
"Ah sudahlah Al, terserah padamu. Ibarat kata berbicara denganmu sama halnya dengan berbicara pada sales panci. Tak ada ujung dan titiknya. Kamu selalu ingin menang sendiri. Pendirianmu terlalu kuat dan sulit untuk di patahkan walau pada dasarnya pendirian dan pendapatmu itu tak berdasar" geram Lukman, atas diskusi yang selalu berakhir dengan tak adanya titik terangnya.
"Benar sekali, apa yang tengah kamu katakan. Aku memiliki pribadi yang sulit untuk di patahkan ketika berargumen, untuk itu aku dn Fatimah sekufu" timpal Al, dengan begitu bangganya. Ia tersenyum lantas membuka peci yang tengah membungkus kepalanya dn meletakan di kepala Lukman.
"Hah! bagaimana bisa kamu berbicara seperti itu Al, lihatlah dirimu!" Lukman, semakin esal tak mengerti tentang jalan pikiran Al.
"Kamu tahu Man, Fatimah adalah wanita yang cerdas dan baik. Alangkah hebatnya jika ia nantiĀ bisa melahirkan anak-anak yang sama cerdasnya. Seperti dari seorang laki-laki yang kuat ekonominya, yang kuat pendiriannya seperti aku dan satu lagi yang memilih tingkat ketampanan di atas rata-rata. Aku ini pribadi yang bertanggung jawab Man, hatiku memang belum bersih dan banyak nodanya" Terang Al, dengan cukup percaya diri, dengan hiasan senyum yang merekah di bibirnya. Dalam benaknya sedang membayangkan berkeluarga bersama Fatimah, mengasuh anak-anak mereka di taman depan rumahnya.
Al, memanglah sosok pribadi yang bertanggung jawab. Di usianya yang masih begitu muda sudah mempu untuk mengelola perusahaan ayahnya sendiri tanpa bantuan siapa pun. Al, bertanggung jawab penuh atas kelangsungan kehidupan karyawannya. Tak ada satupun dari karyawannya yang tak sejahtera selama kepemimpinannya. Hanya saja masalah dengan orang tuanya yang rumit membuat ia harus mengambil jeda untuk berfikir sejenak sebelum jauh melangkah. Terlebih hadirnya Fatimah, membuat ia enggan untuk menerima perjodohan yang tengah dis sepakati orang tuanya.
"Terserah kamu, dasar orang edan!. Kalau mau hati kamu lekas bersih coba sekali-kali di kasih deteren yang mampu membersihkan kotoran dalam sekali ucap" Ledek Lukman, dengan melangkah pergi meninggalkan Al yang masih asyik dengan berjuta angannya.
Dimana Adinda Fatimah? kenapa wajahnya tak terlihat lagi? perasaan tadi sedang ngobrol di situ deh!
Alih-alih menyimpan karpet dalam gudang. Al, lebih memilih membawa karpet tersebut keliling masjid sebagai alat untuk mencari keberadaan Adinda Fatimah. tak di pungkiri ada rasa kecewa ketika tak kunjung melihat wajah wanita yang ia cari sebelumnya.
Huft...
Al, menghela nsfas kasar. Ada sedikit rasa sesal ketika tak kunjung melihat wajah Fatimah. padahal ia sudah melakukan banyak hal hari ini. Tenaganya telah terkuras habis untuk suatu pekerjaan yang tak pernah ia lakukan sebelumnya.
Matanya tak putus asa masih berharap melihat Fatimah kembali. Sungguh ia ingin menyapa dan berbincang padanya. Al ingin mengucapkan terimakasih atas bantuan Fatimah beberapa hari yang lalu, walau sebenarnya itu hanya sebuah alibi semata.
Lama ia berjalan menapaki jengkal demi jengkal lantai yang ada di masjid membuat Al kelelahan. Paria itu menyandarkan pundaknya pada satu tiang yang berada tepat di sebelah bedug. Al, menekuk lututnya setengah melamun.
.
__ADS_1
.
.
Segerombolan remaja baik putra maupun putri tengah duduk di pelantaran masjid menikmati segelas es dingin dan juga beberapa cemilan sisa konsumsi pengajian. mereka saling bercerita dan melepas lelah setelah kerja bakti membersihkan masjid pasca pengajian sekaligus menunggu waktu sholat tiba. Sebagian besar dari mereka adalah warga kampung sini, sebagian lagi merupakan relawan dari sebuah organisasi yang bergerak dalam dakwah islam. Lukman yang tengah selesai menjalankan tugasnya turut bergabung di sana. Mereka juga tengah membahas prihal tema yang akan di angkat dalam kajian bulan depan.
Al, masih dalam posisi yang sama. Ia melamun, pikirannya membuana menerjang cakrawala. Entah apa yang sedang ia bayangkan saat ini, hanya saja wajahnya tampak sedih dan memillukan.
"Fat, coba antarkan minuman ini ke Mas yang di sana. Tadi Bulek lihat dia ikut bantu-bantu, sepertinya baru pertama bergabung" titah Bulek Aminah, dengn menyodorkan satu gelas es ke tangan Fatimah.
"Ajak bergabung juga di sini, barangkali mau"
"Iya Bulek" Fatimah menerima gelas yang di berikan Bulek Aminah, ia berjalan menunduk mendekat pada Al.
"Silahkan Mas, minumnya di minum dulu" ucap Fatimah, wanita itu duduk menunduk di hadapan Al, dengan meletakkan gelas di lantai.
Apa aku sedang bermimpi? aku bahkan tidak sedang tidur.
Al, masih sibuk dalam angannya. Ia bahkan tak melihat kehadiran Fatimah yang tengah duduk di hadapannya saat ini.
"Mas, silahkan" Fatimah kembali berucap dengan santun tanpa menyentuh lawan bicaranya untuk membuyarkan lamunan Al.
Al, yang menyadari namanya di panggil lekas gelagapan. Ia menggerak-gerakan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Matanya terbelalak sempurna dengan bibir yang melongo ketika melihat sosok bidadari tak bersaya menggunakan jilbab pink sedang berada di hadapannya saat ini. Wajahnya yang teduh seakan sedang memancarkan cahaya dari surga. Al, bahkan kesulitan untuk menelan slavinanya sendiri.
Kagum...
__ADS_1
Ya, dia benar-benar kagum dengan pesona Fatimah.
"Silahkan Mas, di minum esnya. Jika kurang silahkan ambil di sana" Tangan Fatimah menunjuk pada teman-temannya yang sedang berbincang santai. Fatimah berbicara dengan cukup pelan dan anggun.
Al, yang terbiasa bergaul dengan teman-teman wanita tak pernah menemukan sosok seperti Fatimah. Bagi Alm mendengar dan melihat wajah Fatimah saat berbicara seakan sedang melihat action slow motion dari seorang bidadari yang hendak turun ke bumi. Pandangan mata Al, benar-bent tak mampu berpaling dari sana.
Tiga
Dua
Satu
Fatimah, tersenyum dan hendak kembali ke teman-temannya. Htai Al, kembali meleleh seakan sedang mendapat guyuran air es di tengah gersangnya padang pasir yang tandus.
Glek....
Mata Al, masih terhipnotis dengan senyuman sang bidadari hingga membuatnya tak sadar jika Fatimah telah pergi sebelum ia sempat mengucapkan sepatah kata.
"Adinda, kamu Adinda yang menolongku beberapa waktu yang lalu kan?"
"Tunggu!"
"Aku ingin bicara!" ucap Al, ketik Fatimah tengah jauh melangkah pergi dan kembali bersama teman-temannya.
Dengan langkah yang bimbang Al, memilih untuk menyusul Fatimah. Ia tak ingin kehilangan jejak wanita itu untuk kedua kalinya. Meski dalam hati terlampau sadar jika ia jauh dari kata pantas.
__ADS_1
"Maaf, apa saya boleh bergabung di sini?"