pelan tubuh Fatimah yang sedang memeluknya.
Seketika wajah Fatimah merona, saat melepaskan pelukannya. Sambil menghapus air matanya, dia menatap nanar ke arah Mark yang sedikit menjauh darinya dan terlihat sangat serius saat berbicara di telpon.
Tampak raut kekhawatiran di wajah Mark. Beberapa kali dia mengusap kasar wajahnya, sampai dia melihat ke arah Fatimah, membuat netra mereka bertemu. Terlihat gurat kesedihan di manik mata Mark. Dia pun segera menyudahi pembicaraan dan menutup ponselnya.
Mark mengatur napasnya dan perlahan mendekati Fatimah. Saat jarak mereka sudah sangat dekat, Mark tersenyum dan mengusap lembut kepala Fatimah.
"Apa ada kabar buruk tentang dia?" Tanya Fatimah dengan suara yang sangat parau. Dadanya kembali terasa sesak.
"Perasaanmu begitu kuat untuknya," jawab Mark dengan mata sendu menatap Fatimah.
Buliran bening itu kembali meluncur di wajah Fatimah. Hatinya terasa tertusuk sembilu, rasa sakit itu semakin menyeruak, walaupun, dia belum mengetahui apa sebenarnya yang terjadi kepada Afif.
"Katakan, kepadaku! Seberapa buruk keadaannya?" Fatimah bertanya dengan suara yang bergetar.
Mark tidak menjawab, dia langsung membawa tubuh Fatimah ke dalam pelukannya, membuat Fatimah kembali menumpahkan air matanya di dada bidang Mark.
"Menangislah! Jika itu bisa meringankan beban pikiranmu."
...****************...
Salma duduk di depan Afif yang sedang duduk di atas batu besar dengan hamparan laut biru di depannya. Menatap jauh ke lautan dengan sebatang rokok yang terselip di bibirnya.
Dia menghisap dalam-dalam rokok itu, menghembuskannya melalui hidung, sehingga membentuk kumpulan asap yang tersapu bersamaan dengan terpaan angin laut.
Afif merasakan nyeri di bagian belakang daerah sensitifnya. Rasa sakit dan sesak menyelimuti dadanya. Sesuatu yang di pertahankannya kini semua sudah hilang demi misi yang sedang di jalankannya.
Afif kembali menghisap dalam batang rokok yang hanya tersisa untuk sekali hisap. Dengan kasar dia membuang putung rokok itu tepat di bawah kakinya dan menginjaknya dengan sedikit kasar di iringi helaan napas yang tertahan.
"Maaf, kamu sudah mengorbankan diri untukku," ucap Salma dengan suara lirih, sambil menatap Afif dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Afif menoleh sesaat ke arah Salma, wanita cantik yang membuat dirinya berani berganti posisi. Tidak ada perasaan istimewa di hati Afif seperti apa yang di rasakannya kepada Fatimah, tetapi, dia juga tidak mengerti, kenapa sampai dia rela mengorbankan kehormatannya sebagai laki-laki hanya untuk wanita yang baru di kenalnya?.
"Aku tidak mau menyesali apa yang sudah terjadi, jangan pernah membahas ini lagi!" Afif berkata dan bangkit dari duduknya.
"Katakan kepadaku, apa yang harus aku lakukan untuk membalas kebaikanmu?" Salma berkata, sambil berdiri dan mensejajarkan tubuhnya dengan Afif.
"Tidak ada," jawab Afif datar.
"Afif," Salma menahan lengan Afif. Tanpa basa basi, dia langsung menautkan bibir mereka.
Salma begitu agresif menikmati bibir Afif. Sedangkan Afif hanya diam tanpa ada pembalasan, membuat Salma melepaskan bibirnya dengan napas memburu.
"Jangan katakan, jika kamu tidak menginginkannya dan hasratmu tidak terbakar!" Bisik Salma dengan suara parau, tepat di telinga Afif.
"Jika gairahku sudah bangkit, aku bisa menjadi singa yang sangat lapar!" tegas Afif sambil melepaskan tangan Salma di lengannya dan mendorong pelan tubuh Salma sedikit menjauh dari tubuhnya.
"Aku sudah menukar tubuhku dengan kehormatanmu sebagai wanita, tolong hargai tubuhmu!" Tegas Afif, langsung berlalu dari hadapan Salma.
Perkataan Afif membuat Salma terdiam. Dia diam mematung sambil menatap punggung Afif yang semakin menjauh, sampai dia merasakan sesuatu yang basah menempel di hidungnya, membuat semua tiba-tiba menjadi gelap dan seketika itu juga dia kehilangan kesadarannya.
...****************...
"Bagaimana rasanya?" Suara bariton mengagetkan Salma. Dia memicingkan matanya menatap sosok lelaki yang kini ada di hadapannya dan lelaki itu semakin dekat menghampiri Salma dan duduk di samping tubuh polosnya.
Salma berusaha mengeluarkan suara sambil menghentakkan tubuhnya, membuat ikatan di tangan dan kakinya semakin kencang. Lelaki itu tertawa dan dengan kasar dia melepas lakban yang menutup mulut nya, membuat dirinya merasakan sedikit sakit dan kaku di sekitar mulutnya.
"S-siapa kamu?" Tanya Salma, saat lelakiitu semakin melangkah mendekatinya.
"Kecantikanmu benar-benar sempurna," lelaki itu membelai lembut wajah Salma, membuat Salma langsung memalingkan wajahnya.
"Jangan sok jual mahal, baru beberapa menit yang lalu aku merasakan tubuhmu," Lelaki itu berkata sambil tertawa dan menatap Salma dengan tatapan mengejek.
Perkataan lelaki itu membuat Salma tersentak. Seketika ketakutan merasuki hatinya, keringat dingin pun mulai membasahi wajah dan tubuhnya. Dia sadar, lelaki seperti apa yang sedang di hadapinya saat ini.
"Kamu sudah melakukan pemerko*aan!" Hardik Salma dengan wajah memerah dan tubuh bergetar, antara marah dan takut.
__ADS_1
Lelaki itu tertawa kencang sambil mencengkram rahang wajah Salma, membuat Salma meringis kesakitan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Jangan sok suci! Kamu itu hanya wanita kotor yang terbiasa melayani banyak laki-laki, beda dengan Fatimah, wanita yang sangat di cintai Afif!" bentak lelaki itu, membuat Salma tersentak dan air matanya pun langsung mengalir tanpa permisi dari sudut matanya
Cengkeraman kuat dari lelaki itu memang sangat sakit. Namun, yang lebih menyakitkan adalah saat lelaki itu menyebut nama seorang wanita yang berhubungan dengan Afif.
"F-Fatimah ...." Ucap Salma, sambil menatap lelaki itu dengan tatapan meminta sebuah penjelasan.
Lelaki itu dengan kasar melepaskan cengkeramannya. Dia menggeram dengan kilatan penuh amarah dari matanya.
"Wanita-wanita bod*h yang sudah terjerat cinta si Afif sia*an itu!" geram lelaki itu dengan telapak tangan mengepal kuat.
"Aku pastikan, dia tidak akan pernah bisa hidup bahagia. Apa lagi dengan wanita yang di cintainya?" Lelaki itu berkata, sambil tersenyum smirk.
"Tolong, beritahu aku siapa Fatimah itu? Apakah dia kekasih Afif?" Tanya Salma sambil terisak dengan suara bergetar.
Lelaki itu kembali menatap Salma sambil tertawa penuh ejekan. "Kamu dan Fatimah itu seperti langit dan bumi. Walaupun, kamu mempunyai wajah yang sangat cantik, jangan pernah berpikir untuk bersaing dengan Fatimah di hati Afif."
Perkataan lelaki itu bagaikan belati tajam yang menusuk hatinya.
"Fatimah, apakah wanita itu sangat berarti dalam hidupmu, Afif? Lalu kenapa kamu rela mengorbankan kehormatanmu untukku?" Pertanyaan itu berputar di kepala Salma, membuatnya tidak menyadari jika sosok lelaki itu sudah berada di atas tubuhnya yang polos.
...****************...
Siapakah sosok lelaki yang menculik Salma?
Ada hubungan apa lelaki itu dengan Afif?
Misi apa yang sebenarnya ingin di jalankan Afif, sehingga harus mengorbankan segalanya?
Masih ada rahasia di cerita ini yang akan segera terbongkar.
Terima kasih untuk semua yang setia menanti kelanjutan cerita ini 🤗🙏.
__ADS_1